فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ

Maka dia tidak membenarkan dan tidak bersalat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰfa-laa shaddaqa wa-laa shallaamaka dia tidak membenarkan dan tidak bersalat

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَلَاfa-laamaka tidak
  2. صَدَّقَshaddaqamembenarkan
  3. وَلَاwa-laadan tidak pula
  4. صَلَّىٰshallaamengerjakan salat

Inti bacaan

Dua kegagalan yang teridentifikasi: 'dia tidak membenarkan (kebenaran) dan tidak bersalat', kombinasi kegagalan keyakinan (tidak membenarkan) dan praktik (tidak salat), dua dimensi yang saling terkait dalam diagnosis kegagalan spiritual.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(kebenaran)' tidak dipakai: 'saddaqa' digunakan mutlak tanpa objek eksplisit dalam Arab.

Rangkaian (فَلَا صَدَّقَ, fa laa shaddaqa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menyangkal dua perbuatan sekaligus.

Kata (صَدَّقَ, shaddaqa) sendiri muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 5:45, 34:20, 37:37, 39:33, 66:12, 75:31, dan 92:6. Ia berarti membenarkan.

Perhatikan bahwa enam pemakaian lainnya menyebut orang yang membenarkan. Cuma yang di sini menyebut orang yang tidak membenarkan.

Jadi satu sebutan dipakai untuk mengakui dan untuk menyangkal. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Kata (صَلَّىٰ, shallaa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:31, 87:15, dan 96:10. Ia berarti mengerjakan salat.

Perhatikan bahwa 87:15 dan 96:10 menyebutnya sebagai perbuatan yang dilakukan. Yang di sini menyebutnya sebagai perbuatan yang ditinggalkan.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua dari tiga pemakaiannya berlawanan arah dengan yang ini.

Perhatikan bahwa 92:6 memakai sebutan membenarkan bersama sebutan takwa. Susunannya sejajar dengan surah ini.

Surah 92 juga memuat rangkaian yang dipakai di 75:32. Dua surah berbagi dua rumus.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya memakai bahan yang sama.

Perhatikan bahwa dua perbuatan yang disangkal berbeda jenisnya. Yang pertama sikap batin, dan yang kedua perbuatan tubuh.

Susunan itu mencakup dua wilayah sekaligus. Al-Qur'an tidak menyatakan pencakupan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini memulai bagian keempat surahnya. Sesudah gambaran kematian, kini datang penilaian.

Perpindahan itu tidak ditandai sebutan pembantah. Tiga bagian sebelumnya ditandai begitu.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa batas terakhirnya ditandai dengan cara lain.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma empat patah. Ia memuat dua penyangkalan sekaligus.

Perhatikan bahwa bagian ini berpindah lagi ke orang ketiga. Dua ayat sebelumnya menyapa satu orang.

Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba. Al-Qur'an tidak memberi pengantar apa pun.

Perhatikan bahwa surah ini berganti sasaran empat kali. Dari umum ke perorangan, lalu kembali, lalu berganti lagi.

Pergantian sesering itu tidak lazim untuk surah sependek ini. Al-Qur'an tidak menandainya.

Perhatikan bahwa dua perbuatan yang disangkal disebut dengan urutan batin lalu tubuh. Urutan itu sama dengan 75:32.

Dua ayat berpasangan memakai urutan yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Perhatikan bahwa yang disangkal bukan kejahatan, melainkan kebaikan yang tidak dikerjakan. Tuduhannya berupa kekosongan.

Susunan itu jarang dipakai untuk menuduh. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.

Perhatikan bahwa bagian ini yang terpanjang di surahnya. Ia mencakup sepuluh ayat, dari 75:31 sampai 75:40.

Tiga bagian sebelumnya masing-masing lebih pendek. Al-Qur'an tidak menandai ketimpangan itu.

Tafsiran

Ayat ini beralih menyebut sifat orang yang menolak kebenaran dan meninggalkan salat. Ayat ini memulai penilaian dengan menyangkal dua perbuatan sekaligus. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan kata keduanya sendiri muncul 7 kali, yaitu 5:45, 34:20, 37:37, 39:33, 66:12, 75:31, dan 92:6.

Enam pemakaian lainnya menyebut orang yang membenarkan, dan cuma yang di sini menyebut orang yang tidak membenarkan. Jadi satu sebutan dipakai untuk mengakui dan untuk menyangkal.

Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:31, 87:15, dan 96:10. Ayat 87:15 dan 96:10 menyebutnya sebagai perbuatan yang dilakukan, sedangkan yang di sini menyebutnya sebagai perbuatan yang ditinggalkan.

Ayat 92:6 juga memakai sebutan membenarkan bersama sebutan takwa, dan surah 92 juga memuat rangkaian yang dipakai di 75:32. Jadi dua surah berbagi dua rumus.

Dua perbuatan yang disangkal juga berbeda jenisnya, sebab yang pertama sikap batin dan yang kedua perbuatan tubuh. Ayat ini juga memulai bagian keempat surahnya tanpa ditandai sebutan pembantah. Bagian ini juga berpindah lagi ke orang ketiga, padahal dua ayat sebelumnya menyapa satu orang, dan surah ini berganti sasaran empat kali seluruhnya. Dua perbuatan yang disangkal juga disebut dengan urutan batin lalu tubuh, sama seperti 75:32. Bagian ini juga yang terpanjang di surahnya, sebab ia mencakup sepuluh ayat dari 75:31 sampai 75:40.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya dipakai Allah 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 5:45, 34:20, 37:37, 39:33, 66:12, 75:31, dan 92:6. Enam pemakaian lainnya menyebut orang yang membenarkan, dan cuma yang di sini menyebut orang yang tidak membenarkan. Satu sebutan dipakai untuk mengakui dan untuk menyangkal, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Sebuah sebutan yang enam dari tujuh pemakaiannya berarti membenarkan tiba-tiba dipakai untuk kebalikannya. Yang menentukan arahnya bukan katanya, melainkan huruf pengingkar di depannya. Huruf pengingkar itu yang membalik seluruh arahnya.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 75:31, 87:15, dan 96:10. Dua ayat lainnya menyebutnya sebagai perbuatan yang dilakukan, sedangkan yang di sini menyebutnya sebagai perbuatan yang ditinggalkan. Dua dari tiga pemakaiannya berlawanan arah dengan yang ini, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Salat disebut tiga kali di seluruh mushaf, dan cuma sekali sebagai yang ditinggalkan. Kejarangan seperti itu membuat penyebutannya di sini terdengar lebih tajam. Tiga pemakaian di seluruh mushaf adalah takaran yang sangat kecil.
  • Ayat 92:6 memakai sebutan membenarkan bersama sebutan takwa, dan surah 92 juga memuat rangkaian yang dipakai Allah di 75:32. Dua surah karena itu berbagi dua rumus sekaligus. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat kalau dua surah itu dibandingkan kata demi kata. Surah 92 memakai sebutan membenarkan dan rangkaian mendustakan lalu berpaling. Dua surah pendek itu memakai bahan yang sama untuk membangun tuduhan yang sama. Pembaca yang membandingkan keduanya akan menemukan tiga titik temu.
  • Dua perbuatan yang disangkal Allah berbeda jenisnya, sebab yang pertama sikap batin dan yang kedua perbuatan tubuh. Susunan itu mencakup dua wilayah sekaligus dalam satu baris pendek. Al-Qur'an tidak menyatakan pencakupan itu, dan tidak ada celah yang tersisa di antara keduanya. Menyangkal sikap batin dan perbuatan tubuh sekaligus tidak menyisakan tempat berlindung. Yang mengaku percaya di hati tetap tercatat kalau tubuhnya tidak bergerak. Lidah dan lutut sama-sama masuk ke dalam catatan yang sama.
  • Ayat ini memulai bagian keempat surahnya sesudah gambaran kematian yang ditutup Allah di 75:30. Perpindahan itu tidak ditandai sebutan pembantah, padahal tiga bagian sebelumnya ditandai begitu. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu, dan batas terakhirnya dikenali dari pergantian pokoknya saja. Tiga bagian pertama surah ini ditandai satu patah pembantah yang sama. Bagian keempat tidak, dan batasnya cuma dikenali dari pergantian pokoknya. Sepuluh baris terakhir berdiri tanpa penanda pembuka apa pun.
  • Yang dicatat Allah di sini bukan perbuatan buruk, melainkan dua perbuatan yang tidak dikerjakan. Tuduhannya berupa kekosongan, bukan pelanggaran. Kalau seseorang bisa dinilai atas apa yang tidak ia kerjakan, ukuran apa yang sebenarnya sedang dipakai? Menilai seseorang dari yang tidak ia kerjakan menuntut ukuran yang sudah ada lebih dulu. Ukuran itu tidak disebut di ayat mana pun di surah ini. Pembacanya diandaikan sudah memegangnya sebelum membaca baris ini.