Ayat 75:14
بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌbali l-insaanu 'alaa nafsihi bashiiratunbahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri
Terjemahan per kata (5 kata)
- بَلِbalibahkan
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- عَلَىٰ'alaaatas
- نَفْسِهِnafsihidirinya
- بَصِيرَةٌbashiiratunpenglihatan yang jelas
Inti bacaan
Kesaksian diri yang tak terelakkan: 'bahkan, manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri', pengakuan bahwa kesadaran internal seseorang tentang tindakannya sendiri menjadi bukti yang tak terbantahkan, tidak memerlukan saksi eksternal untuk mengungkap kebenaran tentang diri sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بَصِيرَةٌ, bashiirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti saksi yang melihat dengan jelas.
Kata (نَفْسِهِ, nafsih) muncul 30 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 3:93, 6:12, 17:15, dan 27:40. Ia berarti dirinya sendiri.
Perhatikan bahwa manusia disebut lagi di ayat ini. Ini penyebutan kelimanya di surah ini.
Lima penyebutan itu berada dalam empat belas ayat pertama. Yang keenam menunggu sampai 75:36.
Al-Qur'an tidak menandai penyebaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima dari enam berkumpul di bagian depan.
Perhatikan bahwa jiwa disebut lagi di ayat ini sesudah 75:2. Jarak antara keduanya dua belas ayat.
Di 75:2 jiwa itu mencela dirinya, dan di sini ia menjadi saksi atas dirinya. Dua ayat memakai jiwa sebagai pihak yang berhadapan dengan pemiliknya.
Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai gagasan yang serumpun.
Perhatikan bahwa saksi di sini bukan orang lain. Manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.
Susunan itu menghapus kebutuhan akan bukti dari luar. Al-Qur'an tidak menyatakan penghapusan itu.
Perhatikan bahwa sifat yang dipakai berbentuk perempuan meski yang disifati laki-laki. Susunan itu dipakai untuk menguatkan, bukan untuk membedakan jenis.
Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sifatnya dipilih dalam susunan yang menekankan.
Perhatikan bahwa ayat ini dibuka dengan sebutan pengalih. Sebutan yang sama dipakai di 75:5.
Dua ayat itu sama-sama memindahkan pokok secara mendadak. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.
Perhatikan bahwa ayat ini melanjutkan 75:13 tanpa jeda. Yang tadi diberi tahu kini menjadi saksinya sendiri.
Susunan itu memperkuat penutupan celah. Yang diberi tahu dan yang menyaksikan orang yang sama.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak memakai sebutan saksi yang lazim. Yang dipakai justru sesuatu yang berarti penglihatan yang tajam.
Pilihan itu menggeser maknanya. Yang ditekankan bukan kesaksian di hadapan hakim, melainkan kejelasan melihat.
Al-Qur'an tidak menerangkan pergeseran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutan yang dipilih menyangkut mata, bukan mulut.
Perhatikan bahwa penglihatan sudah disebut di 75:7. Di sana ia silau, dan di sini ia justru jelas.
Dua ayat memakai wilayah yang sama untuk dua keadaan berlawanan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Yang bisa dibaca cuma bahwa mata yang silau melihat luar dan mata yang jelas melihat ke dalam.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut apa yang dilihatnya. Yang disebut cuma bahwa ia melihat atas dirinya.
Kekosongan itu tidak diisi di ayat berikutnya. Al-Qur'an membiarkannya terbuka.
Perhatikan bahwa ayat ini empat patah saja. Ia memuat seluruh persoalan kesaksian dalam ruang sesempit itu.
Kependekan seperti itu berlaku di hampir seluruh bagian ini. Empat ayat berturut-turut tidak sampai delapan belas patah.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa manusia sendiri, bukan orang lain, yang menjadi saksi paling tahu atas dirinya. Ayat ini menyebut manusia sebagai saksi atas dirinya sendiri. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti saksi yang melihat dengan jelas.
Kata keempatnya muncul 30 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 3:93, 6:12, 17:15, dan 27:40. Manusia juga disebut lagi di ayat ini, dan ini penyebutan kelimanya di surah ini, semuanya dalam empat belas ayat pertama kecuali yang keenam di 75:36.
Jiwa juga disebut lagi di ayat ini sesudah 75:2, dengan jarak dua belas ayat. Di 75:2 jiwa itu mencela dirinya, dan di sini ia menjadi saksi atas dirinya.
Saksi di sini juga bukan orang lain, sebab manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri. Susunan itu menghapus kebutuhan akan bukti dari luar.
Ayat ini juga dibuka dengan sebutan pengalih yang sama seperti 75:5, dan dua ayat itu sama-sama memindahkan pokok secara mendadak. Ayat ini juga melanjutkan 75:13 tanpa jeda, sebab yang tadi diberi tahu kini menjadi saksinya sendiri. Ayat ini juga tidak memakai kata saksi yang lazim melainkan sebutan yang berarti penglihatan yang tajam, sehingga yang ditekankan kejelasan melihat dan bukan kesaksian di hadapan hakim. Penglihatan juga sudah disebut di 75:7 dalam keadaan silau, dan di sini ia justru jelas. Ayat ini juga tidak menyebut apa yang dilihatnya, dan kekosongan itu tidak diisi di ayat berikutnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti saksi yang melihat dengan jelas. Sebuah gagasan sepenting itu diberi sebutan yang tidak pernah dipakai lagi di ayat mana pun. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan pembacanya tidak punya ayat lain untuk membandingkannya. Sebuah sebutan yang cuma sekali dipakai memaksa pembacanya menerima maknanya dari letaknya saja. Tidak ada pemakaian kedua yang bisa dipakai memeriksanya, dan hal itu berlaku untuk hampir seluruh bagian ini.
- Manusia disebut Allah lagi di ayat ini, dan ini penyebutan kelimanya di surah ini. Lima penyebutan itu berada dalam empat belas ayat pertama, sedangkan yang keenam menunggu sampai 75:36. Penyebaran seperti itu tidak ditandai Al-Qur'an, dan bagian depan surahnya jauh lebih padat daripada bagian belakangnya. Bagian depan yang padat lalu bagian tengah yang kosong membentuk irama tersendiri. Sebutan yang menghilang selama dua puluh dua ayat kembali tepat di ayat yang mengulang pertanyaan pembuka.
- Jiwa disebut Allah lagi di ayat ini sesudah 75:2, dengan jarak dua belas ayat. Di 75:2 jiwa itu mencela dirinya, dan di sini ia menjadi saksi atas dirinya. Dua ayat memakai jiwa sebagai pihak yang berhadapan dengan pemiliknya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Mencela dan menyaksikan adalah dua pekerjaan yang sama-sama dikerjakan dari dalam. Dua belas ayat memisahkan keduanya, dan pemilik jiwa itu tidak berubah di antara keduanya.
- Saksi yang dipakai Allah di sini bukan orang lain, sebab manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri. Susunan itu menghapus kebutuhan akan bukti dari luar sama sekali. Al-Qur'an tidak menyatakan penghapusan itu, dan perkaranya selesai tanpa satu pihak ketiga pun dipanggil. Perkara yang selesai tanpa saksi luar tidak menyisakan ruang untuk saling menyalahkan. Yang menuduh dan yang dituduh sama-sama berada di dalam satu tubuh yang sama.
- Ayat ini dibuka Allah dengan sebutan pengalih yang sama seperti 75:5, dan dua ayat itu sama-sama memindahkan pokok secara mendadak. Keberulangan itu tidak ditandai Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Satu patah pendek dipakai dua kali untuk memutus arah pembicaraan di surah yang sama. Memakai satu patah pengalih dua kali di satu surah menandai bahwa perpindahannya memang disengaja. Pembaca yang mengenalinya akan langsung tahu bahwa pokoknya baru saja berganti arah.
- Ayat ini melanjutkan 75:13 tanpa jeda, sebab yang tadi diberi tahu Allah kini menjadi saksinya sendiri. Susunan itu memperkuat penutupan celah, karena yang diberi tahu dan yang menyaksikan orang yang sama. Lalu ruang apa yang tersisa untuk membantah kabar yang disaksikan sendiri oleh penerimanya? Yang diberi tahu dan yang menyaksikan orang yang sama, sehingga kabarnya bertemu penerimanya yang sudah tahu. Lalu bantahan macam apa yang masih mungkin diajukan orang atas catatannya sendiri?
Ayat 75:15
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
Walaupun ia mengemukakan alasan-alasannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُwa-law alqaa ma'aadziirahuwalaupun ia mengemukakan alasan-alasannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- أَلْقَىٰalqaamelemparkan
- مَعَاذِيرَهُma'aadziirahualasan-alasannya
Inti bacaan
Ketidakefektifan pembelaan diri: 'walaupun ia mengemukakan alasan-alasannya', pengakuan bahwa upaya mencari pembenaran tidak akan mengubah kesaksian internal yang sudah ada, dalih tidak menutupi kebenaran yang sudah diketahui diri sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَعَاذِيرَهُ, ma'aadziirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti alasan-alasan yang diajukannya.
Rangkaian (وَلَوْ أَلْقَىٰ, wa lau alqaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti sekalipun ia melemparkan.
Jadi ayat ini seluruhnya tersusun dari sebutan yang tidak berulang. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu.
Perhatikan bahwa alasannya disebut jamak, bukan tunggal. Yang diajukan banyak alasan, bukan satu.
Susunan jamak itu memperkuat kesia-siaannya. Sebanyak apa pun alasannya, hasilnya sama.
Al-Qur'an tidak menyatakan penguatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bilangannya jamak.
Perhatikan bahwa perbuatan yang dipakai melemparkan, bukan menyampaikan. Alasan itu dilontarkan, bukan diuraikan.
Pilihan itu memberi kesan tergesa. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan pengandaian. Ia tidak menyatakan bahwa alasannya diajukan.
Susunan itu mendahului kemungkinan. Alasan yang belum diajukan pun sudah ditolak.
Al-Qur'an tidak menyatakan pendahuluan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa penolakannya datang sebelum pengajuannya.
Perhatikan bahwa ayat ini melanjutkan 75:14 tanpa penghubung baru. Dua ayat membentuk satu kalimat.
Yang di 75:14 menyaksikan, dan yang di sini mengajukan alasan. Orang yang sama mengerjakan dua hal yang berlawanan.
Al-Qur'an tidak menandai perlawanan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa saksi dan pembela berada dalam satu diri.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup bagian kedua surahnya. Sesudahnya 75:16 berpindah ke pokok yang sama sekali lain.
Perpindahan itu terjadi tanpa satu kalimat pengantar. Empat ayat berikutnya menyangkut perkara yang berbeda.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut kepada siapa alasan itu diajukan. Yang disebut cuma perbuatan mengajukannya.
Kekosongan itu sejalan dengan ayat sebelumnya. Di sana pun tidak ada pihak luar yang disebut.
Al-Qur'an tidak mengisi kekosongan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat sama-sama tidak menghadirkan pihak ketiga.
Perhatikan bahwa alasan biasanya diajukan kepada orang yang belum tahu. Di sini yang mendengar sudah menyaksikan sendiri.
Susunan itu membuat pengajuannya sia-sia sejak awal. Al-Qur'an tidak menyatakan kesia-siaan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa saksi dan pembelanya orang yang sama.
Perhatikan bahwa ayat ini dua patah saja. Ia sependek 75:8.
Dua ayat terpendek di surah ini karena itu berada di dua bagian yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu.
Perhatikan bahwa bagian kedua surah ini berakhir tanpa kesimpulan. Yang terakhir disebut justru alasan yang ditolak.
Susunan itu meninggalkan pembacanya menggantung. Kesimpulannya baru datang jauh kemudian.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kesaksian diri sendiri berlaku sekalipun manusia berusaha membela diri dengan berbagai alasan. Ayat ini menutup bagian kedua surah dengan menyebut alasan yang diajukan manusia. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian dua kata pertamanya juga muncul 1 kali.
Jadi ayat ini seluruhnya tersusun dari sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu.
Alasannya juga disebut jamak dan bukan tunggal, sebab yang diajukan banyak alasan. Susunan jamak itu memperkuat kesia-siaannya, karena sebanyak apa pun alasannya hasilnya sama.
Perbuatan yang dipakai juga melemparkan dan bukan menyampaikan, sehingga alasan itu dilontarkan dan bukan diuraikan. Ayat ini juga memakai susunan pengandaian dan tidak menyatakan bahwa alasannya benar-benar diajukan.
Ayat ini juga melanjutkan 75:14 tanpa penghubung baru, sehingga dua ayat membentuk satu kalimat. Yang di 75:14 menyaksikan dan yang di sini mengajukan alasan, dan sesudahnya 75:16 berpindah ke pokok yang sama sekali lain. Ayat ini juga tidak menyebut kepada siapa alasan itu diajukan melainkan cuma perbuatan mengajukannya, sejalan dengan 75:14 yang juga tidak menghadirkan pihak ketiga. Alasan biasanya diajukan kepada orang yang belum tahu, sedangkan di sini yang mendengar sudah menyaksikan sendiri. Ayat ini juga dua patah saja, sependek 75:8 yang berada di bagian lain surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian dua kata pertamanya juga 1 kali. Ayat ini karena itu hampir seluruhnya tersusun dari sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu, dan ia baru terlihat kalau tiap patahnya dicari sendiri di seluruh mushaf. Dua patah yang keduanya tidak berulang di mana pun adalah kepadatan yang sulit ditandingi. Seluruh isi ayat ini berdiri di atas kosakata yang tidak punya satu sepupu pun di seluruh mushaf.
- Alasannya disebut Allah jamak dan bukan tunggal, sebab yang diajukan banyak alasan sekaligus. Susunan jamak itu memperkuat kesia-siaannya, karena sebanyak apa pun alasannya hasilnya tetap sama. Al-Qur'an tidak menyatakan penguatan itu, dan bilangannya sendiri yang menyampaikannya. Alasan yang banyak biasanya dianggap lebih meyakinkan daripada alasan yang satu. Susunan di sini membalik anggapan itu, sebab banyaknya justru menandai kepanikan yang mengajukannya.
- Perbuatan yang dipakai Allah melemparkan, bukan menyampaikan, sehingga alasan itu dilontarkan dan bukan diuraikan dengan tenang. Pilihan itu memberi kesan tergesa dan panik. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan gambarannya cuma tersimpan di dalam satu patah kata kerja. Melempar dan menguraikan adalah dua cara yang sangat berbeda menyampaikan pembelaan. Yang pertama menandai orang yang sudah kehabisan waktu, dan yang kedua orang yang merasa waktunya masih ada.
- Ayat ini memakai susunan pengandaian dan Allah tidak menyatakan bahwa alasannya benar-benar diajukan. Susunan itu mendahului kemungkinan, sehingga alasan yang belum diajukan pun sudah ditolak. Penolakannya datang sebelum pengajuannya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan pendahuluan itu. Menolak sesuatu sebelum ia diajukan menghemat seluruh perdebatan yang akan menyusul. Susunan pengandaian di sini mengerjakan seluruhnya cukup dalam satu patah saja.
- Ayat ini melanjutkan 75:14 tanpa penghubung baru, sehingga dua ayat membentuk satu kalimat. Yang di 75:14 menyaksikan, dan yang di sini mengajukan alasan. Orang yang sama mengerjakan dua hal yang berlawanan, dan Allah menaruh saksi dan pembela di dalam satu diri. Saksi yang jujur dan pembela yang gigih tidak bisa berdiri dalam satu orang tanpa saling meniadakan. Dua ayat berurutan menaruh keduanya di dalam satu diri yang sama tanpa satu kalimat keterangan pun.
- Ayat ini menutup bagian kedua surahnya, dan sesudahnya Allah berpindah ke pokok yang sama sekali lain di 75:16. Perpindahan itu terjadi tanpa satu kalimat pengantar pun. Kalau alasan sudah ditolak sebelum sempat diucapkan, apa lagi yang masih pantas disiapkan seseorang untuk hari itu? Bagian ini berakhir tanpa kesimpulan, dan yang terakhir disebut justru alasan yang ditolak. Kalau alasan sudah gugur sebelum diucapkan, apa lagi yang masih pantas disiapkan seseorang untuk hari itu?