يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ

Ia bertanya, “Kapankah hari Kiamat?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِyas'alu ayyaana yawmu l-qiyaamatiia bertanya, kapankah hari Kiamat

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. يَسْأَلُyas'alumenanyakan
  2. أَيَّانَayyaanakapankah
  3. يَوْمُyawmuhari
  4. الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat

Inti bacaan

Pertanyaan yang bernada menantang bukan mencari: 'ia bertanya: kapankah hari Kiamat itu?', nada pertanyaan yang lebih mencerminkan skeptisisme mengejek daripada keingintahuan tulus, pola yang perlu dikenali dalam menilai motif di balik pertanyaan serupa.

Penjelasan pilihan kata

Kata 'itu' setelah 'hari Kiamat' (يَوْمُ الْقِيَامَةِ, yaumul qiyaamah) tidak dipakai: tidak ada dzaalika/haadzaa pada posisi ini menurut morfologi.

Kata (أَيَّانَ, ayyaana) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 7:187, 16:21, 27:65, 51:12, 75:6, dan 79:42. Ia menanyakan kapan sesuatu terjadi.

Perhatikan bahwa lima dari enam pemakaiannya menanyakan hari kebangkitan. Yang di 16:21 menanyakan kapan mereka dibangkitkan.

Jadi sebutan tanya ini hampir selalu dipakai untuk satu perkara. Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu.

Kata (يَسْأَلُ, yas-alu) muncul 23 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:189, 7:187, 17:85, dan 51:12. Ia berarti bertanya.

Perhatikan bahwa 7:187 dan 51:12 memuat dua sebutan itu sekaligus. Dua ayat memakai gabungan yang sama dengan ayat ini.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga ayat memakai pasangan yang sama.

Perhatikan bahwa yang bertanya tidak disebut namanya. Yang dipakai susunan tunggal tanpa penunjuk.

Susunan itu membiarkan pertanyaannya berlaku umum. Siapa pun bisa menjadi penanyanya.

Al-Qur'an tidak mempersempit sasaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pertanyaannya dibiarkan tanpa pemilik.

Perhatikan bahwa hari kebangkitan disebut lagi di ayat ini. Ini penyebutan keduanya sesudah 75:1.

Di 75:1 ia disumpahi, dan di sini ia dipertanyakan. Dua sikap berlawanan memakai sebutan yang sama.

Al-Qur'an tidak menandai perlawanan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan berdiri di dua kedudukan yang bertolak belakang.

Perhatikan bahwa pertanyaan ini tidak dijawab di ayat berikutnya. Yang datang justru gambaran kejadiannya.

Susunan itu mengalihkan pertanyaan tentang waktu menjadi gambaran keadaan. Kapannya tidak pernah disebut.

Al-Qur'an tidak menerangkan pengalihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang ditanya waktu dan yang dijawab tanda.

Perhatikan bahwa lima ayat sesudahnya seluruhnya berupa gambaran. Baru di 75:12 kesimpulannya disebut.

Jarak antara pertanyaan dan kesimpulannya enam ayat. Susunan itu menahan jawabannya cukup lama.

Perhatikan bahwa ayat ini pendek, cuma empat patah. Ia memuat sebuah kalimat lengkap beserta kutipannya.

Kutipan itu tidak diberi tanda pembuka. Yang menandainya cuma pergantian susunan.

Al-Qur'an tidak memberi penanda kutipan. Yang bisa dibaca cuma bahwa pertanyaannya berdiri langsung sesudah perbuatannya.

Perhatikan bahwa nada pertanyaannya tidak dinyatakan. Al-Qur'an tidak menyebut apakah ia sungguh ingin tahu atau sedang mengejek.

Yang bisa dibaca cuma pertanyaannya sendiri. Maksudnya dibiarkan kosong.

Kekosongan itu tidak diisi di ayat mana pun. Pembacanya harus menimbangnya dari letaknya.

Perhatikan bahwa letaknya tepat sesudah tuduhan di 75:5. Yang baru saja dituduh hendak melanggar kini bertanya.

Urutan itu memberi petunjuk. Pertanyaannya dibaca sebagai lanjutan dari kemauannya.

Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berdampingan tanpa penghubung.

Perhatikan bahwa surah ini memuat tiga pertanyaan yang diucapkan manusia. Yang pertama di sini, yang kedua di 75:10, dan yang ketiga tidak ada.

Jadi cuma dua pertanyaan yang benar-benar dikutip. Sisanya berupa pertanyaan yang diajukan kepada manusia.

Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pihak sama-sama bertanya di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini mencatat pertanyaan skeptis manusia tentang kapan hari Kiamat terjadi. Ayat ini mengutip pertanyaan tentang kapan hari kebangkitan tiba. Kata keduanya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 7:187, 16:21, 27:65, 51:12, 75:6, dan 79:42.

Lima dari enam pemakaiannya menanyakan hari kebangkitan, sedangkan yang di 16:21 menanyakan kapan mereka dibangkitkan. Jadi sebutan tanya ini hampir selalu dipakai untuk satu perkara.

Kata pertamanya muncul 23 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:189, 7:187, 17:85, dan 51:12. Perhatikan bahwa 7:187 dan 51:12 memuat dua sebutan itu sekaligus, sehingga tiga ayat memakai pasangan yang sama.

Yang bertanya juga tidak disebut namanya, sebab yang dipakai susunan tunggal tanpa penunjuk. Hari kebangkitan juga disebut lagi di ayat ini sesudah 75:1, dan di sana ia disumpahi sedangkan di sini ia dipertanyakan.

Pertanyaan ini juga tidak dijawab di ayat berikutnya, sebab yang datang justru gambaran kejadiannya. Yang ditanya waktu dan yang dijawab tanda, dan kesimpulannya baru muncul di 75:12. Ayat ini juga pendek, cuma empat patah, dan ia memuat sebuah kalimat lengkap beserta kutipannya tanpa satu penanda kutipan pun. Nada pertanyaannya juga tidak dinyatakan, sebab Al-Qur'an tidak menyebut apakah ia sungguh ingin tahu atau sedang mengejek. Letaknya tepat sesudah tuduhan di 75:5, dan urutan itu membuat pertanyaannya terbaca sebagai lanjutan dari kemauannya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya dipakai Allah di 7:187, 16:21, 27:65, 51:12, 75:6, dan 79:42. Lima dari enam pemakaiannya menanyakan hari kebangkitan, dan yang di 16:21 menanyakan kapan mereka dibangkitkan. Sebutan tanya ini hampir tidak pernah dipakai untuk perkara lain, dan Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu. Sebuah kata tanya yang lima dari enam pemakaiannya menyangkut satu perkara hampir menjadi penanda perkara itu sendiri. Pembaca yang menemukannya di ayat lain sudah bisa menduga lebih dulu apa yang sedang dibicarakan di sana. Dua puluh tiga pemakaiannya membuat kata kerja itu lazim, dan pasangannya yang jarang.
  • Kata pertamanya dipakai Allah 23 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:189, 7:187, 17:85, dan 51:12. Ayat 7:187 dan 51:12 memuat dua sebutan itu sekaligus, sehingga tiga ayat memakai pasangan yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Tiga ayat yang memakai pasangan kata yang sama tersebar di tiga surah yang berjauhan. Kesamaan seperti itu tidak bisa dilihat dari terjemahan, sebab susunan Indonesianya berbeda-beda di ketiganya. Perbedaan susunan itu hilang begitu ayatnya dialihbahasakan ke bahasa mana pun.
  • Yang bertanya tidak disebut Allah namanya, sebab yang dipakai susunan tunggal tanpa penunjuk. Susunan itu membiarkan pertanyaannya berlaku umum, sehingga siapa pun bisa menjadi penanyanya. Al-Qur'an tidak mempersempit sasarannya, dan pertanyaannya dibiarkan tanpa pemilik. Pertanyaan tanpa pemilik berlaku bagi siapa saja yang membacanya. Susunan itu menarik pembacanya masuk ke dalam ayat, bukan membiarkannya menonton dari luar. Pembaca yang merasa disebut akan membaca sisa surahnya dengan telinga yang lain.
  • Hari kebangkitan disebut Allah lagi di ayat ini sesudah 75:1, dan ini penyebutan keduanya. Di 75:1 ia disumpahi, dan di sini ia dipertanyakan. Dua sikap berlawanan memakai sebutan yang sama dalam jarak lima ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai perlawanan itu. Menyumpahi sesuatu dan mempertanyakan sesuatu adalah dua sikap yang tak mungkin dipegang bersama. Lima ayat memisahkan keduanya, dan pembacanya menyaksikan pergantiannya tanpa aba-aba. Jarak lima ayat itu cukup pendek untuk membuat pertentangannya terasa tajam.
  • Pertanyaan ini tidak dijawab Allah di ayat berikutnya, sebab yang datang justru gambaran kejadiannya. Susunan itu mengalihkan pertanyaan tentang waktu menjadi gambaran keadaan, dan kapannya tidak pernah disebut. Yang ditanya waktu dan yang dijawab tanda, tanpa satu kalimat yang menjelaskan pergantian itu. Menjawab pertanyaan tentang waktu dengan gambaran keadaan bukan penghindaran. Ia memindahkan perhatian dari yang tidak bisa diketahui ke yang bisa dibayangkan. Yang bisa dibayangkan menempel lebih lama di ingatan daripada yang cuma diberitahukan.
  • Lima ayat sesudahnya seluruhnya berupa gambaran, dan Allah baru menyebut kesimpulannya di 75:12. Jarak antara pertanyaan dan kesimpulannya enam ayat, sehingga jawabannya tertahan cukup lama. Kalau sebuah pertanyaan tentang waktu dijawab dengan gambaran, apa sebenarnya yang dianggap perlu diketahui penanyanya? Enam ayat berlalu antara pertanyaan dan kesimpulannya, dan seluruhnya berisi gambaran. Yang bertanya dibiarkan menunggu sambil melihat, bukan sambil mendengar keterangan. Melihat lebih dulu lalu menyimpulkan adalah urutan yang dipakai seluruh bagian ini.