وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
Dan mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًاwa-yuth'imuuna th-tha'aama 'alaa hubbihi miskiinan wa-yatiiman wa-asiirandan mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan
Terjemahan per kata (7 kata)
- وَيُطْعِمُونَwa-yuth'imuunadan mereka memberi makan
- الطَّعَامَth-tha'aamamakanan
- عَلَىٰ'alaaatas
- حُبِّهِhubbihikecintaannya
- مِسْكِينًاmiskiinanorang miskin
- وَيَتِيمًاwa-yatiimandan anak yatim
- وَأَسِيرًاwa-asiirandan tawanan
Inti bacaan
Kedermawanan yang melampaui kenyamanan: 'mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan', standar tinggi kedermawanan yang memberikan justru dari apa yang paling disukai, bukan sisa atau kelebihan, dan mencakup tiga kategori rentan yang berbeda (miskin, yatim, tawanan) sebagai penerima yang layak diperhatikan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَأَسِيرًا, wa asiiran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 6 ayat: 2:85, 8:67, 8:70, 33:26, 76:8, dan 76:28.
Perhatikan bahwa dua dari enam pemakaiannya ada di surah ini. Yang satu lagi di 76:28.
Di 76:28 akar (وَأَسِيرًا, wa asiiran) dipakai untuk ikatan tubuh manusia yang dikuatkan. Jadi satu akar menamai tawanan yang diberi makan dan ikatan tubuh yang diperkuat.
Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa jarak antara keduanya dua puluh ayat.
Perhatikan bahwa tiga pihak disebut berturut-turut di ayat ini. Yang miskin, yang yatim, dan yang tertawan.
Ketiganya sama-sama tidak berdaya. Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan itu.
Perhatikan bahwa yang tertawan disebut paling akhir. Ia yang paling jauh hubungannya dengan pemberi makan.
Urutan itu bergerak dari yang dekat ke yang jauh. Yang miskin bisa tetangga, yang yatim bisa kerabat, dan yang tertawan datang dari pihak lain.
Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya disebut dalam susunan yang melebar.
Perhatikan bahwa makanan itu diberikan atas kecintaan kepadanya. Yang diberikan bukan sisa, melainkan yang masih diinginkan sendiri.
Keterangan itu mengubah beratnya. Memberi yang tidak dibutuhkan berbeda dari memberi yang masih dibutuhkan.
Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keterangannya dipasang di tengah kalimat.
Perhatikan bahwa ayat ini menyebut perbuatan yang bisa dilihat orang lain. Ayat sebelumnya menyebut janji dan rasa takut yang tersembunyi.
Jadi dua ayat berurutan menyebut yang tersembunyi lalu yang tampak. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu.
Perhatikan bahwa yang disebut di sini bukan perbuatan besar. Memberi makan adalah pekerjaan yang bisa dikerjakan siapa saja.
Perhatikan pula bahwa yang diberikan disebut makanan, bukan harta. Yang disebut sesuatu yang langsung bisa dimakan.
Pilihan itu membuat pemberiannya terbayang sederhana. Tidak ada bilangan, tidak ada nilai, dan tidak ada ukuran.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang disebut bendanya, bukan besarnya.
Perhatikan pula bahwa tiga penerima disebut tanpa satu keterangan tambahan. Tidak disebut berapa orang, dan tidak disebut berapa kali.
Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh daftar sebabnya. Empat ayat sebabnya tidak memuat satu angka pun.
Perhatikan pula bahwa perbuatan ini disebut sesudah rasa takut di 76:7. Yang di dalam dada disebut lebih dulu, dan yang di tangan menyusul.
Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri di dua ayat berurutan.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sifat kedermawanan mereka meski terhadap makanan yang mereka cintai. Ayat ini menyebut perbuatan yang bisa dilihat sesudah 76:7 menyebut yang tersembunyi. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 6 ayat: 2:85, 8:67, 8:70, 33:26, 76:8, dan 76:28.
Dua dari enam pemakaiannya ada di surah ini, dan di 76:28 akar itu dipakai untuk ikatan tubuh manusia yang dikuatkan. Jadi satu akar menamai tawanan yang diberi makan dan ikatan tubuh yang diperkuat, dengan jarak dua puluh ayat.
Tiga pihak disebut berturut-turut di ayat ini, yaitu yang miskin, yang yatim, dan yang tertawan, dan ketiganya sama-sama tidak berdaya. Yang tertawan disebut paling akhir, dan ia yang paling jauh hubungannya dengan pemberi makan.
Urutannya bergerak dari yang dekat ke yang jauh, karena yang miskin bisa tetangga, yang yatim bisa kerabat, dan yang tertawan datang dari pihak lain. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu.
Makanan itu juga diberikan atas kecintaan kepadanya, sehingga yang diberikan bukan sisa melainkan yang masih diinginkan sendiri. Memberi yang tidak dibutuhkan berbeda dari memberi yang masih dibutuhkan. Yang diberikan disebut makanan dan bukan harta, sehingga pemberiannya terbayang sederhana tanpa bilangan, nilai, maupun ukuran. Tiga penerima juga disebut tanpa satu keterangan tambahan, sebab tidak disebut berapa orang dan tidak disebut berapa kali. Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh daftar sebabnya, karena empat ayat sebabnya tidak memuat satu angka pun.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 6 ayat: 2:85, 8:67, 8:70, 33:26, 76:8, dan 76:28, dan dua di antaranya ada di surah ini. Di 76:28 akar itu menamai ikatan tubuh manusia yang dikuatkan, sedangkan di sini ia menamai tawanan yang diberi makan. Jarak dua puluh ayat memisahkan keduanya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkannya. Jarak dua puluh ayat memisahkan kedua pemakaiannya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang diberi makan dan ikatan tubuh si pemberi ternyata dinamai dengan satu bunyi dasar yang sama. Yang terikat dan yang mengikat ternyata berdiri di dalam satu surah yang sama, berjarak dua puluh ayat.
- Allah menyebut tiga pihak berturut-turut, yaitu yang miskin, yang yatim, dan yang tertawan. Ketiganya sama-sama tidak berdaya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan itu. Yang dipilih seluruhnya pihak yang tidak bisa membalas pemberian itu dengan apa pun. Yang dipilih seluruhnya pihak yang tidak bisa membalas pemberian itu dengan apa pun. Ketiganya sama-sama tidak berdaya, dan Al-Qur'an tidak pernah menyatakan kesamaan itu.
- Yang tertawan disebut Allah paling akhir, dan ia yang paling jauh hubungannya dengan pemberi makan. Urutannya bergerak dari yang dekat ke yang jauh, karena yang miskin bisa tetangga dan yang yatim bisa kerabat. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan lingkaran yang diberi makan melebar ayat demi ayat. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan lingkaran orang yang diberi makan melebar satu per satu. Yang paling jauh hubungannya dengan pemberinya justru yang disebut paling akhir di daftar itu.
- Allah menyebut bahwa makanan itu diberikan atas kecintaan kepadanya, sehingga yang diberikan bukan sisa. Memberi yang tidak dibutuhkan berbeda dari memberi yang masih dibutuhkan sendiri. Keterangan itu dipasang di tengah kalimat, dan ia mengubah seluruh beratnya. Keterangan itu dipasang di tengah kalimat, dan ia mengubah seluruh berat perbuatannya. Yang diberikan bukan sisa makanan, melainkan yang masih diinginkan sendiri oleh orang yang memberikannya.
- Ayat sebelumnya menyebut janji dan rasa takut yang tersembunyi, dan di sini Allah menyebut perbuatan yang bisa dilihat orang lain. Dua ayat berurutan menyebut yang tersembunyi lalu yang tampak. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan keduanya disebut sebagai sebab yang sama pentingnya. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan keduanya disebut sebagai sebab yang sama-sama menentukan. Yang tersembunyi di dalam dada disebut lebih dulu, dan yang tampak di tangan menyusul di ayat ini.
- Yang disebut Allah di sini bukan perbuatan besar, sebab memberi makan bisa dikerjakan siapa saja. Kalau yang dipakai sebagai sebab justru pekerjaan yang sederhana, apa yang membuatnya jarang dikerjakan orang yang mampu? Yang disebut bukan perbuatan besar, sebab memberi makan bisa dikerjakan siapa saja. Apa yang membuat pekerjaan sesederhana memberi makan justru jarang dikerjakan orang yang sebenarnya mampu melakukannya?