مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۖ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا
Mereka bersandar di dalamnya di atas dipan-dipan; mereka tidak melihat di dalamnya matahari dan tidak pula dingin yang menusuk,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِmuttaki'iina fiihaa 'alaa l-araa'ikimereka bersandar di dalamnya di atas dipan-dipan
- لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًاlaa yarawna fiihaa syamsan wa-laa zamhariiranmereka tidak melihat di dalamnya matahari dan tidak pula dingin yang menusuk
Terjemahan per kata (10 kata)
- مُتَّكِئِينَmuttaki'iinabersandar
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- عَلَى'alaaatas
- الْأَرَائِكِl-araa'ikidipan-dipan
- لَاlaatidak
- يَرَوْنَyarawnamereka melihat
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- شَمْسًاsyamsanmatahari
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- زَمْهَرِيرًاzamhariirandingin yang menusuk
Inti bacaan
Kenyamanan tanpa ekstrem cuaca: 'mereka bersandar di dalamnya di atas dipan-dipan; mereka tidak melihat di dalamnya matahari (terik) dan tidak (pula) dingin yang menusuk', gambaran kondisi ideal tanpa ketidaknyamanan iklim, kontras dengan tantangan cuaca yang dihadapi di dunia.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(terik)' tidak dipakai. Kata 'pula' dipertahankan tanpa kurung sebagai penghubung alami frasa negasi ganda (وَلَا, wa laa), bukan tambahan makna baru.
Kata (مُتَّكِئِينَ, muttaki-iin) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 18:31, 38:51, 52:20, 55:54, 55:76, 56:16, dan 76:13. Tujuh kemunculan itu tersebar di enam surah, sebab surah 55 memakainya dua kali. Artinya bersandar.
Kata (الْأَرَائِكِ, al-araa-ik) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an: 18:31, 36:56, 76:13, 83:23, dan 83:35. Ia menamai tempat bersandar.
Perhatikan bahwa 18:31 memuat (مُتَّكِئِينَ, muttaki-iin) dan (الْأَرَائِكِ, al-araa-ik) berdampingan, sama seperti ayat ini. Jadi pasangan itu hidup di dua tempat.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai pasangan yang sama.
Kata (زَمْهَرِيرًا, zamhariiran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya juga cuma dipakai di ayat ini.
Jadi akar (زَمْهَرِيرًا, zamhariiran) tidak punya satu pun pemakaian lain. Ini akar ketiga di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat.
Perhatikan bahwa tiga bunyi dasar seperti itu berdiri di 76:2, 76:10, dan 76:13. Ketiganya berada di sepertiga pertama surahnya.
Al-Qur'an tidak menandai penyebaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga belas ayat pertama memuat seluruhnya.
Perhatikan bahwa ayat ini menyangkal dua hal sekaligus. Yang pertama panas matahari, dan yang kedua dingin yang menusuk.
Dua hal itu berlawanan. Yang satu terlalu panas, dan yang lain terlalu dingin.
Jadi yang dijanjikan bukan salah satu, melainkan ketiadaan keduanya. Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu.
Perhatikan bahwa cara melukiskan itu memakai penyangkalan. Yang disebut bukan suhunya nyaman, melainkan bahwa dua ujungnya tidak ada.
Pilihan itu tidak lazim. Melukiskan lewat ketiadaan menuntut pembacanya mengingat apa yang biasa ia rasakan.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang enak dilukiskan lewat yang tidak enak.
Perhatikan bahwa cara yang sama dipakai di 77:31, tetapi arahnya berlawanan. Di sana naungan disangkal sifat menaunginya.
Jadi dua surah bertetangga memakai penyangkalan untuk dua maksud yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut posisi tubuh mereka. Yang dilukiskan bukan tempatnya, melainkan bagaimana mereka berada di sana.
Cara itu jarang di dalam gambaran pemberian. Yang biasa dilukiskan adalah bendanya, dan di sini yang dilukiskan sikap tubuhnya.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keadaan tubuh disebut sebelum barang-barangnya.
Perhatikan pula bahwa bersandar menyatakan tidak ada yang perlu dikerjakan. Yang bersandar sedang tidak menunggu apa pun.
Gambaran itu melengkapi 76:14. Di sana yang dibutuhkan justru datang mendekat kepada mereka.
Al-Qur'an tidak menyatakan kesinambungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berurutan saling melengkapi.
Tafsiran
Ayat ini melukiskan tempat mereka lewat dua hal yang tidak ada di sana. Kata pertamanya muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 18:31, 38:51, 52:20, dan 55:54, dan artinya bersandar.
Kata keempatnya muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 18:31, 36:56, 76:13, 83:23, dan 83:35, dan ia menamai tempat bersandar. Perhatikan bahwa 18:31 memuat kedua kata itu berdampingan, sama seperti ayat ini, sehingga pasangannya hidup di dua tempat.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di ayat ini. Ini akar ketiga di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat, sesudah 76:2 dan 76:10, dan ketiganya berada di tiga belas ayat pertamanya.
Ayat ini menyangkal dua hal sekaligus, yaitu panas matahari dan dingin yang menusuk, dan keduanya berlawanan. Jadi yang dijanjikan bukan salah satu, melainkan ketiadaan kedua ujungnya.
Cara melukiskan itu memakai penyangkalan, sehingga yang disebut bukan suhunya nyaman melainkan bahwa dua ujungnya tidak ada. Cara yang sama dipakai di 77:31 dengan arah yang berlawanan, karena di sana naungan justru disangkal sifat menaunginya. Ayat ini menyebut posisi tubuh mereka, bukan tempatnya, sehingga yang dilukiskan adalah bagaimana mereka berada di sana. Cara itu jarang di dalam gambaran pemberian, sebab yang biasa dilukiskan adalah bendanya. Bersandar juga menyatakan tidak ada yang perlu dikerjakan, dan gambaran itu melengkapi 76:14 ketika yang dibutuhkan justru datang mendekat.
Renungan dan Hikmah
- Kata keempatnya dipakai Allah cuma di 18:31, 36:56, 76:13, 83:23, dan 83:35, dan 18:31 memuatnya berdampingan dengan kata pertama ayat ini. Jadi pasangan itu hidup di dua tempat, yaitu 18:31 dan 76:13. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Dua surah memakai pasangan yang sama, dan tidak ada penunjuk di antara keduanya. Kesejajaran itu cuma terlihat oleh yang membaca keduanya berdampingan.
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di ayat ini. Ini akar ketiga di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat, sesudah 76:2 dan 76:10. Ketiganya berada di tiga belas ayat pertamanya, dan Al-Qur'an tidak menandai penyebaran itu. Ketiganya berada di tiga belas ayat pertamanya, dan Al-Qur'an tidak menandai penyebaran itu. Sesudah 76:13 tidak ada lagi akar sekali pakai di surah ini. Sesudah ayat ini surahnya tidak lagi memuat akar yang sekali pakai.
- Allah menyangkal dua hal sekaligus di ayat ini, yaitu panas matahari dan dingin yang menusuk. Keduanya berlawanan, karena yang satu terlalu panas dan yang lain terlalu dingin. Yang dijanjikan bukan salah satu, melainkan ketiadaan kedua ujungnya sekaligus. Yang dijanjikan bukan salah satu, melainkan ketiadaan kedua ujungnya sekaligus. Panas dan dingin sama-sama ditiadakan, dan yang tersisa tidak diberi nama. Keadaan di antara dua ujung itu dibiarkan tanpa nama sama sekali.
- Cara melukiskan yang dipakai Allah memakai penyangkalan, sehingga yang disebut bukan suhunya nyaman melainkan bahwa dua ujungnya tidak ada. Melukiskan lewat ketiadaan menuntut pembacanya mengingat apa yang biasa ia rasakan. Yang enak karena itu dilukiskan lewat yang tidak enak. Yang enak karena itu dilukiskan lewat yang tidak enak. Melukiskan lewat ketiadaan menuntut pembacanya mengingat apa yang biasa ia rasakan sendiri. Pembacanya harus memanggil ingatannya sendiri supaya gambarannya bekerja.
- Allah memakai cara yang sama di 77:31, tetapi arahnya berlawanan, sebab di sana naungan disangkal sifat menaunginya. Dua surah bertetangga memakai penyangkalan untuk dua maksud yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat kalau keduanya dibaca berdampingan. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat kalau keduanya dibaca berdampingan. Yang satu meniadakan gangguan, dan yang lain meniadakan perlindungan. Satu cara melukiskan dipakai untuk dua maksud yang bertolak belakang.
- Allah tidak menyebut satu kata pun tentang betapa nyaman tempat itu, dan yang disebut cuma dua hal yang tidak ada. Kalau kenyamanan cuma bisa dilukiskan lewat gangguan yang hilang, seberapa sadar kita akan kenyamanan yang sedang kita nikmati sekarang? Allah tidak menyebut satu kata pun tentang betapa nyaman tempat itu. Seberapa sadar kita akan kenyamanan yang sedang kita nikmati, kalau ia cuma terasa ketika hilang? Rasa nyaman memang paling terasa justru pada saat ia sedang hilang.