أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ

Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰa-lam yaku nuthfatan min maniiyin yumnaabukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. يَكُyakuadalah
  3. نُطْفَةًnuthfatannutfah
  4. مِنْmindari
  5. مَنِيٍّmaniiyinmani
  6. يُمْنَىٰyumnaadipancarkan

Inti bacaan

Argumen dari asal-usul sederhana: 'bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan?', pengingat rendah hati tentang permulaan biologis yang sederhana sebagai dasar argumen kemampuan penciptaan kembali.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (أَلَمْ يَكُ, a lam yaku) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia bertanya tentang keadaan awal.

Kata (نُطْفَةً, nuthfah) dengan ujung berbaris fathah dipakai di 23:13 dan 75:37 saja di seluruh Al-Qur'an. Ia menamai setetes air mani.

Perhatikan bahwa 23:13 juga menggambarkan tahap penciptaan. Susunannya sejajar dengan ayat ini.

Jadi dua ayat memakai sebutan yang sama untuk tahap yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Kata (يُمْنَىٰ, yumnaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti dipancarkan.

Perhatikan bahwa 23:14 memakai sebutan yang juga dipakai di 75:38. Dua surah berbagi dua tahap berurutan.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah menyebut dua tahap yang sama.

Perhatikan bahwa jawaban atas pertanyaan di 75:36 berupa pertanyaan lagi. Al-Qur'an tidak menjawabnya langsung.

Susunan itu mengembalikan beban kepada yang ditanya. Cara yang sama dipakai di 75:3.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua bagian memakai cara yang sama.

Perhatikan bahwa jawabannya mengajak melihat ke belakang. Yang ditanya asal-usulnya sendiri.

Cara itu berbeda dari 75:4 yang menjawab dengan kesanggupan. Dua jawaban memakai bahan yang berbeda.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang satu menunjuk kuasa dan yang lain menunjuk asal.

Perhatikan bahwa ayat ini enam patah. Ia salah satu yang terpanjang di surah ini.

Panjang itu sesuai dengan isinya. Ia memuat satu tahap lengkap beserta keterangannya.

Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan pasif untuk dipancarkan. Pelakunya tidak disebut.

Cara itu dipakai juga di dua ayat berikutnya sebagian. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.

Perhatikan bahwa 23:13 dan 23:14 memakai susunan aktif dengan pelaku yang disebut. Di sini pelakunya baru muncul di 75:38.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai susunan yang berbeda untuk tahap yang sama.

Perhatikan bahwa tahap pertama ini disebut dengan dua sebutan sekaligus. Yang satu menamai bendanya, dan yang lain menamai asalnya.

Susunan berlapis itu memperinci tahapnya. Al-Qur'an tidak menerangkan perincian itu.

Perhatikan bahwa perinciannya justru muncul di bagian penutup. Bagian sebelumnya jauh lebih hemat.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa empat ayat terakhir lebih terperinci.

Perhatikan bahwa gambaran asal-usul ini tidak memakai satu bilangan pun. Tidak ada berapa lama tiap tahapnya.

Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh surah ini. Al-Qur'an tidak menyebut satu angka pun di empat puluh ayatnya.

Tafsiran

Ayat ini mengingatkan asal-usul penciptaan manusia yang sederhana. Ayat ini menjawab pertanyaan di 75:36 dengan mengajak melihat asal-usul manusia. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia bertanya tentang keadaan awal.

Kata ketiganya dengan ujung berbaris fathah dipakai di 23:13 dan 75:37 saja, dan ia menamai setetes air mani. Ayat 23:13 juga menggambarkan tahap penciptaan dengan susunan yang sejajar.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berarti dipancarkan. Ayat 23:14 juga memakai sebutan yang dipakai di 75:38, sehingga dua surah berbagi dua tahap berurutan.

Jawaban atas pertanyaan di 75:36 juga berupa pertanyaan lagi, sebab Al-Qur'an tidak menjawabnya langsung. Susunan itu mengembalikan beban kepada yang ditanya, sama seperti cara yang dipakai di 75:3.

Jawabannya juga mengajak melihat ke belakang, sehingga yang ditanya asal-usulnya sendiri. Cara itu berbeda dari 75:4 yang menjawab dengan kesanggupan. Ayat ini juga memakai susunan pasif untuk dipancarkan, sehingga pelakunya tidak disebut, sedangkan 23:13 dan 23:14 memakai susunan aktif dengan pelaku yang disebut. Tahap pertama ini juga disebut dengan dua sebutan sekaligus, yaitu yang menamai bendanya dan yang menamai asalnya. Gambaran asal-usul ini juga tidak memakai satu bilangan pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata ketiganya dipakai Allah cuma di 23:13 dan 75:37, sedangkan sebutan di 75:38 juga dipakai di 23:14. Dua surah karena itu berbagi dua tahap penciptaan yang berurutan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat kalau dua surah itu dibandingkan tahap demi tahap. Dua surah menyebut dua tahap yang sama dengan urutan yang sama tetapi susunan yang berbeda. Yang satu menyebut pelakunya sejak awal, dan yang lain menahannya sampai baris berikutnya. Susunan pasif itu berlaku di 75:37 dan berhenti di 75:38.
  • Jawaban atas pertanyaan di 75:36 berupa pertanyaan lagi, sebab Allah tidak menjawabnya langsung. Susunan itu mengembalikan beban kepada yang ditanya, sama seperti cara yang dipakai di 75:3. Dua bagian memakai cara yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan mengembalikan beban kepada yang bertanya. Cara itu dipakai dua kali di surah ini, di ayat keempat dan di ayat ketiga puluh tujuh. Bebannya dikembalikan kepada yang mengajukan pertanyaan.
  • Jawaban ini mengajak melihat ke belakang, sehingga yang ditanya asal-usulnya sendiri. Cara itu berbeda dari 75:4 yang dijawab Allah dengan menyebut kesanggupan. Dua jawaban memakai bahan yang berbeda, sebab yang satu menunjuk kuasa dan yang lain menunjuk asal. Menunjuk asal-usul lebih sukar dibantah daripada menunjuk kuasa. Yang pertama sudah terjadi, dan yang kedua masih harus dipercaya. Yang sudah terjadi tidak menuntut kepercayaan lagi.
  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata terakhirnya juga 1 kali. Ayat ini karena itu memuat dua sebutan yang tidak berulang di mana pun. Kepadatan seperti itu berulang di sepanjang surah ini, dan Al-Qur'an tidak menandainya sekali pun. Kepadatan sebutan sekali pakai berulang bahkan di bagian yang paling terperinci. Empat ayat terakhir tetap memuat kosakata yang tidak dipakai di mana pun lagi. Kosakatanya tetap tidak dipinjam dari ayat lain.
  • Ayat ini enam patah dan salah satu yang terpanjang di surah ini, padahal rata-rata ayatnya cuma empat patah. Panjang itu sesuai dengan isinya, sebab Allah memuat satu tahap lengkap beserta keterangannya. Bagian penutup ini memakai baris yang lebih panjang daripada bagian mana pun sebelumnya. Empat ayat terakhir lebih panjang daripada rata-rata surahnya yang cuma empat patah. Iramanya melambat justru ketika perkaranya hendak ditutup. Enam patah di baris ini melawan rata-rata empat patah surahnya.
  • Yang dipakai Allah sebagai bukti bukan langit atau bumi, melainkan asal-usul orang yang ditanya. Buktinya dibawa sendiri oleh yang membantah, dan tidak perlu dicari di luar dirinya. Kalau bukti terkuat justru terletak pada riwayat tubuhnya sendiri, apa lagi yang bisa ia tuntut? Bukti yang dipakai bukan langit atau bumi, melainkan riwayat tubuh orang yang ditanya. Ia tidak perlu pergi ke mana pun untuk memeriksanya. Tak ada perjalanan yang perlu ditempuh untuk memeriksanya.