إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا
Sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami akan suatu hari yang penuh kesulitan lagi kesukaran.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًاinnaa nakhaafu min rabbinaa yawman 'abuusan qamthariiransesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami akan suatu hari yang penuh kesulitan lagi kesukaran
Terjemahan per kata (7 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- نَخَافُnakhaafukami takut
- مِنْmindari
- رَبِّنَاrabbinaaTuhan kami
- يَوْمًاyawmansuatu hari
- عَبُوسًا'abuusanyang muram
- قَمْطَرِيرًاqamthariiranyang penuh kesulitan
Inti bacaan
Motivasi di balik kedermawanan tulus: 'sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami akan suatu hari yang penuh kesulitan lagi kesukaran', kesadaran akan konsekuensi masa depan yang mendorong tindakan baik di masa sekarang, ketakutan produktif yang menghasilkan perilaku positif.
Penjelasan pilihan kata
Kutip ditutup di akhir ayat ini, melanjutkan kutipan tersirat dari 76:9.
Kata (عَبُوسًا, 'abuusan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 74:22, 76:10, dan 80:1.
Di 74:22 dan 80:1 akar (عَبُوسًا, 'abuusan) dipakai untuk wajah manusia yang bermuka masam. Di sini ia dipakai untuk harinya sendiri.
Jadi sifat wajah dipindahkan kepada waktu. Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu.
Perhatikan bahwa surah 80 dinamai dengan bunyi dasar itu. Surah tersebut dibuka dengan sebutan dari bunyi dasar yang sama.
Kata (قَمْطَرِيرًا, qamthariiran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya juga cuma dipakai di ayat ini.
Jadi akar (قَمْطَرِيرًا, qamthariiran) tidak punya satu pun pemakaian lain. Ini akar kedua di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat.
Perhatikan bahwa yang pertama seperti itu ada di 76:2. Yang ketiga ada di 76:13.
Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga bunyi dasar sekali pakai tersebar sampai 76:13.
Perhatikan bahwa dua sifat disebut berturut-turut untuk satu hari. Keduanya menyangkut rupa, bukan isi.
Cara itu tidak lazim. Sebuah hari biasanya dilukiskan lewat apa yang terjadi padanya, dan di sini ia dilukiskan lewat wajahnya.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa hari itu diberi wajah.
Perhatikan bahwa ayat ini masih ucapan mereka. Ia melanjutkan kalimat yang dibuka di 76:9 tanpa satu penanda baru.
Jadi dua ayat berurutan berisi ucapan yang sama. Al-Qur'an tidak menandai batas akhirnya.
Perhatikan bahwa rasa takut disebut lagi di sini. Ia sudah disebut di 76:7, dan ini penyebutan keduanya.
Dua penyebutan itu berbeda sudutnya. Yang pertama diceritakan dari luar, dan yang kedua diucapkan sendiri.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu perasaan disebut dua kali dengan dua cara.
Perhatikan pula bahwa yang mereka takuti bukan hukumannya, melainkan harinya. Yang disebut hari itu sendiri, bukan apa yang terjadi padanya.
Pilihan itu tidak lazim. Yang biasa ditakuti adalah akibatnya, dan di sini yang ditakuti waktunya.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sifat yang dipakai keduanya menyifati hari, bukan menyifati siksanya.
Perhatikan pula bahwa mereka menyebut Tuhan mereka, bukan Tuhan secara umum. Hubungan itu disebut sebagai milik mereka sendiri.
Cara itu membuat rasa takutnya terasa dekat. Yang ditakuti bukan pihak yang jauh, melainkan yang mereka kenali sebagai pemelihara mereka.
Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutan yang dipakai menyangkut hubungan, bukan kekuasaan.
Tafsiran
Ayat ini menutup ucapan mereka dengan menyebut apa yang mereka takuti. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di ayat ini.
Jadi ini akar kedua di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat, sesudah yang pertama di 76:2 dan sebelum yang ketiga di 76:13. Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kelimanya juga muncul 1 kali, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 74:22, 76:10, dan 80:1. Di 74:22 dan 80:1 akar itu dipakai untuk wajah manusia yang bermuka masam, sedangkan di sini ia dipakai untuk harinya sendiri.
Dua sifat disebut berturut-turut untuk satu hari, dan keduanya menyangkut rupa dan bukan isi. Sebuah hari biasanya dilukiskan lewat apa yang terjadi padanya, sedangkan di sini ia dilukiskan lewat wajahnya.
Ayat ini masih ucapan mereka dan melanjutkan kalimat yang dibuka di 76:9 tanpa satu penanda baru. Rasa takut juga disebut lagi di sini sesudah 76:7, dan dua penyebutan itu berbeda sudutnya karena yang pertama diceritakan dari luar sedangkan yang kedua diucapkan sendiri. Yang mereka takuti bukan hukumannya melainkan harinya, sehingga yang disebut adalah hari itu sendiri dan bukan apa yang terjadi padanya. Pilihan itu tidak lazim, sebab yang biasa ditakuti adalah akibatnya. Mereka juga menyebut Tuhan mereka dan bukan Tuhan secara umum, sehingga rasa takutnya terasa dekat karena yang ditakuti bukan pihak yang jauh.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kelimanya cuma dipakai Allah di 74:22, 76:10, dan 80:1. Di 74:22 dan 80:1 ia dipakai untuk wajah manusia yang bermuka masam, sedangkan di sini untuk harinya sendiri. Sifat wajah dipindahkan kepada waktu, dan Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Sifat wajah dipindahkan kepada waktu, dan Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Sebuah hari diberi rupa manusia, dan pembacanya diminta membayangkannya begitu. Gambaran itu bekerja karena setiap orang tahu rupa wajah yang masam.
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di ayat ini. Ini akar kedua di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat, sesudah 76:2 dan sebelum 76:13. Tiga akar sekali pakai tersebar di tiga belas ayat pertamanya. Tiga akar sekali pakai tersebar di tiga belas ayat pertamanya. Kepadatan seperti itu tidak lazim, dan ketiganya berdiri di bagian yang berbeda-beda. Sesudah 76:13 tidak ada lagi bunyi dasar sekali pakai di sepanjang surahnya.
- Dua sifat disebut Allah berturut-turut untuk satu hari, dan keduanya menyangkut rupa dan bukan isi. Sebuah hari biasanya dilukiskan lewat apa yang terjadi padanya, sedangkan di sini ia dilukiskan lewat wajahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun. Yang dilukiskan bukan apa yang terjadi pada hari itu, melainkan bagaimana harinya sendiri tampak. Yang dilukiskan rupanya, dan isinya dibiarkan dibayangkan pembacanya.
- Ayat ini masih ucapan mereka dan melanjutkan kalimat yang dibuka di 76:9 tanpa satu penanda baru. Dua ayat berurutan berisi ucapan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai batas akhirnya. Pembacanya harus mengenali sendiri di mana suara itu berhenti. Pembacanya harus mengenali sendiri di mana suara itu berhenti. Dua ayat berurutan berisi ucapan yang sama tanpa satu penanda batas. Batas suara mereka baru jelas ketika ayat berikutnya berganti pokok.
- Rasa takut sudah disebut Allah di 76:7, dan ini penyebutan keduanya. Dua penyebutan itu berbeda sudutnya, karena yang pertama diceritakan dari luar sedangkan yang kedua diucapkan sendiri oleh mereka. Satu perasaan disebut dua kali dengan dua cara yang berbeda. Satu perasaan disebut dua kali dengan dua cara yang berbeda. Yang pertama diceritakan dari luar, dan yang kedua diucapkan sendiri oleh yang merasakannya. Yang diceritakan orang lain dan yang diakui sendiri tidak sama beratnya.
- Surah 80 dinamai dengan akar yang dipakai Allah di ayat ini, dan surah itu dibuka dengan kata dari akar yang sama. Akar itu cuma hidup di tiga ayat di seluruh Al-Qur'an. Kalau satu akar yang begitu jarang sampai menjadi nama sebuah surah, seberapa berat gambaran yang dibawanya? Akar yang dipakai Allah di sini cuma hidup di tiga ayat di seluruh Al-Qur'an. Seberapa berat gambaran yang dibawanya, kalau satu akar yang begitu jarang sampai menjadi nama sebuah surah? Kejarangan sebesar itu membuat gambarannya tidak tertukar dengan apa pun.