وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Dan Aku bersumpah demi jiwa yang banyak mencela.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِwa-laa uqsimu bi-n-nafsi l-lawwaamatidan Aku bersumpah demi jiwa yang banyak mencela
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- أُقْسِمُuqsimuAku bersumpah
- بِالنَّفْسِbi-n-nafsidengan jiwa
- اللَّوَّامَةِl-lawwaamatiyang mencela
Inti bacaan
Sumpah kedua tentang kesadaran moral internal: 'Aku bersumpah demi jiwa yang banyak mencela (dirinya)', pengakuan terhadap suara hati nurani yang terus-menerus mengevaluasi dan mengoreksi diri sebagai fenomena universal yang layak dijadikan bukti, mekanisme internal yang menjaga kesadaran moral bahkan tanpa pengawasan eksternal.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(dirinya)' tidak dipakai: 'al-lawwaamati' (susunan yang menguatkan, 'yang banyak mencela') tidak memiliki objek eksplisit dalam Arab.
Kata (اللَّوَّامَةِ, al-lawwaamah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menyifati jiwa yang mencela dirinya sendiri.
Perhatikan bahwa ayat ini mengulang pembuka 75:1. Dua ayat berurutan memakai rangkaian sumpah yang sama.
Rangkaian itu dipakai 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1. Enam surah lain memakainya sekali saja.
Kata (بِالنَّفْسِ, bin-nafsi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 5:45 dan 75:2. Ia berarti dengan jiwa.
Perhatikan bahwa di 5:45 sebutan itu dipakai untuk nyawa yang dibalas nyawa. Di sini ia dipakai untuk jiwa yang mencela dirinya.
Dua pemakaiannya berdiri di dua perkara yang berjauhan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sumpah berdiri berdampingan tanpa penghubung.
Perhatikan bahwa yang disumpahi di sini bukan hari, melainkan jiwa. Dua sumpah berurutan menyebut dua hal yang berbeda jenisnya.
Yang satu di luar manusia, dan yang lain di dalam dirinya. Susunan itu menaruh dunia dan batin berdampingan.
Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sumpah menyebut dua wilayah yang tidak sama.
Perhatikan bahwa sifat yang dipakai berbentuk penekanan. Ia bukan sekadar mencela, melainkan banyak mencela.
Susunan penekanan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sifatnya dipilih dalam susunan yang menguatkan.
Perhatikan bahwa jiwa ini disumpahi, bukan dicela. Kedudukannya sejajar dengan hari kebangkitan di ayat sebelumnya.
Susunan itu tidak lazim. Sesuatu yang mencela justru ditaruh sebagai saksi.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang mencela diri dipakai sebagai penguat sumpah.
Perhatikan bahwa dua sumpah ini sama-sama tidak dijawab langsung. Jawabannya baru datang di 75:3.
Jadi dua ayat pembuka seluruhnya berupa persiapan. Perkaranya belum disebut sama sekali.
Al-Qur'an tidak menandai penundaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pembacanya menunggu dua ayat penuh.
Perhatikan bahwa 75:2 memakai penghubung di depan sumpahnya. Ayat sebelumnya tidak memakainya.
Perbedaan satu huruf itu mengikat dua ayat menjadi satu rangkaian. Keduanya karena itu bukan dua sumpah yang terpisah.
Perhatikan bahwa jiwa disebut di ayat ini dan tidak disebut lagi sampai 75:14. Jarak antara keduanya dua belas ayat.
Di 75:14 jiwa itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. Di sini ia mencela dirinya sendiri.
Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai jiwa sebagai pihak yang menghadapi dirinya.
Perhatikan bahwa dua sumpah pembuka ini memakai susunan yang persis sama panjangnya. Keduanya sama-sama empat patah.
Kesamaan panjang itu memperkuat ikatan keduanya. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa dua baris pembuka disusun dengan ukuran yang sama.
Perhatikan bahwa sifat mencela biasanya dipandang buruk. Di sini ia justru dipakai sebagai penguat.
Susunan itu mengubah nilai sifatnya. Yang biasanya cela menjadi bukti.
Al-Qur'an tidak menyatakan perubahan nilai itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sifat itu ditaruh di kedudukan terhormat.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan sumpah kedua demi jiwa yang gemar mencela, menegaskan kepastian kebangkitan yang akan diuraikan berikutnya. Ayat ini melanjutkan sumpah dengan menyebut jiwa yang mencela dirinya. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menyifati jiwa yang mencela dirinya sendiri.
Ayat ini juga mengulang pembuka 75:1, sehingga dua ayat berurutan memakai rangkaian sumpah yang sama. Rangkaian itu dipakai 8 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 56:75, 69:38, 70:40, dan 90:1, dan dua di antaranya di sini.
Yang disumpahi di sini bukan hari melainkan jiwa, sehingga dua sumpah berurutan menyebut dua hal yang berbeda jenisnya. Yang satu di luar manusia, dan yang lain di dalam dirinya.
Sifat yang dipakai juga berbentuk penekanan, sebab ia bukan sekadar mencela melainkan banyak mencela. Jiwa ini juga disumpahi dan bukan dicela, sehingga kedudukannya sejajar dengan hari kebangkitan di ayat sebelumnya.
Dua sumpah ini sama-sama tidak dijawab langsung, dan jawabannya baru datang di 75:3. Ayat ini juga memakai penghubung di depan sumpahnya sedangkan 75:1 tidak, dan perbedaan satu huruf itu mengikat keduanya menjadi satu rangkaian. Jiwa juga disebut di ayat ini dan tidak disebut lagi sampai 75:14, dengan jarak dua belas ayat, dan di 75:14 jiwa itu menjadi saksi atas dirinya sendiri. Dua sumpah pembuka ini juga sama-sama empat patah, dan kesamaan panjangnya memperkuat ikatan keduanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menyifati jiwa yang mencela dirinya sendiri. Sifat sepenting itu tidak pernah dipakai lagi di ayat mana pun. Yang cuma disebut sekali tetap berdiri sebagai penguat sumpah, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Sebuah sifat yang cuma dipakai sekali tidak punya pembanding di ayat lain. Pembacanya karena itu harus memahaminya dari tempatnya berdiri, bukan dari kebiasaan pemakaiannya di ayat lain. Tidak ada satu ayat pun yang bisa dipakai membandingkannya.
- Yang disumpahi Allah di sini bukan hari melainkan jiwa, sehingga dua sumpah berurutan menyebut dua hal yang berbeda jenisnya. Yang satu berada di luar manusia, dan yang lain di dalam dirinya. Susunan itu menaruh dunia dan batin berdampingan tanpa satu kalimat penghubung. Hari kebangkitan bisa dibantah orang, tetapi celaan dalam dirinya sendiri tidak. Dua sumpah itu karena itu menutup dua jalan mengelak sekaligus, yang satu di luar diri dan yang satu lagi di dalamnya.
- Sifat yang dipakai Allah berbentuk penekanan, sebab ia bukan sekadar mencela melainkan banyak mencela. Susunan penekanan itu tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Pilihan susunan seperti itu memindahkan celaan dari sesekali menjadi kebiasaan yang menetap. Mencela sekali bisa dianggap khilaf, dan mencela terus-menerus tidak bisa. Susunan yang menguatkan itu memindahkan celaan dari peristiwa menjadi watak yang menetap sepanjang waktu.
- Jiwa ini disumpahi Allah dan bukan dicela, sehingga kedudukannya sejajar dengan hari kebangkitan di ayat sebelumnya. Sesuatu yang mencela justru ditaruh sebagai saksi. Susunan itu tidak lazim, dan Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa yang menuduh diri dipakai sebagai penguat. Saksi biasanya dipilih karena dipercaya, bukan karena ia menuduh. Menaruh yang menuduh diri sebagai saksi menandai bahwa tuduhannya sudah dianggap benar sejak semula.
- Dua sumpah ini sama-sama tidak dijawab langsung, sebab Allah baru menyebut perkaranya di 75:3. Dua ayat pembuka seluruhnya berupa persiapan, dan pokoknya belum disebut sama sekali. Pembacanya menunggu dua ayat penuh sebelum tahu apa yang hendak ditegaskan. Menahan pokok selama dua ayat penuh bukan cara menulis yang tergesa. Ia menyiapkan pembacanya menerima sesuatu yang justru akan membantah sangkaannya sendiri sebentar lagi.
- Ayat ini memakai penghubung di depan sumpahnya sedangkan 75:1 tidak memakainya. Perbedaan satu huruf itu mengikat dua ayat menjadi satu rangkaian, sehingga keduanya bukan dua sumpah yang berdiri terpisah. Kalau satu huruf saja sanggup menyatukan dua baris, berapa banyak yang bisa terlewat dari pembaca yang tergesa? Dua ayat yang tampak berdiri sendiri ternyata satu kalimat yang dipisah baris. Pembaca yang membacanya terpisah akan kehilangan setengah dari maksudnya tanpa pernah sadar ada yang hilang.