بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ
Aku bersumpah demi hari Kiamat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِlaa uqsimu bi-yawmi l-qiyaamatiAku bersumpah demi hari Kiamat
Terjemahan per kata (4 kata)
- لَاlaasungguh
- أُقْسِمُuqsimuaku bersumpah
- بِيَوْمِbi-yawmipada hari
- الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
Inti bacaan
Pembukaan Al-Qiyamah dengan sumpah penuh makna: 'Aku bersumpah demi hari Kiamat', penggunaan objek sumpah yang langsung menjadi tema utama surah, penegasan awal tentang pentingnya topik yang akan dibahas.
Penjelasan pilihan kata
Partikel 'laa' di depan 'uqsimu' bersifat penegas sumpah (bukan negasi harfiah 'aku tidak bersumpah') menurut mayoritas ahli tata bahasa Quran: pola serupa muncul berpasangan di 75:2. 'Al-qiyaamah' diterjemahkan 'Kiamat', bukan diterjemahkan seperti pola as-saa'ah/al-Haaqqah/al-Qaari'ah, karena 'Kiamat' sudah menjadi kata serapan baku bahasa Indonesia (tercatat KBBI): berbeda dari kasus-kasus sebelumnya yang memang murni transliterasi teknis tanpa padanan serapan.
Rangkaian (لَا أُقْسِمُ, laa uqsimu) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1. Ia membuka sebuah sumpah.
Perhatikan bahwa dua dari delapan pemakaiannya ada di surah ini. Dua-duanya di ayat pertama dan kedua.
Jadi cuma surah ini yang memakainya dua kali. Enam surah lainnya memakainya sekali saja.
Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu pembuka dipakai dua kali beruntun di sini.
Rangkaian (بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ, bi yaumil qiyaamah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menamai hari yang menjadi nama surah ini.
Kata (الْقِيَامَةِ, al-qiyaamah) sendiri muncul 70 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:85, 3:55, 4:87, dan 17:13. Ia dipakai di 30 surah.
Perhatikan bahwa yang jarang bukan sebutan itu, melainkan gabungannya dengan huruf sumpah. Gabungan itu cuma sekali.
Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu susunan dipakai sekali sedangkan bagiannya dipakai puluhan kali.
Perhatikan bahwa ayat ini dibuka dengan huruf pengingkar sebelum sumpahnya. Susunan itu tidak lazim untuk sebuah sumpah.
Yang bisa dibaca cuma bahwa pembacanya bertemu penyangkalan lebih dulu. Sumpahnya datang sesudah itu.
Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ia dipakai di delapan tempat dengan cara yang sama.
Perhatikan bahwa sumpah ini tidak diikuti jawaban langsung. Jawabannya baru muncul di 75:3.
Jarak antara sumpah dan pokoknya dua ayat. Susunan itu menahan pembacanya sejenak.
Al-Qur'an tidak menandai penundaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sumpah lewat sebelum pokoknya disebut.
Perhatikan bahwa yang disumpahi bukan benda langit. Yang disumpahi sebuah hari.
Cara itu berbeda dari 81:15 dan 84:16 yang memakai pembuka sama. Di sana yang disumpahi bintang dan senja.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pembuka yang sama dipakai untuk sasaran yang berbeda-beda.
Perhatikan bahwa surah ini dinamai dengan sebutan yang muncul di ayat pertamanya. Nama dan pembukanya bertemu di satu tempat.
Perhatikan bahwa surah ini memakai sebutan hari kebangkitan di ayat pertama dan di 75:6. Dua penyebutan itu berjarak lima ayat.
Yang pertama berupa sumpah, dan yang kedua berupa pertanyaan orang yang meragukannya. Susunan itu menaruh dua sikap berhadapan.
Al-Qur'an tidak menandai perhadapan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk bersumpah dan untuk mengejek.
Perhatikan bahwa ayat ini pendek, cuma empat patah. Ia salah satu ayat terpendek di surahnya.
Kependekan itu berlaku hampir di seluruh surah ini. Empat puluh ayatnya memuat 164 patah saja.
Al-Qur'an tidak menandai kependekan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa rata-rata ayatnya cuma empat patah.
Perhatikan bahwa sumpah biasanya menuntut sesuatu yang dipercaya pendengarnya. Yang disumpahi di sini justru yang mereka bantah.
Susunan itu membalik kelaziman. Yang diragukan dipakai sebagai penguat.
Al-Qur'an tidak menerangkan pembalikan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa hari yang dibantah berdiri sebagai saksi.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan sumpah penegasan tentang kepastian hari Kiamat. Ayat ini membuka surah dengan sumpah atas hari kebangkitan. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1.
Dua dari delapan pemakaiannya ada di surah ini, dan dua-duanya di ayat pertama dan kedua, sehingga cuma surah ini yang memakainya dua kali. Enam surah lainnya memakainya sekali saja.
Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan kata terakhirnya sendiri muncul 70 kali di 30 surah, antara lain 2:85, 3:55, 4:87, dan 17:13. Jadi yang jarang bukan kata itu melainkan gabungannya dengan huruf sumpah.
Ayat ini juga dibuka dengan huruf pengingkar sebelum sumpahnya, dan susunan itu tidak lazim untuk sebuah sumpah. Pembacanya bertemu penyangkalan lebih dulu, dan sumpahnya datang sesudah itu.
Sumpah ini juga tidak diikuti jawaban langsung, sebab jawabannya baru muncul di 75:3. Jarak antara sumpah dan pokoknya dua ayat, dan yang disumpahi bukan benda langit melainkan sebuah hari. Surah ini juga memakai sebutan hari kebangkitan di ayat pertama dan di 75:6, dengan jarak lima ayat, dan yang pertama berupa sumpah sedangkan yang kedua berupa pertanyaan orang yang meragukannya. Ayat ini juga pendek, cuma empat patah, sejalan dengan seluruh surahnya yang memuat 164 patah dalam empat puluh ayat.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah di 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1. Dua dari delapan pemakaiannya ada di surah ini, dan dua-duanya berurutan di ayat pertama dan kedua. Enam surah lainnya memakainya sekali saja, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Satu pembuka yang dipakai dua kali beruntun menandai bahwa yang hendak dikuatkan bukan perkara ringan. Delapan pemakaiannya tersebar di tujuh surah, dan cuma di sini ia berdesakan di dua baris yang bersentuhan.
- Kata terakhirnya dipakai Allah 70 kali di 30 surah, antara lain 2:85, 3:55, 4:87, dan 17:13. Gabungannya dengan huruf sumpah cuma dipakai di ayat ini. Yang jarang bukan katanya melainkan susunannya, dan perbedaan antara tujuh puluh dan satu itu tidak diberi keterangan apa pun. Sebuah kata yang dipakai tujuh puluh kali sudah lazim di telinga pembacanya. Yang membuatnya berhenti karena itu bukan katanya, melainkan susunan yang cuma sekali dipakai di seluruh mushaf.
- Ayat ini dibuka Allah dengan huruf pengingkar sebelum sumpahnya, dan susunan itu tidak lazim untuk sebuah sumpah. Pembacanya bertemu penyangkalan lebih dulu, dan sumpahnya datang sesudah itu. Susunan yang sama dipakai di delapan tempat, sehingga ia bukan kekhususan surah ini. Pembaca yang mengenali pola ini di delapan tempat akan berhenti menganggapnya ganjil. Yang ganjil justru kalau susunan itu dianggap khas satu surah saja, padahal ia tersebar di tujuh surah.
- Sumpah ini tidak diikuti jawaban langsung, sebab Allah baru menyebut pokoknya di 75:3. Jarak antara sumpah dan pokoknya dua ayat, dan susunan itu menahan pembacanya sejenak. Dua sumpah lewat sebelum perkaranya disebut, dan Al-Qur'an tidak menandai penundaan itu. Menunda pokok selama dua ayat memaksa pembacanya bertahan tanpa tahu ke mana arahnya. Cara seperti itu menyiapkan telinga sebelum perkaranya dijatuhkan.
- Yang disumpahi Allah di sini bukan benda langit melainkan sebuah hari. Cara itu berbeda dari 81:15 dan 84:16 yang memakai pembuka sama tetapi menyumpahi bintang dan senja. Pembuka yang sama dipakai untuk sasaran yang berbeda-beda, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Bintang dan senja bisa dilihat, sedangkan hari kebangkitan belum pernah dilihat siapa pun. Menyumpahi yang belum terlihat menaruh beban pembuktiannya di tempat yang berbeda.
- Surah ini dinamai Allah dengan kata yang muncul di ayat pertamanya, sehingga nama dan pembukanya bertemu di satu tempat. Kalau sebuah surah menaruh namanya di baris pertama dan menghabiskan empat puluh ayat menguraikannya, apa yang sebenarnya sedang dijanjikan kepada pembacanya sejak awal? Empat puluh ayat sesudahnya menguraikan apa yang baru disebut sekali di baris pertama. Susunan seperti itu menjadikan nama surahnya sekaligus ringkasan isinya, dan pembacanya sudah tahu pokoknya sebelum baris kedua.