وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ
Dan bertautlah betis dengan betis,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِwa-ltaffati s-saaqu bi-s-saaqidan bertautlah betis dengan betis
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَالْتَفَّتِwa-ltaffatidan bertaut
- السَّاقُs-saaqubetis
- بِالسَّاقِbi-s-saaqidengan betis
Inti bacaan
Gambaran fisik momen sekarat: 'dan bertautlah betis dengan betis', deskripsi konkret kondisi tubuh pada saat-saat terakhir, detail yang menegaskan realitas nyata proses kematian.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَالْتَفَّتِ, wal-taffat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti dan bertaut.
Kata (السَّاقُ, as-saaq) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti betis.
Kata (بِالسَّاقِ, bis-saaq) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti dengan betis.
Jadi tiga patah di ayat ini seluruhnya tidak dipakai lagi di mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah, dan ketiganya sebutan sekali pakai. Tidak ada ayat lain di surah ini yang begitu.
Kepadatan itu tidak ada bandingnya di empat puluh ayat surah ini. Al-Qur'an tidak menandainya.
Perhatikan bahwa dua patah terakhirnya berasal dari bunyi dasar yang sama. Yang satu memakai awalan dan yang lain tidak.
Pengulangan bunyi dasar itu mengikat kedua bagian kalimatnya. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu.
Perhatikan bahwa gambarannya memakai bagian tubuh lagi. Sebutan tubuh sudah dipakai di 75:3, 75:4, 75:16, 75:25, dan 75:26.
Jadi enam ayat di surah ini memakai bagian tubuh sebagai gambaran. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.
Perhatikan bahwa yang digambarkan gerakan tubuh, bukan perasaan. Al-Qur'an tidak menyebut takut atau sakit.
Yang bisa dibaca cuma apa yang terlihat dari luar. Perasaannya dibiarkan kosong.
Kekosongan itu sejalan dengan seluruh bagian ini. Empat ayatnya menggambarkan yang tampak saja.
Perhatikan bahwa ayat ini ayat ketiga dari empat ayat bersyarat. Kesimpulannya menyusul di 75:30.
Jadi tiga tanda diberikan sebelum kesimpulannya. Susunan itu sama dengan 75:7 sampai 75:10.
Al-Qur'an tidak menandai kesamaan susunan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua bagian surah dibangun dengan cara yang sama.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak memakai penghubung waktu. Ia langsung menyambung ke ayat sebelumnya.
Susunan itu mempercepat gambarannya. Al-Qur'an tidak menandai percepatan itu.
Perhatikan bahwa gambaran ini bisa dibaca dua arah. Ia bisa berarti dua betis yang bertaut, dan bisa berarti dua perkara yang bertemu.
Kegandaan itu tidak diselesaikan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma gambarannya sendiri.
Perhatikan bahwa Al-Qur'an tidak memilih salah satu pembacaan. Kedua-duanya dibiarkan terbuka.
Susunan itu jarang dipakai untuk gambaran sepenting ini. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Perhatikan bahwa tiga patah yang seluruhnya jarang membuat ayat ini sukar dibandingkan. Tidak ada ayat lain yang memakai satu pun di antaranya.
Ketiadaan pembanding itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma ayat itu sendiri.
Perhatikan bahwa gambaran tubuh di surah ini selalu memakai bagian yang bisa dilihat. Tulang, jari, lidah, wajah, selangka, dan betis.
Enam bagian itu seluruhnya tampak dari luar. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu.
Perhatikan bahwa tidak satu pun gambaran tubuh itu menyangkut bagian dalam. Jantung dan perut tidak disebut.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan momen fisik terakhir sakratulmaut. Ayat ini menggambarkan betis yang bertaut pada saat kematian. Ketiga patahnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga seluruh ayat ini tersusun dari sebutan yang tidak dipakai lagi di mana pun.
Ayat ini cuma tiga patah dan ketiganya sebutan sekali pakai, dan tidak ada ayat lain di surah ini yang begitu. Kepadatan itu tidak ada bandingnya di empat puluh ayat surah ini.
Dua patah terakhirnya juga berasal dari bunyi dasar yang sama, sebab yang satu memakai awalan dan yang lain tidak. Pengulangan bunyi dasar itu mengikat kedua bagian kalimatnya.
Gambarannya juga memakai bagian tubuh lagi, sebab sebutan tubuh sudah dipakai di 75:3, 75:4, 75:16, 75:25, dan 75:26. Jadi enam ayat di surah ini memakai bagian tubuh sebagai gambaran.
Yang digambarkan juga gerakan tubuh dan bukan perasaan, sebab Al-Qur'an tidak menyebut takut atau sakit. Ayat ini juga ayat ketiga dari empat ayat bersyarat yang kesimpulannya menyusul di 75:30. Ayat ini juga tidak memakai penghubung waktu melainkan langsung menyambung ke ayat sebelumnya, sehingga gambarannya bergerak lebih cepat. Gambaran ini juga bisa dibaca dua arah, yaitu dua betis yang bertaut atau dua perkara yang bertemu, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya. Gambaran tubuh di surah ini juga selalu memakai bagian yang bisa dilihat dari luar.
Renungan dan Hikmah
- Ketiga patah di ayat ini masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Seluruh ayat ini karena itu tersusun dari sebutan yang tidak muncul lagi di mana pun. Tidak ada ayat lain di surah ini yang begitu, dan kepadatannya tidak ada bandingnya di empat puluh ayatnya. Al-Qur'an tidak menandai hal itu dengan satu kalimat pun. Sebuah baris yang seluruh katanya tidak berulang tidak punya jangkar di ayat mana pun. Pembacanya harus menerima maknanya dari letaknya, bukan dari kebiasaan pemakaiannya. Letaknya sendiri yang menjadi satu-satunya petunjuk.
- Dua patah terakhirnya berasal dari bunyi dasar yang sama, sebab yang satu memakai awalan dan yang lain tidak. Pengulangan bunyi dasar itu mengikat kedua bagian kalimatnya menjadi satu. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu, dan telinga pembacanya yang menangkap tautannya lebih dulu. Mengulang bunyi dasar yang sama di dua patah berturut-turut membuat barisnya terdengar seperti simpul. Bunyinya sendiri meniru apa yang sedang digambarkan. Telinga menangkap tautannya sebelum pikiran mengurainya.
- Gambaran ini memakai bagian tubuh lagi, sebab Allah sudah memakainya di 75:3, 75:4, 75:16, 75:25, dan 75:26. Enam ayat di surah ini memakai bagian tubuh sebagai bahan gambaran. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan tubuh manusia menjadi bahan utama surah ini dari awal sampai akhir. Tulang, jari, lidah, wajah, selangka, dan betis seluruhnya bagian yang tampak dari luar. Tidak satu pun gambaran tubuh di surah ini menyangkut bagian dalam. Jantung, perut, dan darah sama sekali tidak muncul.
- Yang digambarkan Allah gerakan tubuh, bukan perasaan, sebab Al-Qur'an tidak menyebut takut atau sakit sama sekali. Yang bisa dibaca cuma apa yang terlihat dari luar, dan perasaannya dibiarkan kosong. Kekosongan itu sejalan dengan seluruh bagian ini yang menggambarkan yang tampak saja. Menggambarkan yang tampak dan bukan yang dirasa membiarkan pembacanya menyimpulkan sendiri. Yang terlihat cukup untuk menyampaikan apa yang sedang terjadi di dalamnya. Pembacanya diminta menyimpulkan sendiri dari tanda luarnya.
- Ayat ini yang ketiga dari empat ayat bersyarat yang disusun Allah, dan kesimpulannya menyusul di 75:30. Tiga tanda diberikan sebelum kesimpulannya, dan susunan itu sama dengan 75:7 sampai 75:10. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan susunan itu, dan dua bagian surah dibangun dengan cara yang persis sama. Dua bagian surah yang dibangun dengan susunan yang sama mengikat keduanya tanpa satu penanda. Tiga tanda lalu satu kesimpulan, dua kali berturut-turut di satu surah. Dua kali berturut-turut, dengan bahan yang berbeda.
- Allah menyusun seluruh baris ini dari kosakata yang tidak dipakai di ayat mana pun yang lain. Tidak ada satu patah pun yang bisa diperiksa lewat pemakaiannya di tempat lain. Kalau sebuah baris dibangun tanpa satu pun kata pinjaman, dengan apa pembacanya bisa memastikan ia memahaminya? Ayat ini bisa dibaca sebagai dua betis yang bertaut atau dua perkara yang bertemu. Kalau dua pembacaan sama-sama dibiarkan terbuka, mana yang sebenarnya diminta dipilih pembacanya? Keduanya dibiarkan berdiri tanpa satu pun dipilih.