وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ
Dan ia yakin bahwa itulah perpisahan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُwa-zhanna annahu l-firaaqudan ia yakin bahwa itulah perpisahan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَظَنَّwa-zhannadan ia menyangka
- أَنَّهُannahubahwa ia
- الْفِرَاقُl-firaaquperpisahan
Inti bacaan
Kesadaran final tentang perpisahan: 'ia yakin bahwa itulah perpisahan', pengakuan penuh bahwa momen ini adalah pemisahan definitif dari kehidupan dunia, tanpa keraguan lagi tentang apa yang sedang terjadi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَظَنَّ, wa zhanna) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 10:24, 38:24, dan 75:28. Ia berarti dan ia menduga.
Perhatikan bahwa di 10:24 dan 38:24 dugaan itu menyangkut hal yang lain sama sekali. Yang di sini menyangkut perpisahan.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk tiga dugaan yang berbeda.
Kata (الْفِرَاقُ, al-firaaq) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti perpisahan.
Perhatikan bahwa sebutan menduga sudah dipakai di 75:25. Di sana yang menduga wajah yang muram.
Dua ayat memakai gagasan yang sama dengan sebutan yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Perhatikan bahwa yang menduga di sini orang yang sedang mati. Yang menduga di 75:25 orang pada hari kebangkitan.
Jadi dua dugaan itu terjadi pada dua saat yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan waktu itu.
Perhatikan bahwa dugaannya benar. Ia memang sedang berpisah.
Kebenaran dugaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya berlanjut ke 75:29.
Perhatikan bahwa yang disebut perpisahan, bukan kematian. Sebutan yang dipakai menekankan pemutusan hubungan.
Pilihan itu menggeser gambarannya. Yang ditonjolkan kehilangan, bukan berhentinya hidup.
Al-Qur'an tidak menerangkan pergeseran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutannya menyangkut pemisahan.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut berpisah dari siapa atau dari apa. Kekosongan itu dibiarkan terbuka.
Susunan itu membiarkan gambarannya luas. Segala yang dimilikinya termasuk di dalamnya.
Al-Qur'an tidak mempersempit gambaran itu. Yang bisa dibaca cuma sebutan perpisahannya sendiri.
Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan penegas di tengahnya. Ia tidak sekadar menyebut dugaan.
Susunan penegas itu menguatkan isi dugaannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penguatan itu.
Perhatikan bahwa dugaan di sini datang dari dalam dirinya. Ucapan di 75:27 datang dari luar.
Dua ayat berurutan menaruh suara dari luar dan dari dalam. Al-Qur'an tidak menandai pemasangan itu.
Perhatikan bahwa yang di luar masih berharap dan yang di dalam sudah tahu. Dua sikap itu berlawanan.
Perlawanan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri di dua baris berurutan.
Perhatikan bahwa surah ini memakai gagasan menduga tiga kali. Di 75:3, 75:25, dan 75:28.
Tiga pemakaian itu memakai tiga sebutan yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan gagasannya.
Perhatikan bahwa dugaan di 75:3 keliru, dan dua yang lain benar. Perbedaan itu tidak dinyatakan.
Yang bisa dibaca cuma bahwa dugaan yang keliru muncul di awal surah. Dua dugaan yang benar muncul di bagian akhir.
Perhatikan bahwa ini ayat ketiga dari empat ayat bersyarat. Satu ayat lagi menyusul sebelum kesimpulannya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kesadaran penuh orang yang sekarat bahwa saat itulah perpisahan sejati. Ayat ini menyebut dugaan yang muncul pada orang yang sedang mati. Kata pertamanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 10:24, 38:24, dan 75:28.
Di 10:24 dan 38:24 dugaan itu menyangkut hal yang lain sama sekali, sedangkan yang di sini menyangkut perpisahan. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berarti perpisahan. Sebutan menduga juga sudah dipakai di 75:25, dan di sana yang menduga wajah yang muram, sehingga dua ayat memakai gagasan yang sama dengan sebutan yang berbeda.
Yang menduga di sini juga orang yang sedang mati, sedangkan yang menduga di 75:25 orang pada hari kebangkitan. Dugaannya juga benar, sebab ia memang sedang berpisah.
Yang disebut juga perpisahan dan bukan kematian, sehingga sebutan yang dipakai menekankan pemutusan hubungan. Ayat ini juga tidak menyebut berpisah dari siapa atau dari apa. Ayat ini juga memakai susunan penegas di tengahnya, sehingga ia tidak sekadar menyebut dugaan. Dugaan di sini juga datang dari dalam dirinya sedangkan ucapan di 75:27 datang dari luar, dan yang di luar masih berharap sementara yang di dalam sudah tahu. Surah ini juga memakai gagasan menduga tiga kali, yaitu di 75:3, 75:25, dan 75:28, dengan tiga sebutan yang berbeda.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya dipakai Allah cuma di 10:24, 38:24, dan 75:28. Di dua ayat yang lain dugaan itu menyangkut hal yang sama sekali berbeda, sedangkan di sini ia menyangkut perpisahan. Satu sebutan dipakai untuk tiga dugaan yang berlainan, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Tiga dugaan yang berbeda memakai satu sebutan yang sama membuat sebutan itu tidak membawa nilai sendiri. Letaknya yang menentukan apakah dugaannya benar atau keliru. Nilainya ditentukan letak, bukan katanya sendiri.
- Sebutan menduga sudah dipakai Allah di 75:25, dan di sana yang menduga wajah yang muram. Yang menduga di sini orang yang sedang mati, sehingga dua dugaan itu terjadi pada dua saat yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan dua sebutan berbeda dipakai untuk gagasan yang sama. Dua sebutan berbeda untuk gagasan yang sama menandai bahwa pilihan katanya diperhatikan. Yang satu dipakai untuk wajah yang muram, dan yang lain untuk orang yang sekarat. Pilihan sebutannya diperhatikan sampai ke perincian sekecil itu.
- Dugaan yang disebut Allah di sini benar, sebab ia memang sedang berpisah. Kebenaran dugaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an, dan pembacanya tahu dari gambarannya yang berlanjut ke 75:29. Menduga dengan benar pada saat itu tidak menolong sedikit pun, sebab dugaannya datang terlambat. Dugaan yang benar tidak selalu menolong pemiliknya. Kalau ia datang pada saat terakhir, ia cuma menambah beban tanpa mengubah apa pun. Kebenaran yang datang terlambat tak menolong pemiliknya.
- Yang disebut Allah perpisahan, bukan kematian, sehingga sebutan yang dipakai menekankan pemutusan hubungan. Pilihan itu menggeser gambarannya, karena yang ditonjolkan kehilangan dan bukan berhentinya hidup. Al-Qur'an tidak menerangkan pergeseran itu, dan sebutan itu tidak dipakai di ayat lain mana pun. Perpisahan menyebut hubungan yang putus, sedangkan kematian menyebut hidup yang berhenti. Yang pertama menyakitkan bagi yang tinggal maupun yang pergi. Yang tinggal dan yang pergi sama-sama kehilangan.
- Ayat ini tidak menyebut berpisah dari siapa atau dari apa, sebab Allah membiarkan kekosongan itu terbuka. Susunan itu membiarkan gambarannya luas, sehingga segala yang dimilikinya termasuk di dalamnya. Al-Qur'an tidak mempersempit gambaran itu dengan satu keterangan pun. Membiarkan berpisah dari apa tidak disebut membuat gambarannya mencakup segalanya. Harta, keluarga, dan tubuhnya sendiri sama-sama termasuk tanpa satu pun disebut namanya. Kekosongan itu justru memperluas jangkauan gambarannya.
- Orang yang sedang mati itu digambarkan Allah baru menduga apa yang sedang terjadi padanya. Kesadarannya datang tepat ketika ia tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Kalau kepastian baru tiba pada saat terakhir, kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk mengetahuinya? Kesadaran yang datang pada saat terakhir tidak lagi bisa dipakai untuk berbuat. Yang tersisa cuma mengetahui, dan mengetahui pada saat itu bukan lagi keuntungan. Kesadaran yang tiba di ujung tidak lagi bisa dibelanjakan.