وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ
Dan kami selalu larut dalam kebatilan bersama orang-orang yang larut,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَwa-kunnaa nakhuudhu ma'a l-khaa'idhiinadan kami selalu larut dalam kebatilan bersama orang-orang yang larut
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَكُنَّاwa-kunnaadan kami adalah
- نَخُوضُnakhuudhukami membicarakan kebatilan
- مَعَma'abersama
- الْخَائِضِينَl-khaa'idhiinaorang-orang yang membicarakan kebatilan
Inti bacaan
Pengakuan ketiga tentang keterlibatan dalam kesia-siaan: 'kami selalu larut dalam kebatilan bersama orang-orang yang larut', pengaruh sosial negatif yang diikuti secara pasif, mengikuti arus tanpa mempertahankan integritas individu.
Penjelasan pilihan kata
Kata (نَخُوضُ, nakhuudhu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 9:65 dan 74:45. Ia berarti kami berbicara sia-sia.
Perhatikan bahwa di 9:65 sebutan itu dipakai sebagai alasan yang dibantah. Di sini ia dipakai sebagai pengakuan.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk membela dan untuk mengaku.
Kata (الْخَائِضِينَ, al-khaa-idhiin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menamai orang yang berbicara sia-sia.
Perhatikan bahwa dua sebutan di ayat ini berasal dari bunyi dasar yang sama. Yang satu perbuatan, dan yang lain pelakunya.
Pasangan sebunyi itu menegaskan gambarannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penegasan tersebut.
Perhatikan bahwa cara itu dipakai juga di 74:48. Di sana pun dua sebutan sebunyi dipakai berpasangan.
Kesamaan cara itu tidak disebut Al-Qur'an. Yang tertulis cuma bahwa dua baris memakai jalan yang sama.
Perhatikan bahwa sebab ketiga ini berupa penegasan. Dua sebab sebelumnya berupa peniadaan.
Pergantian itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa arahnya berbalik di baris ketiga.
Perhatikan bahwa yang diakui perbuatan bersama, bukan perbuatan sendiri. Mereka menyebut ikut bersama orang lain.
Susunan itu menyebut pengaruh pergaulan. Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu.
Perhatikan bahwa dua sebab pertama menyangkut kelalaian. Sebab ketiga menyangkut perbuatan yang dikerjakan.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa jenisnya berganti.
Perhatikan bahwa ayat ini empat patah. Ia sepanjang 74:43 dan 74:44.
Tiga baris beruntun itu sama panjangnya satu sama lain. Al-Qur'an tidak menyebut keseragaman tersebut.
Perhatikan bahwa sebab ketiga ini tidak menyebut isi pembicaraannya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka bicarakan.
Perhatikan bahwa 9:65 memakai sebutan itu sebagai alasan yang ditolak. Di sana mereka mengaku cuma bersenda gurau.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk dua kedudukan.
Perhatikan bahwa di 9:65 alasannya dibantah. Di sini pengakuannya diterima sebagai sebab.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu perbuatan dinilai dua kali.
Perhatikan bahwa sebutan pelakunya berbentuk jamak. Mereka mengaku ikut bersama banyak orang.
Susunan itu menyebar tanggung jawabnya. Al-Qur'an tidak menyatakan penyebaran itu.
Perhatikan bahwa penyebaran itu tidak meringankan mereka. Pengakuan itu tetap dicatat sebagai sebab.
Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebabnya tetap berlaku.
Perhatikan bahwa sebab ketiga ini yang pertama menyangkut lisan. Dua sebab sebelumnya menyangkut perbuatan.
Perbedaan itu tidak disebut Al-Qur'an. Yang tertulis cuma bahwa jenis kesalahannya berganti.
Perhatikan bahwa lisan disebut sesudah tubuh dan harta. Urutannya menaruhnya di tempat ketiga.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan pengakuan keterlibatan mereka dalam pembicaraan sia-sia. Ayat ini memuat sebab ketiga yang diakui, yaitu ikut berbicara sia-sia. Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 9:65 dan 74:45, dan di 9:65 ia dipakai sebagai alasan yang dibantah.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menamai orang yang berbicara sia-sia. Dua sebutan di ayat ini juga berasal dari bunyi dasar yang sama, sebab yang satu perbuatan dan yang lain pelakunya.
Cara itu dipakai juga di 74:48, sebab di sana pun dua sebutan sebunyi dipakai berpasangan. Sebab ketiga ini juga berupa penegasan, sedangkan dua sebab sebelumnya berupa peniadaan.
Yang diakui juga perbuatan bersama dan bukan perbuatan sendiri, sebab mereka menyebut ikut bersama orang lain. Dua sebab pertama juga menyangkut kelalaian, sedangkan sebab ketiga menyangkut perbuatan yang dikerjakan.
Ayat ini juga empat patah, sepanjang 74:43 dan 74:44, sehingga tiga baris berturut-turut sama panjangnya. Ayat 9:65 memakai sebutan itu sebagai alasan yang ditolak, sebab di sana mereka mengaku cuma bersenda gurau, sedangkan di sini pengakuannya diterima sebagai sebab. Sebutan pelakunya juga berbentuk jamak, sehingga mereka mengaku ikut bersama banyak orang, meski penyebaran itu tidak meringankan mereka. Sebab ketiga ini juga yang pertama menyangkut lisan, sedangkan dua sebab sebelumnya menyangkut perbuatan.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya dipakai Allah cuma di 9:65 dan 74:45. Di 9:65 sebutan itu dipakai sebagai alasan yang dibantah, sedangkan di sini ia dipakai sebagai pengakuan. Satu sebutan dipakai untuk membela diri dan untuk mengaku bersalah. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Ayat 9:65 memakai sebutan itu sebagai alasan yang ditolak mentah-mentah. Di sini pengakuan yang sama itu justru diterima sebagai sebab. Ayat 9:65 menolak alasan yang serupa itu mentah-mentah.
- Dua sebutan di ayat ini berasal dari bunyi dasar yang sama, sebab yang satu perbuatan dan yang lain pelakunya. Susunan itu memperkuat gambarannya tanpa menambah keterangan. Cara itu dipakai juga oleh Allah di 74:48 dengan dua sebutan sebunyi. Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan cara itu. Sebutan pelakunya berbentuk jamak, sehingga mereka mengaku ikut bersama banyak orang. Penyebaran tanggung jawab seperti itu tidak meringankan mereka sedikit pun. Banyak orang ikut disebut, tetapi tanggung jawabnya tetap utuh.
- Sebab ketiga ini berupa penegasan, sedangkan dua sebab sebelumnya berupa peniadaan. Arahnya berbalik tepat di baris ketiga dari empat baris pengakuan. Al-Qur'an tidak menyatakan pergantian itu, dan empat baris itu terbelah dua di tengahnya. Ayat 74:48 juga memakai dua sebutan sebunyi berpasangan. Cara itu dipakai dua kali di bagian penutup surah ini. Ayat 74:48 juga memakai cara sebunyi yang sama persis dengannya.
- Yang diakui perbuatan bersama, bukan perbuatan sendiri, sebab mereka menyebut ikut bersama orang lain. Susunan itu menyebut pengaruh pergaulan tanpa menyatakannya terang-terangan. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang mengajak lebih dulu, dan yang tercatat cuma bahwa mereka ikut. Sebab ketiga ini yang pertama menyangkut lisan di antara empat. Dua sebab yang sebelumnya menyangkut tubuh dan harta. Tubuh dan harta disebut lebih dulu, baru kemudian lisan menyusul.
- Dua sebab pertama yang disebut Allah menyangkut kelalaian, sedangkan sebab ketiga menyangkut perbuatan yang dikerjakan. Jenis kesalahannya berganti di tengah pengakuan. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan pengakuan mereka mencakup dua jenis sekaligus. Isi pembicaraan mereka tidak pernah disebut di baris mana pun. Yang dicatat cuma bahwa mereka ikut larut bersama orang-orang lain. Isi pembicaraan mereka sama sekali tak tertulis di baris mana pun.
- Sebab ketiga ini tidak menyebut isi pembicaraannya, sebab Allah tidak menyebut apa yang mereka bicarakan. Yang dicatat cuma bahwa mereka ikut larut bersama orang-orang lain. Kalau isi pembicaraannya tidak dianggap perlu dicatat, apa sebenarnya yang sedang dipersoalkan dari kebiasaan itu? Empat baris pengakuan itu terbelah dua di tengahnya. Dua peniadaan disebut lebih dulu, lalu dua penegasan menyusul. Ayat 74:43 dan 74:44 meniadakan, sedangkan dua baris berikutnya menegaskan.