وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ

Dan dikatakan, “Siapa yang dapat menyembuhkan?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍwa-qiila man raaqindan dikatakan, siapa yang dapat menyembuhkan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَقِيلَwa-qiiladan dikatakan
  2. مَنْmanorang yang
  3. رَاقٍraaqinyang menyembuhkan

Inti bacaan

Pencarian penyembuhan yang sia-sia: 'dikatakan: siapa yang dapat menyembuhkan?', pertanyaan putus asa pada momen ketika bantuan medis atau spiritual tidak lagi bisa mengubah hasil yang sudah ditentukan.

Penjelasan pilihan kata

Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi verba pasif (وَقِيلَ, wa qiila), akar q-w-l, via morfologi.

Kata (وَقِيلَ, wa qiila) muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 11:44, 26:92, 39:75, dan 67:27. Ia berarti dan dikatakan.

Perhatikan bahwa dua belas pemakaian lainnya menyebut ucapan pada hari kiamat. Yang di sini menyebut ucapan di sekitar orang yang sedang mati.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk dua saat yang berbeda.

Kata (رَاقٍ, raaqin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti orang yang bisa menyembuhkan.

Perhatikan bahwa siapa yang berkata tidak disebut. Susunan pasifnya menyembunyikan pembicaranya.

Cara itu dipakai juga di 75:13 dan 75:25. Tiga ayat memakai susunan yang sama.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pelakunya sering disembunyikan di surah ini.

Perhatikan bahwa pertanyaan di ayat ini tidak dijawab. Ayat berikutnya justru berpindah ke dugaan orang yang sekarat.

Jadi pertanyaannya menggantung. Al-Qur'an tidak memberi jawabannya.

Perhatikan bahwa ini pertanyaan ketiga di surah ini. Yang pertama di 75:6 dan yang kedua di 75:10.

Dua dari tiga pertanyaan itu tidak dijawab. Yang dijawab cuma yang di 75:10.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan perlakuan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pertanyaan dibiarkan menggantung.

Perhatikan bahwa yang dicari penyembuh, bukan penolong secara umum. Sebutan yang dipakai khusus.

Kekhususan itu mempersempit gambarannya. Yang dicari orang yang bisa menahan kematian.

Al-Qur'an tidak menerangkan kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutannya tidak dipakai di ayat lain.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah saja. Panjangnya sama dengan 75:7 dan 75:9.

Perhatikan bahwa ucapan di ayat ini tidak ditujukan kepada orang yang sekarat. Ia diucapkan di sekitarnya.

Susunan itu menaruh orang yang sekarat sebagai pendengar, bukan lawan bicara. Al-Qur'an tidak menyatakan penempatan itu.

Perhatikan bahwa surah ini mengutip tiga ucapan. Yang pertama di 75:6, yang kedua di 75:10, dan yang ketiga di sini.

Tiga kutipan itu tersebar hampir merata. Al-Qur'an tidak menandai penyebaran itu.

Perhatikan bahwa dua kutipan pertama diucapkan manusia tentang dirinya. Yang ketiga diucapkan orang lain tentang dia.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa pembicaranya berganti.

Perhatikan bahwa pertanyaan di sini tidak dijawab siapa pun di ayat mana pun. Kekosongan itu dibiarkan tetap.

Susunan itu memperkuat kesan tidak berdaya. Al-Qur'an tidak menyatakan kesan itu.

Perhatikan bahwa yang bertanya juga tidak dinamai. Susunan pasifnya menghilangkan keduanya sekaligus.

Jadi tidak ada satu nama pun di seluruh bagian ini. Al-Qur'an tidak menandai ketiadaan itu.

Perhatikan bahwa ini ayat kedua dari empat ayat bersyarat. Dua ayat lagi menyusul sebelum kesimpulannya.

Tafsiran

Ayat ini mencatat seruan putus asa mencari penyembuh saat ajal tiba. Ayat ini mengutip pertanyaan yang diucapkan di sekitar orang yang sedang mati. Kata pertamanya muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 11:44, 26:92, 39:75, dan 67:27.

Dua belas pemakaian lainnya menyebut ucapan pada hari kiamat, sedangkan yang di sini menyebut ucapan di sekitar orang yang sedang mati. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berarti orang yang bisa menyembuhkan. Siapa yang berkata juga tidak disebut, sebab susunan pasifnya menyembunyikan pembicaranya seperti di 75:13 dan 75:25.

Pertanyaan di ayat ini juga tidak dijawab, sebab 75:28 justru berpindah ke dugaan orang yang sekarat. Ini juga pertanyaan ketiga di surah ini sesudah 75:6 dan 75:10, dan dua dari tiga pertanyaan itu tidak dijawab.

Yang dicari juga penyembuh dan bukan penolong secara umum, sehingga sebutan yang dipakai khusus. Ayat ini juga cuma tiga patah, sependek 75:7 dan 75:9. Ucapan di ayat ini juga tidak ditujukan kepada orang yang sekarat melainkan diucapkan di sekitarnya, sehingga ia ditaruh sebagai pendengar dan bukan lawan bicara. Surah ini juga mengutip tiga ucapan, yaitu di 75:6, 75:10, dan di sini, dan dua kutipan pertama diucapkan manusia tentang dirinya sedangkan yang ketiga diucapkan orang lain tentang dia. Yang bertanya juga tidak dinamai.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya dipakai Allah 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 11:44, 26:92, 39:75, dan 67:27. Dua belas pemakaian lainnya menyebut ucapan pada hari kiamat, sedangkan yang di sini menyebut ucapan di sekitar orang yang sedang mati. Satu sebutan dipakai untuk dua saat yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Sebuah sebutan yang dua belas dari empat belas pemakaiannya menyangkut hari kiamat hampir menjadi penanda hari itu. Memakainya untuk saat kematian menaruh dua saat itu dalam satu wilayah. Batas antara keduanya jadi kabur di telinga pembacanya.
  • Siapa yang berkata tidak disebut Allah, sebab susunan pasifnya menyembunyikan pembicaranya. Cara itu dipakai juga di 75:13 dan 75:25, sehingga tiga ayat memakai susunan yang sama. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan pelakunya memang sering disembunyikan di sepanjang surah ini. Menyembunyikan pembicara di tiga ayat berbeda membuat kejadiannya terasa tidak berpemilik. Tidak ada seorang pun yang bisa dimintai tanggung jawab atas apa yang terjadi. Tak ada nama yang bisa dituntut atas kejadian itu.
  • Ini pertanyaan ketiga di surah ini sesudah 75:6 dan 75:10, dan Allah membiarkannya tanpa jawaban. Ayat berikutnya justru berpindah ke dugaan orang yang sekarat. Dua dari tiga pertanyaan itu tidak dijawab, dan yang dijawab cuma yang diajukan di 75:10. Tiga pertanyaan di satu surah dengan cuma satu yang dijawab menandai pilihan yang disengaja. Yang dibiarkan menggantung justru dua pertanyaan yang paling ingin dijawab manusia. Kesunyian itu sendiri sudah merupakan sebuah balasan.
  • Yang dicari Allah gambarkan penyembuh, bukan penolong secara umum, sehingga sebutan yang dipakai sangat khusus. Kekhususan itu mempersempit gambarannya, sebab yang dicari orang yang bisa menahan kematian. Al-Qur'an tidak menerangkan kekhususan itu, dan sebutannya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Mencari penyembuh berarti masih mengira keadaannya bisa dibalik. Sebutan yang dipakai menunjuk harapan yang sudah tidak punya dasar. Harapan itu tidak punya dasar lagi pada saat itu.
  • Ayat ini cuma tiga patah, sependek 75:7 dan 75:9 yang juga dipakai Allah untuk menggambarkan. Bagian ini seluruhnya tersusun dari baris-baris yang sangat pendek. Kependekan seperti itu membuat gambarannya bergerak cepat, seperti kejadian yang memang tidak menunggu. Baris-baris yang sangat pendek membuat gambarannya bergerak secepat kejadiannya. Tidak ada ruang untuk berhenti, dan itu sesuai dengan apa yang sedang digambarkan. Iramanya bergerak secepat kejadian yang digambarkannya.
  • Yang diucapkan di sekitarnya bukan doa, melainkan pertanyaan tentang siapa yang bisa menyembuhkan. Allah tidak menyebut siapa pun menjawabnya. Kalau harapan terakhir yang tersisa cuma sebuah pertanyaan yang tak berjawab, apa yang sebenarnya sedang mereka cari pada saat itu? Yang diucapkan di sekelilingnya bukan doa dan bukan penghiburan, melainkan sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu tidak pernah dijawab oleh siapa pun di ayat mana pun. Kesunyian yang menyusulnya lebih keras daripada penolakan.