Ayat 75:22
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌwujuuhun yawma'idzin naadhiratunwajah-wajah pada hari itu berseri-seri
Terjemahan per kata (3 kata)
- وُجُوهٌwujuuhunwajah-wajah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- نَاضِرَةٌnaadhiratunberseri-seri
Inti bacaan
Kontras positif setelah gambaran krisis: 'wajah-wajah pada hari itu berseri-seri', transisi menuju gambaran golongan yang selamat, ekspresi kebahagiaan yang tampak jelas secara fisik.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وُجُوهٌ, wujuuh) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 3:106, 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Dua di antaranya di surah ini.
Rangkaian (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ, wujuuhun yauma-idzin) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Ia membuka gambaran wajah pada hari itu.
Perhatikan bahwa enam pemakaiannya terbagi rata di tiga surah. Masing-masing memakainya dua kali.
Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga surah memakai pola yang sama.
Perhatikan bahwa di tiga surah itu pemakaiannya selalu berpasangan. Yang satu menggambarkan wajah berseri, dan yang lain wajah muram.
Jadi susunan berpasangan itu berulang tiga kali. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.
Kata (نَاضِرَةٌ, naadhirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti berseri-seri.
Perhatikan bahwa ayat ini dan 75:23 membentuk satu kalimat. Sifat keduanya berbunyi hampir sama.
Dua sifat itu berbeda satu huruf saja. Al-Qur'an tidak menandai kemiripan bunyi itu.
Perhatikan bahwa yang disebut wajah, bukan orangnya. Bagian tubuh mewakili seluruh dirinya.
Cara itu dipakai juga di 75:24. Dua ayat memakai cara yang sama.
Al-Qur'an tidak menyatakan perwakilan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang disebut bagian, bukan keseluruhan.
Perhatikan bahwa wajah disebut tanpa jumlah tertentu. Susunannya jamak tanpa batas.
Susunan itu membiarkan jumlahnya terbuka. Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak.
Perhatikan bahwa ayat ini memulai bagian gambaran yang baru. Sesudah tuduhan di 75:20 dan 75:21, kini datang akibatnya.
Perpindahan itu terjadi tanpa penghubung. Al-Qur'an langsung berpindah ke gambaran.
Perhatikan bahwa tiga surah yang memakai susunan ini seluruhnya pendek. Ketiganya berada di paruh akhir mushaf.
Kesamaan letak itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya berdekatan wilayahnya.
Perhatikan bahwa 88:2 dan 88:8 memakai urutan yang terbalik. Di sana yang muram disebut lebih dulu.
Jadi dua surah memakai urutan berseri lalu muram, dan satu surah memakai urutan sebaliknya. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.
Perhatikan bahwa surah ini menaruh yang berseri lebih dulu. Susunan itu sama dengan 80:38 dan 80:40.
Dua surah karena itu sejalan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Perhatikan bahwa wajah dipilih karena ia paling sulit disembunyikan. Al-Qur'an tidak menyebut alasan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa wajah yang disebut, bukan tangan atau kaki. Alasannya dibiarkan kosong.
Perhatikan bahwa gambaran ini datang sesudah tuduhan, bukan sebelumnya. Urutan itu menaruh akibat sesudah sebabnya.
Susunan itu masuk akal. Al-Qur'an tidak menandai kewajaran itu.
Perhatikan bahwa penanda hari itu dipakai lagi di ayat ini. Ini pemakaian keempatnya di surah ini.
Tafsiran
Ayat ini membuka gambaran keadaan orang-orang yang berbahagia pada hari itu. Ayat ini membuka gambaran wajah pada hari kebangkitan. Kata pertamanya muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 3:106, 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8, dan dua di antaranya di surah ini.
Rangkaian dua kata pertamanya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Enam pemakaiannya terbagi rata di tiga surah, dan masing-masing memakainya dua kali.
Di tiga surah itu pemakaiannya selalu berpasangan, sebab yang satu menggambarkan wajah berseri dan yang lain wajah muram. Jadi susunan berpasangan itu berulang tiga kali.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ayat ini bersama 75:23 membentuk satu kalimat dengan sifat yang berbunyi hampir sama. Yang disebut juga wajah dan bukan orangnya, sehingga bagian tubuh mewakili seluruh dirinya.
Wajah juga disebut tanpa jumlah tertentu, sebab susunannya jamak tanpa batas. Ayat ini juga memulai bagian gambaran yang baru sesudah tuduhan di 75:20 dan 75:21. Tiga surah yang memakai susunan ini juga seluruhnya pendek dan berada di paruh akhir mushaf. Ayat 88:2 dan 88:8 juga memakai urutan yang terbalik, sebab di sana yang muram disebut lebih dulu, sedangkan surah ini menaruh yang berseri lebih dulu seperti 80:38 dan 80:40. Penanda hari itu juga dipakai lagi di ayat ini, dan ini pemakaian keempatnya di surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Enam pemakaiannya terbagi rata di tiga surah, dan masing-masing memakainya tepat dua kali. Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu, dan keteraturan seperti itu sulit disebut kebetulan. Tiga surah memakai susunan yang sama dengan takaran yang sama persis. Keteraturan seperti itu tidak bisa dilihat dari satu surah saja, dan ia menuntut ketiga surah itu dibandingkan. Tiga surah itu tidak saling menunjuk satu sama lain.
- Di tiga surah itu pemakaiannya selalu berpasangan, sebab Allah menggambarkan wajah berseri lalu wajah muram. Susunan berpasangan itu berulang tiga kali di tiga surah yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan pembacanya baru menemukannya kalau ketiga surah itu dibandingkan. Dua surah menaruh yang berseri lebih dulu, dan satu surah menaruh yang muram lebih dulu. Urutan yang berbeda itu ikut mengubah nada penutup pada masing-masing bagiannya. Nada penutupnya karena itu tidak seragam di ketiganya.
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ayat ini bersama 75:23 membentuk satu kalimat. Dua sifat yang dipakai di dua baris itu berbeda satu huruf saja, sehingga bunyinya hampir sama. Al-Qur'an tidak menandai kemiripan bunyi itu, dan telinga pembacanya yang menangkapnya lebih dulu. Dua sifat yang berbeda satu huruf saja memaksa pembacanya mendengar dengan teliti. Kelalaian sedikit saja pada satu huruf sudah cukup untuk menukar seluruh maknanya. Satu huruf memisahkan berseri dari memandang.
- Yang disebut Allah wajah, bukan orangnya, sehingga bagian tubuh mewakili seluruh dirinya. Cara itu dipakai juga di 75:24, sehingga dua ayat memakai cara yang sama. Al-Qur'an tidak menyatakan perwakilan itu, dan yang disebut cuma bagian yang paling mudah dibaca orang lain. Wajah adalah bagian tubuh yang paling sulit disembunyikan dari orang lain. Memakainya sebagai wakil membuat keadaan batin seseorang terbaca tanpa ia perlu berbicara sepatah pun. Wajah karena itu jadi saksi yang paling jujur.
- Wajah disebut Allah tanpa jumlah tertentu, sebab susunannya jamak tanpa batas. Susunan itu membiarkan jumlahnya terbuka, dan Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak. Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh enam pemakaiannya di tiga surah. Jumlah yang dibiarkan terbuka membuat pembacanya tidak bisa memastikan ia termasuk yang mana. Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh enam pemakaiannya yang tersebar di tiga surah. Pembacanya tak punya angka untuk berpegang.
- Ayat ini memulai bagian gambaran yang baru sesudah tuduhan yang diberikan Allah di 75:20 dan 75:21. Perpindahan dari menuduh ke menggambarkan terjadi tanpa satu penghubung pun. Kalau akibat langsung ditaruh sesudah tuduhan tanpa jeda, apa yang sedang diminta dari pembaca yang baru saja dituduh? Akibat yang datang langsung sesudah tuduhan tidak memberi ruang untuk membela diri. Urutan itu menaruh pembacanya di hadapan hasilnya sebelum ia sempat menyanggah sebabnya. Sanggahan datang terlambat kalau hasilnya sudah terlihat.
Ayat 75:23
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Kepada Tuhannya memandang.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌilaa rabbihaa naazhiratunkepada Tuhannya memandang
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِلَىٰilaakepada
- رَبِّهَاrabbihaaTuhannya
- نَاظِرَةٌnaazhiratunyang memandang
Inti bacaan
Puncak kenikmatan tertinggi: 'kepada Tuhannya memandang', deskripsi pencapaian spiritual tertinggi berupa kedekatan visual dengan sumber segala kebaikan, gambaran kenikmatan yang melampaui kesenangan material biasa menuju pengalaman relasional yang paling mendalam.
Penjelasan pilihan kata
Kata (نَاظِرَةٌ, naazhirah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:35 dan 75:23. Di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan.
Jadi dua pemakaiannya menyebut dua jenis menunggu yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Kata (رَبِّهَا, rabbihaa) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ia berarti Tuhannya.
Perhatikan bahwa 84:2 dan 84:5 memakai sebutan itu untuk langit yang patuh. Di sini ia dipakai untuk wajah yang memandang.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk langit dan untuk wajah.
Perhatikan bahwa sifat di ayat ini berbunyi hampir sama dengan sifat di 75:22. Keduanya berbeda satu huruf saja.
Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu.
Perhatikan bahwa arah pandangnya disebut, bukan apa yang dilihat. Yang disebut kepada siapa ia memandang.
Susunan itu memakai arah, bukan objek. Cara yang sama dipakai di 75:12.
Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai arah sebagai jawabannya.
Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah. Ia memuat seluruh puncak gambaran dalam ruang sesempit itu.
Kependekan itu berlaku di empat ayat berturut-turut. Dari 75:22 sampai 75:25 semuanya sangat pendek.
Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa empat baris itu hampir sama panjangnya.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut ganjaran apa pun. Yang disebut cuma arah pandangnya.
Ketiadaan perincian itu berbeda dari surah 76 yang memerinci panjang lebar. Dua surah bertetangga memakai cara yang berbeda.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan cara itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang satu memerinci dan yang lain menahan diri.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak memakai sebutan melihat yang lazim. Yang dipakai justru sesuatu yang juga berarti menunggu.
Kegandaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan menampung dua arti.
Perhatikan bahwa di 27:35 sebutan itu jelas berarti menunggu. Pemakaian di sana tidak menyangkut penglihatan sama sekali.
Jadi dua pemakaiannya berdiri di dua wilayah arti yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.
Perhatikan bahwa arah pandang disebut lebih dulu daripada sifatnya. Susunan itu tidak lazim dalam kalimat biasa.
Pendahuluan itu menaruh tekanan pada arahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.
Perhatikan bahwa sebutan Tuhannya memakai kepemilikan perempuan. Ia menyesuaikan diri dengan sebutan wajah.
Penyesuaian itu mengikat dua ayat. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup gambaran yang pertama. Sesudahnya 75:24 memulai gambaran yang kedua.
Dua gambaran itu masing-masing dua ayat. Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu.
Perhatikan bahwa yang berseri tidak diberi tahu apa pun. Ia cuma digambarkan memandang.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah tersebut memandang kepada Tuhannya. Ayat ini menyebut ke mana wajah yang berseri itu memandang. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 27:35 dan 75:23, dan di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan.
Kata keduanya muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ayat 84:2 dan 84:5 memakai sebutan itu untuk langit yang patuh, sedangkan di sini ia dipakai untuk wajah yang memandang.
Sifat di ayat ini juga berbunyi hampir sama dengan sifat di 75:22, sebab keduanya berbeda satu huruf saja. Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris.
Arah pandangnya juga disebut dan bukan apa yang dilihat, sehingga susunannya memakai arah dan bukan objek. Cara yang sama dipakai di 75:12.
Ayat ini juga cuma tiga patah dan memuat seluruh puncak gambaran dalam ruang sesempit itu. Ayat ini juga tidak menyebut ganjaran apa pun, berbeda dari surah 76 yang memerinci panjang lebar. Ayat ini juga tidak memakai kata melihat yang lazim melainkan sebutan yang juga berarti menunggu, dan di 27:35 sebutan itu jelas berarti menunggu tanpa menyangkut penglihatan. Arah pandang juga disebut lebih dulu daripada sifatnya, dan susunan itu tidak lazim dalam kalimat biasa. Sebutan Tuhannya juga memakai kepemilikan perempuan yang menyesuaikan diri dengan sebutan wajah.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 27:35 dan 75:23. Di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan, dan di sini untuk wajah yang memandang. Dua pemakaiannya menyebut dua jenis menunggu yang sangat berbeda, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Sebuah sebutan yang menampung melihat sekaligus menunggu tidak bisa diterjemahkan tanpa memilih salah satunya. Pilihan penerjemahnya karena itu hampir selalu menghilangkan separuh dari yang tertulis. Separuh yang hilang itu tidak bisa dikembalikan.
- Kata keduanya dipakai Allah di 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ayat 84:2 dan 84:5 memakainya untuk langit yang patuh, sedangkan di sini untuk wajah yang memandang. Satu sebutan menampung benda langit dan wajah manusia, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Delapan pemakaiannya tersebar dari surah panjang sampai surah pendek. Satu sebutan yang menampung langit dan wajah sekaligus menandai betapa luasnya ia dipakai. Luasnya pemakaian itu tidak diterangkan di ayat mana pun.
- Sifat di ayat ini berbunyi hampir sama dengan sifat yang dipakai Allah di 75:22, sebab keduanya berbeda satu huruf saja. Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris menjadi satu kesatuan. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu, dan telinga pembacanya yang menangkapnya sebelum pikirannya. Dua baris yang bunyinya berbeda satu huruf saja terikat lebih erat daripada dua baris yang temanya sama. Ikatan lewat bunyi bekerja lebih dulu, sebelum pembacanya sempat memikirkan maknanya. Telinga menangkapnya lebih dulu daripada pikiran.
- Arah pandangnya disebut Allah, bukan apa yang dilihat, sehingga yang disebut kepada siapa ia memandang. Cara yang sama dipakai di 75:12 ketika arah dipakai sebagai jawaban. Dua ayat memakai arah dan bukan tempat, dan Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Menyebut arah dan bukan objek membiarkan isinya tidak dilukiskan. Yang penting bukan apa yang tampak di depannya, melainkan ke mana wajah itu menghadap. Isinya sendiri tidak pernah dilukiskan sama sekali.
- Ayat ini cuma tiga patah dan memuat seluruh puncak gambarannya dalam ruang sesempit itu. Kependekan itu berlaku di empat ayat berturut-turut dari 75:22 sampai 75:25. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu, dan empat baris itu hampir sama panjangnya satu sama lain. Empat baris berturut-turut yang hampir sama panjangnya membentuk irama yang tetap. Irama itu sendiri yang menandai bahwa keempat baris itu satu kesatuan. Irama tetap itu berjalan sepanjang empat baris.
- Ayat ini tidak menyebut ganjaran apa pun, sebab yang disebut Allah cuma arah pandangnya. Ketiadaan perincian itu berbeda dari surah tetangganya yang memerinci panjang lebar selama delapan belas ayat. Kalau satu surah menahan diri sepenuhnya dan tetangganya memerinci sampai bejananya, apa yang membuat keduanya memilih cara sejauh itu berbeda? Surah ini menahan diri sepenuhnya dari memerinci, sedangkan tetangganya memerinci sampai bejananya. Dua cara yang berlawanan itu berdiri di dua surah yang bersebelahan letaknya. Letak keduanya berdampingan tanpa penanda apa pun.
Ayat 75:24
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ
Dan wajah-wajah pada hari itu muram,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌwa-wujuuhun yawma'idzin baasiratundan wajah-wajah pada hari itu muram
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَوُجُوهٌwa-wujuuhundan wajah-wajah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- بَاسِرَةٌbaasiratunmuram
Inti bacaan
Kontras negatif dengan golongan berseri: 'dan wajah-wajah pada hari itu muram', pembalikan tajam dari gambaran kebahagiaan sebelumnya, ekspresi fisik yang mencerminkan kondisi batin yang sangat berbeda.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَوُجُوهٌ, wa wujuuh) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:24 dan 80:40. Dua-duanya membuka gambaran wajah yang kedua.
Perhatikan bahwa dua ayat itu sama-sama menjadi anggota pasangan. Di 80:38 dan 80:40 pun susunannya berpasangan.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai penghubung yang sama di ayat keduanya.
Kata (بَاسِرَةٌ, baasirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti sangat muram.
Perhatikan bahwa sifat ini berbunyi mirip dengan dua sifat sebelumnya. Tiga baris berturut-turut berakhir dengan bunyi yang sama.
Kesamaan bunyi itu berlanjut ke 75:25. Empat baris berturut-turut memakai akhiran yang serupa.
Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa empat sifat berbunyi hampir sama.
Perhatikan bahwa tiga dari empat sifat itu cuma dipakai sekali di seluruh Al-Qur'an. Yang keempat dipakai dua kali.
Jadi empat baris ini hampir seluruhnya memakai sebutan yang tidak berulang. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu.
Perhatikan bahwa gambaran kedua ini lebih pendek daripada yang pertama. Yang berseri diberi dua ayat, dan yang muram juga dua ayat.
Panjangnya sebenarnya sama. Yang berbeda cuma isinya.
Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua nasib diberi ruang yang sama.
Perhatikan bahwa yang disebut lagi wajah, bukan orangnya. Cara itu sama dengan 75:22.
Dua ayat memakai bagian tubuh yang sama untuk mewakili dua nasib. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.
Perhatikan bahwa penghubung di awal ayat mengikatnya ke 75:22. Dua gambaran berdiri dalam satu susunan.
Perhatikan bahwa 80:40 juga memakai penghubung yang sama di gambaran keduanya. Dua surah menyusun pasangannya dengan cara yang sama.
Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai penanda yang sama untuk bagian keduanya.
Perhatikan bahwa 88:8 tidak memakai penghubung itu. Susunannya berbeda dari dua surah lainnya.
Jadi dua dari tiga surah memakai penghubung dan satu tidak. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.
Perhatikan bahwa sifat muram di ayat ini tidak menyebut sebabnya. Sebabnya baru disebut di 75:25.
Susunan itu menahan keterangannya satu baris. Al-Qur'an tidak menandai penahanan itu.
Perhatikan bahwa gambaran kedua ini tidak memakai arah pandang. Yang pertama memakainya, dan yang kedua tidak.
Ketidaksejajaran itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua gambaran tidak seluruhnya sebangun.
Perhatikan bahwa yang muram tidak digambarkan memandang ke mana pun. Arahnya tidak disebut sama sekali.
Ketiadaan arah itu berlawanan dengan 75:23. Al-Qur'an tidak menandai perlawanan itu.
Perhatikan bahwa penanda hari itu dipakai lagi di ayat ini. Ini pemakaian kelimanya di surah ini.
Tafsiran
Ayat ini beralih menggambarkan keadaan orang-orang yang berduka pada hari itu. Ayat ini membuka gambaran wajah yang kedua, yaitu wajah yang muram. Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:24 dan 80:40, dan dua-duanya membuka gambaran wajah yang kedua.
Dua ayat itu sama-sama menjadi anggota pasangan, sebab di 80:38 dan 80:40 pun susunannya berpasangan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sifat ini berbunyi mirip dengan dua sifat sebelumnya. Tiga baris berturut-turut berakhir dengan bunyi yang sama, dan kesamaan itu berlanjut ke 75:25.
Tiga dari empat sifat itu cuma dipakai sekali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan yang keempat dipakai dua kali. Jadi empat baris ini hampir seluruhnya memakai sebutan yang tidak berulang.
Yang berseri juga diberi dua ayat dan yang muram juga dua ayat, sehingga panjangnya sama dan yang berbeda cuma isinya. Yang disebut juga lagi wajah dan bukan orangnya, sama seperti 75:22. Ayat 80:40 juga memakai penghubung yang sama di gambaran keduanya, sedangkan 88:8 tidak memakainya, sehingga dua dari tiga surah memakai penghubung dan satu tidak. Sifat muram di ayat ini juga tidak menyebut sebabnya, sebab sebabnya baru disebut di 75:25. Gambaran kedua ini juga tidak memakai arah pandang, padahal yang pertama memakainya.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya dipakai Allah cuma di 75:24 dan 80:40, dan dua-duanya membuka gambaran wajah yang kedua. Dua ayat itu sama-sama menjadi anggota pasangan, sebab di 80:38 dan 80:40 pun susunannya berpasangan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan dua surah memakai penghubung yang sama di ayat keduanya. Dua surah memakai penghubung yang sama di gambaran keduanya, sedangkan surah ketiga tidak. Perbedaan sekecil satu huruf itu sudah memisahkan dua cara menyusun pasangan yang sama. Sekecil itu pun jaraknya tetap terbaca.
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sifat ini berbunyi mirip dengan dua sifat sebelumnya. Tiga baris berturut-turut berakhir dengan bunyi yang sama, dan kesamaan itu berlanjut ke 75:25 sehingga empat baris memakai akhiran serupa. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu. Empat baris yang berakhir dengan bunyi serupa membentuk satu tarikan yang tidak terputus. Pembaca yang mendengarnya akan menerima keempat baris itu sebagai satu kesatuan. Keempatnya diterima telinga sebagai satu tarikan.
- Tiga dari empat sifat di bagian ini cuma dipakai Allah sekali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan yang keempat dipakai dua kali. Empat baris ini hampir seluruhnya memakai sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu, dan ia baru terlihat kalau keempatnya dicari satu per satu. Tiga dari empat sifat yang tidak berulang di mana pun membuat bagian ini hampir tidak punya pembanding. Kosakatanya dibangun sendiri di tempat itu, dan tidak dipinjam dari ayat lain mana pun. Tidak ada ayat lain yang bisa dipakai membandingkannya.
- Yang berseri diberi Allah dua ayat, dan yang muram juga dua ayat. Panjangnya sebenarnya sama, dan yang berbeda cuma isinya. Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu, dan pembagian ruang yang persis sama seperti itu jarang terjadi tanpa maksud. Pembagian ruang yang persis sama untuk dua nasib jarang terjadi tanpa maksud. Tidak ada satu sisi yang dilebihkan, dan tidak ada satu sisi yang dikurangi. Pembagian setara seperti itu jarang tanpa maksud.
- Yang disebut Allah lagi wajah, bukan orangnya, sama seperti cara yang dipakai di 75:22. Dua ayat memakai bagian tubuh yang sama untuk mewakili dua nasib yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan yang dipakai justru bagian yang paling sulit disembunyikan. Wajah adalah bagian yang paling cepat dibaca orang lain dan paling sukar dipalsukan. Memakainya dua kali untuk dua nasib membuat keduanya terbaca tanpa satu keterangan pun. Dua nasib terbaca dari bagian tubuh yang sama.
- Penghubung di awal ayat mengikatnya ke 75:22, sehingga dua gambaran berdiri dalam satu susunan yang dibangun Allah. Keduanya tidak bisa dibaca terpisah tanpa kehilangan pertentangannya. Kalau dua nasib disusun sebagai satu kalimat, apa yang hilang dari pembaca yang cuma membaca separuhnya? Yang muram tidak digambarkan memandang ke mana pun, padahal yang berseri diberi arah. Ketiadaan arah itu sendiri sudah menyampaikan sesuatu tentang keadaan yang menimpanya. Yang tidak disebut pun ikut menyampaikan sesuatu.
Ayat 75:25
تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang menghancurkan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌtazhunnu an yuf'ala bihaa faaqiratunmereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang menghancurkan
Terjemahan per kata (5 kata)
- تَظُنُّtazhunnumengira
- أَنْanbahwa
- يُفْعَلَyuf'aladilakukan
- بِهَاbihaakepada mereka
- فَاقِرَةٌfaaqiratunmalapetaka
Inti bacaan
Kepastian yang menghantui: 'mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang menghancurkan', keyakinan yang bukan harapan melainkan ketakutan pasti, kesadaran penuh tentang nasib yang akan segera dialami.
Penjelasan pilihan kata
Kata (تَظُنُّ, tazhunnu) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 17:52, 33:10, dan 75:25. Ia berarti mengira atau menduga.
Perhatikan bahwa di 17:52 dan 33:10 sebutan itu dipakai untuk dugaan yang keliru. Di sini dugaannya justru benar.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan menampung dugaan yang keliru dan yang tepat.
Kata (يُفْعَلَ, yuf'ala) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti diperlakukan.
Kata (فَاقِرَةٌ, faaqirah) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti bencana yang mematahkan tulang punggung.
Jadi ayat ini memuat dua sebutan yang tidak berulang. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Perhatikan bahwa yang disebut dugaan, bukan pengetahuan. Wajah muram itu menduga, tidak diberi tahu.
Susunan itu berbeda dari 75:13 yang menyebut pemberitahuan. Dua ayat memakai cara yang berbeda.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang satu diberi tahu dan yang lain menduga sendiri.
Perhatikan bahwa bencananya disebut tanpa perincian. Yang disebut cuma sifatnya.
Ketiadaan perincian itu berlaku juga pada gambaran yang pertama. Dua nasib sama-sama tidak dirinci.
Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya ditahan sama-sama.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup empat baris gambaran wajah. Sesudahnya 75:26 berpindah ke saat kematian.
Perpindahan itu ditandai sebutan pembantah. Ini pemakaian ketiganya di surah ini.
Al-Qur'an tidak menandai batas itu dengan cara lain. Yang bisa dibaca cuma satu patah pembantah.
Perhatikan bahwa empat baris gambaran wajah itu hampir sama panjangnya. Tiga sampai empat patah masing-masing.
Keseragaman itu memperkuat kesan berpasangan. Dua nasib disusun dengan ukuran yang sama.
Perhatikan bahwa dugaan di ayat ini tidak menyebut siapa yang memperlakukan. Susunan pasifnya menyembunyikan pelakunya.
Cara itu dipakai juga di 75:13. Dua ayat memakai susunan yang sama.
Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pelakunya jarang disebut terang.
Perhatikan bahwa bencana yang disebut menyangkut tulang punggung. Sebutan itu memakai gambaran tubuh.
Gambaran tubuh dipakai juga di 75:3 dan 75:4. Tiga ayat memakai bagian tubuh sebagai gambaran.
Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tubuh dipakai berulang sebagai bahan gambaran.
Perhatikan bahwa dugaan itu muncul sebelum kejadiannya. Ia menduga apa yang akan diperlakukan kepadanya.
Susunan itu menaruh penderitaannya sebelum hukumannya. Al-Qur'an tidak menandai pendahuluan itu.
Perhatikan bahwa empat baris ini tidak menyebut tempat sama sekali. Yang disebut cuma wajah dan dugaannya.
Ketiadaan tempat itu berbeda dari surah tetangganya. Di sana taman dan bejananya dirinci.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memilih bahan yang berbeda.
Perhatikan bahwa bagian ini berakhir tanpa penutup yang tegas. Sebutan pembantah di 75:26 yang memotongnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah yang muram itu diliputi firasat akan malapetaka besar. Ayat ini menutup gambaran wajah dengan menyebut dugaan yang muncul di baliknya. Kata pertamanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 17:52, 33:10, dan 75:25.
Di 17:52 dan 33:10 kata itu dipakai untuk dugaan yang keliru, sedangkan di sini dugaannya justru benar. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.
Kata ketiga dan terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga ayat ini memuat dua sebutan yang tidak berulang. Yang disebut juga dugaan dan bukan pengetahuan, sebab wajah muram itu menduga dan tidak diberi tahu.
Susunan itu berbeda dari 75:13 yang menyebut pemberitahuan, sehingga dua ayat memakai cara yang berbeda. Bencananya juga disebut tanpa perincian, dan ketiadaan perincian itu berlaku juga pada gambaran yang pertama.
Ayat ini juga menutup empat baris gambaran wajah, sebab 75:26 berpindah ke saat kematian. Perpindahan itu ditandai sebutan pembantah, dan ini pemakaian ketiganya di surah ini. Dugaan di ayat ini juga tidak menyebut siapa yang memperlakukan, sebab susunan pasifnya menyembunyikan pelakunya seperti di 75:13. Bencana yang disebut juga menyangkut tulang punggung, sehingga ia memakai gambaran tubuh seperti 75:3 dan 75:4. Empat baris ini juga tidak menyebut tempat sama sekali, berbeda dari surah tetangganya yang merinci taman dan bejananya.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya dipakai Allah cuma di 17:52, 33:10, dan 75:25. Di dua ayat yang lain ia dipakai untuk dugaan yang keliru, sedangkan di sini dugaannya justru tepat. Satu sebutan menampung dugaan yang salah dan dugaan yang benar, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Satu sebutan yang dipakai dua kali untuk dugaan yang keliru lalu sekali untuk dugaan yang tepat menandai bahwa nilainya ditentukan letaknya. Kata itu sendiri tidak membawa benar atau salah ke mana pun ia dipakai. Letaknya yang menentukan, bukan katanya sendiri.
- Kata ketiga dan terakhirnya masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Satu ayat sependek empat patah memuat dua sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan ia baru terlihat kalau tiap patahnya dicari sendiri di seluruh mushaf. Dua sebutan sekali pakai dalam satu baris pendek membuat ayat ini nyaris tidak punya gema. Pembacanya sama sekali tidak bisa memeriksanya lewat ayat lain mana pun. Tidak ada gema yang bisa dipakai memeriksanya.
- Yang disebut Allah dugaan, bukan pengetahuan, sebab wajah muram itu menduga sendiri dan tidak diberi tahu. Susunan itu berbeda dari 75:13 yang menyebut pemberitahuan terang-terangan. Dua ayat memakai cara yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Menduga sendiri lebih berat daripada diberi tahu, sebab tidak ada kepastian yang menutupnya. Dua ayat di surah ini memakai dua cara yang berlawanan untuk dua pihak yang berbeda. Kepastian menutup, sedangkan dugaan membiarkan terbuka.
- Bencananya disebut Allah tanpa perincian, sebab yang disebut cuma sifatnya. Ketiadaan perincian itu berlaku juga pada gambaran yang pertama, sehingga dua nasib sama-sama tidak dirinci. Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu, dan keduanya ditahan dengan takaran yang sama. Menahan perincian untuk kedua nasib sekaligus menjaga keseimbangannya. Kalau salah satu dirinci sedangkan yang lain tidak, bobot keduanya akan langsung berubah. Keseimbangannya karena itu dijaga sampai akhir.
- Ayat ini menutup empat baris gambaran wajah, sebab Allah berpindah ke saat kematian di 75:26. Perpindahan itu ditandai sebutan pembantah, dan ini pemakaian ketiganya di surah ini sesudah 75:11 dan 75:20. Al-Qur'an tidak menandai batas itu dengan cara lain selain satu patah pembantah. Sebutan pembantah dipakai tiga kali di surah ini, dan yang ketiga jatuh tepat sesudah baris ini. Batas antarbagian di surah ini seluruhnya ditandai satu patah yang sama. Satu patah yang sama menandai ketiga batasnya.
- Empat baris gambaran wajah yang disusun Allah hampir sama panjangnya, yaitu tiga sampai empat patah masing-masing. Keseragaman itu memperkuat kesan berpasangan, sebab dua nasib disusun dengan ukuran yang sama. Kalau dua akhir yang berlawanan diberi ruang yang persis sama, apa yang sedang dikatakan tentang keadilan pembagiannya? Empat baris yang berukuran hampir sama menaruh dua akhir yang berlawanan dalam takaran yang setara. Lalu takaran seperti apa yang dipakai ketika dua akhir yang berlawanan diberi ruang persis sama? Takarannya sama untuk dua akhir yang berlawanan.