فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْ

Maka apabila bintang-bintang dihapuskan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْfa-idzaa n-nujuumu thumisatmaka apabila bintang-bintang dihapuskan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. النُّجُومُn-nujuumubintang-bintang
  3. طُمِسَتْthumisatdihapuskan

Inti bacaan

Tanda pertama kehancuran kosmik: 'apabila bintang-bintang dihapuskan', awal rangkaian perubahan drastis yang menandai peristiwa besar, penghapusan elemen yang selama ini dianggap tetap.

Penjelasan pilihan kata

Kata (طُمِسَتْ, thumisat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 5 ayat: 4:47, 10:88, 36:66, 54:37, dan 77:8.

Di 36:66 dan 54:37 akar (طُمِسَتْ, thumisat) dipakai untuk mata yang dihapus penglihatannya. Di 4:47 ia dipakai untuk wajah yang dihapus rupanya.

Jadi empat pemakaian lainnya menyangkut anggota tubuh manusia. Yang kelima, di ayat ini, menyangkut benda langit.

Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bunyi dasar yang biasanya menghapus penglihatan di sini menghapus yang dilihat.

Kata (النُّجُومُ, an-nujuum) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 16:12, 22:18, 77:8, dan 81:2. Akarnya dipakai di 13 ayat.

Di 16:12 kata (النُّجُومُ, an-nujuum) disebut sebagai yang ditundukkan untuk manusia. Di 22:18 ia disebut sebagai yang bersujud.

Jadi tiga penyebutan lainnya berupa benda yang tertib dan berguna. Yang di sini justru dihapus.

Perhatikan bahwa ayat ini membuka rangkaian empat ayat yang bentuknya sama persis. Dari 77:8 sampai 77:11 setiap ayat menyebut benda lalu kata kerja yang tidak menyebut pelakunya.

Keempatnya cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Empat sebutan sekali pakai berturut-turut adalah kepadatan yang tidak lazim.

Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini dua kali menumpuk kata langka, yaitu di 77:1 sampai 77:5 dan di sini.

Ayat ini disambung fa, sedangkan tiga ayat sesudahnya disambung wau. Pergantian yang sama sudah dipakai di lima ayat pembukanya.

Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan pola itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua rangkaian di surah ini disusun dengan cara yang sejenis.

Perhatikan pula bahwa rangkaian ini dibuka dengan benda yang paling jauh dari jangkauan manusia. Bintang tidak bisa disentuh, dan tidak bisa diubah oleh siapa pun.

Urutan seperti itu menentukan beratnya. Kalau yang paling jauh saja bisa dihapus, yang lebih dekat tidak perlu dibicarakan lagi.

Perhatikan pula bahwa yang disebut bukan bintangnya jatuh, melainkan cahayanya hilang. Bendanya tidak dinyatakan lenyap, dan yang dinyatakan lenyap adalah tampaknya.

Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Sesuatu yang jatuh masih ada di suatu tempat, sedangkan sesuatu yang terhapus tidak lagi bisa ditemukan.

Perhatikan pula bahwa rangkaian ini tidak menyebut satu ukuran waktu pun. Tidak ada urutan hari, tidak ada lama, dan tidak ada tanda mana yang lebih dulu.

Yang menyusun urutannya cuma huruf sambungnya. Al-Qur'an tidak memberi satu keterangan waktu pun di sepanjang empat ayatnya.

Perhatikan pula bahwa rangkaian ini menjawab pertanyaan yang belum diajukan. Pembacanya belum bertanya apa yang terjadi, dan keterangannya sudah datang.

Pertanyaannya baru muncul di 77:12. Jadi keterangan mendahului pertanyaan, dan bukan sebaliknya.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian empat ayat tentang apa yang terjadi pada hari itu. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 5 ayat: 4:47, 10:88, 36:66, 54:37, dan 77:8.

Di 36:66 dan 54:37 akar itu dipakai untuk mata yang dihapus penglihatannya, dan di 4:47 untuk wajah yang dihapus rupanya. Jadi empat pemakaian lainnya menyangkut anggota tubuh manusia, sedangkan yang di sini menyangkut benda langit.

Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 16:12, 22:18, 77:8, dan 81:2, dan akarnya dipakai di 13 ayat. Di 16:12 ia disebut sebagai yang ditundukkan untuk manusia, dan di 22:18 sebagai yang bersujud.

Ayat ini membuka empat ayat yang bentuknya sama persis, karena dari 77:8 sampai 77:11 setiap ayat menyebut benda lalu kata kerja yang tidak menyebut pelakunya. Keempat kata kerja itu cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an.

Ayat ini disambung fa sedangkan tiga ayat sesudahnya disambung wau, dan pergantian yang sama sudah dipakai di lima ayat pembukanya. Rangkaian ini dibuka dengan benda yang paling jauh dari jangkauan manusia, sehingga kalau yang paling jauh saja bisa dihapus, yang lebih dekat tidak perlu dibicarakan lagi. Yang disebut juga bukan bintangnya jatuh melainkan cahayanya hilang, dan sesuatu yang terhapus tidak lagi bisa ditemukan sedangkan yang jatuh masih ada di suatu tempat. Rangkaian ini juga tidak menyebut satu ukuran waktu pun, karena yang menyusun urutannya cuma huruf sambungnya, dan keterangannya datang sebelum pertanyaannya diajukan di 77:12.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai Allah di 5 ayat: 4:47, 10:88, 36:66, 54:37, dan 77:8. Di 36:66 dan 54:37 ia menghapus penglihatan mata, dan di 4:47 menghapus rupa wajah. Empat pemakaian lainnya menyangkut anggota tubuh manusia, sedangkan yang di sini menyangkut benda langit. Sebuah akar yang cuma hidup di lima ayat membawa kelimanya serta setiap kali ia terdengar. Yang biasanya dipakai untuk tubuh manusia di sini dipindahkan ke langit tanpa satu kalimat penjelas pun, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri akibatnya.
  • Kata keduanya dipakai Allah cuma di 16:12, 22:18, 77:8, dan 81:2. Di 16:12 bintang disebut sebagai yang ditundukkan untuk manusia, dan di 22:18 sebagai yang bersujud. Tiga penyebutan lainnya berupa benda yang tertib dan berguna, sedangkan yang di sini justru dihapus. Yang selama ini dipakai menemukan arah justru yang pertama dihapus. Urutan seperti itu memilih benda yang paling dirasakan kehilangannya oleh manusia, bukan benda yang paling mudah dilukiskan hancur.
  • Dari 77:8 sampai 77:11 setiap ayat menyebut benda lalu kata kerja yang tidak menyebut pelakunya, dan keempat kata kerja itu cuma sekali dipakai Allah di seluruh Al-Qur'an. Empat kata sekali pakai berturut-turut adalah kepadatan yang tidak lazim. Surah ini dua kali menumpuk kata langka, yaitu di 77:1 sampai 77:5 dan di sini. Surah ini dua kali menumpuk kata langka, yaitu di lima ayat pembukanya dan di rangkaian ini. Dua penumpukan itu berdiri di dua bagian yang isinya berbeda jauh, dan keduanya sama-sama menuntut pembacanya melambat.
  • Keempat kata kerja di rangkaian ini tidak menyebut siapa yang mengerjakannya. Allah menahan nama pelakunya sama seperti di tujuh ayat pertama surah ini. Yang tersisa bagi pembacanya cuma peristiwanya, dan peristiwa tanpa pelaku terasa datang dari segala arah. Peristiwa tanpa pelaku terasa datang dari segala arah. Tidak ada satu tangan pun yang bisa ditunjuk, dan karena itu tidak ada satu tangan pun yang bisa dicegah atau dimintai penjelasan.
  • Ayat ini disambung fa sedangkan tiga ayat sesudahnya disambung wau, dan Allah memakai pergantian yang sama di lima ayat pembukanya. Dua rangkaian di surah ini karena itu disusun dengan cara yang sejenis. Pengulangan susunan mengikat dua bagian yang isinya berbeda. Pengulangan susunan mengikat dua bagian yang isinya berbeda. Telinga mengenali polanya sebelum pikiran sempat membandingkan isinya, dan pengenalan itu bekerja tanpa satu penanda tertulis.
  • Bintang disebut Allah di 16:12 sebagai yang ditundukkan untuk manusia, dan di sini ia dihapus. Kalau tanda yang selama ini dipakai untuk menemukan arah justru yang pertama dihapus, ke mana lagi orang akan menoleh pada hari itu? Bintang adalah benda paling jauh yang bisa dilihat manusia, dan Allah menaruhnya di urutan pertama. Kalau yang terjauh saja bisa dihapus, yang lebih dekat tidak perlu dibicarakan lagi, dan pembacanya sudah bisa menyimpulkan sisanya sendiri.