Ayat 75:22

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ

Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌwujuuhun yawma'idzin naadhiratunwajah-wajah pada hari itu berseri-seri

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وُجُوهٌwujuuhunwajah-wajah
  2. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  3. نَاضِرَةٌnaadhiratunberseri-seri

Inti bacaan

Kontras positif setelah gambaran krisis: 'wajah-wajah pada hari itu berseri-seri', transisi menuju gambaran golongan yang selamat, ekspresi kebahagiaan yang tampak jelas secara fisik.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وُجُوهٌ, wujuuh) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 3:106, 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Dua di antaranya di surah ini.

Rangkaian (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ, wujuuhun yauma-idzin) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Ia membuka gambaran wajah pada hari itu.

Perhatikan bahwa enam pemakaiannya terbagi rata di tiga surah. Masing-masing memakainya dua kali.

Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga surah memakai pola yang sama.

Perhatikan bahwa di tiga surah itu pemakaiannya selalu berpasangan. Yang satu menggambarkan wajah berseri, dan yang lain wajah muram.

Jadi susunan berpasangan itu berulang tiga kali. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.

Kata (نَاضِرَةٌ, naadhirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti berseri-seri.

Perhatikan bahwa ayat ini dan 75:23 membentuk satu kalimat. Sifat keduanya berbunyi hampir sama.

Dua sifat itu berbeda satu huruf saja. Al-Qur'an tidak menandai kemiripan bunyi itu.

Perhatikan bahwa yang disebut wajah, bukan orangnya. Bagian tubuh mewakili seluruh dirinya.

Cara itu dipakai juga di 75:24. Dua ayat memakai cara yang sama.

Al-Qur'an tidak menyatakan perwakilan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang disebut bagian, bukan keseluruhan.

Perhatikan bahwa wajah disebut tanpa jumlah tertentu. Susunannya jamak tanpa batas.

Susunan itu membiarkan jumlahnya terbuka. Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak.

Perhatikan bahwa ayat ini memulai bagian gambaran yang baru. Sesudah tuduhan di 75:20 dan 75:21, kini datang akibatnya.

Perpindahan itu terjadi tanpa penghubung. Al-Qur'an langsung berpindah ke gambaran.

Perhatikan bahwa tiga surah yang memakai susunan ini seluruhnya pendek. Ketiganya berada di paruh akhir mushaf.

Kesamaan letak itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya berdekatan wilayahnya.

Perhatikan bahwa 88:2 dan 88:8 memakai urutan yang terbalik. Di sana yang muram disebut lebih dulu.

Jadi dua surah memakai urutan berseri lalu muram, dan satu surah memakai urutan sebaliknya. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa surah ini menaruh yang berseri lebih dulu. Susunan itu sama dengan 80:38 dan 80:40.

Dua surah karena itu sejalan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Perhatikan bahwa wajah dipilih karena ia paling sulit disembunyikan. Al-Qur'an tidak menyebut alasan itu.

Yang bisa dibaca cuma bahwa wajah yang disebut, bukan tangan atau kaki. Alasannya dibiarkan kosong.

Perhatikan bahwa gambaran ini datang sesudah tuduhan, bukan sebelumnya. Urutan itu menaruh akibat sesudah sebabnya.

Susunan itu masuk akal. Al-Qur'an tidak menandai kewajaran itu.

Perhatikan bahwa penanda hari itu dipakai lagi di ayat ini. Ini pemakaian keempatnya di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini membuka gambaran keadaan orang-orang yang berbahagia pada hari itu. Ayat ini membuka gambaran wajah pada hari kebangkitan. Kata pertamanya muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 3:106, 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8, dan dua di antaranya di surah ini.

Rangkaian dua kata pertamanya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Enam pemakaiannya terbagi rata di tiga surah, dan masing-masing memakainya dua kali.

Di tiga surah itu pemakaiannya selalu berpasangan, sebab yang satu menggambarkan wajah berseri dan yang lain wajah muram. Jadi susunan berpasangan itu berulang tiga kali.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ayat ini bersama 75:23 membentuk satu kalimat dengan sifat yang berbunyi hampir sama. Yang disebut juga wajah dan bukan orangnya, sehingga bagian tubuh mewakili seluruh dirinya.

Wajah juga disebut tanpa jumlah tertentu, sebab susunannya jamak tanpa batas. Ayat ini juga memulai bagian gambaran yang baru sesudah tuduhan di 75:20 dan 75:21. Tiga surah yang memakai susunan ini juga seluruhnya pendek dan berada di paruh akhir mushaf. Ayat 88:2 dan 88:8 juga memakai urutan yang terbalik, sebab di sana yang muram disebut lebih dulu, sedangkan surah ini menaruh yang berseri lebih dulu seperti 80:38 dan 80:40. Penanda hari itu juga dipakai lagi di ayat ini, dan ini pemakaian keempatnya di surah ini.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Enam pemakaiannya terbagi rata di tiga surah, dan masing-masing memakainya tepat dua kali. Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu, dan keteraturan seperti itu sulit disebut kebetulan. Tiga surah memakai susunan yang sama dengan takaran yang sama persis. Keteraturan seperti itu tidak bisa dilihat dari satu surah saja, dan ia menuntut ketiga surah itu dibandingkan. Tiga surah itu tidak saling menunjuk satu sama lain.
  • Di tiga surah itu pemakaiannya selalu berpasangan, sebab Allah menggambarkan wajah berseri lalu wajah muram. Susunan berpasangan itu berulang tiga kali di tiga surah yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan pembacanya baru menemukannya kalau ketiga surah itu dibandingkan. Dua surah menaruh yang berseri lebih dulu, dan satu surah menaruh yang muram lebih dulu. Urutan yang berbeda itu ikut mengubah nada penutup pada masing-masing bagiannya. Nada penutupnya karena itu tidak seragam di ketiganya.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ayat ini bersama 75:23 membentuk satu kalimat. Dua sifat yang dipakai di dua baris itu berbeda satu huruf saja, sehingga bunyinya hampir sama. Al-Qur'an tidak menandai kemiripan bunyi itu, dan telinga pembacanya yang menangkapnya lebih dulu. Dua sifat yang berbeda satu huruf saja memaksa pembacanya mendengar dengan teliti. Kelalaian sedikit saja pada satu huruf sudah cukup untuk menukar seluruh maknanya. Satu huruf memisahkan berseri dari memandang.
  • Yang disebut Allah wajah, bukan orangnya, sehingga bagian tubuh mewakili seluruh dirinya. Cara itu dipakai juga di 75:24, sehingga dua ayat memakai cara yang sama. Al-Qur'an tidak menyatakan perwakilan itu, dan yang disebut cuma bagian yang paling mudah dibaca orang lain. Wajah adalah bagian tubuh yang paling sulit disembunyikan dari orang lain. Memakainya sebagai wakil membuat keadaan batin seseorang terbaca tanpa ia perlu berbicara sepatah pun. Wajah karena itu jadi saksi yang paling jujur.
  • Wajah disebut Allah tanpa jumlah tertentu, sebab susunannya jamak tanpa batas. Susunan itu membiarkan jumlahnya terbuka, dan Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak. Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh enam pemakaiannya di tiga surah. Jumlah yang dibiarkan terbuka membuat pembacanya tidak bisa memastikan ia termasuk yang mana. Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh enam pemakaiannya yang tersebar di tiga surah. Pembacanya tak punya angka untuk berpegang.
  • Ayat ini memulai bagian gambaran yang baru sesudah tuduhan yang diberikan Allah di 75:20 dan 75:21. Perpindahan dari menuduh ke menggambarkan terjadi tanpa satu penghubung pun. Kalau akibat langsung ditaruh sesudah tuduhan tanpa jeda, apa yang sedang diminta dari pembaca yang baru saja dituduh? Akibat yang datang langsung sesudah tuduhan tidak memberi ruang untuk membela diri. Urutan itu menaruh pembacanya di hadapan hasilnya sebelum ia sempat menyanggah sebabnya. Sanggahan datang terlambat kalau hasilnya sudah terlihat.

Ayat 75:23

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Kepada Tuhannya memandang.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌilaa rabbihaa naazhiratunkepada Tuhannya memandang

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِلَىٰilaakepada
  2. رَبِّهَاrabbihaaTuhannya
  3. نَاظِرَةٌnaazhiratunyang memandang

Inti bacaan

Puncak kenikmatan tertinggi: 'kepada Tuhannya memandang', deskripsi pencapaian spiritual tertinggi berupa kedekatan visual dengan sumber segala kebaikan, gambaran kenikmatan yang melampaui kesenangan material biasa menuju pengalaman relasional yang paling mendalam.

Penjelasan pilihan kata

Kata (نَاظِرَةٌ, naazhirah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:35 dan 75:23. Di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan.

Jadi dua pemakaiannya menyebut dua jenis menunggu yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.

Kata (رَبِّهَا, rabbihaa) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ia berarti Tuhannya.

Perhatikan bahwa 84:2 dan 84:5 memakai sebutan itu untuk langit yang patuh. Di sini ia dipakai untuk wajah yang memandang.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk langit dan untuk wajah.

Perhatikan bahwa sifat di ayat ini berbunyi hampir sama dengan sifat di 75:22. Keduanya berbeda satu huruf saja.

Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu.

Perhatikan bahwa arah pandangnya disebut, bukan apa yang dilihat. Yang disebut kepada siapa ia memandang.

Susunan itu memakai arah, bukan objek. Cara yang sama dipakai di 75:12.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai arah sebagai jawabannya.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah. Ia memuat seluruh puncak gambaran dalam ruang sesempit itu.

Kependekan itu berlaku di empat ayat berturut-turut. Dari 75:22 sampai 75:25 semuanya sangat pendek.

Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa empat baris itu hampir sama panjangnya.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut ganjaran apa pun. Yang disebut cuma arah pandangnya.

Ketiadaan perincian itu berbeda dari surah 76 yang memerinci panjang lebar. Dua surah bertetangga memakai cara yang berbeda.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan cara itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang satu memerinci dan yang lain menahan diri.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak memakai sebutan melihat yang lazim. Yang dipakai justru sesuatu yang juga berarti menunggu.

Kegandaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan menampung dua arti.

Perhatikan bahwa di 27:35 sebutan itu jelas berarti menunggu. Pemakaian di sana tidak menyangkut penglihatan sama sekali.

Jadi dua pemakaiannya berdiri di dua wilayah arti yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa arah pandang disebut lebih dulu daripada sifatnya. Susunan itu tidak lazim dalam kalimat biasa.

Pendahuluan itu menaruh tekanan pada arahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.

Perhatikan bahwa sebutan Tuhannya memakai kepemilikan perempuan. Ia menyesuaikan diri dengan sebutan wajah.

Penyesuaian itu mengikat dua ayat. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup gambaran yang pertama. Sesudahnya 75:24 memulai gambaran yang kedua.

Dua gambaran itu masing-masing dua ayat. Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu.

Perhatikan bahwa yang berseri tidak diberi tahu apa pun. Ia cuma digambarkan memandang.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah tersebut memandang kepada Tuhannya. Ayat ini menyebut ke mana wajah yang berseri itu memandang. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 27:35 dan 75:23, dan di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan.

Kata keduanya muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ayat 84:2 dan 84:5 memakai sebutan itu untuk langit yang patuh, sedangkan di sini ia dipakai untuk wajah yang memandang.

Sifat di ayat ini juga berbunyi hampir sama dengan sifat di 75:22, sebab keduanya berbeda satu huruf saja. Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris.

Arah pandangnya juga disebut dan bukan apa yang dilihat, sehingga susunannya memakai arah dan bukan objek. Cara yang sama dipakai di 75:12.

Ayat ini juga cuma tiga patah dan memuat seluruh puncak gambaran dalam ruang sesempit itu. Ayat ini juga tidak menyebut ganjaran apa pun, berbeda dari surah 76 yang memerinci panjang lebar. Ayat ini juga tidak memakai kata melihat yang lazim melainkan sebutan yang juga berarti menunggu, dan di 27:35 sebutan itu jelas berarti menunggu tanpa menyangkut penglihatan. Arah pandang juga disebut lebih dulu daripada sifatnya, dan susunan itu tidak lazim dalam kalimat biasa. Sebutan Tuhannya juga memakai kepemilikan perempuan yang menyesuaikan diri dengan sebutan wajah.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 27:35 dan 75:23. Di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan, dan di sini untuk wajah yang memandang. Dua pemakaiannya menyebut dua jenis menunggu yang sangat berbeda, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Sebuah sebutan yang menampung melihat sekaligus menunggu tidak bisa diterjemahkan tanpa memilih salah satunya. Pilihan penerjemahnya karena itu hampir selalu menghilangkan separuh dari yang tertulis. Separuh yang hilang itu tidak bisa dikembalikan.
  • Kata keduanya dipakai Allah di 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ayat 84:2 dan 84:5 memakainya untuk langit yang patuh, sedangkan di sini untuk wajah yang memandang. Satu sebutan menampung benda langit dan wajah manusia, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Delapan pemakaiannya tersebar dari surah panjang sampai surah pendek. Satu sebutan yang menampung langit dan wajah sekaligus menandai betapa luasnya ia dipakai. Luasnya pemakaian itu tidak diterangkan di ayat mana pun.
  • Sifat di ayat ini berbunyi hampir sama dengan sifat yang dipakai Allah di 75:22, sebab keduanya berbeda satu huruf saja. Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris menjadi satu kesatuan. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu, dan telinga pembacanya yang menangkapnya sebelum pikirannya. Dua baris yang bunyinya berbeda satu huruf saja terikat lebih erat daripada dua baris yang temanya sama. Ikatan lewat bunyi bekerja lebih dulu, sebelum pembacanya sempat memikirkan maknanya. Telinga menangkapnya lebih dulu daripada pikiran.
  • Arah pandangnya disebut Allah, bukan apa yang dilihat, sehingga yang disebut kepada siapa ia memandang. Cara yang sama dipakai di 75:12 ketika arah dipakai sebagai jawaban. Dua ayat memakai arah dan bukan tempat, dan Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Menyebut arah dan bukan objek membiarkan isinya tidak dilukiskan. Yang penting bukan apa yang tampak di depannya, melainkan ke mana wajah itu menghadap. Isinya sendiri tidak pernah dilukiskan sama sekali.
  • Ayat ini cuma tiga patah dan memuat seluruh puncak gambarannya dalam ruang sesempit itu. Kependekan itu berlaku di empat ayat berturut-turut dari 75:22 sampai 75:25. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu, dan empat baris itu hampir sama panjangnya satu sama lain. Empat baris berturut-turut yang hampir sama panjangnya membentuk irama yang tetap. Irama itu sendiri yang menandai bahwa keempat baris itu satu kesatuan. Irama tetap itu berjalan sepanjang empat baris.
  • Ayat ini tidak menyebut ganjaran apa pun, sebab yang disebut Allah cuma arah pandangnya. Ketiadaan perincian itu berbeda dari surah tetangganya yang memerinci panjang lebar selama delapan belas ayat. Kalau satu surah menahan diri sepenuhnya dan tetangganya memerinci sampai bejananya, apa yang membuat keduanya memilih cara sejauh itu berbeda? Surah ini menahan diri sepenuhnya dari memerinci, sedangkan tetangganya memerinci sampai bejananya. Dua cara yang berlawanan itu berdiri di dua surah yang bersebelahan letaknya. Letak keduanya berdampingan tanpa penanda apa pun.