فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ

Apabila mata terbelalak,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُfa-idzaa bariqa l-basharuapabila mata terbelalak

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. بَرِقَbariqaterbelalak
  3. الْبَصَرُl-basharupenglihatan

Inti bacaan

Momen kepanikan yang digambarkan fisik: 'apabila mata terbelalak (ketakutan)', deskripsi reaksi tubuh yang konkret terhadap momen krisis, menegaskan realitas pengalaman yang akan dihadapi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(ketakutan)' tidak dipakai, sebab terbelalaknya mata tidak dirinci eksplisit dalam Arab.

Rangkaian (فَإِذَا بَرِقَ, fa-idzaa bariqa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia membuka gambaran hari itu.

Kata (بَرِقَ, bariqa) sendiri juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menggambarkan mata yang terbelalak silau.

Kata (الْبَصَرُ, al-bashar) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 53:17, 67:4, dan 75:7. Ia berarti penglihatan.

Perhatikan bahwa di 53:17 penglihatan itu digambarkan tidak menyimpang. Di 67:4 ia digambarkan kembali dalam keadaan lelah.

Jadi tiga pemakaiannya menyebut tiga keadaan yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya.

Perhatikan bahwa ayat ini memulai rangkaian tiga tanda. Dua tanda berikutnya di 75:8 dan 75:9.

Tanda pertama menyangkut manusia, dan dua berikutnya menyangkut langit. Susunan itu bergerak dari yang dekat ke yang jauh.

Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang di dalam tubuh disebut lebih dulu.

Perhatikan bahwa tiga tanda ini diikat satu susunan bersyarat. Kesimpulannya baru datang di 75:10.

Jadi empat ayat membentuk satu kalimat panjang. Al-Qur'an memisahkannya menjadi empat baris.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah. Ia termasuk yang terpendek di surahnya.

Kependekan itu berlaku juga pada 75:8 yang cuma dua patah. Dua ayat berurutan sama-sama sangat pendek.

Al-Qur'an tidak menandai kependekan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya diberikan dalam potongan yang sangat singkat.

Perhatikan bahwa penglihatan disebut tunggal, bukan jamak. Yang digambarkan satu penglihatan, bukan mata banyak orang.

Susunan itu memusatkan gambarannya. Yang terjadi di satu pasang mata mewakili semuanya.

Al-Qur'an tidak menyatakan perwakilan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa susunannya tunggal.

Perhatikan bahwa susunan bersyarat di ayat ini memakai penanda waktu, bukan penanda kemungkinan. Yang dipakai kata yang berarti apabila.

Perbedaan itu berakibat. Yang memakai penanda kemungkinan menyisakan ragu, dan yang memakai penanda waktu tidak.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa kejadiannya diperlakukan sebagai pasti.

Perhatikan bahwa penglihatan disebut tanpa pemiliknya. Al-Qur'an tidak menyebut mata siapa yang dimaksud.

Susunan itu membiarkan gambarannya berlaku umum. Siapa pun yang ada di sana mengalaminya.

Al-Qur'an tidak mempersempit gambaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pemiliknya tidak disebut.

Perhatikan bahwa yang digambarkan bukan buta, melainkan silau. Matanya masih melihat, tetapi tidak sanggup memusatkan.

Perbedaan itu penting. Yang gagal bukan alatnya, melainkan kemampuannya menanggung.

Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keadaannya digambarkan lewat satu patah.

Perhatikan bahwa tanda pertama diambil dari tubuh manusia sendiri. Dua tanda berikutnya dari langit.

Urutan itu berlawanan dengan kebiasaan bercerita. Yang besar biasanya disebut lebih dulu.

Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang paling kecil ditaruh di tempat pertama.

Tafsiran

Ayat ini membuka gambaran kedahsyatan hari Kiamat dengan reaksi mata manusia. Ayat ini memulai gambaran hari kebangkitan dengan menyebut penglihatan. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya sendiri juga muncul 1 kali.

Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 53:17, 67:4, dan 75:7. Di 53:17 penglihatan itu digambarkan tidak menyimpang, dan di 67:4 ia digambarkan kembali dalam keadaan lelah, sehingga tiga pemakaiannya menyebut tiga keadaan yang berbeda.

Ayat ini juga memulai rangkaian tiga tanda, sebab dua tanda berikutnya ada di 75:8 dan 75:9. Tanda pertama menyangkut manusia dan dua berikutnya menyangkut langit, sehingga susunannya bergerak dari yang dekat ke yang jauh.

Tiga tanda ini juga diikat satu susunan bersyarat, dan kesimpulannya baru datang di 75:10. Jadi empat ayat membentuk satu kalimat panjang yang dipisah menjadi empat baris.

Ayat ini juga cuma tiga patah, dan 75:8 cuma dua patah, sehingga dua ayat berurutan sama-sama sangat pendek. Penglihatan juga disebut tunggal dan bukan jamak. Susunan bersyarat di ayat ini juga memakai penanda waktu dan bukan penanda kemungkinan, sehingga kejadiannya diperlakukan sebagai pasti. Penglihatan juga disebut tanpa pemiliknya, dan yang digambarkan bukan buta melainkan silau. Tanda pertama juga diambil dari tubuh manusia sendiri sedangkan dua berikutnya dari langit, dan urutan itu berlawanan dengan kebiasaan bercerita.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya sendiri juga 1 kali. Satu ayat sependek tiga patah sudah memuat sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu, dan ia baru terlihat kalau tiap patahnya dicari sendiri. Ayat sependek tiga patah biasanya dianggap terlalu ringkas untuk menyimpan apa pun. Yang di sini justru menyimpan dua sebutan yang tak punya satu sepupu pun di seluruh mushaf, dan keduanya berdiri berdampingan. Dua sebutan sekali pakai di tiga patah adalah kepadatan yang tak terlihat dari terjemahan.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 53:17, 67:4, dan 75:7. Di 53:17 penglihatan itu tidak menyimpang, di 67:4 ia kembali dalam keadaan lelah, dan di sini ia terbelalak silau. Tiga pemakaiannya menyebut tiga keadaan yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya. Tiga keadaan itu tersebar di tiga surah yang tidak saling merujuk. Satu kata yang menampung penglihatan yang teguh, yang lelah, dan yang silau menandai betapa lenturnya ia dipakai di tangan yang menyusunnya. Tiga surah itu tidak saling menunjuk, dan kesamaannya cuma muncul lewat pencarian.
  • Ayat ini memulai rangkaian tiga tanda yang diteruskan Allah di 75:8 dan 75:9. Tanda pertama menyangkut manusia, dan dua berikutnya menyangkut langit. Susunannya bergerak dari yang dekat ke yang jauh, dan yang ada di dalam tubuh disebut lebih dulu. Bergerak dari mata ke bulan lalu ke matahari memperbesar gambarannya lapis demi lapis. Pembacanya dibawa keluar dari dirinya sendiri menuju langit, dan bukan sebaliknya. Urutan dari kecil ke besar itu berjalan mulus sepanjang tiga baris berturut-turut.
  • Tiga tanda ini diikat Allah dalam satu susunan bersyarat yang kesimpulannya baru datang di 75:10. Empat ayat karena itu membentuk satu kalimat panjang yang dipisah menjadi empat baris. Pembaca yang berhenti di tiap baris akan kehilangan bentuk kalimatnya secara utuh. Kalimat yang dipecah menjadi empat baris memberi jeda di tempat yang tidak wajar. Jeda itu memperlambat pembacanya tepat di bagian yang paling padat gambarannya, ketika ia justru ingin bergegas. Pemisahan baris di tempat yang tak wajar itu sendiri bagian dari cara ia bekerja.
  • Ayat ini cuma tiga patah, dan 75:8 cuma dua patah, sehingga dua ayat berurutan sama-sama sangat pendek. Allah memberikan gambarannya dalam potongan yang nyaris terputus-putus. Al-Qur'an tidak menandai kependekan itu, dan iramanya sendiri yang menyampaikan ketergesaannya. Dua patah dan tiga patah bukan ukuran yang cukup untuk menerangkan apa pun. Ia cuma cukup untuk menunjuk, dan menunjuk itulah yang dikerjakan ketiga ayat pendek ini berturut-turut. Ruang yang sesempit itu memaksa tiap patahnya bekerja lebih keras dari biasanya.
  • Penglihatan disebut Allah tunggal dan bukan jamak, sehingga yang digambarkan satu penglihatan dan bukan mata banyak orang. Susunan itu memusatkan gambarannya pada satu titik. Kalau yang terjadi di satu pasang mata cukup untuk mewakili semuanya, siapa yang bisa menganggap dirinya sedang menonton dari luar? Susunan tunggal menutup jalan bagi pembacanya untuk membayangkan kerumunan orang lain. Yang tersisa cuma satu pasang mata, dan pembacanya tak punya pilihan lain selain menempatinya sendiri. Satu pasang mata di hari sebesar itu mempersempit gambarannya ke titik yang paling dekat.