تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang menghancurkan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌtazhunnu an yuf'ala bihaa faaqiratunmereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang menghancurkan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. تَظُنُّtazhunnumengira
  2. أَنْanbahwa
  3. يُفْعَلَyuf'aladilakukan
  4. بِهَاbihaakepada mereka
  5. فَاقِرَةٌfaaqiratunmalapetaka

Inti bacaan

Kepastian yang menghantui: 'mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang menghancurkan', keyakinan yang bukan harapan melainkan ketakutan pasti, kesadaran penuh tentang nasib yang akan segera dialami.

Penjelasan pilihan kata

Kata (تَظُنُّ, tazhunnu) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 17:52, 33:10, dan 75:25. Ia berarti mengira atau menduga.

Perhatikan bahwa di 17:52 dan 33:10 sebutan itu dipakai untuk dugaan yang keliru. Di sini dugaannya justru benar.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan menampung dugaan yang keliru dan yang tepat.

Kata (يُفْعَلَ, yuf'ala) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti diperlakukan.

Kata (فَاقِرَةٌ, faaqirah) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti bencana yang mematahkan tulang punggung.

Jadi ayat ini memuat dua sebutan yang tidak berulang. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.

Perhatikan bahwa yang disebut dugaan, bukan pengetahuan. Wajah muram itu menduga, tidak diberi tahu.

Susunan itu berbeda dari 75:13 yang menyebut pemberitahuan. Dua ayat memakai cara yang berbeda.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang satu diberi tahu dan yang lain menduga sendiri.

Perhatikan bahwa bencananya disebut tanpa perincian. Yang disebut cuma sifatnya.

Ketiadaan perincian itu berlaku juga pada gambaran yang pertama. Dua nasib sama-sama tidak dirinci.

Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya ditahan sama-sama.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup empat baris gambaran wajah. Sesudahnya 75:26 berpindah ke saat kematian.

Perpindahan itu ditandai sebutan pembantah. Ini pemakaian ketiganya di surah ini.

Al-Qur'an tidak menandai batas itu dengan cara lain. Yang bisa dibaca cuma satu patah pembantah.

Perhatikan bahwa empat baris gambaran wajah itu hampir sama panjangnya. Tiga sampai empat patah masing-masing.

Keseragaman itu memperkuat kesan berpasangan. Dua nasib disusun dengan ukuran yang sama.

Perhatikan bahwa dugaan di ayat ini tidak menyebut siapa yang memperlakukan. Susunan pasifnya menyembunyikan pelakunya.

Cara itu dipakai juga di 75:13. Dua ayat memakai susunan yang sama.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pelakunya jarang disebut terang.

Perhatikan bahwa bencana yang disebut menyangkut tulang punggung. Sebutan itu memakai gambaran tubuh.

Gambaran tubuh dipakai juga di 75:3 dan 75:4. Tiga ayat memakai bagian tubuh sebagai gambaran.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tubuh dipakai berulang sebagai bahan gambaran.

Perhatikan bahwa dugaan itu muncul sebelum kejadiannya. Ia menduga apa yang akan diperlakukan kepadanya.

Susunan itu menaruh penderitaannya sebelum hukumannya. Al-Qur'an tidak menandai pendahuluan itu.

Perhatikan bahwa empat baris ini tidak menyebut tempat sama sekali. Yang disebut cuma wajah dan dugaannya.

Ketiadaan tempat itu berbeda dari surah tetangganya. Di sana taman dan bejananya dirinci.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memilih bahan yang berbeda.

Perhatikan bahwa bagian ini berakhir tanpa penutup yang tegas. Sebutan pembantah di 75:26 yang memotongnya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah yang muram itu diliputi firasat akan malapetaka besar. Ayat ini menutup gambaran wajah dengan menyebut dugaan yang muncul di baliknya. Kata pertamanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 17:52, 33:10, dan 75:25.

Di 17:52 dan 33:10 kata itu dipakai untuk dugaan yang keliru, sedangkan di sini dugaannya justru benar. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Kata ketiga dan terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga ayat ini memuat dua sebutan yang tidak berulang. Yang disebut juga dugaan dan bukan pengetahuan, sebab wajah muram itu menduga dan tidak diberi tahu.

Susunan itu berbeda dari 75:13 yang menyebut pemberitahuan, sehingga dua ayat memakai cara yang berbeda. Bencananya juga disebut tanpa perincian, dan ketiadaan perincian itu berlaku juga pada gambaran yang pertama.

Ayat ini juga menutup empat baris gambaran wajah, sebab 75:26 berpindah ke saat kematian. Perpindahan itu ditandai sebutan pembantah, dan ini pemakaian ketiganya di surah ini. Dugaan di ayat ini juga tidak menyebut siapa yang memperlakukan, sebab susunan pasifnya menyembunyikan pelakunya seperti di 75:13. Bencana yang disebut juga menyangkut tulang punggung, sehingga ia memakai gambaran tubuh seperti 75:3 dan 75:4. Empat baris ini juga tidak menyebut tempat sama sekali, berbeda dari surah tetangganya yang merinci taman dan bejananya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya dipakai Allah cuma di 17:52, 33:10, dan 75:25. Di dua ayat yang lain ia dipakai untuk dugaan yang keliru, sedangkan di sini dugaannya justru tepat. Satu sebutan menampung dugaan yang salah dan dugaan yang benar, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Satu sebutan yang dipakai dua kali untuk dugaan yang keliru lalu sekali untuk dugaan yang tepat menandai bahwa nilainya ditentukan letaknya. Kata itu sendiri tidak membawa benar atau salah ke mana pun ia dipakai. Letaknya yang menentukan, bukan katanya sendiri.
  • Kata ketiga dan terakhirnya masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Satu ayat sependek empat patah memuat dua sebutan yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan ia baru terlihat kalau tiap patahnya dicari sendiri di seluruh mushaf. Dua sebutan sekali pakai dalam satu baris pendek membuat ayat ini nyaris tidak punya gema. Pembacanya sama sekali tidak bisa memeriksanya lewat ayat lain mana pun. Tidak ada gema yang bisa dipakai memeriksanya.
  • Yang disebut Allah dugaan, bukan pengetahuan, sebab wajah muram itu menduga sendiri dan tidak diberi tahu. Susunan itu berbeda dari 75:13 yang menyebut pemberitahuan terang-terangan. Dua ayat memakai cara yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Menduga sendiri lebih berat daripada diberi tahu, sebab tidak ada kepastian yang menutupnya. Dua ayat di surah ini memakai dua cara yang berlawanan untuk dua pihak yang berbeda. Kepastian menutup, sedangkan dugaan membiarkan terbuka.
  • Bencananya disebut Allah tanpa perincian, sebab yang disebut cuma sifatnya. Ketiadaan perincian itu berlaku juga pada gambaran yang pertama, sehingga dua nasib sama-sama tidak dirinci. Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu, dan keduanya ditahan dengan takaran yang sama. Menahan perincian untuk kedua nasib sekaligus menjaga keseimbangannya. Kalau salah satu dirinci sedangkan yang lain tidak, bobot keduanya akan langsung berubah. Keseimbangannya karena itu dijaga sampai akhir.
  • Ayat ini menutup empat baris gambaran wajah, sebab Allah berpindah ke saat kematian di 75:26. Perpindahan itu ditandai sebutan pembantah, dan ini pemakaian ketiganya di surah ini sesudah 75:11 dan 75:20. Al-Qur'an tidak menandai batas itu dengan cara lain selain satu patah pembantah. Sebutan pembantah dipakai tiga kali di surah ini, dan yang ketiga jatuh tepat sesudah baris ini. Batas antarbagian di surah ini seluruhnya ditandai satu patah yang sama. Satu patah yang sama menandai ketiga batasnya.
  • Empat baris gambaran wajah yang disusun Allah hampir sama panjangnya, yaitu tiga sampai empat patah masing-masing. Keseragaman itu memperkuat kesan berpasangan, sebab dua nasib disusun dengan ukuran yang sama. Kalau dua akhir yang berlawanan diberi ruang yang persis sama, apa yang sedang dikatakan tentang keadilan pembagiannya? Empat baris yang berukuran hampir sama menaruh dua akhir yang berlawanan dalam takaran yang setara. Lalu takaran seperti apa yang dipakai ketika dua akhir yang berlawanan diberi ruang persis sama? Takarannya sama untuk dua akhir yang berlawanan.