أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ
Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-belulangnya?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُa-yahsabu l-insaanu allan najma'a 'izhaamahuapakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-belulangnya
Terjemahan per kata (5 kata)
- أَيَحْسَبُa-yahsabuapakah ia mengira
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- أَلَّنْallanbahwa tidak akan
- نَجْمَعَnajma'aKami mengumpulkan
- عِظَامَهُ'izhaamahutulang-belulangnya
Inti bacaan
Tantangan terhadap keraguan tentang kebangkitan: 'apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?', pertanyaan retoris yang menyoroti keraguan spesifik terhadap kemungkinan rekonstruksi tubuh setelah kematian.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(kembali)' tidak dipakai.
Rangkaian (أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ, a yahsabul insaan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:3 dan 75:36. Dua-duanya di surah ini.
Perhatikan bahwa 75:3 hampir membuka surahnya dan 75:36 hampir menutupnya. Jarak antara keduanya tiga puluh tiga ayat.
Jadi satu pertanyaan yang sama mengapit hampir seluruh surah. Al-Qur'an tidak menandai kurungan itu.
Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaan) muncul 26 kali di seluruh Al-Qur'an, dan enam di antaranya di surah ini: 75:3, 75:5, 75:10, 75:13, 75:14, dan 75:36. Dua puluh sisanya tersebar di lima belas surah lain.
Perhatikan bahwa tidak ada surah lain yang memakainya sebanyak itu. Yang terbanyak sesudahnya memakainya tiga kali, yaitu surah 17.
Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa hampir seperempat pemakaiannya berkumpul di empat puluh ayat.
Kata (نَجْمَعَ, najma'a) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti mengumpulkan.
Kata (عِظَامَهُ, 'izhaamah) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti tulang-tulangnya.
Jadi ayat ini memuat dua sebutan yang tidak dipakai di tempat lain. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Perhatikan bahwa yang dipersoalkan tulang, bukan daging atau ruh. Bagian paling keras dari tubuhlah yang disebut.
Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang paling bertahan justru yang dipertanyakan.
Perhatikan bahwa pertanyaannya memakai susunan sangkaan, bukan pernyataan. Yang disebut apa yang dikira manusia.
Susunan itu menaruh kekeliruan di pihak yang mengira. Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu terang-terangan.
Perhatikan bahwa ayat ini adalah jawaban atas dua sumpah sebelumnya. Sesudah dua ayat menahan, perkaranya akhirnya disebut.
Perkaranya berupa pertanyaan, bukan pernyataan. Susunan itu mengembalikan beban kepada yang ditanya.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa jawaban atas sumpah berupa pertanyaan balik.
Perhatikan bahwa pertanyaan di ayat ini tidak ditujukan kepada seorang pun secara langsung. Yang disebut manusia pada umumnya.
Cara itu berbeda dari 75:16 yang menyapa satu orang. Dua bagian surah memakai sasaran yang berbeda.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sasarannya berpindah di tengah surah.
Perhatikan bahwa yang dibantah di sini bukan penolakan, melainkan sangkaan. Manusia digambarkan mengira, bukan menyatakan.
Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Yang mengira masih bisa diyakinkan, dan yang menyatakan sudah memutuskan.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tuduhannya berhenti di tingkat sangkaan.
Perhatikan bahwa tulang disebut sebagai miliknya sendiri. Yang dipersoalkan bukan tulang orang lain.
Susunan kepemilikan itu mendekatkan perkaranya. Yang diragukan berada di dalam tubuhnya sendiri.
Al-Qur'an tidak menyatakan pendekatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bantahannya menyangkut sesuatu yang dibawa orangnya ke mana-mana.
Tafsiran
Ayat ini menyanggah keraguan manusia terhadap kemampuan Allah membangkitkan tubuh yang telah hancur. Ayat ini menjawab dua sumpah sebelumnya dengan sebuah pertanyaan. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:3 dan 75:36, dan dua-duanya di surah ini.
Perhatikan bahwa 75:3 hampir membuka surahnya dan 75:36 hampir menutupnya, dengan jarak tiga puluh tiga ayat di antaranya. Jadi satu pertanyaan yang sama mengapit hampir seluruh surah.
Kata kedua muncul 26 kali di seluruh Al-Qur'an, dan enam di antaranya di surah ini, yaitu 75:3, 75:5, 75:10, 75:13, 75:14, dan 75:36. Tidak ada surah lain yang memakainya sebanyak itu, sebab yang terbanyak sesudahnya memakainya tiga kali di surah 17.
Kata keempat dan kelimanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga ayat ini memuat dua sebutan yang tidak dipakai di tempat lain. Yang dipersoalkan juga tulang dan bukan daging atau ruh.
Pertanyaannya juga memakai susunan sangkaan dan bukan pernyataan, sebab yang disebut apa yang dikira manusia. Susunan itu menaruh kekeliruan di pihak yang mengira. Pertanyaan di ayat ini juga tidak ditujukan kepada seorang pun secara langsung, berbeda dari 75:16 yang menyapa satu orang. Yang dibantah juga bukan penolakan melainkan sangkaan, dan tulang disebut sebagai miliknya sendiri sehingga yang diragukan berada di dalam tubuhnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah cuma di 75:3 dan 75:36, dan dua-duanya di surah ini. Yang pertama hampir membuka surahnya dan yang kedua hampir menutupnya, dengan jarak tiga puluh tiga ayat. Satu pertanyaan yang sama mengapit hampir seluruh surah, dan Al-Qur'an tidak menandai kurungan itu. Yang diulang di dua ujung sebuah surah biasanya menandai pokok yang hendak dipastikan tidak terlewat. Tiga puluh tiga ayat di antaranya berdiri sebagai jawaban atas satu pertanyaan yang sama, dan tak satu pun menyebut kembali pertanyaannya.
- Kata kedua dipakai Allah 26 kali di seluruh Al-Qur'an, dan enam di antaranya di surah ini, yaitu 75:3, 75:5, 75:10, 75:13, 75:14, dan 75:36. Tidak ada surah lain yang memakainya sebanyak itu, sebab yang terbanyak sesudahnya memakainya tiga kali. Hampir seperempat pemakaiannya berkumpul di empat puluh ayat. Sebuah sebutan yang berkumpul di satu tempat menandai bahwa surahnya memang berbicara tentang itu. Enam penyebutan dalam empat puluh ayat menjadikan manusia pokok utamanya, dan bukan sekadar contoh yang kebetulan dipakai.
- Kata keempat dan kelimanya masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Satu ayat pendek memuat dua sebutan yang tidak muncul lagi di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan kejarangannya baru terlihat kalau tiap katanya dicari satu per satu. Kepadatan seperti itu tidak terlihat dari terjemahan mana pun. Ia baru muncul kalau tiap patah kata Arabnya dicari satu per satu di seluruh mushaf, dan hasilnya dihitung per surah.
- Yang dipersoalkan Allah di sini tulang, bukan daging atau ruh. Bagian paling keras dari tubuhlah yang disebut, dan justru yang paling bertahan itu yang dipertanyakan. Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan pembacanya dibiarkan menimbangnya sendiri. Tulang bertahan paling lama sesudah yang lain hancur. Memilihnya sebagai bahan sangkaan menandai bahwa yang diragukan justru bagian yang paling sulit dibantah hilangnya.
- Pertanyaannya memakai susunan sangkaan dan bukan pernyataan, sebab yang disebut Allah apa yang dikira manusia. Susunan itu menaruh kekeliruan di pihak yang mengira. Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu terang-terangan, dan pembacanya harus menarik simpulannya sendiri. Menyebut lawan sedang mengira, bukan sedang menolak, menyisakan pintu baginya. Susunan itu menuduh tanpa sekaligus menutup jalan pulang bagi yang dituduh.
- Sesudah dua ayat menahan, Allah akhirnya menyebut perkaranya, dan perkaranya berupa pertanyaan. Susunan itu mengembalikan beban kepada yang ditanya, bukan menyodorkan kesimpulan kepadanya. Kalau sebuah sumpah dijawab dengan pertanyaan balik, siapa yang sebenarnya sedang diminta menjawab? Sumpah menuntut pembenaran, dan pertanyaan menuntut jawaban. Menukar yang pertama dengan yang kedua memindahkan seluruh pekerjaannya dari yang bersumpah kepada yang mendengar.