عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا

Mata air yang diminum oleh hamba-hamba Allah, yang mereka pancarkan dengan sungguh-sungguh.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا'aynan yasyrabu bihaa 'ibaadu llaahi yufajjiruunahaa tafjiiranmata air yang diminum oleh hamba-hamba Allah, yang mereka pancarkan dengan sungguh-sungguh

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. عَيْنًا'aynanmata air
  2. يَشْرَبُyasyrabuminum
  3. بِهَاbihaadarinya
  4. عِبَادُ'ibaaduhamba-hamba
  5. اللَّهِllaahiAllah
  6. يُفَجِّرُونَهَاyufajjiruunahaamereka mengalirkannya
  7. تَفْجِيرًاtafjiiransederas-derasnya

Inti bacaan

Sumber yang dikelola aktif oleh penerimanya: 'mata air yang diminum oleh hamba-hamba Allah, yang mereka pancarkan dengan sungguh-sungguh', gambaran partisipasi aktif dalam menikmati anugerah, bukan penerimaan pasif melainkan keterlibatan langsung mengelola sumber kenikmatan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(yaitu)' tidak dipakai: fragmen apositif lanjutan dari 'kaafuuran' di 76:5, tanpa menambahkan kata pembuka.

Kata (يُفَجِّرُونَهَا, yufajjiruunahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:90, 36:34, dan 54:12.

Di 2:60 dan 54:12 akar (يُفَجِّرُونَهَا, yufajjiruunahaa) dipakai untuk air yang memancar dari batu dan dari bumi. Jadi akar itu menamai memancarkan air.

Perhatikan bahwa di ayat-ayat itu yang memancarkan adalah Allah. Di sini yang memancarkan adalah hamba-hamba-Nya.

Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pekerjaan yang biasanya disandarkan kepada Yang Mencipta di sini disandarkan kepada yang dicipta.

Perhatikan bahwa ayat ini menerangkan minuman yang disebut di 76:5. Ia tidak berdiri sendiri, dan tidak punya kata kerja pembuka.

Susunan itu memaksa dua ayat dibaca sekaligus. Membaca ayat ini sendirian membuatnya kehilangan pokok yang diterangkannya.

Perhatikan bahwa mata airnya disebut sesudah minumannya. Urutan itu bergerak dari yang diterima ke sumbernya.

Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang dekat disebut lebih dulu dan sumbernya menyusul.

Perhatikan bahwa mereka disebut hamba-hamba Allah. Sebutan itu berbeda dari sebutan di 76:5.

Jadi dua ayat berurutan memakai dua sebutan untuk pihak yang sama. Yang pertama menyebut perbuatannya, dan yang kedua menyebut hubungannya.

Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu pihak dinamai dua kali dengan dua sudut yang berbeda.

Perhatikan bahwa nama Allah baru disebut di ayat ini. Lima ayat sebelumnya tidak menyebut nama itu satu kali pun.

Al-Qur'an tidak menandai penundaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima ayat pembuka memakai bentuk kami tanpa menyebut nama.

Perhatikan bahwa mereka digambarkan memancarkannya sendiri. Yang dijanjikan bukan cuma menerima, melainkan ikut mengerjakan.

Pilihan itu tidak lazim di dalam gambaran pemberian. Yang biasa dilukiskan adalah menerima, dan yang di sini dilukiskan berbuat.

Perhatikan pula bahwa mata air itu disebut satu, bukan banyak. Yang disebut sumber tunggal yang mereka pancarkan sendiri.

Cara itu berbeda dari 77:41, yang menyebut mata air lebih dari satu. Dua surah bertetangga memakai bilangan yang berbeda.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang satu menyebut banyak dan yang lain menyebut satu.

Perhatikan pula bahwa (يَشْرَبُ, yasyrabu) menaruh mereka sebagai pelaku. Mereka disebut meminum darinya, bukan diberi minum.

Cara itu berubah di 76:17 dan 76:21. Di sana mereka disebut diberi minum, dan bukan meminum sendiri.

Jadi surah ini memakai dua cara untuk hal yang sama. Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu.

Tafsiran

Ayat ini menerangkan sumber minuman yang disebut di 76:5. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:90, 36:34, dan 54:12.

Di 2:60 dan 54:12 akar itu dipakai untuk air yang memancar dari batu dan dari bumi, sehingga ia menamai memancarkan air. Di ayat-ayat itu yang memancarkan adalah Allah, sedangkan di sini yang memancarkan adalah hamba-hamba-Nya.

Ayat ini tidak berdiri sendiri dan tidak punya kata kerja pembuka, sehingga dua ayat harus dibaca sekaligus. Mata airnya juga disebut sesudah minumannya, sehingga urutannya bergerak dari yang diterima ke sumbernya.

Mereka disebut hamba-hamba Allah, dan sebutan itu berbeda dari sebutan di 76:5. Jadi dua ayat berurutan memakai dua sebutan untuk pihak yang sama, yaitu perbuatannya dan hubungannya.

Nama Allah juga baru disebut di ayat ini, sebab lima ayat sebelumnya tidak menyebutnya satu kali pun. Mereka juga digambarkan memancarkannya sendiri, sehingga yang dijanjikan bukan cuma menerima melainkan ikut mengerjakan. Mata air itu disebut satu dan bukan banyak, berbeda dari 77:41 yang menyebutnya dalam bentuk jamak, sehingga dua surah bertetangga memakai bilangan yang berbeda. Mereka juga disebut meminum darinya dan bukan diberi minum, sehingga bentuk yang dipakai menaruh mereka sebagai pelaku. Cara itu berubah di 76:17 dan 76:21, ketika mereka disebut diberi minum, sehingga surah ini memakai dua cara untuk hal yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:90, 36:34, dan 54:12, dan di 2:60 serta 54:12 ia menamai air yang dipancarkan Allah. Di sini yang memancarkan adalah hamba-hamba-Nya sendiri. Tangan yang biasanya disebut sebagai milik Yang Mencipta kini menjadi milik yang dicipta. Pekerjaan yang biasanya disandarkan kepada Yang Mencipta di sini disandarkan kepada yang dicipta. Dua puluh satu ayat memakai akar yang sama, dan cuma di sini pelakunya berpindah kepada manusia. Yang dijanjikan ternyata bukan cuma tempat, melainkan juga pekerjaan.
  • Allah menyebut mata airnya sesudah minumannya, sehingga urutannya bergerak dari yang diterima ke sumbernya. Yang dekat disebut lebih dulu, dan sumbernya menyusul. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan susunan seperti itu mengikuti cara orang mengalami sesuatu. Yang dekat disebut lebih dulu, dan sumbernya menyusul. Susunan seperti itu mengikuti cara orang mengalami sesuatu, dan bukan cara orang menerangkannya kepada orang lain.
  • Sebutan di ayat ini berbeda dari sebutan di 76:5, sehingga dua ayat berurutan memakai dua nama untuk pihak yang sama. Yang pertama menyebut perbuatannya, dan yang kedua menyebut hubungannya dengan Allah. Satu pihak dinamai dua kali dengan dua sudut yang berbeda tanpa satu kalimat penjelas. Satu pihak dinamai dua kali dengan dua sudut yang berbeda tanpa satu kalimat penjelas. Yang pertama menyebut perbuatan mereka, dan yang kedua menyebut hubungan mereka dengan Allah.
  • Nama Allah baru disebut di ayat keenam surah ini, sebab lima ayat sebelumnya memakai bentuk kami tanpa menyebut nama. Al-Qur'an tidak menandai penundaan itu. Nama yang ditahan lima ayat lalu muncul di tengah gambaran pemberian terdengar berbeda dari nama yang disebut sejak awal. Nama yang ditahan lima ayat lalu muncul di tengah gambaran pemberian terdengar berbeda dari nama yang disebut sejak awal. Lima ayat pembuka surah ini memakai bentuk kami tanpa sekali pun menyebut nama itu.
  • Mereka digambarkan Allah memancarkan mata airnya sendiri, sehingga yang dijanjikan bukan cuma menerima melainkan ikut mengerjakan. Pilihan itu tidak lazim di dalam gambaran pemberian, karena yang biasa dilukiskan adalah menerima. Yang dijanjikan di sini tetap punya sesuatu untuk dikerjakan. Yang dijanjikan di sini tetap punya sesuatu untuk dikerjakan. Pilihan itu tidak lazim di dalam gambaran pemberian, sebab yang biasa dilukiskan adalah pihak yang menerima.
  • Ayat ini tidak punya kata kerja pembuka dan menerangkan minuman yang disebut di 76:5. Membacanya sendirian membuatnya kehilangan pokok yang diterangkannya. Kalau sebuah keterangan tidak bisa berdiri tanpa ayat sebelumnya, apa yang hilang dari orang yang membaca ayat demi ayat secara terpisah? Membaca ayat ini sendirian membuatnya kehilangan pokok yang diterangkannya. Apa yang hilang dari orang yang membaca ayat demi ayat secara terpisah, kalau sebagian ayat memang tidak disusun untuk berdiri sendirian?