وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا
Dan pada sebagian malam, bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًاwa-mina l-layli fa-sjud lahu wa-sabbihhu laylan thawiilandan pada sebagian malam, bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang
Terjemahan per kata (7 kata)
- وَمِنَwa-minadan dari
- اللَّيْلِl-laylimalam
- فَاسْجُدْfa-sjudmaka bersujudlah
- لَهُlahubaginya
- وَسَبِّحْهُwa-sabbihhudan bertasbihlah kepada-Nya
- لَيْلًاlaylanmalam
- طَوِيلًاthawiilanyang panjang
Inti bacaan
Perpanjangan ibadah malam: 'pada sebagian malam, bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang', penekanan pada durasi dan kesungguhan ibadah malam, melengkapi rutinitas pagi-petang dengan komitmen tambahan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَاسْجُدْ, fasjud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di banyak ayat, tetapi bentuk perintah tunggal ini tidak dipakai lagi.
Perhatikan bahwa ayat ini menyebut malam, sedangkan 76:25 menyebut pagi dan petang. Dua ayat berurutan membagi seluruh hari.
Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tidak ada waktu yang tersisa di luar keduanya.
Perhatikan bahwa malam disebut dua kali di ayat ini. Yang pertama sebagai keterangan waktu, dan yang kedua sebagai lamanya.
Pengulangan itu tidak lazim untuk ayat sependek ini. Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu.
Perhatikan bahwa dua perintah disebut di ayat ini. Yang pertama bersujud, dan yang kedua bertasbih.
Dua perbuatan itu berbeda jenisnya. Yang satu memakai tubuh, dan yang lain memakai lisan.
Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tubuh dan lisan sama-sama dituntut.
Perhatikan bahwa surah tetangganya juga menyebut sujud. Di 77:48 sujud disebut sebagai perintah yang ditolak.
Jadi dua surah bertetangga sama-sama memakai perbuatan itu sebagai ukuran. Yang satu memerintahkannya, dan yang lain mencatat penolakannya.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa perbuatan yang sama berdiri di dua kedudukan yang berlawanan.
Perhatikan bahwa lamanya bertasbih disebut panjang. Keterangan itu satu-satunya ukuran di bagian perintahnya.
Tiga ayat perintah tidak memuat satu bilangan pun. Yang ada cuma satu sebutan yang menyebut panjang.
Al-Qur'an tidak menandai kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ukuran diberikan kepada lamanya, bukan kepada jumlahnya.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup rangkaian perintah. Sesudahnya surahnya berpindah ke keterangan tentang pihak lain.
Perpindahan itu tidak diberi kalimat pengantar. Al-Qur'an langsung berpindah dari perintah ke pernyataan.
Perhatikan bahwa dua perintah di ayat ini memakai sasaran tunggal juga. Sasarannya sama dengan 76:25.
Jadi lima perintah beruntun ditujukan kepada satu orang. Tiga ayat menahan sasaran yang sama tanpa berpindah.
Al-Qur'an tidak menandai kesinambungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sasarannya tidak berubah sampai bagian perintahnya habis.
Perhatikan bahwa malam disebut sesudah pagi dan petang, bukan sebelumnya. Urutannya mengikuti putaran hari yang wajar.
Susunan itu menaruh yang paling berat di ujung. Malam yang panjang disebut terakhir.
Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang paling menuntut ditaruh di tempat terakhir.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut upah apa pun. Perintahnya berdiri tanpa janji yang mengiringinya.
Padahal delapan belas ayat sebelumnya penuh dengan janji. Perbandingan itu tajam.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa janjinya sudah lewat ketika perintahnya datang.
Rangkaian (لَيْلًا طَوِيلًا, lailan thawiilan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menutup ayat ini.
Kata (وَسَبِّحْهُ, wa sabbih-hu) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat sependek ini memuat tiga sebutan yang tidak dipakai di tempat lain.
Tiga sebutan baru berdesakan di dalam satu baris yang pendek. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa ayat penutup bagian perintah memakai sebutan yang seluruhnya baru.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian perintah dengan menyebut malam. Kata keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sebab akarnya dipakai di banyak ayat tetapi bentuk perintah tunggal ini tidak dipakai lagi.
Ayat ini menyebut malam, sedangkan 76:25 menyebut pagi dan petang, sehingga dua ayat berurutan membagi seluruh hari. Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu, dan tidak ada waktu yang tersisa di luar keduanya.
Malam juga disebut dua kali di ayat ini, yaitu sebagai keterangan waktu dan sebagai lamanya. Pengulangan itu tidak lazim untuk ayat sependek ini, dan Al-Qur'an tidak menerangkannya.
Dua perintah disebut di ayat ini, yaitu bersujud dan bertasbih, dan keduanya berbeda jenisnya karena yang satu memakai tubuh sedangkan yang lain memakai lisan. Surah tetangganya juga menyebut sujud, karena di 77:48 sujud disebut sebagai perintah yang ditolak.
Lamanya bertasbih juga disebut panjang, dan keterangan itu satu-satunya ukuran di bagian perintahnya. Tiga ayat perintah tidak memuat satu bilangan pun, dan yang ada cuma satu kata yang menyebut panjang. Dua perintah di ayat ini juga memakai bentuk tunggal, sehingga lima perintah beruntun ditujukan kepada satu orang tanpa perpindahan sasaran. Malam juga disebut sesudah pagi dan petang, dan susunan itu menaruh yang paling berat di ujung tanpa satu janji pun yang mengiringinya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut malam, sedangkan 76:25 menyebut pagi dan petang, sehingga dua ayat berurutan membagi seluruh hari. Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kalimat pun. Tidak ada waktu yang tersisa di luar keduanya, dan perintahnya karena itu berlaku sepanjang hari tanpa jeda. Perintahnya karena itu meliputi waktu yang terjaga dan waktu yang biasanya dipakai orang untuk tidur. Tidak ada satu bagian hari pun yang dikecualikan, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu pengecualian pun.
- Malam disebut Allah dua kali di ayat ini, yaitu sebagai keterangan waktu dan sebagai lamanya. Pengulangan itu tidak lazim untuk ayat sependek ini, dan Al-Qur'an tidak menerangkannya. Yang diulang di dalam satu ayat pendek biasanya sedang ditekankan, bukan sekadar disebut ulang. Penyebutan kedua bukan pengulangan yang sia-sia, sebab yang kedua membawa keterangan lama. Yang disebut ulang di ruang sesempit satu ayat pendek menandai bahwa bagian itu sedang ditekan.
- Dua perintah disebut Allah di ayat ini, yaitu bersujud dan bertasbih, dan keduanya berbeda jenisnya. Yang satu memakai tubuh, dan yang lain memakai lisan. Tubuh dan lisan sama-sama dituntut, dan Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu dengan satu kalimat pun. Bersujud menuntut seluruh badan turun, sedangkan bertasbih cukup dengan suara. Dua tuntutan itu berbeda ongkosnya, dan keduanya tetap diminta di dalam satu ayat yang sama.
- Surah tetangganya juga menyebut sujud, karena di 77:48 perbuatan itu disebut sebagai perintah yang ditolak. Dua surah bertetangga sama-sama memakai perbuatan itu sebagai ukuran, dan yang satu memerintahkannya sedangkan yang lain mencatat penolakannya. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang di sini diperintahkan dikerjakan, dan yang di sana dicatat ditolak. Satu perbuatan yang sama berdiri sebagai tanda ketaatan di satu tempat dan tanda pembangkangan di tempat yang lain.
- Lamanya bertasbih disebut Allah panjang, dan keterangan itu satu-satunya ukuran di bagian perintahnya. Tiga ayat perintah tidak memuat satu bilangan pun. Ukurannya diberikan kepada lamanya dan bukan kepada jumlahnya, sehingga yang dituntut ketekunan dan bukan hitungan. Ukuran waktu lebih sulit dicurangi daripada ukuran jumlah, sebab hitungan bisa dikebut. Yang panjang menuntut orangnya bertahan, bukan sekadar menyelesaikan hitungan lalu berhenti.
- Ayat ini menutup rangkaian perintah, dan sesudahnya Allah berpindah ke keterangan tentang pihak lain tanpa satu kalimat pengantar. Perpindahan dari perintah ke pernyataan terjadi mendadak. Apa yang dikerjakan sebuah pergantian yang tidak diberi aba-aba terhadap pembaca yang sedang mengikuti? Pembaca yang baru saja menerima lima perintah tiba-tiba dibawa melihat pihak yang menolak. Peralihan mendadak seperti itu menaruh dua nasib berdampingan tanpa satu kalimat penghubung yang menyiapkan pembacanya.