فَالْعَاصِفَاتِ عَصْفًا

Demi yang bertiup dengan kencang,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَالْعَاصِفَاتِ عَصْفًاfa-l-'aashifaati 'ashfandemi yang bertiup dengan kencang

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَالْعَاصِفَاتِfa-l-'aashifaatidan demi yang berembus kencang
  2. عَصْفًا'ashfansekencang-kencangnya

Inti bacaan

Sumpah kedua dengan citra kekuatan alam: 'demi yang bertiup dengan kencang', kelanjutan rangkaian sumpah yang menggunakan fenomena bertenaga sebagai saksi, membangun momentum retoris menuju pernyataan utama yang akan mengikuti.

Penjelasan pilihan kata

Kata (فَالْعَاصِفَاتِ, fa al-'aashifaat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (عَصْفًا, 'ashfan) juga muncul 1 kali.

Akar (عَصْفًا, 'ashfan) cuma dipakai di 6 ayat: 10:22, 14:18, 21:81, 55:12, 77:2, dan 105:5. Kejarangan seperti itu tidak lazim.

Di 21:81 akar (عَصْفًا, 'ashfan) dipakai untuk angin yang bertiup kencang. Di 10:22 ia dipakai untuk angin badai yang menghantam kapal.

Di 55:12 dan 105:5 akar (عَصْفًا, 'ashfan) dipakai untuk kulit biji yang tinggal ampas. Jadi satu akar memuat angin yang mengamuk dan sisa yang tak berharga.

Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan dua arti itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya sama-sama menyebut sesuatu yang tersapu habis.

Ayat ini memakai huruf sambung yang berbeda dari 77:1. Yang pertama disambung wau, dan yang ini disambung fa.

Perbedaan itu tidak kecil. Wau menderetkan, sedangkan fa menyatakan urutan yang menyusul.

Jadi ayat ini bukan sekadar tambahan bagi 77:1, melainkan kelanjutannya. Yang disebut di sini terjadi sesudah yang disebut di sana.

Pergantian itu berulang di lima ayat pembukanya. Wau dipakai di 77:1 dan 77:3, sedangkan fa dipakai di 77:2, 77:4, dan 77:5.

Al-Qur'an tidak menerangkan pola itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa kelima ayatnya tidak disambung dengan cara yang seragam.

Ayat ini mengulang akar (فَالْعَاصِفَاتِ, fa al-'aashifaat) dua kali berturut-turut. Kedua patahnya sama-sama berasal dari akar yang menyebut hembusan.

Pengulangan seperti itu berlaku juga di 77:3 dan 77:4. Tiga ayat dari lima memakai dua kata seakar yang berdampingan.

Perhatikan pula bahwa dua pekerjaan pertama berlawanan rasanya. Yang pertama terdengar tertib, dan yang kedua terdengar mengamuk.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sifat yang berlawanan disebut berturut-turut tanpa satu kata pemisah.

Perhatikan pula bahwa huruf sambung fa mengikat keduanya jadi satu urutan. Yang mengamuk bukan pihak lain, melainkan lanjutan dari yang diutus.

Ikatan itu mengubah bacaannya. Kalau keduanya satu urutan, maka yang tertib dan yang mengamuk adalah dua tahap dari satu pekerjaan.

Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut apa yang dihembus. Objeknya dikosongkan, sama seperti di 77:1.

Pengosongan itu berlaku sampai 77:4. Empat ayat berturut-turut menyebut pekerjaan tanpa menyebut sasarannya.

Al-Qur'an baru menyebut sasaran di 77:5. Di sana yang disampaikan akhirnya diberi nama.

Jadi deretnya bergerak dari kosong ke terisi. Empat ayat menahan keterangan, dan ayat kelima melepaskannya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sumpah dengan pekerjaan kedua yang juga tidak dinamai pelakunya. Kedua katanya sama-sama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 6 ayat: 10:22, 14:18, 21:81, 55:12, 77:2, dan 105:5.

Di 21:81 akar itu dipakai untuk angin yang bertiup kencang, dan di 10:22 untuk angin badai yang menghantam kapal. Di 55:12 dan 105:5 akar yang sama dipakai untuk kulit biji yang tinggal ampas, sehingga satu akar memuat angin yang mengamuk dan sisa yang tak berharga.

Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan dua arti itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya sama-sama menyebut sesuatu yang tersapu habis.

Ayat ini memakai huruf sambung yang berbeda dari 77:1, karena yang pertama disambung wau sedangkan yang ini disambung fa. Wau menderetkan, sedangkan fa menyatakan urutan yang menyusul, sehingga ayat ini bukan sekadar tambahan melainkan kelanjutan.

Pergantian itu berulang di lima ayat pembukanya, karena wau dipakai di 77:1 dan 77:3 sedangkan fa dipakai di 77:2, 77:4, dan 77:5. Dua pekerjaan pertama berlawanan rasanya, karena yang pertama terdengar tertib dan yang kedua terdengar mengamuk, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Huruf sambung fa mengikat keduanya jadi satu urutan, sehingga yang tertib dan yang mengamuk terbaca sebagai dua tahap dari satu pekerjaan. Ayat ini juga tidak menyebut apa yang dihembus, dan pengosongan objek itu berlaku sampai 77:4 sebelum akhirnya dilepaskan di 77:5.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kedua kata di ayat ini cuma dipakai Allah di 6 ayat: 10:22, 14:18, 21:81, 55:12, 77:2, dan 105:5. Kejarangan seperti itu tidak lazim untuk gambaran yang sering dipakai orang. Sebuah akar yang cuma hidup di enam tempat membawa keenamnya serta setiap kali ia terdengar. Kejarangan itu membuat gambarannya tidak tertukar dengan gambaran lain. Tidak ada pemakaian yang cukup sering untuk menutupi kemunculannya di sini, sehingga enam tempat itu selalu terbawa bersama setiap kali ia dibaca.
  • Di 21:81 dan 10:22 Allah memakai akar ini untuk angin yang bertiup kencang, sedangkan di 55:12 dan 105:5 untuk kulit biji yang tinggal ampas. Satu akar memuat angin yang mengamuk dan sisa yang tak berharga. Keduanya sama-sama menyebut sesuatu yang tersapu habis, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Keduanya sama-sama menyebut sesuatu yang tersapu habis, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Bahasa menyimpan kaitan yang tidak pernah diucapkan siapa pun, dan kaitan itu tetap ada meskipun tidak seorang pun menyadarinya.
  • Allah memakai wau di 77:1 dan 77:3, sedangkan fa dipakai di 77:2, 77:4, dan 77:5. Wau menderetkan, sedangkan fa menyatakan urutan yang menyusul. Kelima ayat pembukanya karena itu tidak disambung dengan cara yang seragam, dan yang di sini terjadi sesudah yang di 77:1. Kelima ayat pembukanya karena itu tidak disambung dengan cara yang seragam. Yang di sini terjadi sesudah yang di 77:1, dan bukan sekadar ditambahkan di sebelahnya, sehingga keduanya harus dibaca sebagai satu urutan.
  • Ayat ini mengulang akar yang sama dua kali berturut-turut, dan Allah memakai cara yang sama di 77:3 dan 77:4. Tiga ayat dari lima memakai dua kata seakar yang berdampingan. Pengulangan seakar dalam satu ayat pendek menekan tanpa menambah satu keterangan pun. Pengulangan seakar dalam satu ayat pendek menekan tanpa menambah satu keterangan pun. Yang bertambah bukan isinya, melainkan bobot yang ditanggung bunyinya, dan bobot itu masuk tanpa satu keterangan baru pun.
  • Pekerjaan yang disebut di sini keras, tetapi Allah tidak menamai siapa yang mengerjakannya. Ketiadaan nama itu sama seperti di 77:1. Sebuah kekuatan yang tidak dikenali lebih sulit ditakar daripada kekuatan yang sudah punya nama. Sebuah kekuatan yang tidak dikenali lebih sulit ditakar daripada kekuatan yang sudah punya nama. Yang tidak bisa ditakar juga tidak bisa disiapkan penangkalnya, sehingga ketidaktahuan itu sendiri sudah menjadi bagian dari beratnya.
  • Dua arti yang dimuat akar ini sama-sama berakhir pada ketiadaan, baik oleh angin maupun sebagai ampas. Kalau satu akar yang sama menamai penyapu sekaligus yang tersapu, apa yang sebenarnya sedang disumpahkan Allah di ayat ini? Kalau satu akar yang sama menamai penyapu sekaligus yang tersapu, gambarannya berputar pada dirinya sendiri. Bahasa menaruh dua ujung sebuah peristiwa di dalam satu bunyi, dan yang menyapu serta yang tersapu jadi tidak bisa dipisahkan lagi.