إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Kepada Tuhannya memandang.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌilaa rabbihaa naazhiratunkepada Tuhannya memandang

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِلَىٰilaakepada
  2. رَبِّهَاrabbihaaTuhannya
  3. نَاظِرَةٌnaazhiratunyang memandang

Inti bacaan

Puncak kenikmatan tertinggi: 'kepada Tuhannya memandang', deskripsi pencapaian spiritual tertinggi berupa kedekatan visual dengan sumber segala kebaikan, gambaran kenikmatan yang melampaui kesenangan material biasa menuju pengalaman relasional yang paling mendalam.

Penjelasan pilihan kata

Kata (نَاظِرَةٌ, naazhirah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:35 dan 75:23. Di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan.

Jadi dua pemakaiannya menyebut dua jenis menunggu yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.

Kata (رَبِّهَا, rabbihaa) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ia berarti Tuhannya.

Perhatikan bahwa 84:2 dan 84:5 memakai sebutan itu untuk langit yang patuh. Di sini ia dipakai untuk wajah yang memandang.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk langit dan untuk wajah.

Perhatikan bahwa sifat di ayat ini berbunyi hampir sama dengan sifat di 75:22. Keduanya berbeda satu huruf saja.

Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu.

Perhatikan bahwa arah pandangnya disebut, bukan apa yang dilihat. Yang disebut kepada siapa ia memandang.

Susunan itu memakai arah, bukan objek. Cara yang sama dipakai di 75:12.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai arah sebagai jawabannya.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah. Ia memuat seluruh puncak gambaran dalam ruang sesempit itu.

Kependekan itu berlaku di empat ayat berturut-turut. Dari 75:22 sampai 75:25 semuanya sangat pendek.

Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa empat baris itu hampir sama panjangnya.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut ganjaran apa pun. Yang disebut cuma arah pandangnya.

Ketiadaan perincian itu berbeda dari surah 76 yang memerinci panjang lebar. Dua surah bertetangga memakai cara yang berbeda.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan cara itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang satu memerinci dan yang lain menahan diri.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak memakai sebutan melihat yang lazim. Yang dipakai justru sesuatu yang juga berarti menunggu.

Kegandaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan menampung dua arti.

Perhatikan bahwa di 27:35 sebutan itu jelas berarti menunggu. Pemakaian di sana tidak menyangkut penglihatan sama sekali.

Jadi dua pemakaiannya berdiri di dua wilayah arti yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa arah pandang disebut lebih dulu daripada sifatnya. Susunan itu tidak lazim dalam kalimat biasa.

Pendahuluan itu menaruh tekanan pada arahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.

Perhatikan bahwa sebutan Tuhannya memakai kepemilikan perempuan. Ia menyesuaikan diri dengan sebutan wajah.

Penyesuaian itu mengikat dua ayat. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup gambaran yang pertama. Sesudahnya 75:24 memulai gambaran yang kedua.

Dua gambaran itu masing-masing dua ayat. Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu.

Perhatikan bahwa yang berseri tidak diberi tahu apa pun. Ia cuma digambarkan memandang.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah tersebut memandang kepada Tuhannya. Ayat ini menyebut ke mana wajah yang berseri itu memandang. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 27:35 dan 75:23, dan di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan.

Kata keduanya muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ayat 84:2 dan 84:5 memakai sebutan itu untuk langit yang patuh, sedangkan di sini ia dipakai untuk wajah yang memandang.

Sifat di ayat ini juga berbunyi hampir sama dengan sifat di 75:22, sebab keduanya berbeda satu huruf saja. Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris.

Arah pandangnya juga disebut dan bukan apa yang dilihat, sehingga susunannya memakai arah dan bukan objek. Cara yang sama dipakai di 75:12.

Ayat ini juga cuma tiga patah dan memuat seluruh puncak gambaran dalam ruang sesempit itu. Ayat ini juga tidak menyebut ganjaran apa pun, berbeda dari surah 76 yang memerinci panjang lebar. Ayat ini juga tidak memakai kata melihat yang lazim melainkan sebutan yang juga berarti menunggu, dan di 27:35 sebutan itu jelas berarti menunggu tanpa menyangkut penglihatan. Arah pandang juga disebut lebih dulu daripada sifatnya, dan susunan itu tidak lazim dalam kalimat biasa. Sebutan Tuhannya juga memakai kepemilikan perempuan yang menyesuaikan diri dengan sebutan wajah.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 27:35 dan 75:23. Di 27:35 ia dipakai untuk menunggu jawaban utusan, dan di sini untuk wajah yang memandang. Dua pemakaiannya menyebut dua jenis menunggu yang sangat berbeda, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Sebuah sebutan yang menampung melihat sekaligus menunggu tidak bisa diterjemahkan tanpa memilih salah satunya. Pilihan penerjemahnya karena itu hampir selalu menghilangkan separuh dari yang tertulis. Separuh yang hilang itu tidak bisa dikembalikan.
  • Kata keduanya dipakai Allah di 14:25, 39:69, 46:25, 65:8, 66:12, 75:23, 84:2, dan 84:5. Ayat 84:2 dan 84:5 memakainya untuk langit yang patuh, sedangkan di sini untuk wajah yang memandang. Satu sebutan menampung benda langit dan wajah manusia, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Delapan pemakaiannya tersebar dari surah panjang sampai surah pendek. Satu sebutan yang menampung langit dan wajah sekaligus menandai betapa luasnya ia dipakai. Luasnya pemakaian itu tidak diterangkan di ayat mana pun.
  • Sifat di ayat ini berbunyi hampir sama dengan sifat yang dipakai Allah di 75:22, sebab keduanya berbeda satu huruf saja. Kemiripan bunyi itu mengikat dua baris menjadi satu kesatuan. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu, dan telinga pembacanya yang menangkapnya sebelum pikirannya. Dua baris yang bunyinya berbeda satu huruf saja terikat lebih erat daripada dua baris yang temanya sama. Ikatan lewat bunyi bekerja lebih dulu, sebelum pembacanya sempat memikirkan maknanya. Telinga menangkapnya lebih dulu daripada pikiran.
  • Arah pandangnya disebut Allah, bukan apa yang dilihat, sehingga yang disebut kepada siapa ia memandang. Cara yang sama dipakai di 75:12 ketika arah dipakai sebagai jawaban. Dua ayat memakai arah dan bukan tempat, dan Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Menyebut arah dan bukan objek membiarkan isinya tidak dilukiskan. Yang penting bukan apa yang tampak di depannya, melainkan ke mana wajah itu menghadap. Isinya sendiri tidak pernah dilukiskan sama sekali.
  • Ayat ini cuma tiga patah dan memuat seluruh puncak gambarannya dalam ruang sesempit itu. Kependekan itu berlaku di empat ayat berturut-turut dari 75:22 sampai 75:25. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu, dan empat baris itu hampir sama panjangnya satu sama lain. Empat baris berturut-turut yang hampir sama panjangnya membentuk irama yang tetap. Irama itu sendiri yang menandai bahwa keempat baris itu satu kesatuan. Irama tetap itu berjalan sepanjang empat baris.
  • Ayat ini tidak menyebut ganjaran apa pun, sebab yang disebut Allah cuma arah pandangnya. Ketiadaan perincian itu berbeda dari surah tetangganya yang memerinci panjang lebar selama delapan belas ayat. Kalau satu surah menahan diri sepenuhnya dan tetangganya memerinci sampai bejananya, apa yang membuat keduanya memilih cara sejauh itu berbeda? Surah ini menahan diri sepenuhnya dari memerinci, sedangkan tetangganya memerinci sampai bejananya. Dua cara yang berlawanan itu berdiri di dua surah yang bersebelahan letaknya. Letak keduanya berdampingan tanpa penanda apa pun.