بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ
Bahkan manusia hendak berbuat maksiat terus-menerus di hadapannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُbal yuriidu l-insaanu li-yafjura amaamahubahkan manusia hendak berbuat maksiat terus-menerus di hadapannya
Terjemahan per kata (5 kata)
- بَلْbalbahkan
- يُرِيدُyuriiduDia kehendaki
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- لِيَفْجُرَli-yafjuraagar ia berbuat durhaka
- أَمَامَهُamaamahudi hadapannya
Inti bacaan
Diagnosis motif sesungguhnya di balik keraguan: 'bahkan manusia hendak berbuat maksiat terus-menerus di hadapannya', pengungkapan bahwa keraguan terhadap kebangkitan sering kali bukan masalah intelektual, melainkan keinginan menghindari akuntabilitas agar bebas melanjutkan perilaku bermasalah tanpa konsekuensi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لِيَفْجُرَ, liyafjura) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti berbuat curang atau melanggar.
Kata (أَمَامَهُ, amaamah) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti di hadapannya.
Jadi ini ayat ketiga berturut-turut yang memuat dua sebutan sekali pakai. Tiga ayat beruntun menyimpan enam kata yang tidak muncul lagi.
Al-Qur'an tidak menandai rentetan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa 75:3, 75:4, dan 75:5 sama-sama berbuat begitu.
Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaan) muncul lagi di ayat ini. Ini penyebutan keduanya di surah ini sesudah 75:3.
Perhatikan bahwa dua penyebutan itu berjarak dua ayat. Keduanya sama-sama menyangkut apa yang dimauinya.
Al-Qur'an tidak menandai kedekatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berdekatan memakai sebutan yang sama untuk pokok yang sama.
Perhatikan bahwa ayat ini berpindah dari sangkaan ke kemauan. Yang di 75:3 dikira, dan yang di sini diinginkan.
Perpindahan itu memperdalam tuduhan. Yang keliru bukan lagi pikirannya, melainkan maunya.
Al-Qur'an tidak menyatakan pendalaman itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat menyebut dua tingkat yang berbeda.
Perhatikan bahwa yang disebut di hadapannya, bukan di belakangnya. Yang dilanggar sesuatu yang belum datang.
Susunan itu tidak lazim. Pelanggaran biasanya menyangkut yang sudah ada.
Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang dilanggar justru yang masih di depan.
Perhatikan bahwa ayat ini dibuka dengan sebutan pengalih. Sebutan itu memutus dari pokok sebelumnya.
Susunan itu menandai pergantian arah. Bantahan di 75:4 sudah selesai, dan tuduhan baru dimulai.
Al-Qur'an tidak menandai pergantian itu dengan kalimat pengantar. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan pendek mengerjakan seluruh peralihannya.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup bagian pertama surahnya. Sesudahnya 75:6 mengutip pertanyaan yang mereka ajukan.
Jadi lima ayat pertama berisi sumpah, bantahan, dan tuduhan. Kutipan baru datang di ayat keenam.
Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima ayat lewat sebelum lawan bicaranya diberi suara.
Perhatikan bahwa tuduhan di ayat ini tidak menyebut perbuatan tertentu. Yang disebut cuma arah kemauannya.
Susunan itu membiarkan tuduhannya luas. Tuduhannya tidak terbatas pada satu jenis pelanggaran yang bisa disebut namanya.
Al-Qur'an tidak mempersempit tuduhan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang dipersoalkan kecenderungannya, bukan satu perbuatan.
Perhatikan bahwa yang di hadapannya bisa dibaca sebagai waktu yang akan datang. Pembacaan itu menyambung dengan pokok surahnya.
Sambungan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutan tempat dipakai untuk sesuatu yang menyangkut waktu.
Pemakaian seperti itu tidak diterangkan di ayat lain. Sebutan itu memang tidak dipakai lagi di mana pun.
Tafsiran
Ayat ini mengungkap motif sesungguhnya keraguan manusia: keinginan melanjutkan kemaksiatan tanpa beban pertanggungjawaban. Ayat ini berpindah dari sangkaan manusia ke kemauannya. Kata keempat dan kelimanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga ini ayat ketiga berturut-turut yang memuat dua sebutan sekali pakai.
Tiga ayat beruntun menyimpan enam kata yang tidak muncul lagi di mana pun, yaitu di 75:3, 75:4, dan 75:5. Al-Qur'an tidak menandai rentetan itu.
Kata ketiganya muncul lagi di ayat ini sesudah 75:3, dan ini penyebutan keduanya di surah ini. Dua penyebutan itu berjarak dua ayat dan sama-sama menyangkut apa yang dimauinya.
Ayat ini juga berpindah dari sangkaan ke kemauan, sebab yang di 75:3 dikira sedangkan yang di sini diinginkan. Perpindahan itu memperdalam tuduhan, karena yang keliru bukan lagi pikirannya melainkan maunya.
Yang disebut juga di hadapannya dan bukan di belakangnya, sehingga yang dilanggar sesuatu yang belum datang. Susunan itu tidak lazim, sebab pelanggaran biasanya menyangkut yang sudah ada. Ayat ini juga menutup bagian pertama surahnya, sebab 75:6 baru mengutip pertanyaan yang mereka ajukan. Tuduhan di sini juga tidak menyebut perbuatan tertentu melainkan arah kemauannya, dan sebutan tempat yang dipakainya menyangkut sesuatu yang sebenarnya adalah soal waktu.
Renungan dan Hikmah
- Kata keempat dan kelimanya masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ini ayat ketiga berturut-turut yang memuat dua sebutan sekali pakai, sesudah 75:3 dan 75:4. Tiga ayat beruntun menyimpan enam kata yang tidak muncul lagi, dan Al-Qur'an tidak menandai rentetan itu. Kosakata yang tidak berulang memaksa pembacanya membaca lambat. Tiga ayat beruntun dengan enam sebutan sekali pakai tidak bisa dilewati dengan kebiasaan, sebab tak satu pun di antaranya punya pembanding di ayat yang lain.
- Allah berpindah di sini dari sangkaan ke kemauan, sebab yang di 75:3 dikira sedangkan yang di sini diinginkan. Perpindahan itu memperdalam tuduhan, karena yang keliru bukan lagi pikirannya melainkan maunya. Dua ayat menyebut dua tingkat yang berbeda tanpa satu kalimat penjelas. Sangkaan bisa diluruskan dengan keterangan, dan kemauan tidak. Memindahkan tuduhan dari yang pertama ke yang kedua mengubahnya dari salah paham menjadi pilihan yang disengaja.
- Yang disebut Allah di hadapannya, bukan di belakangnya, sehingga yang dilanggar sesuatu yang belum datang. Susunan itu tidak lazim, sebab pelanggaran biasanya menyangkut yang sudah ada. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu, dan pembacanya dibiarkan menimbangnya sendiri. Melanggar sesuatu yang belum tiba menuntut orangnya sudah memutuskan lebih dulu. Perbuatan seperti itu tidak bisa disebut kelalaian dengan cara apa pun, sebab orang yang lalai tidak menyiapkan dirinya lebih dulu untuk melanggar.
- Ayat ini dibuka Allah dengan sebutan pengalih yang memutus dari pokok sebelumnya. Bantahan di 75:4 sudah selesai, dan tuduhan baru dimulai di sini. Satu sebutan pendek mengerjakan seluruh peralihannya tanpa satu kalimat pengantar pun. Satu patah kata pengalih menandai bahwa pokoknya berganti tanpa jeda. Pembaca yang melewatkannya akan membaca tuduhan baru itu sebagai lanjutan dari bantahan yang lama.
- Kata ketiganya dipakai Allah lagi di ayat ini sesudah 75:3, dan ini penyebutan keduanya di surah ini. Dua penyebutan itu berjarak dua ayat dan sama-sama menyangkut apa yang dimauinya. Enam penyebutannya di surah ini tersebar dari ayat ketiga sampai ayat ketiga puluh enam. Enam penyebutan yang tersebar dari ayat ketiga sampai ketiga puluh enam mengikat surahnya jadi satu. Pokoknya tidak pernah benar-benar berpindah dari manusia sepanjang empat puluh ayat, meski sasaran sapaannya sempat berganti sekali di bagian tengahnya.
- Yang digambarkan Allah bukan orang yang lupa, melainkan orang yang hendak melanggar sebelum waktunya tiba. Sikap seperti itu menuntut kesengajaan, bukan kelalaian. Kalau seseorang sudah menyiapkan pelanggaran atas hari yang belum datang, apa gunanya bukti tambahan baginya? Yang lalai masih bisa diingatkan, dan yang sudah berniat melanggar tidak. Perbedaan itu menentukan apakah tambahan bukti masih ada gunanya sama sekali baginya.