ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ
Kemudian binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَtsumma qutila kayfa qaddarakemudian binasalah dia, bagaimanakah dia menetapkan
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- قُتِلَqutilabinasalah
- كَيْفَkayfabagaimana
- قَدَّرَqaddaradia menetapkan
Inti bacaan
Penekanan berulang atas kesalahan yang sama: 'kemudian, binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?', pengulangan yang menegaskan besarnya ironi antara kemampuan berpikir yang dimiliki dan hasil akhir yang justru menyesatkan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (كَيْفَ قَدَّرَ, kaifa qaddara) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 74:19 dan 74:20. Ini pemakaian keduanya.
Perhatikan bahwa ayat ini mengulang 74:19 hampir persis. Yang ditambahkan cuma satu sebutan penyambung di depannya.
Jadi dua ayat berurutan berbeda satu patah saja. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu.
Perhatikan bahwa cara yang sama dipakai di 75:34 dan 75:35. Di sana pun dua baris berbeda satu patah.
Dua surah bertetangga memakai cara yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Perhatikan bahwa sebutan penyambung itu menandai urutan. Celaan kedua datang sesudah yang pertama.
Susunan itu menunda, bukan menambah. Al-Qur'an tidak menyatakan penundaan itu.
Perhatikan bahwa isi celaannya tidak bertambah. Dua baris berlalu tanpa satu keterangan baru.
Kekosongan itu tidak diisi di ayat berikutnya. Al-Qur'an berpindah ke langkah berikutnya.
Perhatikan bahwa sebutan menetapkan dipakai untuk ketiga kalinya. Yang pertama di 74:18 dan yang kedua di 74:19.
Tiga pemakaian beruntun itu tidak lazim. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.
Perhatikan bahwa tiga pemakaian itu memakai tiga kedudukan yang berbeda. Yang pertama berupa gambaran, dan dua berikutnya berupa celaan.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan berpindah kedudukan.
Perhatikan bahwa ayat ini empat patah. Ia satu patah lebih panjang daripada 74:19.
Perbedaan sekecil itu memperlambat iramanya. Al-Qur'an tidak menandai perlambatan itu.
Perhatikan bahwa dua baris celaan ini menutup selaan. Sesudahnya 74:21 kembali ke gambaran.
Perhatikan bahwa pengulangan hampir utuh seperti ini jarang di Al-Qur'an. Ia biasanya dipakai untuk refrein yang berjauhan.
Di sini dua barisnya berdempetan. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.
Perhatikan bahwa 75:34 dan 75:35 memakai cara yang sama di surah tetangganya. Di sana pun dua baris berdempetan.
Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah bertetangga memakai cara yang sama.
Perhatikan bahwa dua-duanya berupa celaan. Kesamaan jenisnya menambah kesejajarannya.
Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai bahan yang serupa.
Perhatikan bahwa sebutan penyambung yang dipakai berarti kemudian. Ia menandai jarak waktu, bukan sekadar urutan.
Pemakaian itu ganjil untuk dua celaan yang sama. Al-Qur'an tidak menerangkan keganjilan itu.
Perhatikan bahwa sebutan penyambung yang sama dipakai di 74:21, 74:22, dan 74:23. Empat baris berturut-turut memakainya.
Keseragaman itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu penghubung terdengar empat kali beruntun.
Kata (قُتِلَ, qutila) tanpa awalan dipakai di baris ini. Ia muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 3:144, 17:33, 51:10, 74:19, 74:20, 80:17, 81:9, dan 85:4.
Perhatikan bahwa 74:19 memakainya dengan awalan penghubung. Dua baris berurutan memakai dua susunan.
Perbedaan itu tidak disebut Al-Qur'an. Yang tertulis cuma bahwa awalannya hilang di baris kedua.
Perhatikan bahwa dua baris celaan ini berdiri di tengah tujuh langkah. Letaknya membelah rangkaian itu.
Tafsiran
Ayat ini mengulang seruan celaan sebagai penegasan retoris. Ayat ini mengulang celaan di 74:19 hampir persis. Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 74:19 dan 74:20, dan ini pemakaian keduanya.
Yang ditambahkan cuma satu sebutan penyambung di depannya, sehingga dua ayat berurutan berbeda satu patah saja. Cara yang sama dipakai di 75:34 dan 75:35, sebab di sana pun dua baris berbeda satu patah.
Sebutan penyambung itu juga menandai urutan, sebab celaan kedua datang sesudah yang pertama. Susunan itu menunda dan bukan menambah, dan isi celaannya tidak bertambah sama sekali.
Sebutan menetapkan juga dipakai untuk ketiga kalinya, sesudah 74:18 dan 74:19, dan tiga pemakaian beruntun itu tidak lazim. Tiga pemakaian itu juga memakai tiga kedudukan yang berbeda.
Ayat ini juga empat patah dan satu patah lebih panjang daripada 74:19. Dua baris celaan ini juga menutup selaan, sebab 74:21 kembali ke gambaran. Pengulangan hampir utuh seperti ini juga jarang di Al-Qur'an, sebab ia biasanya dipakai untuk refrein yang berjauhan, sedangkan di sini dua barisnya berdempetan. Ayat 75:34 dan 75:35 memakai cara yang sama di surah tetangganya, dan dua-duanya juga berupa celaan. Sebutan penyambung yang dipakai juga berarti kemudian, sehingga ia menandai jarak waktu dan bukan sekadar urutan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini mengulang 74:19 hampir persis, dan yang ditambahkan Allah cuma satu sebutan penyambung di depannya. Dua ayat berurutan karena itu berbeda satu patah saja. Cara yang sama dipakai di 75:34 dan 75:35, sebab di sana pun dua baris berbeda satu patah. Dua surah bertetangga memakai cara yang sama tanpa satu penanda pun. Pengulangan hampir utuh biasanya dipakai untuk refrein yang berjauhan letaknya. Di sini dua barisnya justru berdempetan, dan hal itu membalik kebiasaan pemakaiannya. Kebiasaan pemakaiannya dibalik di dua baris ini.
- Sebutan penyambung yang dipakai Allah menandai urutan, sebab celaan kedua datang sesudah yang pertama. Susunan itu menunda dan bukan menambah keterangan apa pun. Isi celaannya tidak bertambah, dan dua baris berlalu tanpa satu keterangan baru. Sebutan penyambung yang berarti kemudian menandai jarak waktu, bukan sekadar urutan. Memakainya di antara dua celaan yang sama persis membuat jedanya terasa panjang. Jedanya terasa panjang meski katanya sama.
- Sebutan menetapkan dipakai Allah untuk ketiga kalinya, sesudah 74:18 dan 74:19. Tiga pemakaian beruntun seperti itu tidak lazim di surah mana pun. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan bunyinya terdengar tiga kali dalam tiga baris bersambungan. Tiga pemakaian beruntun satu sebutan dalam tiga baris membuat bunyinya menempel di telinga. Pembacanya sudah mendengarnya sebelum sempat memikirkan apa artinya. Telinganya bekerja lebih dulu daripada pikirannya.
- Tiga pemakaian itu memakai tiga kedudukan yang berbeda, sebab yang pertama berupa gambaran dan dua berikutnya berupa celaan. Satu sebutan berpindah kedudukan tiga kali dalam tiga baris. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan pembacanya harus mengenalinya dari susunannya. Satu sebutan berpindah dari gambaran ke celaan lalu ke celaan lagi. Kedudukannya berubah tiga kali tanpa satu huruf pun pada katanya berubah. Katanya tetap, dan kedudukannya yang berpindah.
- Ayat ini empat patah dan satu patah lebih panjang daripada 74:19. Perbedaan sekecil itu memperlambat iramanya tepat di celaan yang kedua. Al-Qur'an tidak menandai perlambatan itu, dan telinga pembacanya yang merasakan jedanya. Satu patah tambahan sudah cukup memperlambat baris yang cuma tiga patah. Jeda sekecil itu pun tetap terasa di bagian yang bergerak secepat ini. Bagian ini bergerak cepat, dan jeda kecil pun terasa.
- Dua baris celaan ini menutup selaan, dan sesudahnya Allah kembali ke gambaran di 74:21. Isi celaannya tidak pernah diisi di ayat mana pun. Kalau sebuah celaan diulang persis tanpa ditambah keterangan, apa yang sedang dikerjakan oleh pengulangan itu sendiri? Dua baris celaan ini membelah rangkaian tujuh langkah menjadi dua bagian. Letaknya menandai bahwa penilaiannya sudah jatuh di tengah jalan. Tujuh langkahnya terbelah oleh dua baris di tengah.