وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ

Dan wajah-wajah pada hari itu muram,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌwa-wujuuhun yawma'idzin baasiratundan wajah-wajah pada hari itu muram

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَوُجُوهٌwa-wujuuhundan wajah-wajah
  2. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  3. بَاسِرَةٌbaasiratunmuram

Inti bacaan

Kontras negatif dengan golongan berseri: 'dan wajah-wajah pada hari itu muram', pembalikan tajam dari gambaran kebahagiaan sebelumnya, ekspresi fisik yang mencerminkan kondisi batin yang sangat berbeda.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَوُجُوهٌ, wa wujuuh) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:24 dan 80:40. Dua-duanya membuka gambaran wajah yang kedua.

Perhatikan bahwa dua ayat itu sama-sama menjadi anggota pasangan. Di 80:38 dan 80:40 pun susunannya berpasangan.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai penghubung yang sama di ayat keduanya.

Kata (بَاسِرَةٌ, baasirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti sangat muram.

Perhatikan bahwa sifat ini berbunyi mirip dengan dua sifat sebelumnya. Tiga baris berturut-turut berakhir dengan bunyi yang sama.

Kesamaan bunyi itu berlanjut ke 75:25. Empat baris berturut-turut memakai akhiran yang serupa.

Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa empat sifat berbunyi hampir sama.

Perhatikan bahwa tiga dari empat sifat itu cuma dipakai sekali di seluruh Al-Qur'an. Yang keempat dipakai dua kali.

Jadi empat baris ini hampir seluruhnya memakai sebutan yang tidak berulang. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu.

Perhatikan bahwa gambaran kedua ini lebih pendek daripada yang pertama. Yang berseri diberi dua ayat, dan yang muram juga dua ayat.

Panjangnya sebenarnya sama. Yang berbeda cuma isinya.

Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua nasib diberi ruang yang sama.

Perhatikan bahwa yang disebut lagi wajah, bukan orangnya. Cara itu sama dengan 75:22.

Dua ayat memakai bagian tubuh yang sama untuk mewakili dua nasib. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.

Perhatikan bahwa penghubung di awal ayat mengikatnya ke 75:22. Dua gambaran berdiri dalam satu susunan.

Perhatikan bahwa 80:40 juga memakai penghubung yang sama di gambaran keduanya. Dua surah menyusun pasangannya dengan cara yang sama.

Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai penanda yang sama untuk bagian keduanya.

Perhatikan bahwa 88:8 tidak memakai penghubung itu. Susunannya berbeda dari dua surah lainnya.

Jadi dua dari tiga surah memakai penghubung dan satu tidak. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa sifat muram di ayat ini tidak menyebut sebabnya. Sebabnya baru disebut di 75:25.

Susunan itu menahan keterangannya satu baris. Al-Qur'an tidak menandai penahanan itu.

Perhatikan bahwa gambaran kedua ini tidak memakai arah pandang. Yang pertama memakainya, dan yang kedua tidak.

Ketidaksejajaran itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua gambaran tidak seluruhnya sebangun.

Perhatikan bahwa yang muram tidak digambarkan memandang ke mana pun. Arahnya tidak disebut sama sekali.

Ketiadaan arah itu berlawanan dengan 75:23. Al-Qur'an tidak menandai perlawanan itu.

Perhatikan bahwa penanda hari itu dipakai lagi di ayat ini. Ini pemakaian kelimanya di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini beralih menggambarkan keadaan orang-orang yang berduka pada hari itu. Ayat ini membuka gambaran wajah yang kedua, yaitu wajah yang muram. Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:24 dan 80:40, dan dua-duanya membuka gambaran wajah yang kedua.

Dua ayat itu sama-sama menjadi anggota pasangan, sebab di 80:38 dan 80:40 pun susunannya berpasangan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sifat ini berbunyi mirip dengan dua sifat sebelumnya. Tiga baris berturut-turut berakhir dengan bunyi yang sama, dan kesamaan itu berlanjut ke 75:25.

Tiga dari empat sifat itu cuma dipakai sekali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan yang keempat dipakai dua kali. Jadi empat baris ini hampir seluruhnya memakai sebutan yang tidak berulang.

Yang berseri juga diberi dua ayat dan yang muram juga dua ayat, sehingga panjangnya sama dan yang berbeda cuma isinya. Yang disebut juga lagi wajah dan bukan orangnya, sama seperti 75:22. Ayat 80:40 juga memakai penghubung yang sama di gambaran keduanya, sedangkan 88:8 tidak memakainya, sehingga dua dari tiga surah memakai penghubung dan satu tidak. Sifat muram di ayat ini juga tidak menyebut sebabnya, sebab sebabnya baru disebut di 75:25. Gambaran kedua ini juga tidak memakai arah pandang, padahal yang pertama memakainya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya dipakai Allah cuma di 75:24 dan 80:40, dan dua-duanya membuka gambaran wajah yang kedua. Dua ayat itu sama-sama menjadi anggota pasangan, sebab di 80:38 dan 80:40 pun susunannya berpasangan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan dua surah memakai penghubung yang sama di ayat keduanya. Dua surah memakai penghubung yang sama di gambaran keduanya, sedangkan surah ketiga tidak. Perbedaan sekecil satu huruf itu sudah memisahkan dua cara menyusun pasangan yang sama. Sekecil itu pun jaraknya tetap terbaca.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sifat ini berbunyi mirip dengan dua sifat sebelumnya. Tiga baris berturut-turut berakhir dengan bunyi yang sama, dan kesamaan itu berlanjut ke 75:25 sehingga empat baris memakai akhiran serupa. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu. Empat baris yang berakhir dengan bunyi serupa membentuk satu tarikan yang tidak terputus. Pembaca yang mendengarnya akan menerima keempat baris itu sebagai satu kesatuan. Keempatnya diterima telinga sebagai satu tarikan.
  • Tiga dari empat sifat di bagian ini cuma dipakai Allah sekali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan yang keempat dipakai dua kali. Empat baris ini hampir seluruhnya memakai sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kejarangan itu, dan ia baru terlihat kalau keempatnya dicari satu per satu. Tiga dari empat sifat yang tidak berulang di mana pun membuat bagian ini hampir tidak punya pembanding. Kosakatanya dibangun sendiri di tempat itu, dan tidak dipinjam dari ayat lain mana pun. Tidak ada ayat lain yang bisa dipakai membandingkannya.
  • Yang berseri diberi Allah dua ayat, dan yang muram juga dua ayat. Panjangnya sebenarnya sama, dan yang berbeda cuma isinya. Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu, dan pembagian ruang yang persis sama seperti itu jarang terjadi tanpa maksud. Pembagian ruang yang persis sama untuk dua nasib jarang terjadi tanpa maksud. Tidak ada satu sisi yang dilebihkan, dan tidak ada satu sisi yang dikurangi. Pembagian setara seperti itu jarang tanpa maksud.
  • Yang disebut Allah lagi wajah, bukan orangnya, sama seperti cara yang dipakai di 75:22. Dua ayat memakai bagian tubuh yang sama untuk mewakili dua nasib yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan yang dipakai justru bagian yang paling sulit disembunyikan. Wajah adalah bagian yang paling cepat dibaca orang lain dan paling sukar dipalsukan. Memakainya dua kali untuk dua nasib membuat keduanya terbaca tanpa satu keterangan pun. Dua nasib terbaca dari bagian tubuh yang sama.
  • Penghubung di awal ayat mengikatnya ke 75:22, sehingga dua gambaran berdiri dalam satu susunan yang dibangun Allah. Keduanya tidak bisa dibaca terpisah tanpa kehilangan pertentangannya. Kalau dua nasib disusun sebagai satu kalimat, apa yang hilang dari pembaca yang cuma membaca separuhnya? Yang muram tidak digambarkan memandang ke mana pun, padahal yang berseri diberi arah. Ketiadaan arah itu sendiri sudah menyampaikan sesuatu tentang keadaan yang menimpanya. Yang tidak disebut pun ikut menyampaikan sesuatu.