إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَinnahu fakkara wa-qaddarasesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
  2. فَكَّرَfakkaraia memikirkan
  3. وَقَدَّرَwa-qaddaradan menentukan

Inti bacaan

Proses deliberasi yang disengaja: 'sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)', pengakuan bahwa penolakan bukan reaksi spontan tanpa pertimbangan, melainkan hasil kalkulasi sadar, yang justru membuatnya lebih tercela karena melibatkan pilihan rasional yang keliru.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(apa yang ditetapkannya)' tidak dipakai, redundan dengan verba (وَقَدَّرَ, wa qaddara) yang berarti menetapkan itu sendiri.

Kata (فَكَّرَ, fakkara) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti berpikir dengan sungguh-sungguh.

Kata (قَدَّرَ, qaddara) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 10:5, 25:2, 41:10, 74:18, 74:19, 74:20, 80:19, dan 87:3. Ia berarti menetapkan ukuran.

Perhatikan bahwa tiga dari delapan pemakaiannya ada di surah ini. Ketiganya berturut-turut di 74:18, 74:19, dan 74:20.

Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa hampir separuh pemakaiannya berdesakan di tiga baris.

Perhatikan bahwa lima pemakaian lainnya menyangkut ketetapan Allah. Yang tiga di sini menyangkut perhitungan manusia.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk dua pihak yang berbeda.

Perhatikan bahwa dua perbuatan disebut di ayat ini. Yang pertama berpikir, dan yang kedua menetapkan.

Dua perbuatan itu berurutan waktu. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini memulai rangkaian gambaran perbuatan. Enam ayat berikutnya melanjutkannya.

Rangkaian itu berakhir di 74:25. Al-Qur'an tidak menandai batasnya.

Perhatikan bahwa gambaran itu memakai susunan lampau seluruhnya. Perbuatannya sudah selesai.

Keseragaman itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa seluruh rangkaiannya memakai satu waktu.

Perhatikan bahwa ayat ini dibuka dengan penegas. Susunan itu memberi bobot pada gambarannya.

Al-Qur'an tidak menerangkan penegasan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa barisnya dibuka dengan penguat.

Perhatikan bahwa yang digambarkan bukan penolakan langsung. Yang digambarkan proses menuju penolakan.

Susunan itu memperlambat gambarannya. Al-Qur'an tidak menandai perlambatan itu.

Perhatikan bahwa dua perbuatan di ayat ini terjadi di dalam kepala. Tidak ada yang bisa dilihat orang lain.

Cara itu berbeda dari empat baris sesudahnya. Di sana perbuatannya tampak dari luar.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya bergerak dari dalam ke luar.

Perhatikan bahwa yang dicatat bukan kesimpulannya. Yang dicatat proses menuju kesimpulan itu.

Susunan itu tidak lazim untuk sebuah tuduhan. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.

Perhatikan bahwa 87:3 memakai sebutan menetapkan untuk pekerjaan Allah. Di sini ia dipakai untuk pekerjaan manusia.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk dua pihak.

Perhatikan bahwa 80:19 juga memakainya untuk pekerjaan Allah atas manusia. Susunannya berlawanan dengan ayat ini.

Perlawanan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah pendek memakainya untuk dua arah.

Perhatikan bahwa rangkaian gambaran ini panjang untuk surah sependek itu. Tujuh baris dipakai untuk satu orang.

Kepanjangan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu penolakan diberi tujuh baris.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan proses tokoh tersebut merancang tuduhan terhadap wahyu. Ayat ini memulai gambaran perbuatan orang itu langkah demi langkah. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti berpikir dengan sungguh-sungguh.

Kata terakhirnya muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 10:5, 25:2, 41:10, 74:18, 74:19, 74:20, 80:19, dan 87:3. Tiga dari delapan pemakaiannya ada di surah ini, dan ketiganya berturut-turut di 74:18, 74:19, dan 74:20.

Lima pemakaian lainnya menyangkut ketetapan Allah, sedangkan yang tiga di sini menyangkut perhitungan manusia. Dua perbuatan juga disebut di ayat ini, yaitu berpikir dan menetapkan, dan keduanya berurutan waktu.

Ayat ini juga memulai rangkaian gambaran perbuatan yang dilanjutkan enam ayat berikutnya sampai 74:25. Gambaran itu juga memakai kata kerja lampau seluruhnya, sehingga perbuatannya sudah selesai.

Ayat ini juga dibuka dengan penegas, dan yang digambarkan bukan penolakan langsung melainkan proses menuju penolakan. Dua perbuatan di ayat ini juga terjadi di dalam kepala, sehingga tidak ada yang bisa dilihat orang lain, berbeda dari empat baris sesudahnya yang perbuatannya tampak dari luar. Yang dicatat juga bukan kesimpulannya melainkan proses menuju kesimpulan itu. Ayat 87:3 dan 80:19 juga memakai sebutan menetapkan untuk pekerjaan Allah, sedangkan di sini ia dipakai untuk pekerjaan manusia.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dipakai Allah 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 10:5, 25:2, 41:10, 74:18, 74:19, 74:20, 80:19, dan 87:3. Tiga dari delapan pemakaiannya ada di surah ini, dan ketiganya berturut-turut. Hampir separuh pemakaiannya berdesakan di tiga baris yang bersambungan. Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu dengan satu kalimat pun. Sebuah sebutan yang lima dari delapan pemakaiannya menyangkut ketetapan Allah tiba-tiba dipakai untuk hitungan manusia. Perpindahan itu terjadi tiga kali beruntun di satu surah. Ayat 74:18, 74:19, dan 74:20 memakainya berturut-turut.
  • Lima pemakaian lainnya menyangkut ketetapan Allah, sedangkan yang tiga di sini menyangkut perhitungan manusia. Satu sebutan dipakai untuk dua pihak yang jauh berbeda kuasanya. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan letaknya yang menentukan siapa yang sedang menghitung. Dua perbuatan di baris ini terjadi di dalam kepala dan tidak bisa dilihat siapa pun. Empat baris sesudahnya baru menampilkan yang tampak dari luar. Lapisan luarnya baru dibuka empat baris kemudian.
  • Dua perbuatan disebut Allah di ayat ini, yaitu berpikir dan menetapkan, dan keduanya berurutan waktu. Susunan itu menggambarkan sebuah proses, bukan satu keputusan mendadak. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan pembacanya melihat langkahnya satu per satu. Menggambarkan proses dan bukan kesimpulan membuat pembacanya menyaksikan sesuatu tumbuh. Yang biasanya disembunyikan justru dibuka lapis demi lapis. Ayat 74:22 dan 74:23 baru menampilkan wajah dan punggungnya.
  • Ayat ini memulai rangkaian gambaran yang dilanjutkan Allah sampai 74:25. Gambaran itu memakai kata kerja lampau seluruhnya, sehingga perbuatannya sudah selesai dikerjakan. Al-Qur'an tidak menyatakan keseragaman itu, dan satu waktu dipakai di sepanjang tujuh baris. Tujuh baris untuk satu orang adalah takaran yang besar di surah sependek ini. Tidak ada pihak lain yang diberi ruang sebanyak itu. Golongan yang menolak di 74:10 cuma diberi satu baris.
  • Ayat ini dibuka Allah dengan penegas, dan susunan itu memberi bobot pada gambarannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penegasan itu. Barisnya dibuka dengan penguat sebelum satu perbuatan pun disebut, dan itu menyiapkan pembacanya menerima gambaran yang panjang. Waktu lampau dipakai di seluruh rangkaiannya tanpa satu selingan. Perbuatannya sudah selesai ketika gambarannya dibacakan. Satu waktu dipakai sepanjang tujuh baris penuh.
  • Yang digambarkan Allah bukan penolakan langsung, melainkan proses menuju penolakan. Susunan itu memperlambat gambarannya dan memperlihatkan tiap langkahnya. Kalau sebuah penolakan ternyata melewati tujuh langkah, apa yang sebenarnya sedang diperlihatkan tentang cara orang sampai ke sana? Penegas di awal baris menyiapkan pembacanya menerima gambaran yang panjang. Bobotnya dipasang sebelum satu perbuatan pun disebut. Penegas itu berdiri di patah pertama, mendahului segalanya.