أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ

Celakalah engkau, maka celakalah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰawlaa laka fa-awlaacelakalah engkau, maka celakalah

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَوْلَىٰawlaalebih berhak
  2. لَكَlakabagimu
  3. فَأَوْلَىٰfa-awlaamaka celakalah

Inti bacaan

Peringatan pertama yang berulang: 'celakalah engkau, maka celakalah', pengulangan kata yang sama menegaskan intensitas peringatan, bukan sekadar pernyataan tunggal melainkan penekanan berganda.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (أَوْلَىٰ لَكَ, aulaa laka) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:34 dan 75:35. Dua-duanya di surah ini.

Perhatikan bahwa dua pemakaian itu berada di dua ayat berurutan. Tidak ada jarak di antara keduanya.

Jadi seluruh pemakaiannya berdesakan di dua baris bersebelahan. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.

Kata (أَوْلَىٰ, aulaa) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:135, 8:75, 19:70, 33:6, 47:20, 75:34, dan 75:35. Dua di antaranya di surah ini.

Perhatikan bahwa lima pemakaian lainnya berarti lebih berhak atau lebih utama. Yang di sini berdiri sebagai ancaman.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk dua maksud yang jauh berbeda.

Perhatikan bahwa ayat ini mengulang sebutannya dua kali di dalam satu baris. Yang kedua memakai penghubung.

Jadi ancamannya sudah berulang sebelum ayat berikutnya mengulanginya lagi. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini menyapa satu orang secara langsung. Tiga ayat sebelumnya berbicara tentang orang ketiga.

Pergantian sasaran itu datang mendadak, tanpa satu patah pun yang menyiapkannya. Al-Qur'an tidak memberi pengantar apa pun.

Perhatikan bahwa apa yang diancamkan tidak disebut. Al-Qur'an tidak menyebut hukuman apa pun.

Kekosongan itu dibiarkan terbuka. Yang bisa dibaca cuma nada ancamannya.

Al-Qur'an tidak mengisi kekosongan itu di ayat berikutnya. Ayat 75:35 justru mengulanginya persis.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah. Ia salah satu yang terpendek di bagian ini.

Kependekan itu memperkuat nada ancamannya. Al-Qur'an tidak menyatakan penguatan itu.

Perhatikan bahwa dua ayat ancaman ini berdiri sesudah gambaran yang tenang. Yang sebelumnya menggambarkan orang pulang ke rumah.

Perpindahan nada itu tajam. Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu.

Perhatikan bahwa ancaman ini datang tanpa sebab yang disebut ulang. Sebabnya sudah diberikan di tiga ayat sebelumnya.

Susunan itu menghemat. Al-Qur'an tidak menyatakan penghematan itu.

Perhatikan bahwa lima pemakaian lainnya berdiri di surah panjang. Dua yang di sini di surah pendek.

Perbedaan letak itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pemakaiannya terpisah dari lima yang lain.

Perhatikan bahwa seruan ini berdiri sendiri tanpa perbuatan yang menyertainya. Kalimatnya tidak lengkap menurut susunan biasa.

Ketidaklengkapan itu membuatnya terdengar seperti seruan. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.

Perhatikan bahwa nada seruan itu berbeda dari seluruh surahnya. Tidak ada seruan lain di empat puluh ayatnya.

Kekhususan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua baris ini berdiri sendiri.

Tafsiran

Ayat ini mengutuk sikap angkuh tersebut dengan seruan celaan berulang. Ayat ini berpindah menyapa satu orang dengan sebuah ancaman yang berulang. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:34 dan 75:35, dan dua-duanya di surah ini.

Dua pemakaian itu berada di dua ayat berurutan tanpa jarak di antaranya, sehingga seluruh pemakaiannya berdesakan di dua baris bersebelahan. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.

Kata pertamanya muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 4:135, 8:75, 19:70, 33:6, 47:20, 75:34, dan 75:35. Lima pemakaian lainnya berarti lebih berhak atau lebih utama, sedangkan yang di sini berdiri sebagai ancaman.

Ayat ini juga mengulang sebutannya dua kali di dalam satu baris, dan yang kedua memakai penghubung. Ayat ini juga menyapa satu orang secara langsung, padahal tiga ayat sebelumnya berbicara tentang orang ketiga.

Apa yang diancamkan juga tidak disebut, sebab Al-Qur'an tidak menyebut hukuman apa pun. Ayat 75:35 justru mengulanginya persis tanpa menambah keterangan. Dua ayat ancaman ini juga berdiri sesudah gambaran yang tenang, sebab 75:33 menggambarkan orang pulang ke rumah. Ancaman ini juga datang tanpa sebab yang disebut ulang, karena sebabnya sudah diberikan di tiga ayat sebelumnya. Sebutan ini juga berdiri sendiri tanpa kata kerja, sehingga kalimatnya tidak lengkap menurut susunan biasa dan terdengar seperti seruan.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah cuma di 75:34 dan 75:35, dan dua-duanya di surah ini. Dua pemakaian itu berada di dua ayat berurutan tanpa jarak di antaranya. Seluruh pemakaiannya berdesakan di dua baris bersebelahan, dan Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu dengan satu kalimat pun. Sebuah rangkaian yang seluruh pemakaiannya berada di dua baris bersebelahan hampir pasti dirancang begitu. Ia tidak pernah dipakai di tempat lain mana pun. Ayat 75:34 dan 75:35 memonopoli seluruh pemakaiannya.
  • Kata pertamanya dipakai Allah di 4:135, 8:75, 19:70, 33:6, 47:20, 75:34, dan 75:35. Lima pemakaian lainnya berarti lebih berhak atau lebih utama, sedangkan yang di sini berdiri sebagai ancaman. Satu sebutan dipakai untuk dua maksud yang jauh berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Lima pemakaian lainnya berdiri di surah panjang dan berarti lebih berhak. Yang di sini berdiri di surah pendek, dan nadanya berbalik jadi ancaman. Nadanya berbalik sepenuhnya di dua baris terakhir ini.
  • Ayat ini mengulang sebutannya dua kali di dalam satu baris, dan yang kedua memakai penghubung. Ancamannya sudah berulang sebelum Allah mengulanginya lagi di ayat berikutnya. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu, dan pembacanya mendengar bunyi yang sama empat kali dalam dua baris. Mendengar bunyi yang sama empat kali dalam dua baris membuatnya sukar dilupakan. Pengulangan sepadat itu bekerja lewat telinga, bukan lewat keterangan. Telinga menyimpannya lebih lama daripada keterangan apa pun.
  • Ayat ini menyapa satu orang secara langsung, padahal tiga ayat sebelumnya berbicara tentang orang ketiga. Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba dan tanpa kalimat pengantar dari Allah. Pembaca yang tadi menonton dari luar tiba-tiba mendapati dirinya yang ditunjuk. Pembaca yang tadi menonton dari luar tiba-tiba mendapati dirinya yang ditunjuk. Sapaan itu datang tanpa satu patah pun yang menyiapkannya. Tiga baris sebelumnya membicarakan orang lain, bukan dirinya.
  • Apa yang diancamkan tidak disebut Allah, sebab Al-Qur'an tidak menyebut hukuman apa pun. Kekosongan itu dibiarkan terbuka, dan yang bisa dibaca cuma nada ancamannya. Ayat 75:35 justru mengulanginya persis tanpa menambah satu keterangan pun. Ancaman yang isinya tidak disebutkan membiarkan pendengarnya membayangkan sendiri. Yang dibayangkan sendiri biasanya lebih besar daripada yang diperinci. Kekosongan itu bertahan sampai surahnya habis.
  • Ayat ini cuma tiga patah, dan kependekannya justru memperkuat nada ancamannya. Ancaman yang isinya tidak disebutkan Allah membiarkan pendengarnya membayangkan sendiri. Kalau sebuah ancaman bekerja justru karena tidak dijelaskan, apa yang sedang dipakainya untuk menekan? Kalimat yang tidak lengkap menurut susunan biasa terdengar seperti seruan yang terlontar. Tidak ada seruan lain semacam itu di empat puluh ayat surah ini. Susunan tanpa perbuatan seperti ini cuma muncul di dua baris ini.