إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Mereka berkata, “Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًاinnamaa nuth'imukum li-wajhi llaahi laa nuriidu minkum jazaa'an wa-laa syukuuransesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanya demi rida Allah, kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
- نُطْعِمُكُمْnuth'imukumkami memberi kalian makan
- لِوَجْهِli-wajhikarena wajah
- اللَّهِllaahiAllah
- لَاlaatidak
- نُرِيدُnuriiduKami kehendaki
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- جَزَاءًjazaa'anbalasan
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- شُكُورًاsyukuuranbalasan
Inti bacaan
Kemurnian motif kedermawanan yang dinyatakan: 'kami memberi makanan kepada kalian hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian', standar tertinggi keikhlasan, kebaikan yang dilakukan tanpa mengharapkan pengakuan atau balasan apa pun dari penerima, murni berorientasi pada tujuan ilahi.
Penjelasan pilihan kata
Tidak ada verba 'qaala/qaaluu' eksplisit dalam Arab pada ayat ini, namun pergeseran orang (نُطْعِمُكُمْ, nuth'imukum), kami memberi makan kalian, orang pertama-kedua, dari narasi orang ketiga sebelumnya ('yut'imuuna', mereka memberi makan) secara gramatikal menandai kutipan langsung tersirat (iltifaat). 'Mereka berkata' ditambahkan sebagai kerangka gramatikal wajib dalam Indonesia untuk menandai pergeseran ini, bukan tambahan makna baru: tanpa tanda kurung, konsisten perlakuan subjek gramatikal wajib.
Rangkaian (لِوَجْهِ اللَّهِ, li-wajhi-llaah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menyebut maksud pemberian di 76:8.
Kata (شُكُورًا, syukuuran) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 25:62 dan 76:9. Di 25:62 kata itu dipakai untuk orang yang hendak bersyukur.
Jadi dua pemakaiannya berbeda arah. Di sana ia diinginkan, dan di sini ia justru ditolak.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk yang dicari dan yang ditampik.
Perhatikan bahwa ayat ini berupa ucapan mereka. Tidak ada penanda yang menyatakan bahwa mereka berkata, dan ucapannya langsung disebut.
Susunan seperti itu jarang. Perpindahan dari cerita ke ucapan biasanya ditandai, dan di sini tidak.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa suara mereka masuk tanpa satu penanda pun.
Perhatikan bahwa dua hal ditolak di ayat ini. Yang pertama balasan, dan yang kedua ucapan terima kasih.
Dua hal itu berbeda beratnya. Balasan menyangkut barang, dan ucapan terima kasih cuma menyangkut kata.
Jadi yang ditolak bukan cuma yang berharga, melainkan juga yang paling murah. Al-Qur'an tidak menyatakan penilaian itu.
Perhatikan bahwa yang mereka minta cuma satu, yaitu wajah Allah. Tidak ada permintaan lain yang disebut.
Susunan itu menutup semua celah. Yang biasa diharapkan dari pemberian sudah disangkal satu per satu.
Perhatikan bahwa ucapan ini disebut sesudah perbuatannya. Di 76:8 disebut apa yang mereka kerjakan, dan di sini disebut apa yang ada di dalam hatinya.
Jadi dua ayat berurutan menyebut perbuatan lalu niatnya. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu.
Perhatikan bahwa niat itu diucapkan, bukan disimpan. Yang dinyatakan bukan bahwa mereka berniat begitu, melainkan bahwa mereka mengatakannya.
Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang tersembunyi dibuat terdengar.
Perhatikan bahwa ucapan itu ditujukan kepada penerimanya. Mereka menyapa yang diberi makan, bukan menyapa orang lain.
Cara itu membuat penerimanya tidak merasa berutang. Al-Qur'an tidak menyatakan akibat itu dengan satu kalimat pun.
Perhatikan pula bahwa ucapan ini tidak menyebut pahala. Yang disebut cuma bahwa mereka tidak meminta apa-apa dari penerimanya.
Pahala baru disebut di 76:11 sampai 76:22. Sebelas ayat memisahkan penolakan balasan dari penyebutan balasannya.
Al-Qur'an tidak menandai jarak itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang tidak diminta akhirnya diberikan juga.
Perhatikan pula bahwa susunan itu berakibat. Yang menolak upah dari manusia justru menerima yang jauh lebih besar.
Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua hal itu berdiri di satu surah yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menyebut maksud di balik pemberian yang disebut di 76:8. Rangkaian dua kata terakhir bagian pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menyebut maksud pemberian itu.
Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 25:62 dan 76:9. Di 25:62 kata itu dipakai untuk orang yang hendak bersyukur, sehingga dua pemakaiannya berbeda arah karena di sana ia diinginkan dan di sini ia ditolak.
Ayat ini berupa ucapan mereka, dan tidak ada kata yang menyatakan bahwa mereka berkata. Perpindahan dari cerita ke ucapan biasanya ditandai, sedangkan di sini suara mereka masuk tanpa satu penanda pun.
Dua hal ditolak di ayat ini, yaitu balasan dan ucapan terima kasih, dan keduanya berbeda beratnya karena yang satu menyangkut barang sedangkan yang lain cuma menyangkut kata. Jadi yang ditolak bukan cuma yang berharga, melainkan juga yang paling murah.
Ucapan ini disebut sesudah perbuatannya, sehingga dua ayat berurutan menyebut perbuatan lalu niatnya. Niat itu juga diucapkan dan bukan disimpan, sehingga yang tersembunyi dibuat terdengar. Ucapan ini tidak menyebut pahala, dan yang disebut cuma bahwa mereka tidak meminta apa-apa dari penerimanya. Pahala baru disebut di 76:11 sampai 76:22, sehingga sebelas ayat memisahkan penolakan balasan dari penyebutan balasannya. Yang tidak diminta akhirnya diberikan juga, dan yang menolak upah dari manusia justru menerima yang jauh lebih besar.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 25:62 dan 76:9. Di 25:62 ia dipakai untuk orang yang hendak bersyukur, sedangkan di sini ia justru ditolak. Satu kata dipakai untuk yang dicari dan yang ditampik, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Satu sebutan dipakai untuk yang dicari di satu tempat dan yang ditampik di tempat lain. Yang membedakan bukan katanya, melainkan siapa yang diharapkan memberikannya. Dua surah memakai kata yang sama untuk dua sikap yang berlawanan.
- Ayat ini berupa ucapan mereka, dan tidak ada kata yang menyatakan bahwa mereka berkata. Perpindahan dari cerita ke ucapan biasanya ditandai, sedangkan di sini suara mereka masuk tanpa satu penanda pun. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan pembacanya sendiri yang harus mengenali pergantian suaranya. Pembacanya sendiri yang harus mengenali di mana suara ceritanya berhenti dan suara mereka mulai. Perpindahan tanpa penanda menuntut perhatian yang tidak boleh kendur. Yang membaca sambil lalu akan menyangka ceritanya masih berjalan.
- Dua hal ditolak Allah di ayat ini, yaitu balasan dan ucapan terima kasih. Keduanya berbeda beratnya, karena yang satu menyangkut barang dan yang lain cuma menyangkut kata. Yang ditolak bukan cuma yang berharga, melainkan juga yang paling murah sekalipun. Yang ditolak bukan cuma yang berharga, melainkan juga yang paling murah sekalipun. Menolak ucapan terima kasih jauh lebih sulit daripada menolak bayaran. Bahkan pujian yang tidak berbiaya apa pun pun tetap mereka tolak.
- Yang mereka minta cuma satu, yaitu wajah Allah, dan tidak ada permintaan lain yang disebut. Susunan itu menutup semua celah, karena yang biasa diharapkan dari pemberian sudah disangkal satu per satu. Rangkaian yang menyebut maksud itu cuma dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Rangkaian yang menyebut maksud itu cuma dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Tidak ada ayat lain yang memakai gabungan kata yang sama persis. Kekhususan itu membuat maksudnya tidak bisa dicampur dengan maksud lain.
- Di 76:8 Allah menyebut apa yang mereka kerjakan, dan di sini apa yang ada di dalam hatinya. Dua ayat berurutan menyebut perbuatan lalu niatnya. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan keduanya disebut sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan keduanya disebut sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Perbuatan tanpa niat dan niat tanpa perbuatan sama-sama tidak lengkap. Keduanya disebut di dua ayat yang tidak bisa dipisahkan bacaannya.
- Ucapan itu ditujukan kepada penerimanya sendiri, bukan kepada orang lain. Cara itu menjaga harga diri orang yang menerimanya. Apa yang harus diucapkan seorang pemberi supaya bantuannya tidak membuat penerimanya merasa kecil? Pahala baru disebut Allah sebelas ayat kemudian, sesudah balasan dari manusia ditolak di sini. Yang tidak diminta ternyata justru yang akhirnya diberikan. Sebelas ayat memisahkan penolakan itu dari penyebutan apa yang akhirnya mereka terima.