سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا

Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. سَأُرْهِقُهُ صَعُودًاsa-urhiquhu sha'uudanAku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. سَأُرْهِقُهُsa-urhiquhuAku akan membebaninya
  2. صَعُودًاsha'uudanpendakian

Inti bacaan

Konsekuensi yang menyusahkan: 'Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan', hukuman yang secara metaforis membalikkan kemudahan hidup yang dulu dinikmati menjadi perjuangan berat yang melelahkan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (سَأُرْهِقُهُ, sa-urhiquhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti Aku akan membebaninya.

Kata (صَعُودًا, sha'uudan) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menamai pendakian yang berat.

Jadi seluruh baris ini dibangun dari dua sebutan tanpa pemakaian kedua. Al-Qur'an tidak menandainya.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma dua patah. Ia yang terpendek di bagian ini.

Ruang sesempit itu tetap memuat ancaman penuh. Al-Qur'an tidak menandai hal tersebut.

Perhatikan bahwa susunan orang pertama tunggal kembali dipakai. Baris sebelumnya memakai orang pertama jamak.

Pergantian itu terjadi dua kali dalam dua baris. Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu.

Perhatikan bahwa hukumannya digambarkan sebagai pendakian. Gambaran itu memakai ukuran ruang.

Cara yang sama dipakai di 74:12 dan 74:14. Di sana pemberiannya juga diukur dengan ruang.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pemberian dan hukuman sama-sama diukur begitu.

Perhatikan bahwa pemberiannya digambarkan mendatar dan hukumannya menanjak. Dua arah itu berlawanan.

Perlawanan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua gambaran memakai arah yang berbeda.

Perhatikan bahwa yang dijanjikan bukan api. Yang disebut kelelahan mendaki.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya menyangkut kepayahan.

Perhatikan bahwa waktu hukumannya disebut akan datang. Susunan yang dipakai menunjuk masa depan.

Susunan itu berbeda dari tiga pemberian yang memakai masa lampau. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup bagian tentang orang itu untuk sementara. Sesudahnya 74:18 kembali ke perbuatannya.

Perhatikan bahwa ancaman ini datang tepat sesudah alasannya. Dua baris berurutan menyusun sebab dan akibat.

Susunan itu tidak menyisakan jeda. Al-Qur'an tidak menandai kerapatan itu.

Perhatikan bahwa ancamannya ditujukan kepada satu orang. Bagian sebelumnya juga menyebut satu orang.

Keseragaman itu berlangsung tujuh baris. Al-Qur'an tidak menandainya.

Perhatikan bahwa gambaran mendaki menyangkut usaha yang tak berhenti. Ia bukan sekali jatuh, melainkan terus menanjak.

Susunan itu memanjangkan hukumannya. Al-Qur'an tidak menerangkan pemanjangan itu.

Perhatikan bahwa gambaran itu memakai perbuatan sehari-hari. Mendaki adalah hal yang dikenal siapa pun.

Pilihan itu mendekatkan gambarannya. Al-Qur'an tidak menyatakan pendekatan itu.

Perhatikan bahwa ancaman ini satu-satunya di bagian ini. Sepuluh baris sesudahnya berisi gambaran, bukan ancaman.

Kekhususan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ancamannya berdiri sendiri.

Perhatikan bahwa sesudah ayat ini gambarannya kembali ke masa lampau. Ancaman ini satu-satunya yang menunjuk masa depan.

Tafsiran

Ayat ini mengancam tokoh tersebut dengan siksaan yang berat. Ayat ini menyebut hukuman yang dijanjikan bagi orang itu. Kedua patahnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga ayat ini seluruhnya tersusun dari sebutan yang tidak berulang.

Ayat ini juga cuma dua patah dan yang terpendek di bagian ini. Kependekan itu tidak mengurangi bobotnya.

Susunan orang pertama tunggal juga kembali dipakai, padahal baris sebelumnya memakai orang pertama jamak, sehingga pergantian itu terjadi dua kali dalam dua baris. Hukumannya juga digambarkan sebagai pendakian, dan gambaran itu memakai ukuran ruang seperti di 74:12 dan 74:14.

Pemberiannya juga digambarkan mendatar sedangkan hukumannya menanjak, sehingga dua arah itu berlawanan. Yang dijanjikan juga bukan api, melainkan kelelahan mendaki.

Waktu hukumannya juga disebut akan datang, sebab susunan yang dipakai menunjuk masa depan, berbeda dari tiga pemberian yang memakai masa lampau. Ancaman ini juga datang tepat sesudah alasannya, sehingga dua baris berurutan menyusun sebab dan akibat tanpa jeda. Gambaran mendaki juga menyangkut usaha yang tak berhenti, sebab ia bukan sekali jatuh melainkan terus menanjak. Ancaman ini juga satu-satunya di bagian ini, sebab sepuluh baris sesudahnya berisi gambaran dan bukan ancaman.

Renungan dan Hikmah

  • Kedua patah di ayat ini masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Seluruh ayat karena itu tersusun dari sebutan yang tidak berulang di mana pun. Ayat ini juga cuma dua patah dan yang terpendek di bagian ini, dan kependekannya tidak mengurangi bobotnya sedikit pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Sebuah ancaman yang seluruh katanya tidak berulang tidak punya jangkar di ayat lain. Pembacanya menerima maknanya dari letaknya sendiri. Letaknya sendiri yang jadi satu-satunya petunjuk.
  • Susunan orang pertama tunggal kembali dipakai Allah di sini, padahal baris sebelumnya memakai orang pertama jamak. Pergantian itu terjadi dua kali dalam dua baris berturut-turut. Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu, dan cara menyebut diri berayun bolak-balik tanpa penanda. Cara menyebut diri berayun tunggal, jamak, lalu tunggal lagi dalam tiga baris. Ayunan itu tidak diberi satu penanda pun. Ayunan itu terjadi tiga baris berturut-turut.
  • Hukumannya digambarkan Allah sebagai pendakian, dan gambaran itu memakai ukuran ruang seperti di 74:12 dan 74:14. Pemberian dan hukuman sama-sama diukur dengan cara yang sama. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan ia baru terlihat kalau empat baris itu dibaca bersama. Pemberian yang mendatar dan hukuman yang menanjak memakai ukuran yang sama. Yang berbeda cuma arahnya, dan arah itu yang menentukan rasanya. Arahnya yang menentukan rasa, bukan ukurannya.
  • Pemberiannya digambarkan Allah mendatar sedangkan hukumannya menanjak, sehingga dua arah itu berlawanan. Perlawanan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Yang tadinya berjalan di tanah yang rata kini disuruh mendaki tanpa berhenti. Mendaki adalah perbuatan yang dikenal siapa pun yang pernah lelah. Memakainya sebagai gambaran hukuman membuat beratnya bisa dibayangkan tanpa keterangan. Tak seorang pun perlu diberi tahu rasanya menanjak.
  • Yang dijanjikan Allah bukan api, melainkan kelelahan mendaki. Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Gambarannya menyangkut kepayahan dan bukan panas, dan itu membedakannya dari gambaran hukuman di banyak surah lain. Ancaman ini satu-satunya yang menunjuk masa depan di bagian ini. Sepuluh baris sesudahnya kembali ke perbuatan yang sudah selesai. Dari 74:18 sampai 74:25 semuanya memakai waktu lampau.
  • Waktu hukumannya disebut Allah akan datang, sebab susunan yang dipakai menunjuk masa depan. Susunan itu berbeda dari tiga pemberian yang memakai masa lampau. Empat baris berurutan bergerak dari yang sudah terjadi ke yang belum. Kalau kelapangan yang lampau dipakai sebagai dasar ancaman yang akan datang, apa yang sedang dikatakan tentang hubungan keduanya? Kelapangan yang lampau dan pendakian yang akan datang berdiri di empat baris berdekatan. Kalau yang satu dipakai sebagai dasar bagi yang lain, apa yang menghubungkan keduanya? Empat baris berdekatan memuat keduanya.