فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُfa-idzaa qara'naahu fa-ttabi' qur'aanahumaka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. قَرَأْنَاهُqara'naahuKami membacakannya
  3. فَاتَّبِعْfa-ttabi'maka ikutilah
  4. قُرْآنَهُqur'aanahubacaannya

Inti bacaan

Urutan yang tepat dalam menerima wahyu: 'maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya', struktur yang jelas antara penyampaian dan respons, kesabaran menunggu proses selesai sebelum bertindak.

Penjelasan pilihan kata

Kata (قَرَأْنَاهُ, qara-naah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti Kami membacakannya.

Kata (فَاتَّبِعْ, fattabi') muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 19:43, 45:18, dan 75:18. Ia berarti maka ikutilah.

Perhatikan bahwa di 19:43 perintah itu diucapkan seorang anak kepada ayahnya. Di 45:18 ia menyangkut jalan yang ditetapkan.

Jadi tiga pemakaiannya menyebut tiga hal yang berbeda untuk diikuti. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya.

Kata (قُرْآنَهُ, qur-aanah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:17 dan 75:18. Dua-duanya di surah ini.

Perhatikan bahwa dua ayat berurutan memakai sebutan yang sama di posisi penutup. Keduanya sama-sama diakhiri sebutan itu.

Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua baris berturut-turut berakhir sama.

Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan bersyarat lagi. Susunan yang sama dipakai di 75:7.

Dua bagian surah memakai susunan yang serupa untuk maksud yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu.

Perhatikan bahwa perintah di ayat ini menyusul larangan di 75:16. Yang dilarang mendahului, dan yang diperintahkan mengikuti.

Susunan itu menyusun urutan yang jelas. Diam dulu, baru mengikuti.

Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berjarak dua ayat.

Perhatikan bahwa yang diminta mengikuti bacaan, bukan menghafalnya. Al-Qur'an tidak menyebut penghafalan.

Yang bisa dibaca cuma perintah mengikuti. Sisanya dibiarkan kosong.

Kekosongan itu sejalan dengan seluruh bagian selaan ini. Empat ayatnya sangat hemat kata.

Perhatikan bahwa susunan bersyarat di ayat ini memakai penanda waktu yang sama dengan 75:7. Keduanya berarti apabila.

Jadi dua bagian surah memakai penanda yang sama untuk dua perkara yang berjauhan. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu.

Yang bisa dibaca cuma bahwa satu penanda dipakai untuk hari kebangkitan dan untuk pembacaan.

Perhatikan bahwa perintah di ayat ini pendek, cuma satu patah. Sisanya keterangan dan syarat.

Susunan itu menaruh bobot pada syaratnya. Perintahnya sendiri ringkas sekali.

Al-Qur'an tidak menandai ketimpangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa syaratnya lebih panjang daripada perintahnya.

Perhatikan bahwa yang membacakan dan yang diikuti pihak yang sama. Bacaannya disebut milik-Nya.

Susunan kepemilikan itu diulang dari 75:17. Dua ayat memakai sebutan yang sama persis.

Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa kepemilikannya ditegaskan dua kali.

Perhatikan bahwa perintah mengikuti tidak menyebut caranya. Al-Qur'an tidak merinci apa yang harus dikerjakan.

Kekosongan itu diisi sebagian di 75:19. Di sana disebut bahwa penjelasannya pun ditanggung.

Tafsiran

Ayat ini memerintahkan Nabi mengikuti bacaan setelah Allah menyelesaikannya, bukan mendahuluinya. Ayat ini memerintahkan mengikuti bacaan sesudah bacaan itu selesai dibacakan. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti Kami membacakannya.

Kata ketiganya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 19:43, 45:18, dan 75:18. Di 19:43 perintah itu diucapkan seorang anak kepada ayahnya, dan di 45:18 ia menyangkut jalan yang ditetapkan, sehingga tiga pemakaiannya menyebut tiga hal yang berbeda untuk diikuti.

Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:17 dan 75:18, dan dua-duanya di surah ini. Dua ayat berurutan memakai sebutan yang sama di posisi penutup, sehingga keduanya sama-sama berakhir sama.

Ayat ini juga memakai susunan bersyarat lagi, sama seperti 75:7, sehingga dua bagian surah memakai susunan serupa untuk maksud yang berbeda. Perintah di ayat ini juga menyusul larangan di 75:16, dengan jarak dua ayat.

Yang diminta juga mengikuti bacaan dan bukan menghafalnya, sebab Al-Qur'an tidak menyebut penghafalan. Kekosongan itu sejalan dengan seluruh bagian selaan yang sangat hemat kata. Susunan bersyarat di ayat ini juga memakai penanda waktu yang sama dengan 75:7, sehingga satu penanda dipakai untuk hari kebangkitan dan untuk pembacaan. Perintah di ayat ini juga pendek, cuma satu patah, sedangkan sisanya keterangan dan syarat. Yang membacakan dan yang diikuti juga pihak yang sama, sebab bacaannya disebut milik-Nya seperti di 75:17.

Renungan dan Hikmah

  • Kata ketiganya dipakai Allah cuma di 19:43, 45:18, dan 75:18. Di 19:43 perintah itu diucapkan seorang anak kepada ayahnya, di 45:18 ia menyangkut jalan yang ditetapkan, dan di sini ia menyangkut bacaan. Tiga pemakaiannya menyebut tiga hal yang berbeda untuk diikuti, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Sebuah perintah yang cuma dipakai tiga kali di seluruh mushaf hampir selalu berdiri di tempat yang menentukan. Ketiganya menuntut orangnya meninggalkan caranya sendiri lalu menempuh cara yang ditunjukkan kepadanya.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 75:17 dan 75:18, dan dua-duanya di surah ini. Dua ayat berurutan memakai sebutan yang sama di posisi penutup, sehingga dua baris berturut-turut berakhir dengan bunyi yang sama persis. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu, dan iramanya sendiri yang mengikat keduanya. Dua baris yang berakhir dengan bunyi yang sama sudah terikat oleh telinga sebelum terikat oleh maknanya. Cara mengikat seperti itu bekerja pada pembaca yang mendengarkan, dan bukan pada yang cuma melihat hurufnya.
  • Ayat ini memakai susunan bersyarat lagi, sama seperti yang dipakai Allah di 75:7. Dua bagian surah memakai susunan yang serupa untuk maksud yang sama sekali berbeda. Yang satu membuka gambaran hari kebangkitan, dan yang lain membuka perintah kepada satu orang. Satu susunan yang dipakai di dua tempat berjauhan menandai adanya satu tangan yang sama. Perkara yang dibicarakan berbeda, tetapi cara membangun kalimatnya tidak berubah.
  • Perintah di ayat ini menyusul larangan yang diberikan Allah di 75:16, dengan jarak dua ayat. Yang dilarang mendahului, dan yang diperintahkan mengikuti sesudahnya. Susunan itu menyusun urutan yang jelas, yaitu diam lebih dulu lalu mengikuti, dan Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Menyuruh diam lebih dulu sebelum menyuruh mengikuti adalah urutan yang sama sekali tidak bisa dibalik. Orang yang sudah telanjur bergerak tidak bisa mendengarkan dengan baik.
  • Yang diminta Allah mengikuti bacaan, bukan menghafalnya, sebab Al-Qur'an tidak menyebut penghafalan sama sekali. Yang bisa dibaca cuma perintah mengikuti, dan sisanya dibiarkan kosong. Kekosongan itu sejalan dengan seluruh bagian selaan ini yang sangat hemat kata. Tidak menyebut penghafalan meninggalkan ruang kosong yang tidak diisi oleh ayat mana pun. Yang diminta cuma mengikuti, dan selebihnya bukan urusan orang yang disapa.
  • Allah menaruh syaratnya lebih dulu dan perintahnya sesudah itu. Yang diminta baru berlaku setelah pekerjaan pihak lain selesai. Kalau perintahnya bergantung pada sesuatu yang bukan urusannya, apa yang tersisa untuk dikerjakan orang itu sebelum saatnya tiba? Perintah yang bergantung pada selesainya pekerjaan pihak lain memindahkan pusat kesibukan orangnya. Yang menunggu tidak sedang menganggur, sebab menunggu itu sendiri yang sedang diperintahkan.