كَلَّا ۖ إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia telah menentang tanda-tanda Kami.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا ۖ إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًاkallaa innahu kaana li-aayaatinaa 'aniidansekali-kali tidak, sesungguhnya dia telah menentang tanda-tanda Kami
Terjemahan per kata (5 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
- كَانَkaanaadalah
- لِآيَاتِنَاli-aayaatinaaterhadap tanda-tanda Kami
- عَنِيدًا'aniidanyang keras kepala
Inti bacaan
Penolakan tegas terhadap keserakahan tanpa syukur: 'sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia telah menentang tanda-tanda Kami', pembalikan dari harapan penambahan berkah menuju pengungkapan sikap sesungguhnya, kekayaan yang tidak disyukuri justru menyertai penolakan terhadap kebenaran.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Al-Qur'an)' tidak dipakai: 'aayaatinaa' (tanda-tanda Kami) tidak secara eksplisit menunjuk Al-Qur'an saja di ayat ini.
Kata (كَلَّا, kallaa) muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 19:79, 70:15, 75:11, dan 89:17. Ia membantah dengan keras.
Perhatikan bahwa empat dari 33 pemakaiannya ada di surah ini: 74:16, 74:32, 74:53, dan 74:54. Cuma surah 83 yang juga memakainya empat kali, dan tidak ada yang lebih banyak.
Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan pembantah dipakai empat kali di satu surah.
Kata (لِآيَاتِنَا, li-aayaatinaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti terhadap tanda-tanda Kami.
Kata (عَنِيدًا, 'aniidan) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti keras menentang.
Jadi dua sebutan di baris ini tidak punya pemakaian kedua. Al-Qur'an tidak menandai hal itu.
Perhatikan bahwa sebutan pembantah itu membantah harapannya di 74:15. Bantahannya datang langsung tanpa jeda.
Susunan itu memutus harapannya seketika. Al-Qur'an tidak menandai pemutusan itu.
Perhatikan bahwa alasan penolakannya disebut di ayat yang sama. Yang disebut sikapnya terhadap tanda-tanda.
Susunan itu tidak menyisakan pertanyaan. Al-Qur'an tidak menandai kelengkapan itu.
Perhatikan bahwa susunan orang pertama jamak dipakai untuk tanda-tanda itu. Baris sebelumnya memakai orang pertama tunggal.
Pergantian itu terjadi di tengah rangkaian. Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu.
Perhatikan bahwa sifat menentang itu memakai susunan yang menguatkan. Ia bukan sekadar menolak, melainkan keras menolak.
Susunan itu memperberat tuduhannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penguatan itu.
Perhatikan bahwa yang ditentang tanda-tanda, bukan orangnya. Sasaran penolakannya disebut jelas.
Kejelasan itu berbeda dari bagian sebelumnya. Di sana banyak hal dibiarkan kosong.
Perhatikan bahwa empat pemakaian pembantah itu tersebar hampir merata. Di ayat keenam belas, ketiga puluh dua, kelima puluh tiga, dan kelima puluh empat.
Tiga yang pertama berjarak enam belas dan dua puluh satu ayat. Dua yang terakhir berdempetan.
Al-Qur'an tidak menandai penyebaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa letaknya tidak seragam.
Perhatikan bahwa sebutan pembantah itu dipakai di sini untuk membantah harapan. Di 74:32 ia dipakai membuka sumpah.
Perbedaan pekerjaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan mengerjakan dua hal.
Perhatikan bahwa tanda-tanda disebut sebagai milik yang berbicara. Susunan kepemilikan itu memakai orang pertama jamak.
Cara itu berbeda dari tiga baris pemberian. Di sana yang dipakai orang pertama tunggal.
Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa cara menyebut diri berayun dua kali dalam lima baris.
Perhatikan bahwa penolakannya disebut sebagai keadaan yang menetap. Susunan yang dipakai menyangkut kebiasaan, bukan satu peristiwa.
Susunan itu menambah bobot tuduhannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penambahan itu.
Perhatikan bahwa ayat ini lima patah. Ia terpanjang di bagian ini sejauh 74:17.
Tafsiran
Ayat ini menolak harapan tokoh tersebut karena ia justru menentang tanda-tanda Allah. Ayat ini membantah harapan di 74:15 dan menyebut alasannya. Kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 19:79, 70:15, 75:11, dan 89:17, dan empat di antaranya di surah ini yaitu 74:16, 74:32, 74:53, dan 74:54.
Cuma surah 83 yang juga memakainya empat kali, dan tidak ada surah yang lebih banyak. Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu.
Kata kelima dan keenamnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga ayat ini memuat dua sebutan yang tidak berulang. Sebutan pembantah itu juga membantah harapannya di 74:15 tanpa jeda.
Alasan penolakannya juga disebut di ayat yang sama, yaitu sikapnya terhadap tanda-tanda. Susunan orang pertama jamak juga dipakai untuk tanda-tanda itu, padahal baris sebelumnya memakai orang pertama tunggal.
Sifat menentang itu juga memakai susunan yang menguatkan, sebab ia bukan sekadar menolak melainkan keras menolak. Yang ditentang juga tanda-tanda dan bukan orangnya. Empat pemakaian pembantah itu juga tersebar hampir merata, sebab tiga yang pertama berjarak enam belas dan dua puluh satu ayat sedangkan dua yang terakhir berdempetan. Sebutan itu juga dipakai di sini untuk membantah harapan, sedangkan di 74:32 ia dipakai membuka sumpah. Tanda-tanda juga disebut sebagai milik yang berbicara dengan susunan orang pertama jamak.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya dipakai Allah 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 19:79, 70:15, 75:11, dan 89:17. Empat di antaranya ada di surah ini, yaitu 74:16, 74:32, 74:53, dan 74:54, dan cuma surah 83 yang juga memakainya empat kali. Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu dengan satu kalimat pun. Empat potongan itu membelah surahnya tanpa judul apa pun. Empat potongan yang letaknya tidak seragam memberi surahnya bentuk yang tidak beraturan. Tiga yang pertama berjauhan, dan dua yang terakhir berdempetan. Bentuknya tidak beraturan meski jumlahnya genap.
- Sebutan pembantah itu membantah harapan yang disebut Allah di 74:15, dan bantahannya datang langsung tanpa jeda. Susunan itu memutus harapannya seketika di baris berikutnya. Al-Qur'an tidak menandai pemutusan itu, dan pembacanya tidak diberi waktu untuk menimbang harapan itu. Bantahan yang datang di baris berikutnya tidak memberi ruang untuk menimbang. Harapan di baris kelima belas mati sebelum sempat diuraikan. Umurnya cuma satu baris sebelum dipatahkan.
- Alasan penolakannya disebut Allah di ayat yang sama, yaitu sikapnya terhadap tanda-tanda. Susunan itu tidak menyisakan pertanyaan tentang mengapa harapannya ditolak. Al-Qur'an tidak menandai kelengkapan itu, dan bantahan beserta alasannya berdiri di satu baris. Bantahan dan alasannya berdiri di satu baris yang sama. Yang mendengar tidak perlu menunggu untuk tahu mengapa harapannya ditolak. Sebab dan bantahannya berdesak di satu baris.
- Susunan orang pertama jamak dipakai Allah untuk tanda-tanda itu, padahal baris sebelumnya memakai orang pertama tunggal. Pergantian itu terjadi di tengah rangkaian tanpa satu penanda pun. Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu, dan pembacanya baru menyadarinya kalau ia memperhatikan. Cara menyebut diri berganti dua kali dalam lima baris. Tunggal di tiga baris pemberian, jamak di baris ini, lalu tunggal lagi di baris berikutnya. Ayunannya berjalan tanpa satu penanda pun.
- Sifat menentang yang dipakai Allah memakai susunan yang menguatkan, sebab ia bukan sekadar menolak melainkan keras menolak. Susunan itu memperberat tuduhannya tanpa menambah keterangan. Al-Qur'an tidak menerangkan penguatan itu, dan sebutannya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Susunan yang menguatkan mengubah penolakan sesekali menjadi watak yang menetap. Yang dicatat bukan satu peristiwa, melainkan kebiasaan. Watak berbeda dari peristiwa, dan yang dicatat wataknya.
- Yang ditentang tanda-tanda Allah, bukan orang yang menyampaikannya. Sasaran penolakannya disebut jelas, berbeda dari bagian sebelumnya yang banyak membiarkan hal kosong. Kalau yang ditolak justru tandanya dan bukan pembawanya, apa yang sebenarnya sedang dilawan orang itu? Menolak tandanya berarti menolak sebelum sampai kepada pembawanya. Kalau yang dilawan justru buktinya, apa lagi yang bisa diajukan kepadanya? Buktinya sendiri yang ditolak lebih dulu.