Ayat 75:16
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Janganlah engkau menggerakkan lidahmu karenanya untuk tergesa-gesa dengannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِlaa tuharrik bihi lisaanaka li-ta'jala bihijanganlah engkau menggerakkan lidahmu karenanya untuk tergesa-gesa dengannya
Terjemahan per kata (6 kata)
- لَاlaajanganlah
- تُحَرِّكْtuharrikengkau menggerakkan
- بِهِbihidengannya
- لِسَانَكَlisaanakalidahmu
- لِتَعْجَلَli-ta'jalaagar engkau tergesa
- بِهِbihidengannya
Inti bacaan
Instruksi kesabaran dalam menerima wahyu: 'janganlah engkau menggerakkan lidahmu karenanya untuk tergesa-gesa (menguasai)nya', panduan spesifik untuk tidak terburu-buru dalam proses menerima dan mengulang wahyu, kesabaran yang diperlukan bahkan dalam momen paling penting sekalipun.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(menguasai)' tidak dipakai.
Rangkaian (لَا تُحَرِّكْ, laa tuharrik) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia melarang menggerakkan sesuatu.
Kata (تُحَرِّكْ, tuharrik) sendiri juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti menggerakkan.
Kata (لِسَانَكَ, lisaanaka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti lidahmu.
Kata (لِتَعْجَلَ, lita'jala) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti agar engkau bergegas.
Jadi tiga dari lima patah di ayat ini tidak dipakai lagi di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Perhatikan bahwa ayat ini menyapa satu orang secara langsung. Lima belas ayat sebelumnya tidak berbuat begitu.
Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba. Al-Qur'an tidak memberi kalimat pengantar.
Perhatikan bahwa pokoknya juga berganti sama sekali. Yang tadinya tentang hari kebangkitan kini tentang menerima bacaan.
Perpindahan itu tajam. Empat ayat menyisip di tengah gambaran yang belum selesai.
Al-Qur'an tidak menerangkan penyisipan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa 75:20 kembali ke pokok semula.
Perhatikan bahwa yang dilarang bukan mengingat, melainkan menggerakkan lidah. Yang dipersoalkan perbuatan tubuh.
Susunan itu sangat khusus. Ia menyebut satu anggota badan dengan tepat.
Al-Qur'an tidak menerangkan kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa larangannya menyangkut satu gerakan tertentu.
Perhatikan bahwa alasan larangan disebut di ayat itu juga. Yang disebut supaya tidak bergegas.
Jadi larangan dan alasannya berdiri di satu baris. Susunan itu tidak menyisakan pertanyaan.
Al-Qur'an tidak menandai kelengkapan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima patah memuat perintah beserta sebabnya.
Perhatikan bahwa yang dirujuk sebutan penunjuk di ayat ini tidak disebut namanya. Al-Qur'an tidak menerangkan apa yang dimaksud.
Yang bisa dibaca cuma bahwa 75:17 menyebut bacaan. Petunjuknya datang dari ayat sesudahnya, bukan dari ayat ini.
Susunan seperti itu menuntut pembacanya membaca terus. Satu ayat saja tidak cukup untuk mengertinya.
Perhatikan bahwa penunjuk yang sama dipakai dua kali di ayat ini. Yang pertama di tengah, dan yang kedua di ujung.
Pengulangan itu mengikat dua bagian kalimatnya. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu.
Perhatikan bahwa larangan di sini memakai susunan yang menyapa akrab. Ia tidak memakai gelar atau sebutan penghormatan.
Cara itu berbeda dari kebanyakan perintah di surah lain. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa sapaannya langsung tanpa perantara.
Perhatikan bahwa empat ayat ini berturut-turut memakai sapaan atau pernyataan orang pertama jamak. Susunannya berbeda dari bagian sebelumnya.
Perbedaan susunan itu menandai bagiannya. Al-Qur'an tidak memberi judul atau penanda.
Yang bisa dibaca cuma bahwa cara berbicaranya berganti selama empat ayat lalu kembali.
Tafsiran
Ayat ini menegur Nabi agar tidak tergesa-gesa mengikuti bacaan wahyu sebelum selesai diturunkan. Ayat ini berpindah mendadak dan menyapa satu orang dengan sebuah larangan. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya sendiri juga 1 kali.
Kata ketiga dan keempatnya masing-masing juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tiga dari lima patah di ayat ini tidak dipakai lagi di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Ayat ini juga menyapa satu orang secara langsung, padahal lima belas ayat sebelumnya tidak berbuat begitu. Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba dan tanpa kalimat pengantar.
Pokoknya juga berganti sama sekali, sebab yang tadinya tentang hari kebangkitan kini tentang menerima bacaan. Empat ayat menyisip di tengah gambaran yang belum selesai, dan 75:20 kembali ke pokok semula.
Yang dilarang juga bukan mengingat melainkan menggerakkan lidah, sehingga yang dipersoalkan perbuatan tubuh. Alasan larangannya juga disebut di ayat itu juga, yaitu supaya tidak bergegas. Yang dirujuk sebutan penunjuk di ayat ini juga tidak disebut namanya, sebab petunjuknya baru datang di 75:17 yang menyebut bacaan. Penunjuk yang sama juga dipakai dua kali di ayat ini, yaitu di tengah dan di ujung, dan pengulangan itu mengikat dua bagian kalimatnya. Larangannya juga memakai sapaan akrab tanpa gelar atau sebutan penghormatan.
Renungan dan Hikmah
- Kata kedua, ketiga, dan keempatnya masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Tiga dari lima patah di ayat ini karena itu tidak dipakai lagi di mana pun. Kepadatan seperti itu tidak ditandai Al-Qur'an, dan ia baru terlihat kalau tiap patahnya dicari satu per satu. Ayat sependek ini menyimpan lebih banyak sebutan sekali pakai daripada ayat mana pun di sekitarnya. Sebuah baris yang tiga per lima patahnya tidak berulang praktis berdiri sendiri di dalam mushaf. Tidak ada ayat lain yang bisa dipakai untuk membandingkan pilihan katanya.
- Ayat ini menyapa satu orang secara langsung, padahal lima belas ayat sebelumnya tidak berbuat begitu. Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba dan tanpa kalimat pengantar dari Allah. Pembaca yang mengikuti gambaran hari kebangkitan tiba-tiba mendengar sebuah larangan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan baris sebelumnya. Perpindahan yang tidak diberi aba-aba memaksa pembacanya menyesuaikan diri sendiri. Ia harus menebak siapa yang disapa sebelum tahu apa yang sedang dibicarakan.
- Pokoknya berganti sama sekali di sini, sebab yang tadinya tentang hari kebangkitan kini tentang menerima bacaan. Empat ayat menyisip di tengah gambaran yang belum selesai, dan Allah baru kembali ke pokok semula di 75:20. Al-Qur'an tidak menerangkan penyisipan itu, dan pembacanya harus mengenali sendiri di mana selaannya berakhir. Sebuah selaan yang batasnya tidak diumumkan menuntut pembacanya mengenali sendiri di mana ia mulai dan berhenti. Empat ayat itu cuma dikenali dari pergantian cara bicaranya.
- Yang dilarang Allah bukan mengingat, melainkan menggerakkan lidah. Yang dipersoalkan perbuatan tubuh, dan susunannya menyebut satu anggota badan dengan tepat. Kekhususan seperti itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan larangannya menyangkut satu gerakan tertentu saja, bukan seluruh cara menerima. Menyebut satu anggota badan dengan tepat membuat larangannya sulit ditawar. Yang dilarang bukan sikap batin yang bisa diperdebatkan, melainkan gerakan yang bisa dilihat.
- Alasan larangan disebut Allah di ayat itu juga, yaitu supaya tidak bergegas. Larangan dan sebabnya karena itu berdiri di satu baris yang sama, dan susunan itu tidak menyisakan pertanyaan. Lima patah memuat perintah beserta alasannya sekaligus, dan Al-Qur'an tidak menandai kelengkapan itu. Perintah yang datang bersama alasannya lebih sulit dibantah daripada perintah yang telanjang. Yang menerima tidak perlu menebak maksudnya, sebab maksudnya sudah disertakan.
- Yang dicegah Allah di sini bukan kelalaian, melainkan justru ketergesaan orang yang bersemangat. Larangan seperti itu tidak ditujukan kepada yang malas. Kalau bergegas menerima sesuatu yang baik pun bisa keliru, apa yang sebenarnya sedang diminta dari orang yang menerimanya? Larangan atas ketergesaan mengandaikan orangnya sedang bersungguh-sungguh. Yang diperbaiki bukan niatnya, melainkan cara niat itu dijalankan.
Ayat 75:17
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas Kamilah mengumpulkannya dan membacakannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُinna 'alaynaa jam'ahu wa-qur'aanahusesungguhnya atas Kamilah mengumpulkannya dan membacakannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- عَلَيْنَا'alaynaaatas Kami
- جَمْعَهُjam'ahumengumpulkannya
- وَقُرْآنَهُwa-qur'aanahudan bacaannya
Inti bacaan
Jaminan pemeliharaan yang menenangkan: 'sesungguhnya atas Kamilah mengumpulkannya dan membacakannya', pembebasan dari kekhawatiran tentang keakuratan penyampaian, tanggung jawab pemeliharaan wahyu berada di luar beban personal penerima.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini pendek, dan seluruh isinya adalah pengambilalihan tanggung jawab.
Ungkapan yang dipakai “atas Kamilah” (عَلَيْنَا, 'alaynaa), yaitu bentuk yang biasa dipakai untuk menyatakan kewajiban yang ditanggung. Yang menanggungnya disebut lebih dahulu daripada pekerjaannya. Beban berpindah, dan itulah pokok seluruh ayat.
Dua pekerjaan disebut sekaligus: “mengumpulkannya dan membacakannya” (جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ, jam'ahu wa-qur'aanahu). Pasangan kata itu hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Yang kedua berasal dari akar yang sama dengan nama kitab ini sendiri, sehingga yang dijamin bukan hanya terhimpunnya bahan, melainkan juga terbacanya.
Kalimat ini menjawab larangan pada ayat sebelumnya, yang melarang menggerakkan lidah karena tergesa (75:16), dan disambung perintah pada ayat sesudahnya, yaitu ikutilah bacaannya apabila telah dibacakan (75:18). Tiga ayat berurutan menyusun satu keterangan yang utuh: yang tergesa diminta berhenti tergesa bukan karena ketergesaan itu tercela pada dirinya, melainkan karena pekerjaan yang dikhawatirkannya sudah ditanggung pihak lain.
Dua kata yang menyebut tugas itu sama-sama tak terulang dalam bentuk ini. Bentuk “mengumpulkannya” (جَمْعَهُ, jam'ahu) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, dan pasangannya dengan kata kedua pun hanya sekali. Sebuah ayat yang hanya terdiri dari empat kata memuat dua bentuk yang tidak dipakai di tempat lain mana pun.
Kata kedua (وَقُرْآنَهُ, wa-qur'aanahu) berasal dari akar yang sama dengan nama kitab ini sendiri. Jadi yang ditanggung bukan hanya terhimpunnya bahan, melainkan juga terbacanya. Dua pekerjaan itu berbeda jenis: yang satu menyangkut keutuhan, yang satu menyangkut penyampaian. Menyebut keduanya sekaligus menutup dua kekhawatiran yang berbeda dengan satu kalimat.
Ungkapan yang dipakai untuk menyatakan penanggungannya adalah susunan yang biasa dipakai untuk kewajiban. Yang menanggung disebut lebih dahulu daripada apa yang ditanggung, dan pendahuluan itu memberi tekanan. Bukan pekerjaan itu yang dinyatakan lebih dahulu, melainkan pihak yang memikulnya.
Letak ayat ini di antara dua tetangganya menerangkan seluruh maksudnya. Sebelumnya ada larangan menggerakkan lidah karena tergesa (75:16); sesudahnya ada perintah mengikuti bacaan apabila telah dibacakan (75:18). Jadi susunannya larangan, alasan, lalu perintah. Yang di tengah adalah alasan bagi yang sebelumnya dan dasar bagi yang sesudahnya. Ketergesaan dilarang bukan karena tercela pada dirinya, melainkan karena hal yang dikhawatirkannya sudah ditanggung pihak lain.
Rangkaian (إِنَّ عَلَيْنَا, inna 'alainaa) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:17, 75:19, 88:26, dan 92:12. Dua di antaranya di surah ini.
Perhatikan bahwa dua pemakaian itu berjarak dua ayat saja. Yang satu di 75:17 dan yang lain di 75:19.
Jadi separuh pemakaiannya berdesakan di satu bagian pendek. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Kata (جَمْعَهُ, jam'ah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti mengumpulkannya.
Kata (وَقُرْآنَهُ, wa qur-aanah) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti dan bacaannya.
Perhatikan bahwa sebutan bacaan itu muncul lagi di 75:18 tanpa penghubung. Dua pemakaiannya cuma di surah ini.
Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berurutan memakai sebutan yang sama.
Perhatikan bahwa dua pekerjaan disebut di ayat ini. Yang pertama mengumpulkan, dan yang kedua membacakan.
Dua pekerjaan itu diambil alih. Yang disapa di 75:16 tidak diminta mengerjakannya.
Al-Qur'an tidak menyatakan pengambilalihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya disebut sebagai tanggungan.
Perhatikan bahwa susunan ayat ini memakai penekanan ganda. Ia dibuka penegas lalu diikuti keterangan tanggungan.
Susunan itu mendahulukan tanggungannya sebelum pekerjaannya. Yang menanggung disebut lebih dulu.
Al-Qur'an tidak menerangkan pendahuluan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa urutannya membalik kelaziman.
Perhatikan bahwa ayat ini menjawab kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang dikhawatirkan.
Yang bisa dibaca cuma larangannya di 75:16 dan jaminan di sini. Sebabnya dibiarkan kosong.
Kekosongan itu tidak diisi di empat ayat selaan ini. Pembacanya harus menyimpulkannya sendiri.
Perhatikan bahwa 92:12 memakai rangkaian yang sama untuk menyebut petunjuk. Di sana yang ditanggung memberi petunjuk.
Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyangkut pekerjaan yang diambil alih. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu.
Perhatikan bahwa 88:26 memakainya untuk perhitungan. Yang di sana menyangkut hari kemudian.
Jadi empat pemakaiannya terbagi antara memberi dan menghitung. Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu.
Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan orang pertama jamak. Susunan yang sama dipakai di 75:18 dan 75:19.
Tiga ayat berturut-turut memakai susunan itu. Bagian sebelumnya tidak memakainya sama sekali.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa cara menyebut diri berganti selama tiga ayat.
Perhatikan bahwa mengumpulkan disebut sebelum membacakan. Urutan itu masuk akal secara berurutan.
Yang belum terkumpul tidak bisa dibacakan utuh. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pekerjaan disebut dalam urutan yang wajar.
Perhatikan bahwa ayat ini empat patah saja. Ia memuat jaminan atas dua pekerjaan sekaligus.
Tafsiran
Ayat ini menjamin bahwa Allah sendiri yang bertanggung jawab mengumpulkan dan membacakan wahyu. Yang paling patut diperhatikan bukan isi jaminannya, melainkan kepada siapa jaminan itu ditujukan dan untuk apa.
Ia tidak berdiri sendiri. Ayat sebelumnya melarang menggerakkan lidah karena tergesa (75:16), dan ayat sesudahnya memerintahkan mengikuti bacaan apabila telah dibacakan (75:18). Jadi susunannya larangan, alasan, lalu perintah. Ayat ini berdiri di tengah sebagai alasan, dan sebuah larangan yang disertai alasan memperlakukan yang dilarang dengan cara yang berbeda dari larangan yang tidak disertai apa-apa.
Alasan yang diberikan pun bukan bahwa ketergesaan itu tercela. Yang dikatakan, pekerjaan yang dikhawatirkan sudah ditanggung pihak lain. Susunan itu menyingkap sumber ketergesaan: ia lahir dari rasa bertanggung jawab atas sesuatu yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita. Obatnya karena itu bukan menahan diri, melainkan mengetahui pembagian tugasnya.
Dua pekerjaan yang disebut pun berbeda jenis dan keduanya diambil sekaligus. Yang pertama menyangkut keutuhan, yang kedua menyangkut sampainya. Menjamin keutuhan saja tidak cukup, sebab sesuatu yang utuh tetapi tidak terbaca sama saja hilang. Bahwa keduanya disebut bersama-sama menutup dua kekhawatiran yang berbeda dalam satu kalimat yang hanya terdiri dari empat kata, dan pasangan kata itu tidak dipakai di tempat lain mana pun. Ayat ini menjamin bahwa pengumpulan dan pembacaannya sudah ditanggung. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:17, 75:19, 88:26, dan 92:12, dan dua di antaranya di surah ini.
Dua pemakaian itu berjarak dua ayat saja, sehingga separuh pemakaiannya berdesakan di satu bagian pendek. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Kata ketiga dan keempatnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Sebutan bacaan itu muncul lagi di 75:18 tanpa penghubung, dan dua pemakaiannya cuma ada di surah ini.
Dua pekerjaan juga disebut di ayat ini, yaitu mengumpulkan dan membacakan, dan keduanya diambil alih sehingga yang disapa di 75:16 tidak diminta mengerjakannya. Susunan ayat ini juga memakai penekanan ganda, sebab ia dibuka penegas lalu diikuti keterangan tanggungan.
Ayat ini juga menjawab kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan, sebab Al-Qur'an tidak menyebut apa yang dikhawatirkan. Yang bisa dibaca cuma larangannya di 75:16 dan jaminan di sini. Ayat 92:12 juga memakai rangkaian yang sama untuk menyebut petunjuk, sehingga tiga dari empat pemakaiannya menyangkut pekerjaan yang diambil alih, sedangkan 88:26 memakainya untuk perhitungan. Ayat ini juga memakai susunan orang pertama jamak, sama seperti 75:18 dan 75:19, dan bagian sebelumnya tidak memakainya sama sekali. Mengumpulkan juga disebut sebelum membacakan, dan urutan itu wajar.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah di 75:17, 75:19, 88:26, dan 92:12. Dua di antaranya di surah ini dan berjarak dua ayat saja, sehingga separuh pemakaiannya berdesakan di satu bagian pendek. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan bagian selaan sepanjang empat ayat ini memuat separuh dari seluruh pemakaian rangkaian tersebut. Empat ayat yang memuat separuh pemakaian sebuah rangkaian bukan kebetulan yang mudah diabaikan. Bagian ini memang dibangun di atas gagasan tanggungan yang diulang dua kali dalam ruang sependek itu.
- Kata keempatnya dipakai Allah 1 kali, dan sebutan bacaan itu muncul lagi di 75:18 sehingga dua pemakaiannya cuma ada di surah ini. Dua ayat berurutan memakai sebutan yang sama tanpa satu penghubung. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu, dan pengulangan sedekat itu jarang terjadi tanpa maksud. Mengulang satu sebutan di dua baris berturut-turut tanpa penghubung adalah cara mengikat yang paling sederhana. Pembacanya mendengar bunyi yang sama dua kali dan langsung tahu keduanya satu urusan.
- Dua pekerjaan disebut Allah di ayat ini, yaitu mengumpulkan dan membacakan. Keduanya diambil alih, sehingga yang disapa di 75:16 tidak diminta mengerjakannya sendiri. Al-Qur'an tidak menyatakan pengambilalihan itu, dan keduanya cuma disebut sebagai tanggungan tanpa keterangan lebih jauh. Mengambil alih pekerjaan berarti membebaskan orangnya dari kekhawatiran atasnya. Yang tersisa baginya cuma menunggu lalu mengikuti, dan itulah yang diperintahkan dua ayat kemudian.
- Susunan ayat ini memakai penekanan ganda, sebab ia dibuka penegas lalu diikuti keterangan tanggungan. Allah menyebut yang menanggung lebih dulu sebelum menyebut pekerjaannya. Urutan itu membalik kelaziman, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pendahuluan itu dengan satu kalimat pun. Menyebut penanggung sebelum pekerjaannya menaruh jaminan di depan perincian. Yang mendengar sudah tenang lebih dulu sebelum tahu apa yang sebenarnya dijamin baginya.
- Ayat ini menjawab kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan, sebab Allah tidak menyebut apa yang dikhawatirkan. Yang bisa dibaca cuma larangannya di 75:16 dan jaminan di sini. Kekosongan itu tidak diisi di empat ayat selaan ini, dan pembacanya harus menyimpulkannya sendiri dari letaknya. Sebuah jawaban atas kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan menandai bahwa kekhawatirannya sudah diketahui. Kekhawatiran itu tidak perlu diucapkan lebih dulu supaya ia sempat dijawab.
- Yang dilarang di 75:16 adalah usaha mengejar, dan yang diberikan Allah di sini adalah jaminan. Larangan itu tidak berdiri sendiri, sebab ia langsung diganti dengan sesuatu yang lebih pasti. Kalau pekerjaannya sudah ditanggung pihak lain, apa lagi yang tersisa untuk dikejar dengan tergesa? Larangan tanpa gantinya akan terasa sebagai kehilangan. Larangan yang langsung diganti dengan jaminan justru terasa sebagai kelegaan.