وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ

Serta matahari dan bulan dikumpulkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُwa-jumi'a sy-syamsu wa-l-qamaruserta matahari dan bulan dikumpulkan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَجُمِعَwa-jumi'adan dikumpulkan
  2. الشَّمْسُsy-syamsumatahari
  3. وَالْقَمَرُwa-l-qamarudan bulan

Inti bacaan

Penyatuan dua benda langit yang biasanya terpisah: 'serta matahari dan bulan dikumpulkan', penggabungan yang tidak alami menurut hukum fisika biasa, penegasan bahwa tatanan normal alam semesta akan terganggu total.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَجُمِعَ, wa jumi'a) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti dikumpulkan.

Rangkaian (الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ, asy-syamsu wal qamar) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 22:18, 41:37, 55:5, dan 75:9. Ia menyebut matahari dan bulan berpasangan.

Perhatikan bahwa tiga pemakaian lainnya menyebut keduanya sebagai tanda kekuasaan. Yang di sini menyebut keduanya disatukan.

Jadi satu rangkaian dipakai untuk keteraturan dan untuk berakhirnya keteraturan. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa di 55:5 keduanya disebut berjalan menurut perhitungan. Di sini perhitungan itu berhenti.

Dua ayat memakai rangkaian yang sama untuk keadaan yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.

Perhatikan bahwa bulan disebut dua kali berturut-turut, yaitu di 75:8 dan 75:9. Matahari cuma disebut sekali di surah ini.

Ketidakseimbangan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu benda disebut dua kali dan yang lain sekali.

Perhatikan bahwa ini tanda ketiga dan terakhir. Sesudahnya 75:10 menyebut akibatnya.

Jadi tiga tanda diberikan dalam tiga ayat pendek. Seluruhnya tidak sampai sepuluh patah.

Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga tanda dimuat dalam ruang yang sangat sempit.

Perhatikan bahwa yang disebut penyatuan, bukan penghancuran. Dua benda yang selama ini terpisah dipertemukan.

Gambaran itu lebih ganjil daripada kehancuran. Yang biasanya bergiliran justru muncul bersama.

Al-Qur'an tidak menerangkan keganjilan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pemisahan yang tetap itu berakhir.

Perhatikan bahwa tiga tanda ini tidak diberi keterangan waktu sama sekali. Pertanyaan di 75:6 tetap tidak dijawab.

Susunan itu konsisten sepanjang surahnya. Kapan tidak pernah disebut di satu ayat pun.

Perhatikan bahwa penyatuan ini disebut tanpa pelakunya. Susunan yang dipakai tidak menyebut siapa yang menyatukan.

Cara itu dipakai juga di dua tanda sebelumnya. Tiga tanda seluruhnya memakai susunan yang sama.

Al-Qur'an tidak menerangkan penyembunyian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya digambarkan sebagai kejadian, bukan sebagai perbuatan.

Perhatikan bahwa tiga tanda ini seluruhnya menyangkut cahaya. Yang pertama mata yang silau, yang kedua bulan yang padam, dan yang ketiga dua sumber terang yang dipertemukan.

Kesamaan pokok itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya berdiri di wilayah yang sama.

Perhatikan bahwa 22:18 menyebut matahari dan bulan di antara yang bersujud. Di sini keduanya disatukan.

Dua ayat menaruh pasangan yang sama dalam dua keadaan yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.

Perhatikan bahwa 41:37 melarang bersujud kepada keduanya. Di sini keduanya justru kehilangan kedudukannya.

Jadi tiga ayat memakai rangkaian yang sama untuk tiga maksud. Al-Qur'an tidak menandai ketiganya.

Perhatikan bahwa ayat ini tiga patah saja. Ia sama pendeknya dengan 75:7.

Tiga tanda karena itu diberikan dalam tiga ayat yang panjangnya hampir sama. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu.

Tafsiran

Ayat ini menutup gambaran kekacauan kosmis dengan penyatuan matahari dan bulan. Ayat ini menyebut tanda ketiga, yaitu matahari dan bulan yang disatukan. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian sesudahnya muncul 4 kali, yaitu 22:18, 41:37, 55:5, dan 75:9.

Tiga pemakaian lainnya menyebut keduanya sebagai tanda kekuasaan, sedangkan yang di sini menyebut keduanya disatukan. Jadi satu rangkaian dipakai untuk keteraturan dan untuk berakhirnya keteraturan.

Di 55:5 keduanya disebut berjalan menurut perhitungan, dan di sini perhitungan itu berhenti. Dua ayat memakai rangkaian yang sama untuk keadaan yang berlawanan.

Bulan juga disebut dua kali berturut-turut di 75:8 dan 75:9, sedangkan matahari cuma disebut sekali di surah ini. Ini juga tanda ketiga dan terakhir, sebab 75:10 menyebut akibatnya.

Yang disebut juga penyatuan dan bukan penghancuran, sehingga dua benda yang selama ini terpisah dipertemukan. Tiga tanda ini juga tidak diberi keterangan waktu sama sekali, dan pertanyaan di 75:6 tetap tidak dijawab. Penyatuan ini juga disebut tanpa pelakunya, sama seperti dua tanda sebelumnya, sehingga ketiganya digambarkan sebagai kejadian dan bukan sebagai perbuatan. Tiga tanda ini juga seluruhnya menyangkut cahaya, yaitu mata yang silau, bulan yang padam, dan dua sumber terang yang dipertemukan. Ayat 22:18 juga menyebut keduanya di antara yang bersujud sedangkan 41:37 melarang bersujud kepada keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata terakhirnya dipakai Allah di 22:18, 41:37, 55:5, dan 75:9. Tiga pemakaian lainnya menyebut keduanya sebagai tanda kekuasaan, dan yang di sini menyebut keduanya disatukan. Satu rangkaian dipakai untuk keteraturan dan untuk berakhirnya keteraturan tanpa satu penanda pun. Rangkaian yang sama dipakai untuk memuji keteraturan dan untuk mengabarkan berakhirnya. Pembaca yang menemukannya di 55:5 lalu di sini akan mendengar dua nada yang berlawanan keluar dari susunan yang sama persis. Satu susunan yang sanggup memuji sekaligus memperingatkan jarang sekali ditemukan.
  • Di 55:5 Allah menyebut keduanya berjalan menurut perhitungan, dan di sini perhitungan itu berhenti. Dua ayat memakai rangkaian yang sama untuk keadaan yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan pembacanya harus menaruh dua ayat itu berdampingan sendiri. Perhitungan yang berhenti bukan sekadar kerusakan alat. Ia berarti ukuran yang dipakai menyusun seluruh penanggalan manusia kehilangan dasarnya sekaligus. Penanggalan manusia berdiri di atas dua benda itu, dan keduanya berhenti serentak.
  • Bulan disebut Allah dua kali berturut-turut di 75:8 dan 75:9, sedangkan matahari cuma sekali di surah ini. Ketidakseimbangan itu tidak diterangkan Al-Qur'an sama sekali. Yang disebut lebih sering biasanya sedang ditekankan, dan di sini penekanannya jatuh pada yang lebih redup. Yang disebut dua kali biasanya bukan pilihan yang kebetulan. Bobotnya di sini jatuh pada benda yang terangnya justru bukan miliknya sendiri, melainkan pantulan dari yang lain. Yang lebih redup justru yang lebih sering disebut di dua baris berturut-turut itu.
  • Ini tanda ketiga dan terakhir, sebab Allah menyebut akibatnya di 75:10. Tiga tanda diberikan dalam tiga ayat pendek yang seluruhnya tidak sampai sepuluh patah. Kepadatan seperti itu tidak ditandai Al-Qur'an, dan iramanya sendiri yang membuat gambarannya terasa mendesak. Sepuluh patah untuk tiga tanda sebesar itu adalah takaran yang sangat ketat. Kekosongan di sekitarnya ikut mengerjakan sebagian dari pekerjaan yang biasanya dipikul keterangan. Sepuluh patah untuk tiga tanda adalah takaran yang tidak menyisakan ruang menawar.
  • Yang disebut Allah penyatuan, bukan penghancuran, sehingga dua benda yang selama ini terpisah dipertemukan. Gambaran itu lebih ganjil daripada kehancuran, sebab yang biasanya bergiliran justru muncul bersama. Pemisahan yang selama ini tetap itu berakhir tanpa satu kalimat penjelas. Matahari dan bulan tidak pernah bertemu di langit yang sama dengan penuh. Menyatukan keduanya membatalkan pemisahan yang selama ini dianggap orang tidak mungkin berubah. Pemisahan yang dianggap kekal itu berakhir tanpa satu kalimat yang menyiapkannya.
  • Tiga tanda ini tidak diberi Allah keterangan waktu sama sekali, dan pertanyaan di 75:6 tetap tidak dijawab. Susunan itu berlaku sepanjang surahnya, sebab kapan tidak pernah disebut di satu ayat pun. Kalau seluruh surah menolak menyebut waktunya, apa yang sebenarnya dianggap penting untuk diketahui? Seluruh surah menolak menyebut waktunya meski pertanyaannya diajukan dengan terang. Penolakan yang tetap seperti itu sendiri sudah merupakan jawaban, meski bukan jawaban yang diminta. Menolak menyebut waktu di seluruh empat puluh ayat adalah sikap, bukan kelalaian.