لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Janganlah engkau menggerakkan lidahmu karenanya untuk tergesa-gesa dengannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِlaa tuharrik bihi lisaanaka li-ta'jala bihijanganlah engkau menggerakkan lidahmu karenanya untuk tergesa-gesa dengannya
Terjemahan per kata (6 kata)
- لَاlaajanganlah
- تُحَرِّكْtuharrikengkau menggerakkan
- بِهِbihidengannya
- لِسَانَكَlisaanakalidahmu
- لِتَعْجَلَli-ta'jalaagar engkau tergesa
- بِهِbihidengannya
Inti bacaan
Instruksi kesabaran dalam menerima wahyu: 'janganlah engkau menggerakkan lidahmu karenanya untuk tergesa-gesa (menguasai)nya', panduan spesifik untuk tidak terburu-buru dalam proses menerima dan mengulang wahyu, kesabaran yang diperlukan bahkan dalam momen paling penting sekalipun.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(menguasai)' tidak dipakai.
Rangkaian (لَا تُحَرِّكْ, laa tuharrik) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia melarang menggerakkan sesuatu.
Kata (تُحَرِّكْ, tuharrik) sendiri juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti menggerakkan.
Kata (لِسَانَكَ, lisaanaka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti lidahmu.
Kata (لِتَعْجَلَ, lita'jala) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti agar engkau bergegas.
Jadi tiga dari lima patah di ayat ini tidak dipakai lagi di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Perhatikan bahwa ayat ini menyapa satu orang secara langsung. Lima belas ayat sebelumnya tidak berbuat begitu.
Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba. Al-Qur'an tidak memberi kalimat pengantar.
Perhatikan bahwa pokoknya juga berganti sama sekali. Yang tadinya tentang hari kebangkitan kini tentang menerima bacaan.
Perpindahan itu tajam. Empat ayat menyisip di tengah gambaran yang belum selesai.
Al-Qur'an tidak menerangkan penyisipan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa 75:20 kembali ke pokok semula.
Perhatikan bahwa yang dilarang bukan mengingat, melainkan menggerakkan lidah. Yang dipersoalkan perbuatan tubuh.
Susunan itu sangat khusus. Ia menyebut satu anggota badan dengan tepat.
Al-Qur'an tidak menerangkan kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa larangannya menyangkut satu gerakan tertentu.
Perhatikan bahwa alasan larangan disebut di ayat itu juga. Yang disebut supaya tidak bergegas.
Jadi larangan dan alasannya berdiri di satu baris. Susunan itu tidak menyisakan pertanyaan.
Al-Qur'an tidak menandai kelengkapan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima patah memuat perintah beserta sebabnya.
Perhatikan bahwa yang dirujuk sebutan penunjuk di ayat ini tidak disebut namanya. Al-Qur'an tidak menerangkan apa yang dimaksud.
Yang bisa dibaca cuma bahwa 75:17 menyebut bacaan. Petunjuknya datang dari ayat sesudahnya, bukan dari ayat ini.
Susunan seperti itu menuntut pembacanya membaca terus. Satu ayat saja tidak cukup untuk mengertinya.
Perhatikan bahwa penunjuk yang sama dipakai dua kali di ayat ini. Yang pertama di tengah, dan yang kedua di ujung.
Pengulangan itu mengikat dua bagian kalimatnya. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu.
Perhatikan bahwa larangan di sini memakai susunan yang menyapa akrab. Ia tidak memakai gelar atau sebutan penghormatan.
Cara itu berbeda dari kebanyakan perintah di surah lain. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa sapaannya langsung tanpa perantara.
Perhatikan bahwa empat ayat ini berturut-turut memakai sapaan atau pernyataan orang pertama jamak. Susunannya berbeda dari bagian sebelumnya.
Perbedaan susunan itu menandai bagiannya. Al-Qur'an tidak memberi judul atau penanda.
Yang bisa dibaca cuma bahwa cara berbicaranya berganti selama empat ayat lalu kembali.
Tafsiran
Ayat ini menegur Nabi agar tidak tergesa-gesa mengikuti bacaan wahyu sebelum selesai diturunkan. Ayat ini berpindah mendadak dan menyapa satu orang dengan sebuah larangan. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya sendiri juga 1 kali.
Kata ketiga dan keempatnya masing-masing juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tiga dari lima patah di ayat ini tidak dipakai lagi di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Ayat ini juga menyapa satu orang secara langsung, padahal lima belas ayat sebelumnya tidak berbuat begitu. Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba dan tanpa kalimat pengantar.
Pokoknya juga berganti sama sekali, sebab yang tadinya tentang hari kebangkitan kini tentang menerima bacaan. Empat ayat menyisip di tengah gambaran yang belum selesai, dan 75:20 kembali ke pokok semula.
Yang dilarang juga bukan mengingat melainkan menggerakkan lidah, sehingga yang dipersoalkan perbuatan tubuh. Alasan larangannya juga disebut di ayat itu juga, yaitu supaya tidak bergegas. Yang dirujuk sebutan penunjuk di ayat ini juga tidak disebut namanya, sebab petunjuknya baru datang di 75:17 yang menyebut bacaan. Penunjuk yang sama juga dipakai dua kali di ayat ini, yaitu di tengah dan di ujung, dan pengulangan itu mengikat dua bagian kalimatnya. Larangannya juga memakai sapaan akrab tanpa gelar atau sebutan penghormatan.
Renungan dan Hikmah
- Kata kedua, ketiga, dan keempatnya masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Tiga dari lima patah di ayat ini karena itu tidak dipakai lagi di mana pun. Kepadatan seperti itu tidak ditandai Al-Qur'an, dan ia baru terlihat kalau tiap patahnya dicari satu per satu. Ayat sependek ini menyimpan lebih banyak sebutan sekali pakai daripada ayat mana pun di sekitarnya. Sebuah baris yang tiga per lima patahnya tidak berulang praktis berdiri sendiri di dalam mushaf. Tidak ada ayat lain yang bisa dipakai untuk membandingkan pilihan katanya.
- Ayat ini menyapa satu orang secara langsung, padahal lima belas ayat sebelumnya tidak berbuat begitu. Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba dan tanpa kalimat pengantar dari Allah. Pembaca yang mengikuti gambaran hari kebangkitan tiba-tiba mendengar sebuah larangan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan baris sebelumnya. Perpindahan yang tidak diberi aba-aba memaksa pembacanya menyesuaikan diri sendiri. Ia harus menebak siapa yang disapa sebelum tahu apa yang sedang dibicarakan.
- Pokoknya berganti sama sekali di sini, sebab yang tadinya tentang hari kebangkitan kini tentang menerima bacaan. Empat ayat menyisip di tengah gambaran yang belum selesai, dan Allah baru kembali ke pokok semula di 75:20. Al-Qur'an tidak menerangkan penyisipan itu, dan pembacanya harus mengenali sendiri di mana selaannya berakhir. Sebuah selaan yang batasnya tidak diumumkan menuntut pembacanya mengenali sendiri di mana ia mulai dan berhenti. Empat ayat itu cuma dikenali dari pergantian cara bicaranya.
- Yang dilarang Allah bukan mengingat, melainkan menggerakkan lidah. Yang dipersoalkan perbuatan tubuh, dan susunannya menyebut satu anggota badan dengan tepat. Kekhususan seperti itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan larangannya menyangkut satu gerakan tertentu saja, bukan seluruh cara menerima. Menyebut satu anggota badan dengan tepat membuat larangannya sulit ditawar. Yang dilarang bukan sikap batin yang bisa diperdebatkan, melainkan gerakan yang bisa dilihat.
- Alasan larangan disebut Allah di ayat itu juga, yaitu supaya tidak bergegas. Larangan dan sebabnya karena itu berdiri di satu baris yang sama, dan susunan itu tidak menyisakan pertanyaan. Lima patah memuat perintah beserta alasannya sekaligus, dan Al-Qur'an tidak menandai kelengkapan itu. Perintah yang datang bersama alasannya lebih sulit dibantah daripada perintah yang telanjang. Yang menerima tidak perlu menebak maksudnya, sebab maksudnya sudah disertakan.
- Yang dicegah Allah di sini bukan kelalaian, melainkan justru ketergesaan orang yang bersemangat. Larangan seperti itu tidak ditujukan kepada yang malas. Kalau bergegas menerima sesuatu yang baik pun bisa keliru, apa yang sebenarnya sedang diminta dari orang yang menerimanya? Larangan atas ketergesaan mengandaikan orangnya sedang bersungguh-sungguh. Yang diperbaiki bukan niatnya, melainkan cara niat itu dijalankan.