إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

Kepada Tuhanmulah pada hari itu penggiringan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُilaa rabbika yawma'idzin al-masaaqukepada Tuhanmulah pada hari itu penggiringan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِلَىٰilaakepada
  2. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  3. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  4. الْمَسَاقُal-masaaqutempat digiring

Inti bacaan

Tujuan akhir yang tak terelakkan: 'kepada Tuhanmulah pada hari itu (manusia) digiring', kepastian arah setelah seluruh proses kematian selesai, tidak ada alternatif tujuan lain.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(manusia)' tidak dipakai: 'al-masaaqu' (nomina verbal 'penggiringan') dibiarkan tanpa mengembalikan objek eksplisit, konsisten dengan pola 'al-mustaqarru' di 75:12 yang juga dibiarkan begitu.

Rangkaian (إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ, ilaa rabbika yauma-idzin) muncul lagi di ayat ini. Ini pemakaian keduanya sesudah 75:12.

Perhatikan bahwa dua pemakaiannya cuma ada di surah ini. Jarak antara keduanya delapan belas ayat.

Jadi satu rangkaian yang sama dipakai dua kali untuk menutup bagian. Al-Qur'an tidak menandai pemakaian berulang itu.

Kata (الْمَسَاقُ, al-masaaq) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti tempat digiring.

Perhatikan bahwa 75:12 memakai penutup yang berbeda. Di sana disebut tempat menetap.

Jadi dua ayat bergerak dari menetap ke digiring. Nadanya menaik di antara keduanya.

Al-Qur'an tidak menandai kenaikan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa penutupnya berbeda meski pembukanya sama.

Perhatikan bahwa dua sebutan penutup itu sama-sama muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Keduanya tidak dipakai lagi di mana pun.

Jadi dua penutup bagian di surah ini memakai sebutan yang sama-sama jarang. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup empat ayat bersyarat yang dibuka di 75:26. Susunannya sama dengan 75:7 sampai 75:10.

Dua bagian surah karena itu sebangun. Al-Qur'an tidak menandai kesebangunan itu.

Perhatikan bahwa yang digiring tidak disebut siapa. Susunan pasifnya menyembunyikan pelaku dan penerimanya.

Cara itu dipakai berulang di surah ini. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.

Perhatikan bahwa arah yang disebut sama dengan arah di 75:12. Dua kali surah ini menunjuk arah yang sama.

Yang berubah cuma keadaan orang yang menuju ke sana. Al-Qur'an tidak menyatakan perubahan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup bagian ketiga surahnya. Sesudahnya 75:31 berpindah ke penilaian atas perbuatan.

Perhatikan bahwa dua penutup bagian itu memakai sebutan dari bunyi dasar yang berbeda. Yang satu menyangkut menetap, dan yang lain menyangkut menggiring.

Perbedaan bunyi dasar itu memperjelas perbedaan nadanya. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa yang menggiring biasanya dipakai untuk hewan ternak. Sebutan itu tidak lazim untuk manusia.

Ketidaklaziman itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutannya dipilih begitu.

Perhatikan bahwa surah ini menutup tiga bagiannya dengan tiga cara yang berbeda. Yang pertama dengan tempat menetap, yang kedua dengan alasan yang ditolak, dan yang ketiga dengan tempat digiring.

Ketiga penutup itu tidak seragam. Al-Qur'an tidak menandai keragaman itu.

Perhatikan bahwa dua dari tiga penutup memakai rangkaian yang sama. Yang di tengah tidak memakainya.

Ketidaksejajaran itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu bagian ditutup dengan cara yang lain.

Perhatikan bahwa arah yang disebut memakai sapaan tunggal. Ia menyapa satu orang di tengah gambaran umum.

Cara itu sama dengan 75:12. Dua ayat memakai sapaan yang sama di tempat yang sama.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua penutup memakai sapaan yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menutup gambaran sakratulmaut dengan penegasan bahwa tujuan akhirnya kepada Tuhan. Ayat ini menutup gambaran kematian dengan menyebut ke mana orang itu digiring. Rangkaian tiga kata pertamanya muncul lagi di sini sesudah 75:12, dan dua pemakaiannya cuma ada di surah ini dengan jarak delapan belas ayat.

Jadi satu rangkaian dipakai dua kali sebagai penutup bagian. Al-Qur'an tidak menandai pemakaian itu.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berarti tempat digiring, sedangkan 75:12 memakai penutup yang berbeda karena di sana disebut tempat menetap. Dua penutup bagian di surah ini karena itu memakai sebutan yang sama-sama sangat jarang.

Ayat ini juga menutup empat ayat bersyarat yang dibuka di 75:26, dan susunannya sama dengan 75:7 sampai 75:10. Yang digiring juga tidak disebut siapa, sebab susunan pasifnya menyembunyikan pelaku dan penerimanya.

Arah yang disebut juga sama dengan arah di 75:12, sehingga dua kali surah ini menunjuk arah yang sama. Ayat ini juga menutup bagian ketiga surahnya, sebab 75:31 berpindah ke penilaian atas perbuatan. Dua penutup bagian itu juga memakai sebutan dari bunyi dasar yang berbeda, yaitu menetap dan menggiring, dan yang kedua biasanya dipakai untuk hewan ternak sehingga tidak lazim untuk manusia. Surah ini juga menutup tiga bagiannya dengan tiga cara yang berbeda, dan cuma dua di antaranya memakai rangkaian yang sama. Arah yang disebut juga memakai sapaan tunggal seperti di 75:12.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian tiga kata pertamanya dipakai Allah lagi di sini sesudah 75:12, dan dua pemakaiannya cuma ada di surah ini. Jarak antara keduanya delapan belas ayat, dan keduanya sama-sama menutup sebuah bagian. Al-Qur'an tidak menandai pemakaian itu, dan kerangka surahnya tidak pernah diumumkan di ayat mana pun. Satu rangkaian yang dipakai dua kali di satu surah dan tidak di mana pun lagi hampir pasti disengaja. Ia menandai dua titik berhenti tanpa perlu satu kalimat pengumuman. Pembaca yang lupa baris kedua belas akan melewatkannya.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berarti tempat digiring, sedangkan 75:12 menyebut tempat menetap. Dua ayat bergerak dari menetap ke digiring, sehingga nadanya menaik di antara keduanya. Al-Qur'an tidak menandai kenaikan itu, dan penutupnya berbeda meski pembukanya sama persis. Menetap dan digiring adalah dua cara sampai yang sangat berbeda. Yang satu terdengar seperti tiba di rumah, dan yang lain seperti dibawa tanpa kehendak sendiri. Nadanya menaik di antara dua penutup itu.
  • Dua sebutan penutup di surah ini sama-sama dipakai Allah sekali di seluruh Al-Qur'an. Keduanya tidak dipakai lagi di mana pun, sehingga dua penutup bagian memakai sebutan yang sama-sama jarang. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan ia baru terlihat kalau keduanya dicari sendiri. Dua sebutan penutup yang sama-sama sekali pakai menandai bahwa keduanya dipilih untuk tempat itu saja. Tidak ada ayat lain yang bisa dipakai memeriksa keduanya. Keduanya dipilih untuk tempatnya masing-masing saja.
  • Ayat ini menutup empat ayat bersyarat yang dibuka Allah di 75:26, dan susunannya sama dengan 75:7 sampai 75:10. Dua bagian surah karena itu sebangun, yaitu tiga tanda lalu satu kesimpulan. Al-Qur'an tidak menandai kesebangunan itu, dan pembacanya harus mengenalinya sendiri. Dua bagian yang dibangun dengan susunan yang sama membuat surahnya terasa berirama. Tiga tanda lalu satu kesimpulan, diulang dengan bahan yang berbeda. Iramanya terasa meski tidak pernah disebutkan.
  • Yang digiring tidak disebut Allah siapa, sebab susunan pasifnya menyembunyikan pelaku sekaligus penerimanya. Cara itu dipakai berulang di sepanjang surah ini, antara lain di 75:13, 75:25, dan 75:27. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan kejadiannya digambarkan tanpa satu nama pun. Menyembunyikan pelaku di sepanjang surah membuat kejadiannya terasa tak terhindarkan. Tidak ada seorang pun yang bisa diajak menawar, sebab tidak ada nama yang disebut. Kejadiannya berjalan seperti hukum yang tak punya juru bicara.
  • Arah yang disebut Allah sama dengan arah di 75:12, sehingga dua kali surah ini menunjuk arah yang sama. Yang berubah cuma keadaan orang yang menuju ke sana. Kalau arahnya tetap sama sejak awal dan yang berubah cuma cara sampainya, apa yang sebenarnya masih bisa dipilih seseorang? Sapaan tunggal di tengah gambaran umum menarik satu orang keluar dari kerumunan. Yang membacanya mendapati dirinya disapa langsung di ayat penutup bagian. Kerumunan mendadak menyusut jadi satu orang saja.