ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰ أَهْلِهِ يَتَمَطَّىٰ
Kemudian ia pergi kepada keluarganya dengan menyombongkan diri.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰ أَهْلِهِ يَتَمَطَّىٰtsumma dzahaba ilaa ahlihi yatamaththaakemudian ia pergi kepada keluarganya dengan menyombongkan diri
Terjemahan per kata (5 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- ذَهَبَdzahabapergi
- إِلَىٰilaakepada
- أَهْلِهِahlihikeluarganya
- يَتَمَطَّىٰyatamaththaaberlagak
Inti bacaan
Kesombongan sebagai puncak penolakan: 'kemudian ia pergi kepada keluarganya dengan menyombongkan diri', perilaku yang menunjukkan tidak ada penyesalan, bahkan kebanggaan atas penolakan yang telah dilakukan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (ذَهَبَ, dzahaba) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:17, 11:74, 21:87, dan 33:19. Ia berarti pergi.
Kata (أَهْلِهِ, ahlih) muncul 16 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:35, 20:10, 28:29, dan 84:9. Ia berarti keluarganya.
Perhatikan bahwa 84:9 dan 84:13 juga memakai sebutan itu untuk orang yang kembali kepada keluarganya. Susunannya sejajar dengan ayat ini.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai gambaran pulang ke rumah.
Kata (يَتَمَطَّىٰ, yatamaththaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti berjalan dengan angkuh.
Perhatikan bahwa ayat ini menggambarkan perbuatan sehari-hari. Tidak ada yang luar biasa di dalamnya.
Kebiasaan itu justru yang dipersoalkan. Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu.
Perhatikan bahwa gambarannya memakai cara berjalan. Yang dinilai bukan ucapannya, melainkan langkahnya.
Pilihan itu tidak lazim. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Perhatikan bahwa tiga ayat berturut-turut menyusun satu rangkaian perbuatan. Mendustakan, berpaling, lalu pulang dengan angkuh.
Rangkaian itu bergerak dari sikap ke gerakan. Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu.
Perhatikan bahwa sebutan penyambung di awal ayat menandai urutan waktu. Kepulangannya datang sesudah dua perbuatan sebelumnya.
Susunan itu menyusun tiga tahap. Al-Qur'an tidak menyatakannya sebagai daftar.
Perhatikan bahwa gambaran ini tidak menyebut satu nama pun. Sasarannya dibiarkan terbuka.
Ketiadaan nama itu berlaku di seluruh surah ini. Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun di empat puluh ayatnya.
Perhatikan bahwa ayat ini empat patah. Ia sepanjang 75:31 yang membuka bagian ini.
Perhatikan bahwa surah 84 juga memakai gambaran kembali kepada keluarga. Di sana ia dipakai untuk dua nasib yang berbeda.
Perbedaan pemakaian itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai gambaran yang sama.
Perhatikan bahwa di 84:9 kepulangan itu digambarkan gembira. Di sini kepulangannya digambarkan angkuh.
Dua gambaran itu berbeda nadanya. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.
Perhatikan bahwa yang digambarkan pulang ke rumah, bukan pergi ke tempat lain. Rumah adalah tempat orang merasa aman.
Pilihan itu menajamkan gambarannya. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Perhatikan bahwa cara berjalan disebut sesudah dua perbuatan besar. Yang kecil menyusul yang besar.
Urutan itu tidak lazim. Al-Qur'an tidak menandai ketidaklaziman itu.
Perhatikan bahwa sebutan berjalan angkuh itu memakai susunan yang menggambarkan gerakan berulang. Ia bukan satu langkah.
Susunan itu memperpanjang gambarannya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.
Tafsiran
Ayat ini menutup gambaran orang tersebut yang pulang dengan sikap angkuh. Ayat ini menggambarkan orang itu pulang ke rumahnya dengan angkuh. Kata keduanya muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:17, 11:74, 21:87, dan 33:19.
Kata keempatnya muncul 16 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:35, 20:10, 28:29, dan 84:9. Ayat 84:9 dan 84:13 juga memakai sebutan itu untuk orang yang kembali kepada keluarganya dengan susunan yang sejajar.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berarti berjalan dengan angkuh. Ayat ini juga menggambarkan perbuatan sehari-hari tanpa ada yang luar biasa di dalamnya, dan kebiasaan itu justru yang dipersoalkan.
Gambarannya juga memakai cara berjalan, sehingga yang dinilai bukan ucapannya melainkan langkahnya. Tiga ayat berturut-turut juga menyusun satu rangkaian perbuatan, yaitu mendustakan, berpaling, lalu pulang dengan angkuh.
Sebutan penyambung di awal ayat juga menandai urutan waktu, sehingga kepulangannya datang sesudah dua perbuatan sebelumnya. Gambaran ini juga tidak menyebut satu nama pun, sejalan dengan seluruh surahnya. Surah 84 juga memakai gambaran kembali kepada keluarga, dan di 84:9 kepulangan itu digambarkan gembira sedangkan di sini angkuh. Yang digambarkan juga pulang ke rumah dan bukan pergi ke tempat lain, sehingga gambarannya menajam. Cara berjalan juga disebut sesudah dua perbuatan besar, sehingga yang kecil menyusul yang besar.
Renungan dan Hikmah
- Kata keempatnya dipakai Allah 16 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:35, 20:10, 28:29, dan 84:9. Ayat 84:9 dan 84:13 juga memakai sebutan itu untuk orang yang kembali kepada keluarganya dengan susunan yang sejajar. Dua surah memakai gambaran pulang ke rumah, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Dua surah memakai gambaran pulang ke rumah untuk dua nasib yang berbeda. Yang satu pulang dengan gembira, dan yang lain pulang dengan angkuh. Nada keduanya berlawanan meski gambarannya sama.
- Ayat ini menggambarkan perbuatan sehari-hari, dan tidak ada yang luar biasa di dalamnya. Kebiasaan itu justru yang dipersoalkan Allah, meski Al-Qur'an tidak menyatakannya. Yang dicatat bukan kejahatan besar, melainkan cara seseorang berjalan pulang setelah berpaling. Perbuatan yang paling biasa justru yang dipilih untuk menutup rangkaian tuduhannya. Yang dinilai bukan peristiwa besar, melainkan kebiasaan sehari-harinya. Kebiasaan sehari-hari ternyata ikut masuk hitungan juga.
- Gambarannya memakai cara berjalan, sehingga yang dinilai Allah bukan ucapannya melainkan langkahnya. Pilihan itu tidak lazim, sebab langkah biasanya dianggap tidak bermakna. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan sebutannya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Langkah kaki biasanya dianggap tidak bermakna apa-apa. Memakainya sebagai penutup rangkaian menandai bahwa tidak ada yang luput dari catatan. Bahkan tumit yang melangkah pulang pun tercatat di sini.
- Tiga ayat berturut-turut menyusun satu rangkaian perbuatan yang disebut Allah, yaitu mendustakan, berpaling, lalu pulang dengan angkuh. Rangkaian itu bergerak dari sikap ke gerakan tanpa satu penanda pun. Sebutan penyambung di awal ayat menandai urutan waktunya, dan Al-Qur'an tidak menyatakannya sebagai daftar. Tiga perbuatan berurutan bergerak dari lidah ke badan lalu ke langkah. Rangkaian itu turun dari yang paling disengaja ke yang paling terbiasa. Lidah dulu, lalu badan, lalu tumit yang melangkah.
- Gambaran ini tidak menyebut satu nama pun, sehingga sasarannya dibiarkan Allah terbuka. Ketiadaan nama itu berlaku di seluruh empat puluh ayat surah ini. Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun di dalamnya, dan siapa saja bisa menemukan dirinya di dalam gambaran itu. Ketiadaan nama di seluruh surah membuat siapa pun bisa menemukan dirinya di dalamnya. Tidak ada satu pihak pun yang bisa merasa sedang tidak dibicarakan. Empat puluh baris berlalu tanpa satu nama disebut.
- Yang digambarkan Allah bukan orang yang menyesal sesudah berpaling, melainkan orang yang justru berjalan bangga. Sikap seperti itu menandai bahwa ia merasa tidak kehilangan apa pun. Kalau seseorang bisa pulang dengan tenang sesudah menolak, tanda apa yang tersisa untuk memperingatkannya? Orang yang pulang dengan bangga sesudah berpaling tidak merasa kehilangan apa pun. Kepuasan seperti itu justru yang paling sulit diperingatkan. Rasa puas itulah yang paling sukar ditembus peringatan.