Ayat 76:2
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya, sehingga Kami menjadikannya dapat mendengar dan melihat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًاinnaa khalaqnaa l-insaana min nuthfatin amsyaajin nabtaliihi fa-ja'alnaahu samii'an bashiiransesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, Kami hendak mengujinya, sehingga Kami menjadikannya dapat mendengar dan melihat
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- خَلَقْنَاkhalaqnaaKami ciptakan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- مِنْmindari
- نُطْفَةٍnuthfatinnutfah
- أَمْشَاجٍamsyaajinyang bercampur
- نَبْتَلِيهِnabtaliihiKami mengujinya
- فَجَعَلْنَاهُfa-ja'alnaahumaka Kami menjadikannya
- سَمِيعًاsamii'anmendengar
- بَصِيرًاbashiiranmelihat
Inti bacaan
Tujuan penciptaan yang eksplisit: 'menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya. sehingga menjadikannya dapat mendengar dan melihat', kerangka bahwa kemampuan sensorik diberikan justru untuk tujuan ujian, kapasitas indrawi bukan sekadar kebetulan biologis melainkan alat untuk menjalani tanggung jawab moral.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(dengan perintah dan larangan)' tidak dipakai.
Kata (أَمْشَاجٍ, amsyaaj) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya juga cuma dipakai di ayat ini.
Jadi akar (أَمْشَاجٍ, amsyaaj) tidak punya satu pun pemakaian lain. Seluruh hidupnya di dalam Al-Qur'an berada di satu tempat.
Perhatikan bahwa surah ini memuat tiga bunyi dasar seperti itu. Dua yang lain ada di 76:10 dan 76:13.
Al-Qur'an tidak menandai kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu surah tiga puluh satu ayat memuat tiga akar yang tidak dipakai di surah lain mana pun.
Kata (نَبْتَلِيهِ, nabtaliihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 35 ayat, antara lain 2:155, 3:186, 21:35, dan 47:31.
Arti akar (نَبْتَلِيهِ, nabtaliihi) adalah menguji. Jadi tujuan penciptaannya disebut di dalam ayat yang sama dengan bahannya.
Kata (نُطْفَةٍ, nuthfah) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an: 16:4, 18:37, 22:5, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 76:2, dan 80:19. Semuanya menyebut asal manusia.
Rangkaian (سَمِيعًا بَصِيرًا, samii'an bashiiran) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:58, 4:134, dan 76:2. Di 4:58 dan 4:134 rangkaian itu menyifati Allah.
Perhatikan bahwa di sini rangkaian yang sama menyifati manusia. Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sifat yang biasanya menyifati Yang Mencipta di sini menyifati yang dicipta. Dua dari tiga pemakaiannya berada di satu surah yang sama.
Perhatikan bahwa ayat ini menjawab pertanyaan di 76:1. Yang tadinya bukan apa-apa kini disebut bahannya.
Jawabannya datang cepat. Cuma satu ayat memisahkan pertanyaan dari jawabannya.
Perhatikan bahwa jawabannya memuat tiga hal sekaligus. Bahannya, tujuannya, dan alat yang diberikan kepadanya.
Kepadatan itu tidak lazim. Satu ayat memuat seluruh keterangan yang dibutuhkan untuk menjawab.
Perhatikan bahwa alat yang disebut cuma dua, yaitu pendengaran dan penglihatan. Tidak disebut akal, tidak disebut tenaga, dan tidak disebut lidah.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua alat penerima disebut, dan alat pengolah tidak.
Perhatikan bahwa dua alat itu sama-sama menerima dari luar. Keduanya bekerja dengan menangkap, bukan dengan menghasilkan.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut campuran, bukan bahan tunggal. Yang disebut adalah sesuatu yang tersusun dari lebih dari satu unsur.
Keterangan itu tidak diberi rincian. Al-Qur'an tidak menyebut unsurnya apa saja, dan tidak menyebut berapa banyak.
Perhatikan pula bahwa ujian disebut sebagai alasan, bukan sebagai akibat. Manusia dibuat untuk diuji, bukan diuji karena sudah dibuat.
Susunan itu menaruh tujuan di dalam penciptaannya sendiri. Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu dengan satu kalimat pun.
Perhatikan pula bahwa alat yang diberikan disebut sesudah tujuannya. Urutannya bergerak dari bahan ke tujuan lalu ke bekal.
Ketiga hal itu disusun dalam satu kalimat tanpa satu penghubung pun yang menandai batasnya.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan di 76:1 dengan menyebut bahan, tujuan, dan alat sekaligus. Kata keenamnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di ayat ini.
Jadi seluruh hidup akar itu berada di satu tempat, dan surah ini memuat tiga akar seperti itu karena dua yang lain ada di 76:10 dan 76:13. Al-Qur'an tidak menandai kekhususan itu dengan satu kalimat pun.
Kata ketujuhnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 35 ayat, antara lain 2:155, 3:186, 21:35, dan 47:31. Arti akarnya menguji, sehingga tujuan penciptaannya disebut di dalam ayat yang sama dengan bahannya.
Kata kelimanya muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 16:4, 18:37, 22:5, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 76:2, dan 80:19, dan semuanya menyebut asal manusia. Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 3 kali, yaitu 4:58, 4:134, dan 76:2, dan di dua ayat surah 4 rangkaian itu menyifati Allah.
Di sini rangkaian yang sama menyifati manusia, dan Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Alat yang disebut juga cuma dua, yaitu pendengaran dan penglihatan, dan keduanya sama-sama bekerja dengan menangkap dari luar. Ayat ini menyebut campuran dan bukan bahan tunggal, sehingga yang disebut adalah sesuatu yang tersusun dari lebih dari satu unsur, tanpa rincian tentang unsurnya maupun jumlahnya. Ujian juga disebut sebagai alasan dan bukan sebagai akibat, karena manusia dibuat untuk diuji dan bukan diuji karena sudah dibuat. Alat yang diberikan disebut sesudah tujuannya, sehingga urutannya bergerak dari bahan ke tujuan lalu ke bekal dalam satu kalimat.
Renungan dan Hikmah
- Kata keenamnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di ayat ini. Seluruh hidup akar itu berada di satu tempat, sehingga tidak ada pembanding sama sekali untuknya. Artinya cuma bisa didekati dari kalimatnya sendiri. Seluruh hidup akar itu berada di satu tempat, sehingga tidak ada pembanding sama sekali untuknya. Artinya cuma bisa didekati dari kalimatnya sendiri, dan kalimat itu pun tidak memberi satu rincian pun. Yang tersedia tinggal bentuk katanya sendiri dan tempat ia berdiri di dalam kalimatnya.
- Surah ini memuat tiga akar yang tidak dipakai Allah di surah lain mana pun, yaitu di 76:2, 76:10, dan 76:13. Satu surah tiga puluh satu ayat memuat tiga akar sekali pakai. Kepadatan seperti itu tidak lazim, dan Al-Qur'an tidak menandainya dengan satu kalimat pun. Satu surah tiga puluh satu ayat memuat tiga akar sekali pakai. Kepadatan seperti itu tidak lazim, dan ketiganya berdiri di tiga bagian surahnya yang berbeda-beda tanpa saling berdekatan.
- Rangkaian dua kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 4:58, 4:134, dan 76:2. Di dua ayat surah 4 rangkaian itu menyifati Allah, sedangkan di sini ia menyifati manusia. Dua sifat yang biasanya menyifati Yang Mencipta di sini menyifati yang dicipta, dan Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Dua sifat yang biasanya menyifati Yang Mencipta di sini menyifati yang dicipta. Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu, dan cuma pembaca yang membandingkan ketiga ayatnya akan menemukan sendiri kaitannya.
- Kata ketujuhnya berasal dari akar yang artinya menguji, dan akar itu dipakai Allah di 35 ayat, antara lain 2:155, 3:186, 21:35, dan 47:31. Tujuan penciptaannya disebut di dalam ayat yang sama dengan bahannya. Yang dibuat dan alasan ia dibuat tidak dipisahkan ke dua ayat. Yang dibuat dan alasan ia dibuat sama sekali tidak dipisahkan ke dua ayat. Tujuannya disebut di dalam kalimat yang sama dengan bahannya, sehingga keduanya sama sekali tidak bisa dibaca terpisah.
- Alat yang disebut Allah cuma dua, yaitu pendengaran dan penglihatan, sedangkan akal, tenaga, dan lidah tidak disebut. Dua alat itu sama-sama menerima dari luar dan bekerja dengan menangkap, bukan dengan menghasilkan. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Dua alat itu sama-sama bekerja dengan menangkap, bukan dengan menghasilkan. Akal, tenaga, dan lidah sama sekali tidak disebut di sini, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
- Yang tadinya disebut bukan apa-apa di 76:1 kini disebut bahannya oleh Allah, dan cuma satu ayat memisahkan pertanyaan dari jawabannya. Satu ayat memuat bahan, tujuan, dan alat sekaligus. Kalau seluruh keterangan itu muat dalam satu baris, apa yang membuat manusia merasa dirinya terlalu rumit untuk diringkas? Satu ayat memuat bahan, tujuan, dan alat sekaligus. Apa yang membuat manusia merasa dirinya terlalu rumit untuk diringkas, kalau seluruh keterangan tentang asal-usulnya muat dalam satu baris?
Ayat 76:3
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًاinnaa hadaynaahu s-sabiila immaa syaakiran wa-immaa kafuuransesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan, ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur
Terjemahan per kata (7 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- هَدَيْنَاهُhadaynaahuKami menunjukinya
- السَّبِيلَs-sabiilajalan
- إِمَّاimmaajika
- شَاكِرًاsyaakiranyang bersyukur
- وَإِمَّاwa-immaadan adapun jika
- كَفُورًاkafuuranyang sangat ingkar
Inti bacaan
Pemberian petunjuk dengan hasil yang bervariasi: 'Kami telah menunjukkan kepadanya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur', pengakuan bahwa petunjuk yang sama diberikan kepada semua, namun respons berbeda berdasarkan pilihan masing-masing, kebebasan yang menghasilkan keragaman hasil.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(yang lurus)' tidak dipakai.
Kata (هَدَيْنَاهُ, hadainaahu) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:68, 6:87, 37:118, 41:17, 76:3, dan 90:10. Semuanya menyebut penunjukan jalan.
Perhatikan bahwa di 41:17 kata (هَدَيْنَاهُ, hadainaahu) dipakai untuk kaum yang lebih memilih kebutaan. Di 90:10 ia dipakai untuk dua jalan yang ditunjukkan kepada manusia.
Jadi penunjukan jalan disebut berulang, dan hasilnya tidak selalu sama. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan hasil itu.
Kata (شَاكِرًا, syaakiran) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:147, 16:121, dan 76:3. Artinya orang yang bersyukur.
Kata (كَفُورًا, kafuuran) dipakai di 17:27, 17:67, 76:3, dan 76:24, dan tidak di ayat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an. Dua di antaranya ada di surah ini.
Perhatikan bahwa dua kemunculan di surah ini berdiri di dua kedudukan yang berbeda. Di sini ia salah satu dari dua pilihan, dan di 76:24 ia pihak yang tidak boleh diikuti.
Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan muncul sebagai pilihan lalu sebagai peringatan.
Perhatikan bahwa ayat ini menyebut dua kemungkinan, bukan satu. Yang ditunjukkan jalannya bisa berterima kasih dan bisa menolak.
Susunan itu berbeda dari 76:2. Di sana yang disebut cuma pemberian, dan di sini yang disebut dua arah.
Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pemberian disebut lebih dulu dan pilihan menyusul.
Perhatikan bahwa urutan itu masuk akal. Alat diberikan dulu, lalu jalan ditunjukkan, lalu pilihan dibuka.
Tiga ayat pertama surah ini karena itu menyusun satu urutan. Dari belum ada, menjadi ada, lalu diberi pilihan.
Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga ayat berurutan menyebut tiga tahap yang memang berurutan.
Perhatikan bahwa ketiga ayat itu sama-sama dibuka penegas. Tiga kali berturut-turut pernyataannya dikuatkan.
Pengulangan itu berhenti di 76:4. Di sana penegasnya masih ada, tetapi isinya berpindah ke akibat.
Perhatikan pula bahwa jalan yang ditunjukkan disebut tunggal. Yang disebut bukan dua jalan, melainkan satu jalan yang ditunjukkan.
Yang bercabang dua adalah tanggapannya, bukan jalannya. Al-Qur'an tidak menyatakan pembedaan itu dengan satu kalimat pun.
Perhatikan pula bahwa (شَاكِرًا, syaakiran) dan (كَفُورًا, kafuuran) seimbang panjangnya. Keduanya berdiri sejajar di ujung ayat.
Kesejajaran itu membuat keduanya terdengar sebagai pilihan yang sama-sama terbuka. Tidak ada yang dilukiskan lebih mudah daripada yang lain.
Perhatikan pula bahwa penunjukan jalan disebut sebagai pemberian. Ia berdiri di deretan yang sama dengan bahan dan alat.
Jadi tiga ayat pertama surah ini seluruhnya menyebut apa yang diberikan. Pilihan baru muncul di ujung ayat ketiga.
Tafsiran
Ayat ini menyebut dua arah yang terbuka bagi manusia sesudah jalannya ditunjukkan. Kata keduanya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 4:68, 6:87, 37:118, 41:17, 76:3, dan 90:10, dan semuanya menyebut penunjukan jalan.
Di 41:17 kata itu dipakai untuk kaum yang lebih memilih kebutaan, dan di 90:10 untuk dua jalan yang ditunjukkan kepada manusia. Jadi penunjukan jalan disebut berulang, dan hasilnya tidak selalu sama.
Kata keempatnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 4:147, 16:121, dan 76:3, sedangkan kata terakhirnya muncul 4 kali, yaitu 17:27, 17:67, 76:3, dan 76:24. Dua di antaranya ada di surah ini, dan keduanya berdiri di dua kedudukan yang berbeda.
Ayat ini menyebut dua kemungkinan dan bukan satu, berbeda dari 76:2 yang cuma menyebut pemberian. Pemberian disebut lebih dulu, dan pilihan menyusul di ayat berikutnya.
Tiga ayat pertama surah ini karena itu menyusun satu urutan, yaitu dari belum ada, menjadi ada, lalu diberi pilihan. Ketiganya juga sama-sama dibuka penegas, dan pengulangan itu berhenti isinya di 76:4. Jalan yang ditunjukkan disebut tunggal, bukan dua, sehingga yang bercabang dua adalah tanggapannya dan bukan jalannya. Dua tanggapan itu disebut dengan kata yang seimbang panjangnya dan berdiri sejajar di ujung ayat, sehingga keduanya terdengar sebagai pilihan yang sama-sama terbuka. Penunjukan jalan juga disebut sebagai pemberian, berdiri di deretan yang sama dengan bahan dan alat, sehingga tiga ayat pertama surah ini seluruhnya menyebut apa yang diberikan.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya dipakai Allah 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 4:68, 6:87, 37:118, 41:17, 76:3, dan 90:10. Di 41:17 ia dipakai untuk kaum yang lebih memilih kebutaan, dan di 90:10 untuk dua jalan yang ditunjukkan. Penunjukan jalan disebut berulang, dan hasilnya tidak selalu sama. Penunjukan jalan disebut berulang, dan hasilnya tidak selalu sama. Enam ayat memakai kata yang sama persis, dan yang menerima petunjuk itu tidak selalu mengikutinya sampai akhir. Petunjuk yang diberikan ternyata tidak menjamin arah yang akhirnya diambil oleh orang yang menerimanya.
- Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 17:27, 17:67, 76:3, dan 76:24, dan dua di antaranya ada di surah ini. Di sini ia salah satu dari dua pilihan, dan di 76:24 ia pihak yang tidak boleh diikuti. Satu kata muncul sebagai pilihan lalu sebagai peringatan, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Satu kata muncul sebagai pilihan lalu sebagai peringatan, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Jarak dua puluh satu ayat memisahkan kedua kemunculannya di surah ini, dan tidak ada satu penunjuk pun yang dipasang di antaranya.
- Allah menyebut dua kemungkinan di sini, bukan satu, sehingga yang ditunjukkan jalannya bisa berterima kasih dan bisa menolak. Susunan itu berbeda dari 76:2, yang cuma menyebut pemberian. Pemberian disebut lebih dulu, dan pilihan menyusul sesudahnya. Pemberian disebut lebih dulu, dan pilihan menyusul sesudahnya. Susunan itu berbeda dari 76:2, yang cuma menyebut apa yang diberikan tanpa sekali pun menyinggung tanggapan dari penerimanya.
- Tiga ayat pertama surah ini menyusun satu urutan, yaitu dari belum ada, menjadi ada, lalu diberi pilihan. Allah tidak menyatakan urutan itu, dan tiga ayat berurutan menyebut tiga tahap yang memang berurutan. Alat diberikan dulu, lalu jalan ditunjukkan, lalu pilihan dibuka. Alat diberikan dulu, lalu jalan ditunjukkan, lalu pilihan dibuka. Tiga ayat berurutan menyebut tiga tahap yang memang berurutan, dan Allah tidak menyatakan urutan itu dengan satu kalimat pun.
- Ketiga ayat pertama surah ini sama-sama dibuka penegas oleh Allah, sehingga tiga kali berturut-turut pernyataannya dikuatkan. Pengulangan itu berlanjut ke 76:4 dengan isi yang berpindah ke akibat. Empat penegasan beruntun di pembuka surah menandai bahwa keempatnya dianggap sama pentingnya. Lima penegasan beruntun di pembuka surah menandai bahwa kelima pernyataan itu dianggap sama pentingnya oleh yang menyampaikannya. Sesudah 76:5 penegas pembukanya berhenti sampai jauh di belakang, yaitu sampai 76:22.
- Allah memberi alat pendengaran dan penglihatan di 76:2, lalu menunjukkan jalan di sini. Kalau pilihan baru dibuka sesudah alat untuk memilih diberikan, apa yang tersisa untuk dijadikan alasan oleh yang salah memilih? Pilihan baru dibuka sesudah alat untuk memilih diberikan. Apa yang masih tersisa untuk dijadikan alasan oleh orang yang salah memilih, kalau bekalnya sudah dilengkapi sejak awal?