إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا
Sesungguhnya Kami sediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu, dan api yang menyala-nyala.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًاinnaa a'tadnaa li-l-kaafiriina salaasila wa-aghlaalan wa-sa'iiransesungguhnya Kami sediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu, dan api yang menyala-nyala
Terjemahan per kata (6 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- أَعْتَدْنَاa'tadnaaKami menyediakan
- لِلْكَافِرِينَli-l-kaafiriinabagi orang-orang yang kufur
- سَلَاسِلَsalaasilarantai-rantai
- وَأَغْلَالًاwa-aghlaalandan belenggu-belenggu
- وَسَعِيرًاwa-sa'iirandan api yang menyala
Inti bacaan
Konsekuensi yang dipersiapkan sebelumnya: 'Kami sediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu, dan api yang menyala-nyala', kesiapan konsekuensi yang sudah ditetapkan sejak awal, bukan keputusan mendadak melainkan bagian dari sistem keadilan yang konsisten.
Penjelasan pilihan kata
Kata (أَعْتَدْنَا, a'tadnaa) muncul 13 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:18, 18:29, 25:11, dan 67:5. Artinya kami sediakan.
Kata (سَلَاسِلَ, salaasila) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 40:71, 69:32, dan 76:4.
Di 40:71 dan 69:32 akar (سَلَاسِلَ, salaasila) juga dipakai untuk belenggu. Jadi ketiga pemakaiannya menyebut hal yang sama.
Kata (وَأَغْلَالًا, wa aghlaalan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 13 ayat, antara lain 7:157, 13:5, 34:33, dan 36:8.
Kata (وَسَعِيرًا, wa sa'iiran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 4:10, 25:11, 31:21, dan 67:5.
Perhatikan bahwa tiga hal disebut berturut-turut di ayat ini. Dua yang pertama mengikat, dan yang ketiga membakar.
Susunan itu bergerak dari yang menahan ke yang menyakiti. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu.
Perhatikan bahwa ketiganya cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Tiga sebutan sekali pakai berdiri di satu ayat.
Kepadatan itu tidak lazim. Al-Qur'an tidak menandainya dengan satu kalimat pun.
Perhatikan bahwa ayat ini menyebut apa yang disediakan bagi yang menolak. Bagian sebelumnya menyebut pilihan, dan bagian ini menyebut akibat salah satu pilihan.
Yang mengejutkan adalah panjangnya. Akibat bagi yang menolak disebut dalam satu ayat, dan akibat bagi yang bersyukur disebut dalam delapan belas ayat.
Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu ayat berbanding delapan belas ayat.
Perhatikan bahwa perbandingan itu berlawanan dengan surah tetangganya. Di 77:29 sampai 77:39 hukumannya diberi sebelas ayat, dan pemberiannya empat ayat.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah bertetangga membagi ruangnya dengan cara yang berlawanan.
Perhatikan bahwa penyebutan hukuman di sini juga tidak diulang. Sesudah ayat ini surahnya tidak kembali ke hukuman sampai ayat terakhirnya.
Perhatikan pula bahwa (أَعْتَدْنَا, a'tadnaa) menyebut penyediaan, bukan penciptaan. Yang dinyatakan adalah bahwa hal itu sudah disiapkan.
Ia menyatakan pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan. Yang disediakan sudah ada jauh sebelum yang menerimanya sampai ke sana.
Perhatikan pula bahwa yang disebut tiga benda, bukan satu keadaan. Belenggu, rantai, dan api dilukiskan sebagai barang.
Cara itu berbeda dari bagian berikutnya. Di sana yang disebut minuman, pakaian, dan pelayan, yang juga berupa barang.
Jadi dua bagian yang berlawanan sama-sama dilukiskan lewat benda. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya memakai cara melukiskan yang sama untuk isi yang bertolak belakang.
Tafsiran
Ayat ini menyebut apa yang disediakan bagi yang menolak, dan cuma satu ayat dipakai untuknya. Kata keduanya muncul 13 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:18, 18:29, 25:11, dan 67:5, dan artinya kami sediakan.
Kata keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 40:71, 69:32, dan 76:4. Di 40:71 dan 69:32 akar itu juga dipakai untuk belenggu, sehingga ketiga pemakaiannya menyebut hal yang sama.
Kata kelimanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 13 ayat, antara lain 7:157, 13:5, 34:33, dan 36:8. Kata terakhirnya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 4:10, 25:11, 31:21, dan 67:5.
Tiga hal disebut berturut-turut di ayat ini, karena dua yang pertama mengikat sedangkan yang ketiga membakar, sehingga susunannya bergerak dari yang menahan ke yang menyakiti. Ketiganya juga cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an.
Akibat bagi yang menolak disebut dalam satu ayat, sedangkan akibat bagi yang bersyukur disebut dalam delapan belas ayat. Perbandingan itu berlawanan dengan surah tetangganya, karena di 77:29 sampai 77:39 hukumannya diberi sebelas ayat dan pemberiannya empat ayat. Ayat ini memakai bentuk yang menyebut penyediaan dan bukan penciptaan, sehingga yang disebut adalah bahwa hal itu sudah disiapkan sebelum yang menerimanya sampai. Yang disebut juga tiga benda dan bukan satu keadaan, karena belenggu, rantai, dan api dilukiskan sebagai barang. Bagian berikutnya juga melukiskan lewat benda, sehingga dua bagian yang berlawanan memakai cara melukiskan yang sama untuk isi yang bertolak belakang.
Renungan dan Hikmah
- Ketiga hal yang disebut Allah di ayat ini dinamai dengan kata yang cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Tiga kata sekali pakai berdiri berdampingan di satu ayat pendek. Kepadatan seperti itu tidak lazim, dan Al-Qur'an tidak menandainya dengan satu kalimat pun. Tiga sebutan sekali pakai berdiri berdampingan di satu ayat pendek. Kepadatan seperti itu tidak lazim di ayat yang sependek ini, dan Al-Qur'an tidak pernah menandainya dengan satu kalimat pun.
- Akar kata keempatnya cuma dipakai Allah di 40:71, 69:32, dan 76:4. Di 40:71 dan 69:32 akar itu juga dipakai untuk belenggu, sehingga ketiga pemakaiannya menyebut hal yang sama. Sebuah akar yang cuma hidup di tiga ayat dan selalu untuk satu maksud tidak pernah terpakai untuk hal lain. Sebuah akar yang cuma hidup di tiga ayat dan selalu untuk satu maksud tidak pernah terpakai untuk hal lain. Ketiga pemakaiannya sama-sama menyebut belenggu, dan tidak satu pun menyimpang ke arti yang lain. Sebuah kata yang tidak pernah berpindah arti jauh lebih mudah dipegang maksudnya oleh pembacanya.
- Dua hal pertama yang disebut Allah mengikat, dan yang ketiga membakar. Susunannya bergerak dari yang menahan ke yang menyakiti. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya disebut dalam susunan yang meningkat. Susunan ketiganya bergerak dari yang menahan menuju yang menyakiti. Rantai dan belenggu cuma mengunci tempatnya, sedangkan api mengenai tubuh yang sudah terkunci itu.
- Akibat bagi yang menolak disebut Allah dalam satu ayat, sedangkan akibat bagi yang bersyukur disebut dalam delapan belas ayat. Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu. Perbandingan satu berbanding delapan belas menandai ke mana surah ini memusatkan perhatiannya. Perbandingan satu berbanding delapan belas menandai ke mana surah ini memusatkan perhatiannya. Akibat bagi yang menolak cukup satu ayat saja, sedangkan seluruh sisa surahnya diberikan untuk yang bersyukur.
- Di 77:29 sampai 77:39 hukumannya diberi Allah sebelas ayat dan pemberiannya empat ayat, sedangkan di sini perbandingannya terbalik. Dua surah bertetangga membagi ruangnya dengan cara yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu, dan ia cuma terlihat kalau keduanya dihitung. Dua surah bertetangga membagi ruangnya dengan cara yang berlawanan. Di 77:29 sampai 77:39 hukumannya diberi sebelas ayat penuh, sedangkan di surah ini cuma satu ayat saja.
- Sesudah ayat ini Allah tidak kembali ke hukuman sampai ayat terakhir surahnya. Satu penyebutan saja, lalu seluruh sisanya berpindah ke yang lain. Kalau peringatan cukup diucapkan sekali, apa yang membuat sebuah surah memilih menghabiskan sisanya untuk menggambarkan yang menyenangkan? Sesudah ayat ini Allah tidak kembali ke hukuman sampai ayat terakhir surahnya. Kalau peringatan cukup diucapkan sekali saja, apa yang membuat sebuah surah memilih menghabiskan seluruh sisa ruangnya untuk yang menyenangkan?