وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dan kalian tidak menghendaki, kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah berilmu lagi penuh hikmah.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًاwa-maa tasyaa'uuna illaa an yasyaa'a llaahu inna llaaha kaana 'aliiman hakiimandan kalian tidak menghendaki, kecuali jika Allah menghendaki, sesungguhnya Allah berilmu lagi penuh hikmah
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- تَشَاءُونَtasyaa'uunakalian kehendaki
- إِلَّاillaakecuali
- أَنْanbahwa
- يَشَاءَyasyaa'amenghendaki
- اللَّهُllaahuAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- كَانَkaanaadalah
- عَلِيمًا'aliimanberilmu
- حَكِيمًاhakiimanbijaksana
Inti bacaan
Batas kehendak manusia dalam kerangka kehendak ilahi: 'kalian tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah', pengakuan bahwa kebebasan memilih manusia tetap beroperasi dalam kerangka yang lebih besar, keseimbangan antara kehendak bebas dan kedaulatan ilahi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(sesuatu)' tidak dipakai. Rangkaian (عَلِيمًا حَكِيمًا, 'aliiman hakiiman) bentuk tak-bertakrif sesudah 'kaana' dipertahankan bentuk lowercase 'berilmu lagi penuh hikmah', bukan bentuk berawalan superlatif terlarang, sesuai disiplin baku.
Kalimat (وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ, wa maa tasyaa-uuna illaa an yasyaa-allaah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 76:30 dan 81:29. Dua ayat itu memakai kalimat yang sama persis.
Perhatikan bahwa 81:29 juga berdiri di ayat penutup surahnya. Dua surah menaruh kalimat yang sama di dekat ujungnya.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa kalimat itu dipakai dua kali di kedudukan yang mirip.
Rangkaian (عَلِيمًا حَكِيمًا, 'aliiman hakiiman) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:11, 4:24, 33:1, dan 48:4. Ia menyifati Allah.
Perhatikan bahwa ayat ini datang tepat sesudah pilihan ditawarkan di 76:29. Yang tadinya diserahkan kepada kehendak manusia kini dikembalikan kepada kehendak Allah.
Susunan itu tajam. Dua ayat berurutan menaruh kehendak di dua pihak yang berbeda.
Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri berdampingan tanpa satu kata penghubung.
Perhatikan bahwa cara yang sama dipakai di surah 81. Di sana pun 81:28 menawarkan pilihan dan 81:29 mengembalikannya.
Jadi dua surah memakai susunan dua ayat yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah menaruh tawaran dan pengembaliannya di dua ayat berurutan.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menghapus pilihan di 76:29. Yang dinyatakan bukan bahwa manusia tidak memilih, melainkan bahwa pilihannya berada di dalam kehendak yang lebih besar.
Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu lebih jauh. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pernyataan itu berdiri berdampingan tanpa saling meniadakan.
Perhatikan bahwa dua sifat disebut di ujung ayat. Yang pertama menyangkut pengetahuan, dan yang kedua menyangkut ketepatan.
Dua sifat itu melengkapi. Mengetahui saja tidak cukup tanpa ketepatan menempatkan.
Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya selalu disebut berpasangan.
Perhatikan bahwa nama Allah disebut dua kali di ayat ini. Ini penyebutan terakhir yang berdiri sendiri di surahnya.
Perhatikan bahwa ayat ini menyapa banyak orang. Sapaan jamak dipakai untuk yang berkehendak.
Padahal 76:29 memakai sapaan tunggal untuk yang memilih. Dua ayat berurutan berganti jumlah sasarannya.
Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tawaran diberikan kepada seorang dan penjelasannya diberikan kepada semua.
Perhatikan bahwa nama Allah disebut terang di ayat ini. Sebelumnya yang dipakai sebutan Tuhannya.
Pergantian sebutan itu menaikkan nada. Yang tadinya dekat kini disebut dengan nama-Nya sendiri.
Al-Qur'an tidak menandai pergantian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa nama-Nya muncul ketika kehendak dibicarakan.
Kata (يَشَاءَ, yasyaa-a) muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 6:80, 6:111, 7:89, 12:76, 18:24, 74:56, 76:30, dan 81:29. Delapan kemunculan itu tersebar di tujuh surah, sebab surah 6 memakainya dua kali.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak memuat satu perintah pun. Ia seluruhnya berupa keterangan.
Padahal lima ayat sebelumnya penuh perintah. Perbedaan itu jelas terasa.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bagian penutupnya berhenti menuntut dan mulai menerangkan.
Tafsiran
Ayat ini mengembalikan kehendak kepada Allah sesudah pilihan ditawarkan di 76:29. Kalimat pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 76:30 dan 81:29, dan dua ayat itu memakai kalimat yang sama persis.
Perhatikan bahwa 81:29 juga berdiri di ayat penutup surahnya, sehingga dua surah menaruh kalimat yang sama di dekat ujungnya. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:11, 4:24, 33:1, dan 48:4, dan ia menyifati Allah. Ayat ini datang tepat sesudah pilihan ditawarkan, sehingga yang tadinya diserahkan kepada kehendak manusia kini dikembalikan kepada kehendak Allah.
Cara yang sama dipakai di surah 81, karena di sana pun 81:28 menawarkan pilihan dan 81:29 mengembalikannya. Jadi dua surah memakai susunan dua ayat yang sama.
Ayat ini juga tidak menghapus pilihan di 76:29, sebab yang dinyatakan bukan bahwa manusia tidak memilih melainkan bahwa pilihannya berada di dalam kehendak yang lebih besar. Dua sifat di ujung ayat juga melengkapi, karena mengetahui saja tidak cukup tanpa ketepatan menempatkan. Ayat ini juga menyapa banyak orang dengan bentuk jamak, padahal 76:29 memakai bentuk tunggal untuk yang memilih. Nama Allah juga disebut terang di sini sesudah sebelumnya dipakai sebutan Tuhannya, dan ayat ini seluruhnya berupa keterangan tanpa satu perintah pun.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat pertamanya dipakai Allah cuma di 76:30 dan 81:29, dan dua ayat itu memakai kalimat yang sama persis. Ayat 81:29 juga berdiri di ayat penutup surahnya, sehingga dua surah menaruh kalimat yang sama di dekat ujungnya. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Dua surah yang sama-sama menaruhnya di dekat ujung menandai bahwa kalimat itu memang dirancang untuk berdiri sebagai penutup. Yang ditaruh di akhir adalah yang hendak paling lama tinggal di dalam ingatan pembacanya.
- Ayat ini datang tepat sesudah pilihan ditawarkan Allah di 76:29, sehingga yang tadinya diserahkan kepada kehendak manusia kini dikembalikan kepada kehendak-Nya. Dua ayat berurutan menaruh kehendak di dua pihak yang berbeda. Keduanya berdiri berdampingan tanpa satu kata penghubung. Tawaran diberikan kepada seorang dan penjelasannya diberikan kepada semua. Pergantian jumlah sasaran di dua ayat bersentuhan itu terjadi tanpa satu penanda pun yang mendahuluinya.
- Cara yang sama dipakai Allah di surah 81, karena di sana pun 81:28 menawarkan pilihan dan 81:29 mengembalikannya. Dua surah memakai susunan dua ayat yang sama persis. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat kalau kedua surah dibaca berdampingan. Dua surah itu tidak berdekatan letaknya di mushaf dan tidak sama panjangnya. Kesamaan susunan dua ayat di dua tempat yang berjauhan seperti itu menandai satu rancangan, bukan satu kebetulan yang berdiri sendiri.
- Ayat ini tidak menghapus pilihan yang ditawarkan Allah di 76:29. Yang dinyatakan bukan bahwa manusia tidak memilih, melainkan bahwa pilihannya berada di dalam kehendak yang lebih besar. Dua pernyataan itu berdiri berdampingan tanpa saling meniadakan. Kalau kehendak manusia benar-benar ditiadakan, tawaran di ayat sebelumnya kehilangan artinya. Al-Qur'an menaruh keduanya berdampingan tanpa mencabut satu pun di antaranya, dan pembacanya dibiarkan memikul dua pernyataan itu sekaligus.
- Rangkaian dua kata terakhirnya dipakai Allah 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:11, 4:24, 33:1, dan 48:4. Dua sifat itu melengkapi, sebab mengetahui saja tidak cukup tanpa ketepatan menempatkan. Keduanya selalu disebut berpasangan, dan tidak pernah salah satunya sendirian. Mengetahui tanpa ketepatan menghasilkan keputusan yang benar isinya tetapi salah waktu dan salah tempatnya. Dua sifat itu karena itu jarang mencukupi kalau salah satunya berdiri sendirian.
- Nama Allah disebut dua kali di ayat ini, dan ini penyebutan terakhir yang berdiri sendiri di surahnya. Kalau kehendak manusia dinyatakan berada di dalam kehendak yang lebih besar, apa yang tersisa untuk dibanggakan dan apa yang tersisa untuk ditakuti? Nama-Nya muncul terang justru ketika kehendak dibicarakan, dan bukan ketika upahnya dilukiskan panjang. Penempatan seperti itu menandai bagian mana yang paling menuntut nama-Nya disebut penuh dan terang.