فَقَالَ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ

Lalu ia berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَقَالَ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُfa-qaala in haadzaa illaa sihrun yu'tsarulalu ia berkata, ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَقَالَfa-qaalalalu ia berkata
  2. إِنْinjika
  3. هَٰذَاhaadzaaini
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. سِحْرٌsihrunsihir
  6. يُؤْثَرُyu'tsarudiwariskan

Inti bacaan

Tuduhan yang dilontarkan setelah kegagalan mencari celah: 'lalu ia berkata: ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari', label yang dipaksakan meski tidak didukung bukti, upaya menyelamatkan muka setelah proses pemikiran mendalam gagal menemukan kelemahan nyata.

Penjelasan pilihan kata

'Haadzaa' (dekat) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'ini' sesuai kaidah baku. Kutip dibuka di sini, berlanjut ke 74:25.

Rangkaian (إِنْ هَٰذَا إِلَّا, in haadzaa illaa) muncul 15 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 6:7, 11:7, 34:43, dan 37:15. Ia menyempitkan sesuatu menjadi satu hal saja.

Perhatikan bahwa dua dari 15 pemakaiannya ada di surah ini. Keduanya berturut-turut di 74:24 dan 74:25.

Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pemakaiannya berdempetan.

Kata (سِحْرٌ, sihrun) muncul 15 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 10:76, 27:13, 43:30, dan 46:7. Ia berarti sihir.

Perhatikan bahwa 6:7, 11:7, 34:43, dan 37:15 memakai dua sebutan itu bersama. Empat ayat memakai gabungan yang sama dengan ayat ini.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima ayat memakai tuduhan yang sama.

Kata (يُؤْثَرُ, yu'tsaru) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti diwariskan atau ditiru dari orang dulu.

Perhatikan bahwa tuduhan itu memuat dua bagian. Yang pertama menyebutnya sihir, dan yang kedua menyebutnya turunan.

Bagian kedua memperlemah bagian pertama. Sihir yang ditiru bukan sihir yang baru.

Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sifat disebut bersama.

Perhatikan bahwa ucapan ini datang sesudah enam langkah. Rangkaian gerakannya selesai lebih dulu.

Urutan itu menaruh kesimpulan di akhir. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu.

Perhatikan bahwa ini ucapan pertama orang itu di surah ini. Sebelumnya ia cuma digambarkan.

Perubahan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa suaranya baru muncul di baris kedua puluh empat.

Perhatikan bahwa kutipannya tidak diberi tanda pembuka selain satu perbuatan. Yang menandainya cuma sebutan berkata.

Perhatikan bahwa sebutan berkata di awal ayat memakai penghubung penanda akibat. Ucapannya menyusul langsung sesudah kesombongannya.

Susunan itu menyambungkan sikap dan katanya. Al-Qur'an tidak menandai penyambungan itu.

Perhatikan bahwa penghubung itu berbeda dari yang dipakai di empat baris sebelumnya. Di sana yang dipakai penanda urutan.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa penghubungnya berganti di baris terakhir.

Perhatikan bahwa 34:43 memakai dua sebutan itu bersama untuk menolak wahyu. Susunannya hampir sama dengan ayat ini.

Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai tuduhan yang sama persis.

Perhatikan bahwa 6:7 dan 37:15 juga memakainya untuk tuduhan yang sama. Empat surah memakai bahan yang sama.

Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tuduhan itu berulang di banyak tempat.

Perhatikan bahwa yang dituduh sihir tidak disebut apa. Sebutan penunjuk dipakai tanpa nama.

Kekosongan itu dibiarkan terbuka. Yang bisa dibaca cuma penunjuknya sendiri.

Perhatikan bahwa dua baris ucapan ini yang pertama memuat suara manusia di surah ini. Sebelumnya semua suara milik yang berbicara.

Tafsiran

Ayat ini mencatat tuduhan tokoh tersebut bahwa wahyu adalah sihir warisan. Ayat ini memuat ucapan orang itu sesudah enam langkah gerakannya. Rangkaian tiga kata sesudah kata kerjanya muncul 15 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 6:7, 11:7, 34:43, dan 37:15.

Dua dari 15 pemakaiannya ada di surah ini, dan keduanya berturut-turut di 74:24 dan 74:25. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.

Kata kelimanya muncul 15 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 10:76, 27:13, 43:30, dan 46:7. Ayat 6:7, 11:7, 34:43, dan 37:15 memakai dua sebutan itu bersama, sehingga lima ayat memakai tuduhan yang sama.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tuduhan itu memuat dua bagian. Yang pertama menyebutnya sihir, dan yang kedua menyebutnya turunan.

Ucapan ini juga datang sesudah enam langkah, dan ini ucapan pertama orang itu di surah ini. Sebelumnya ia cuma digambarkan tanpa bersuara. Sebutan berkata di awal ayat juga memakai penghubung penanda akibat, sehingga ucapannya menyusul langsung sesudah kesombongannya, dan penghubung itu berbeda dari yang dipakai di empat baris sebelum ini. Ayat 34:43, 6:7, dan 37:15 juga memakai dua sebutan itu bersama untuk tuduhan yang sama. Yang dituduh sihir juga tidak disebut apa, sebab sebutan penunjuk dipakai tanpa nama.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian tiga kata sesudah kata kerjanya dipakai Allah 15 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 6:7, 11:7, 34:43, dan 37:15. Dua dari 15 pemakaiannya ada di surah ini, dan keduanya berturut-turut di 74:24 dan 74:25. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan pengulangan sedekat itu jarang terjadi. Ayat 6:7, 11:7, 34:43, dan 37:15 memakai gabungan yang sama untuk menolak wahyu. Lima tempat memuat tuduhan yang tidak berbeda susunannya. Tak satu pun dari kelimanya menunjuk kepada yang lain.
  • Ayat 6:7, 11:7, 34:43, dan 37:15 memakai dua sebutan itu bersama, sehingga lima ayat memakai tuduhan yang sama persis. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Tuduhan yang sama diulang di lima tempat yang berjauhan, dan tak satu pun menunjuk yang lain. Penghubung di awal baris berganti dari penanda urutan ke penanda akibat. Pergantian itu jatuh tepat di baris ketika ia mulai bersuara. Sebelum baris ini semua penghubungnya penanda urutan.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti diwariskan atau ditiru dari orang dulu. Tuduhan itu memuat dua bagian, sebab yang pertama menyebutnya sihir dan yang kedua menyebutnya turunan. Bagian kedua memperlemah bagian pertama, sebab sihir yang ditiru bukan sihir yang baru. Sebutan penunjuk dipakai tanpa menyebut apa yang ditunjuk. Pembacanya harus menyimpulkannya dari baris-baris sebelumnya sendiri. Nama barangnya tidak pernah tertulis di baris mana pun.
  • Ucapan ini datang sesudah enam langkah yang digambarkan Allah, sehingga rangkaian gerakannya selesai lebih dulu. Urutan itu menaruh kesimpulan di tempat terakhir. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan pembacanya sudah tahu jawabannya sebelum ia mengucapkannya. Sesuatu yang disebut sihir sekaligus disebut turunan kehilangan dua-duanya. Tuduhan yang saling melemahkan tidak menyisakan pijakan. Dua tuduhan itu tidak menyisakan pijakan bersama.
  • Ini ucapan pertama orang itu di surah ini, sebab sebelumnya Allah cuma menggambarkannya tanpa bersuara. Suaranya baru muncul di baris kedua puluh empat. Al-Qur'an tidak menandai perubahan itu, dan pembacanya menunggu dua puluh tiga baris untuk mendengarnya. Suara manusia baru terdengar di baris kedua puluh empat. Dua puluh tiga baris sebelumnya seluruhnya milik yang berbicara. Diam yang panjang itu berakhir tepat di baris ini.
  • Menyebutnya sihir sekaligus menyebutnya tiruan membuat tuduhannya bertabrakan di dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang ditiru dari orang dulu tidak lagi mengherankan siapa pun. Kalau sebuah tuduhan melemahkan dirinya sendiri di kalimat yang sama, apa yang sebenarnya sedang diperlihatkan tentang orang yang mengucapkannya? Enam langkah gerakan berakhir tepat sebelum ucapannya. Yang membacanya sudah tahu jawabannya sebelum mulutnya bergerak. Enam langkah gerakan mendahului satu patah ucapan.