كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Setiap jiwa tergadai atas apa yang telah ia usahakan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌkullu nafsin bi-maa kasabat rahiinatunsetiap jiwa tergadai atas apa yang telah ia usahakan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. كُلُّkullusetiap
  2. نَفْسٍnafsinjiwa
  3. بِمَاbi-maaatas apa yang
  4. كَسَبَتْkasabatdiusahakan
  5. رَهِينَةٌrahiinatuntergadai

Inti bacaan

Prinsip akuntabilitas personal yang fundamental: 'setiap jiwa tergadai atas apa yang telah ia usahakan', metafora gadai yang menegaskan bahwa tindakan seseorang menjadi jaminan bagi status akhirnya, tanggung jawab yang murni personal tanpa bisa dialihkan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (كُلُّ نَفْسٍ, kullu nafsin) muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 3:185, 21:35, 39:70, dan 45:22. Ia berarti tiap jiwa.

Rangkaian (بِمَا كَسَبَتْ, bimaa kasabat) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:225, 6:70, 13:33, 30:41, 40:17, 42:30, 45:22, dan 74:38. Ia berarti dengan apa yang diusahakannya.

Perhatikan bahwa 45:22 memakai dua rangkaian itu bersama. Susunannya hampir sama dengan ayat ini.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai gabungan yang sama.

Kata (رَهِينَةٌ, rahiinah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti tergadai atau tertahan.

Perhatikan bahwa sebutan itu memakai susunan perempuan. Ia menyesuaikan diri dengan sebutan jiwa.

Penyesuaian itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa susunannya sejalan.

Perhatikan bahwa gambaran tergadai memakai perumpamaan utang. Jiwa digambarkan seperti barang jaminan.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya memakai urusan berutang.

Perhatikan bahwa yang menahan tidak disebut. Susunannya tidak menyebut kepada siapa ia tergadai.

Kekosongan itu dibiarkan terbuka. Yang bisa dibaca cuma keadaannya.

Perhatikan bahwa ayat ini memakai sebutan tiap jiwa, bukan tiap orang. Yang disebut bagian dalam dirinya.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sasarannya jiwa.

Perhatikan bahwa ayat ini berlaku bagi semua tanpa kecuali. Pengecualiannya baru datang di 74:39.

Susunan itu menyatakan aturan umum lebih dulu. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini empat patah. Ia lebih pendek daripada 74:37 yang mendahuluinya.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa iramanya kembali cepat.

Perhatikan bahwa aturan ini dinyatakan tanpa kecuali di baris ini. Pengecualiannya baru datang di 74:39.

Susunan itu menahan kelegaannya satu baris. Al-Qur'an tidak menandai penahanan itu.

Perhatikan bahwa 45:22 memakai dua rangkaian itu bersama dengan tambahan. Di sana disebut pula bahwa mereka tidak dizalimi.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini lebih ringkas.

Perhatikan bahwa 52:21 memakai gambaran tergadai dengan sebutan yang berbeda. Susunannya serupa dengan ayat ini.

Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai gambaran yang mirip.

Perhatikan bahwa yang menahan jiwa itu usahanya sendiri. Bukan pihak luar yang menahannya.

Susunan itu memindahkan sebabnya ke dalam diri. Al-Qur'an tidak menyatakan pemindahan itu.

Perhatikan bahwa gambaran gadai menuntut ada yang menebus. Penebusnya tidak disebut di ayat mana pun.

Kekosongan itu dibiarkan terbuka. Yang bisa dibaca cuma keadaan tergadainya.

Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan lampau untuk usahanya. Perbuatannya sudah selesai ketika penahanannya berlaku.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan tanggung jawab pribadi setiap jiwa atas perbuatannya. Ayat ini menyatakan aturan umum bahwa tiap jiwa tertahan oleh usahanya. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 3:185, 21:35, 39:70, dan 45:22.

Rangkaian sesudahnya muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 2:225, 6:70, 13:33, 30:41, 40:17, 42:30, 45:22, dan 74:38. Perhatikan bahwa 45:22 memakai dua rangkaian itu bersama dengan susunan yang hampir sama.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia memakai bentuk perempuan yang menyesuaikan diri dengan sebutan jiwa. Gambaran tergadai juga memakai perumpamaan utang, sehingga jiwa digambarkan seperti barang jaminan.

Yang menahan juga tidak disebut, sebab susunannya tidak menyebut kepada siapa ia tergadai. Ayat ini juga memakai sebutan tiap jiwa dan bukan tiap orang.

Ayat ini juga berlaku bagi semua tanpa kecuali, sebab pengecualiannya baru datang di 74:39. Aturan ini juga dinyatakan tanpa kecuali di baris ini, sebab pengecualiannya baru datang di 74:39. Ayat 45:22 memakai dua rangkaian itu bersama dengan tambahan bahwa mereka tidak dizalimi, sedangkan surah ini lebih ringkas. Yang menahan jiwa itu juga usahanya sendiri dan bukan pihak luar, dan gambaran gadai itu menuntut ada yang menebus meski penebusnya tidak disebut.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah 18 kali dan rangkaian sesudahnya 8 kali di seluruh Al-Qur'an. Ayat 45:22 memakai dua rangkaian itu bersama dengan susunan yang hampir sama dengan ayat ini. Dua ayat memakai gabungan yang sama tanpa satu pun menunjuk yang lain. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Ayat 45:22 memuat dua rangkaian itu bersama dengan tambahan keterangan. Surah ini memakainya lebih ringkas tanpa tambahan apa pun. Empat patah kata saja sudah memuat seluruh aturan itu di dalamnya.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti tergadai atau tertahan. Gambaran itu memakai perumpamaan utang, sehingga jiwa dilukiskan seperti barang jaminan. Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan gambarannya diambil dari urusan berutang sehari-hari. Gambaran gadai menuntut ada yang menebus, dan penebusnya tidak pernah disebut. Kekosongan itu bertahan terus sampai surahnya benar-benar berakhir. Penebusnya sama sekali tidak pernah tertulis sampai baris terakhir surahnya.
  • Yang menahan tidak disebut Allah, sebab susunannya tidak menyebut kepada siapa jiwa itu tergadai. Kekosongan itu dibiarkan terbuka sampai surahnya berakhir. Yang bisa dibaca cuma keadaannya, bukan pemegang gadainya. Al-Qur'an tidak mengisi kekosongan itu di ayat mana pun. Yang menahan jiwa itu usahanya sendiri, bukan pihak luar mana pun. Sebabnya dipindahkan ke dalam diri orangnya. Tidak ada pihak ketiga mana pun yang bisa disalahkan atas keadaan itu.
  • Ayat ini memakai sebutan tiap jiwa, bukan tiap orang, sehingga yang disebut Allah bagian dalam dirinya. Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Sasarannya jiwa, dan itu yang membuat gambarannya menyentuh sesuatu yang tidak terlihat. Sebutan jiwa dipakai, bukan sebutan orang atau tubuh. Yang tertahan justru bagian yang tidak terlihat oleh siapa pun. Ayat 74:38 memilihnya, bukan sebutan orang atau tubuh.
  • Ayat ini berlaku bagi semua tanpa kecuali, sebab Allah baru menyebut pengecualiannya di 74:39. Susunan itu menyatakan aturan umum lebih dulu lalu perkecualiannya. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan pembacanya sempat merasa tercakup seluruhnya. Aturan umumnya dinyatakan lebih dulu, dan pengecualiannya menyusul di 74:39. Pembacanya sempat merasa tercakup seluruhnya selama satu baris penuh. Ayat 74:39 baru membuka jalan keluarnya bagi satu golongan.
  • Ayat ini empat patah dan lebih pendek daripada 74:37 yang mendahuluinya. Iramanya kembali cepat sesudah baris tawaran yang panjang. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu. Kalau panjang barisnya naik turun mengikuti isinya, apa yang sedang dikerjakan irama itu terhadap pembacanya? Empat patah melawan enam patah di 74:37 yang mendahuluinya. Iramanya kembali cepat sesudah baris tawaran yang panjang itu lewat. Empat patah sesudah enam patah, sehingga iramanya kembali cepat lagi.