بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

Bukankah telah datang atas manusia suatu masa dari waktu, ketika ia belum merupakan sesuatu yang disebut?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًاhal ataa 'alaa l-insaani hiinun mina d-dahri lam yakun syay'an madzkuuranbukankah telah datang atas manusia suatu masa dari waktu, ketika ia belum merupakan sesuatu yang disebut

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. هَلْhalapakah
  2. أَتَىٰataadatang
  3. عَلَى'alaaatas
  4. الْإِنْسَانِl-insaanimanusia
  5. حِينٌhiinunsuatu masa
  6. مِنَminadari
  7. الدَّهْرِd-dahrimasa
  8. لَمْlamtidak
  9. يَكُنْyakunia menjadi
  10. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  11. مَذْكُورًاmadzkuuranyang disebut

Inti bacaan

Pembukaan Al-Insan dengan pengingat asal-usul: 'bukankah telah datang kepada manusia suatu masa dari waktu, ketika ia belum merupakan sesuatu yang disebut?', pengingat tentang periode ketiadaan sebelum eksistensi, dasar bagi kerendahan hati tentang keberadaan yang bukan hak bawaan melainkan anugerah.

Penjelasan pilihan kata

'Hal' diterjemahkan pertanyaan retoris 'bukankah', pembacaan yang lazim untuk konteks penegasan ini.

Rangkaian (هَلْ أَتَىٰ, hal ataa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk lain yang mirip, yang menyapa satu orang, muncul 6 kali: 20:9, 38:21, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1.

Perhatikan perbedaan keduanya. Yang enam itu menyapa satu orang, dan yang di sini tidak menyapa siapa pun.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pertanyaannya di sini dibiarkan menggantung tanpa alamat.

Kata (الدَّهْرِ, ad-dahr) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 45:24 dan 76:1.

Di 45:24 akar (الدَّهْرِ, ad-dahr) dipakai oleh mereka yang mengatakan bahwa yang membinasakan cuma waktu. Jadi satu akar dipakai untuk bantahan dan untuk pembuktian.

Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pemakaiannya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Kata (مَذْكُورًا, madzkuuran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Artinya sesuatu yang disebut atau diperhitungkan.

Perhatikan bahwa ayat ini menyatakan manusia pernah bukan apa-apa. Yang disebut bukan bahwa ia belum ada, melainkan bahwa ia belum layak disebut.

Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Belum ada menyangkut wujud, dan belum disebut menyangkut kedudukan.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang dipakai adalah kata yang menyangkut penyebutan.

Kata (الْإِنْسَانِ, al-insaan) dengan ujung berbaris kasrah dipakai di 17:83, 32:7, 41:51, dan 76:1, dan tidak di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an. Surah ini dinamai dengan kata itu.

Perhatikan bahwa surah ini dibuka dengan pertanyaan. Cara itu jarang, dan pertanyaannya pun tidak dijawab langsung.

Jawabannya baru datang di 76:2. Di sana disebut dari apa manusia dibuat.

Perhatikan bahwa pertanyaan ini menyangkut masa sebelum seseorang ada. Yang ditanyakan bukan tentang hari nanti, melainkan tentang masa yang tidak bisa diingat siapa pun.

Susunan itu tidak lazim untuk surah yang berbicara tentang hari akhir. Yang lain biasanya memulai dari yang akan datang.

Al-Qur'an tidak menandai kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini bergerak dari sebelum ada menuju sesudah mati.

Perhatikan bahwa (الدَّهْرِ, ad-dahr) menyebut rentang waktu yang panjang. Yang disebut bukan sesaat, melainkan masa yang berjalan lama.

Panjang waktu itu tidak diberi ukuran. Al-Qur'an tidak menyebut berapa lama, dan tidak menyebut kapan ia berakhir.

Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang bertanya. Yang ada cuma pertanyaannya sendiri.

Ketiadaan penanya itu berlaku di seluruh pembuka surahnya. Nama Allah baru disebut di 76:6.

Al-Qur'an tidak menerangkan penundaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima ayat berjalan sebelum nama itu terdengar.

Tafsiran

Ayat ini membuka surahnya dengan pertanyaan tentang masa sebelum manusia ada. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan bentuk lain yang mirip muncul 6 kali di 20:9, 38:21, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1.

Yang enam itu menyapa satu orang, sedangkan yang di sini tidak menyapa siapa pun, sehingga pertanyaannya dibiarkan menggantung tanpa alamat. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Kata kelimanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 45:24 dan 76:1. Di 45:24 akar itu dipakai oleh mereka yang mengatakan bahwa yang membinasakan cuma waktu, sehingga dua pemakaiannya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Kata terakhirnya juga muncul 1 kali, dan artinya sesuatu yang disebut atau diperhitungkan. Ayat ini karena itu menyatakan manusia pernah belum layak disebut, bukan sekadar belum ada.

Kata ketiganya dalam bentuk ini muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 17:83, 32:7, 41:51, dan 76:1, dan surah ini dinamai dengan kata itu. Pertanyaannya baru dijawab di 76:2, dan yang ditanyakan bukan tentang hari nanti melainkan tentang masa yang tidak bisa diingat siapa pun. Ayat ini tidak menyebut siapa yang bertanya, dan yang ada cuma pertanyaannya sendiri. Ketiadaan penanya itu berlaku di seluruh pembuka surahnya, sebab nama Allah baru disebut di 76:6. Al-Qur'an tidak menerangkan penundaan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa lima ayat berjalan sebelum nama itu terdengar.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan bentuk yang menyapa satu orang dipakai 6 kali di 20:9, 38:21, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1. Yang enam itu punya alamat, dan yang di sini tidak. Pertanyaan tanpa alamat menggantung di udara, dan siapa pun yang membacanya bisa merasa ditanya. Pertanyaan tanpa alamat menggantung di udara, dan siapa pun yang membacanya bisa merasa ditanya. Yang enam lainnya punya sasaran yang jelas, dan yang di sini tidak punya. Sebuah pertanyaan tanpa sasaran akan mengenai siapa pun yang kebetulan mendengarnya.
  • Akar kata kelimanya cuma dipakai Allah di 45:24 dan 76:1. Di 45:24 ia dipakai oleh mereka yang mengatakan bahwa yang membinasakan cuma waktu, sedangkan di sini ia dipakai untuk membuktikan asal manusia. Satu akar berdiri di dua sisi yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Satu akar berdiri di dua sisi yang berlawanan, dan Al-Qur'an sama sekali tidak menyandingkan keduanya. Yang dipakai untuk membantah di satu tempat dipakai untuk membuktikan di tempat lain.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan artinya sesuatu yang disebut atau diperhitungkan. Yang dinyatakan bukan bahwa manusia belum ada, melainkan bahwa ia belum layak disebut. Belum ada menyangkut wujud, sedangkan belum disebut menyangkut kedudukan, dan perbedaan sehalus itu mengubah seluruh nadanya. Perbedaan yang sehalus itu ternyata mengubah seluruh nada ayatnya. Yang dinyatakan bukan ketiadaan wujud, melainkan ketiadaan kedudukan yang layak disebut.
  • Kata ketiganya dalam bentuk ini dipakai Allah 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 17:83, 32:7, 41:51, dan 76:1. Surah ini dinamai dengan kata itu, dan namanya diambil dari ayat pertamanya. Sebuah surah yang dinamai manusia dibuka dengan pernyataan bahwa manusia pernah bukan apa-apa. Sebuah surah yang dinamai manusia dibuka dengan pernyataan bahwa manusia pernah bukan apa-apa. Namanya diambil dari ayat pertamanya, dan ayat itu justru mengecilkan kedudukan pihak yang dinamai.
  • Pertanyaan ini menyangkut masa sebelum seseorang ada, bukan tentang hari nanti. Allah memulai surahnya dari masa yang tidak bisa diingat siapa pun. Susunan itu tidak lazim untuk surah yang berbicara tentang hari akhir, karena yang lain biasanya memulai dari yang akan datang. Susunan itu tidak lazim untuk surah yang berbicara tentang hari akhir. Yang lain biasanya memulai dari yang akan datang, sedangkan yang ini memulai dari yang sudah lama lewat.
  • Kata kelimanya menyebut rentang waktu yang panjang, bukan sesaat. Allah tidak menyebut berapa lama, dan tidak menyebut kapan ia berakhir. Kalau seseorang tidak bisa mengingat masa ketika dirinya belum berarti apa-apa, atas dasar apa ia merasa dirinya selalu berarti? Waktu yang disebut tidak diberi ukuran sama sekali oleh Allah. Tidak ada bilangan tahun di dalamnya, dan tidak ada satu tanda pun kapan masa itu berakhir.