وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
Walaupun ia mengemukakan alasan-alasannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُwa-law alqaa ma'aadziirahuwalaupun ia mengemukakan alasan-alasannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- أَلْقَىٰalqaamelemparkan
- مَعَاذِيرَهُma'aadziirahualasan-alasannya
Inti bacaan
Ketidakefektifan pembelaan diri: 'walaupun ia mengemukakan alasan-alasannya', pengakuan bahwa upaya mencari pembenaran tidak akan mengubah kesaksian internal yang sudah ada, dalih tidak menutupi kebenaran yang sudah diketahui diri sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَعَاذِيرَهُ, ma'aadziirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti alasan-alasan yang diajukannya.
Rangkaian (وَلَوْ أَلْقَىٰ, wa lau alqaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti sekalipun ia melemparkan.
Jadi ayat ini seluruhnya tersusun dari sebutan yang tidak berulang. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu.
Perhatikan bahwa alasannya disebut jamak, bukan tunggal. Yang diajukan banyak alasan, bukan satu.
Susunan jamak itu memperkuat kesia-siaannya. Sebanyak apa pun alasannya, hasilnya sama.
Al-Qur'an tidak menyatakan penguatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bilangannya jamak.
Perhatikan bahwa perbuatan yang dipakai melemparkan, bukan menyampaikan. Alasan itu dilontarkan, bukan diuraikan.
Pilihan itu memberi kesan tergesa. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan pengandaian. Ia tidak menyatakan bahwa alasannya diajukan.
Susunan itu mendahului kemungkinan. Alasan yang belum diajukan pun sudah ditolak.
Al-Qur'an tidak menyatakan pendahuluan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa penolakannya datang sebelum pengajuannya.
Perhatikan bahwa ayat ini melanjutkan 75:14 tanpa penghubung baru. Dua ayat membentuk satu kalimat.
Yang di 75:14 menyaksikan, dan yang di sini mengajukan alasan. Orang yang sama mengerjakan dua hal yang berlawanan.
Al-Qur'an tidak menandai perlawanan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa saksi dan pembela berada dalam satu diri.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup bagian kedua surahnya. Sesudahnya 75:16 berpindah ke pokok yang sama sekali lain.
Perpindahan itu terjadi tanpa satu kalimat pengantar. Empat ayat berikutnya menyangkut perkara yang berbeda.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut kepada siapa alasan itu diajukan. Yang disebut cuma perbuatan mengajukannya.
Kekosongan itu sejalan dengan ayat sebelumnya. Di sana pun tidak ada pihak luar yang disebut.
Al-Qur'an tidak mengisi kekosongan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat sama-sama tidak menghadirkan pihak ketiga.
Perhatikan bahwa alasan biasanya diajukan kepada orang yang belum tahu. Di sini yang mendengar sudah menyaksikan sendiri.
Susunan itu membuat pengajuannya sia-sia sejak awal. Al-Qur'an tidak menyatakan kesia-siaan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa saksi dan pembelanya orang yang sama.
Perhatikan bahwa ayat ini dua patah saja. Ia sependek 75:8.
Dua ayat terpendek di surah ini karena itu berada di dua bagian yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu.
Perhatikan bahwa bagian kedua surah ini berakhir tanpa kesimpulan. Yang terakhir disebut justru alasan yang ditolak.
Susunan itu meninggalkan pembacanya menggantung. Kesimpulannya baru datang jauh kemudian.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kesaksian diri sendiri berlaku sekalipun manusia berusaha membela diri dengan berbagai alasan. Ayat ini menutup bagian kedua surah dengan menyebut alasan yang diajukan manusia. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian dua kata pertamanya juga muncul 1 kali.
Jadi ayat ini seluruhnya tersusun dari sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu.
Alasannya juga disebut jamak dan bukan tunggal, sebab yang diajukan banyak alasan. Susunan jamak itu memperkuat kesia-siaannya, karena sebanyak apa pun alasannya hasilnya sama.
Perbuatan yang dipakai juga melemparkan dan bukan menyampaikan, sehingga alasan itu dilontarkan dan bukan diuraikan. Ayat ini juga memakai susunan pengandaian dan tidak menyatakan bahwa alasannya benar-benar diajukan.
Ayat ini juga melanjutkan 75:14 tanpa penghubung baru, sehingga dua ayat membentuk satu kalimat. Yang di 75:14 menyaksikan dan yang di sini mengajukan alasan, dan sesudahnya 75:16 berpindah ke pokok yang sama sekali lain. Ayat ini juga tidak menyebut kepada siapa alasan itu diajukan melainkan cuma perbuatan mengajukannya, sejalan dengan 75:14 yang juga tidak menghadirkan pihak ketiga. Alasan biasanya diajukan kepada orang yang belum tahu, sedangkan di sini yang mendengar sudah menyaksikan sendiri. Ayat ini juga dua patah saja, sependek 75:8 yang berada di bagian lain surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian dua kata pertamanya juga 1 kali. Ayat ini karena itu hampir seluruhnya tersusun dari sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu, dan ia baru terlihat kalau tiap patahnya dicari sendiri di seluruh mushaf. Dua patah yang keduanya tidak berulang di mana pun adalah kepadatan yang sulit ditandingi. Seluruh isi ayat ini berdiri di atas kosakata yang tidak punya satu sepupu pun di seluruh mushaf.
- Alasannya disebut Allah jamak dan bukan tunggal, sebab yang diajukan banyak alasan sekaligus. Susunan jamak itu memperkuat kesia-siaannya, karena sebanyak apa pun alasannya hasilnya tetap sama. Al-Qur'an tidak menyatakan penguatan itu, dan bilangannya sendiri yang menyampaikannya. Alasan yang banyak biasanya dianggap lebih meyakinkan daripada alasan yang satu. Susunan di sini membalik anggapan itu, sebab banyaknya justru menandai kepanikan yang mengajukannya.
- Perbuatan yang dipakai Allah melemparkan, bukan menyampaikan, sehingga alasan itu dilontarkan dan bukan diuraikan dengan tenang. Pilihan itu memberi kesan tergesa dan panik. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan gambarannya cuma tersimpan di dalam satu patah kata kerja. Melempar dan menguraikan adalah dua cara yang sangat berbeda menyampaikan pembelaan. Yang pertama menandai orang yang sudah kehabisan waktu, dan yang kedua orang yang merasa waktunya masih ada.
- Ayat ini memakai susunan pengandaian dan Allah tidak menyatakan bahwa alasannya benar-benar diajukan. Susunan itu mendahului kemungkinan, sehingga alasan yang belum diajukan pun sudah ditolak. Penolakannya datang sebelum pengajuannya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan pendahuluan itu. Menolak sesuatu sebelum ia diajukan menghemat seluruh perdebatan yang akan menyusul. Susunan pengandaian di sini mengerjakan seluruhnya cukup dalam satu patah saja.
- Ayat ini melanjutkan 75:14 tanpa penghubung baru, sehingga dua ayat membentuk satu kalimat. Yang di 75:14 menyaksikan, dan yang di sini mengajukan alasan. Orang yang sama mengerjakan dua hal yang berlawanan, dan Allah menaruh saksi dan pembela di dalam satu diri. Saksi yang jujur dan pembela yang gigih tidak bisa berdiri dalam satu orang tanpa saling meniadakan. Dua ayat berurutan menaruh keduanya di dalam satu diri yang sama tanpa satu kalimat keterangan pun.
- Ayat ini menutup bagian kedua surahnya, dan sesudahnya Allah berpindah ke pokok yang sama sekali lain di 75:16. Perpindahan itu terjadi tanpa satu kalimat pengantar pun. Kalau alasan sudah ditolak sebelum sempat diucapkan, apa lagi yang masih pantas disiapkan seseorang untuk hari itu? Bagian ini berakhir tanpa kesimpulan, dan yang terakhir disebut justru alasan yang ditolak. Kalau alasan sudah gugur sebelum diucapkan, apa lagi yang masih pantas disiapkan seseorang untuk hari itu?