يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Bagi orang-orang zalim Dia sediakan azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِyudkhilu man yasyaa'u fii rahmatihiDia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya
  2. وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًاwa-zh-zhaalimiina a'adda lahum 'adzaaban aliimandan bagi orang-orang zalim Dia sediakan azab yang pedih

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. يُدْخِلُyudkhilumemasukkan
  2. مَنْmanorang yang
  3. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  4. فِيfiike dalam
  5. رَحْمَتِهِrahmatihirahmat-Nya
  6. وَالظَّالِمِينَwa-zh-zhaalimiinadan orang-orang zalim
  7. أَعَدَّa'addamenyediakan
  8. لَهُمْlahumbagi mereka
  9. عَذَابًا'adzaabanazab
  10. أَلِيمًاaliimanyang pedih

Inti bacaan

Penutup dengan dua nasib berbeda: 'Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Bagi orang-orang zalim Dia sediakan azab yang pedih', kesimpulan yang menegaskan dua jalur hasil akhir berdasarkan pilihan hidup, penutup surah yang merangkum tema keadilan proporsional.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung berisi istilah terlarang setara tidak dipakai: 'rahmatihi' (rahmat-Nya) dibiarkan tanpa mengembalikan rujukan spesifik yang tidak eksplisit dalam Arab.

Rangkaian (يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ, yudkhilu man yasyaa') muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 42:8 dan 76:31. Keduanya menyebut siapa yang dimasukkan ke dalam rahmat.

Kata (وَالظَّالِمِينَ, wa-zh-zhaalimiin) dalam bentuk ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menamai pihak yang berbuat aniaya.

Rangkaian (عَذَابًا أَلِيمًا, 'adzaaban aliiman) muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:18, 9:39, 48:16, dan 73:13. Ia menamai hukuman yang pedih.

Perhatikan bahwa 73:13 termasuk di antaranya. Surah 73 karena itu muncul untuk keempat kalinya sebagai pembanding di surah ini.

Al-Qur'an tidak menandai satu pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah berbagi empat hal.

Kata (رَحْمَتِهِ, rahmatih) muncul 16 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:105, 7:57, 30:46, dan 57:28. Ia menamai rahmat yang menjadi milik-Nya.

Perhatikan bahwa ayat penutup ini menyebut dua pihak sekaligus. Yang pertama dimasukkan ke dalam rahmat, dan yang kedua disediakan hukuman.

Susunan itu mengembalikan surahnya ke 76:3 dan 76:4. Di sana pun dua pihak disebut berdampingan.

Al-Qur'an tidak menandai pengembalian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini dibuka dan ditutup dengan dua pihak yang sama.

Perhatikan bahwa perbandingannya berubah. Di 76:3 dan 76:4 yang menolak disebut lebih dulu, dan di sini yang diberi rahmat disebut lebih dulu.

Al-Qur'an tidak menerangkan pembalikan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa urutannya dibalik di ayat terakhir.

Perhatikan bahwa hukuman disebut untuk kedua kalinya di surah ini. Penyebutan pertamanya di 76:4.

Jadi dua penyebutan hukuman mengapit delapan belas ayat pemberian. Al-Qur'an tidak menandai susunan itu.

Perhatikan bahwa yang dimasukkan ke dalam rahmat tidak diberi nama. Yang disebut cuma siapa yang dikehendaki.

Cara itu sejalan dengan 76:30. Di sana pun kehendak disebut sebagai penentunya.

Al-Qur'an tidak menyatakan kesinambungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat penutup sama-sama menyebut kehendak.

Perhatikan bahwa ayat ini kembali memakai kehendak sebagai penentu. Sebutan itu baru saja dipakai di 76:30.

Jadi dua ayat penutup berturut-turut memakai satu pokok yang sama. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu.

Yang bisa dibaca cuma bahwa surahnya ditutup dengan pokok yang diulang dua kali beruntun.

Perhatikan bahwa hukuman disebut sudah disediakan. Ia tidak disebut akan dibuat.

Sebutan itu menaruh hukumannya sebagai sesuatu yang sudah ada. Yang belum terjadi cuma pertemuannya.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa kesiapannya ditekankan, bukan pembuatannya.

Perhatikan bahwa pihak kedua diberi nama menurut perbuatannya. Mereka dinamai lewat aniaya yang mereka kerjakan.

Cara itu berbeda dengan pihak pertama yang tidak diberi nama sama sekali. Yang satu dikenali lewat kehendak-Nya, dan yang lain lewat perbuatan mereka sendiri.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pihak dikenali lewat dua jalan yang tidak sama.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menyebut dua pihak sekaligus. Rangkaian tiga kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 42:8 dan 76:31, dan keduanya menyebut siapa yang dimasukkan ke dalam rahmat.

Kata keempatnya dalam bentuk ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menamai pihak yang berbuat aniaya. Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:18, 9:39, 48:16, dan 73:13.

Perhatikan bahwa 73:13 termasuk di antaranya, sehingga surah 73 muncul untuk keempat kalinya sebagai pembanding di surah ini. Al-Qur'an tidak menandai satu pun di antara keempatnya.

Ayat penutup ini menyebut dua pihak, yaitu yang dimasukkan ke dalam rahmat dan yang disediakan hukuman, dan susunan itu mengembalikan surahnya ke 76:3 dan 76:4. Perbandingannya berubah, karena di sana yang menolak disebut lebih dulu sedangkan di sini yang diberi rahmat disebut lebih dulu.

Hukuman juga disebut untuk kedua kalinya di surah ini sesudah 76:4, sehingga dua penyebutan hukuman mengapit delapan belas ayat pemberian. Yang dimasukkan ke dalam rahmat juga tidak diberi nama, sejalan dengan 76:30 yang menyebut kehendak sebagai penentunya. Ayat ini kembali memakai kehendak sebagai penentu sesudah 76:30, sehingga dua ayat penutup berturut-turut memakai satu pokok yang sama. Hukumannya juga disebut sudah disediakan dan bukan akan dibuat, sedangkan pihak kedua diberi nama menurut perbuatannya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian tiga kata pertamanya dipakai Allah cuma di 42:8 dan 76:31, dan keduanya menyebut siapa yang dimasukkan ke dalam rahmat. Dua ayat yang berjauhan memakai rangkaian yang sama untuk maksud yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Rahmat disebut sebagai milik-Nya sendiri, sehingga yang dimasukkan ke dalamnya sedang dimasukkan ke dalam sesuatu yang bukan haknya. Susunan seperti itu tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk merasa telah berjasa lebih dulu.
  • Rangkaian dua kata terakhirnya dipakai Allah di 14 ayat, dan 73:13 termasuk di antaranya. Surah 73 karena itu muncul untuk keempat kalinya sebagai pembanding di surah ini, sesudah 76:25, 76:27, dan 76:29. Dua surah berbagi empat hal tanpa satu penunjuk pun di antaranya. Empat kesamaan itu tersebar merata dari ayat kedua puluh lima sampai ayat yang paling terakhir. Seluruh bagian penutup surah ini karena itu bergema dengan satu surah yang sama tanpa pernah menyebut namanya.
  • Ayat penutup ini menyebut dua pihak sekaligus, dan susunan itu mengembalikan surahnya ke 76:3 dan 76:4. Surah ini dibuka dan ditutup dengan dua pihak yang sama. Al-Qur'an tidak menandai pengembalian itu, dan ia cuma terlihat kalau surahnya dibaca utuh. Yang dibuka dan ditutup dengan dua pihak menandai bahwa seluruh isinya adalah uraian tentang keduanya. Delapan belas ayat di tengahnya cuma memperbesar salah satu dari dua sisi itu.
  • Di 76:3 dan 76:4 yang menolak disebut Allah lebih dulu, sedangkan di sini yang diberi rahmat disebut lebih dulu. Urutannya dibalik tepat di ayat terakhir. Al-Qur'an tidak menerangkan pembalikan itu, dan yang tinggal di ingatan pembacanya karena itu bukan hukumannya. Yang disebut terakhir biasanya paling lama tinggal di telinga. Menaruh rahmat di depan dan hukuman di belakang justru membalik kebiasaan itu tepat di ayat yang paling akhir.
  • Hukuman disebut Allah untuk kedua kalinya di surah ini sesudah 76:4. Dua penyebutan hukuman mengapit delapan belas ayat pemberian. Al-Qur'an tidak menandai susunan itu, dan perbandingan dua berbanding delapan belas menandai ke mana surah ini condong. Dua penyebutan hukuman itu pendek, sedangkan delapan belas ayat di antaranya panjang dan terperinci. Perbandingan ruang seperti itu berbicara lebih keras daripada satu kalimat penegasan yang berdiri sendiri.
  • Yang dimasukkan ke dalam rahmat tidak diberi nama, dan yang disebut Allah cuma siapa yang dikehendaki. Cara itu sejalan dengan 76:30 yang juga menyebut kehendak sebagai penentunya. Kalau dua ayat penutup sama-sama menyerahkan urusannya kepada kehendak, apa yang masih bisa dipastikan seseorang tentang dirinya sendiri? Pihak pertama dikenali lewat kehendak-Nya, dan pihak kedua lewat perbuatan mereka sendiri. Dua jalan pengenalan itu berbeda, dan cuma yang kedua yang sepenuhnya berada di tangan orangnya sendiri.