وَإِذَا السَّمَاءُ فُرِجَتْ
Dan apabila langit dibelah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا السَّمَاءُ فُرِجَتْwa-idzaa s-samaa'u furijatdan apabila langit dibelah
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- السَّمَاءُs-samaa'ulangit
- فُرِجَتْfurijatdibelah
Inti bacaan
Tanda kedua struktur langit: 'dan apabila langit dibelah', kelanjutan transformasi kosmik yang menegaskan skala perubahan yang akan terjadi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فُرِجَتْ, furijat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 9 ayat: 21:91, 23:5, 24:30, 24:31, 33:35, 50:6, 66:12, 70:29, dan 77:9.
Di 50:6 akar (فُرِجَتْ, furijat) dipakai untuk langit yang tidak punya celah sedikit pun. Jadi akar yang sama menyebut ketiadaan celah di sana dan terbelahnya di sini.
Al-Qur'an tidak menyandingkan dua ayat itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu akar dipakai untuk langit yang rapat dan langit yang terbuka.
Perhatikan bahwa perbandingan itu tajam. Yang di 50:6 disebut tanpa retak, dan yang di sini disebut sudah terbelah.
Kata (السَّمَاءُ, as-samaa') di ayat ini disebut sebelum kata kerjanya. Susunan itu berlaku di keempat ayat rangkaian ini.
Bandingkan dengan 78:19, yang menaruh perbuatannya lebih dulu lalu langitnya. Dua surah memakai urutan yang berlawanan untuk peristiwa yang sama.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa langit dan gunung disebut berurutan di dua surah dengan susunan yang tidak sama.
Perhatikan bahwa 78:19 dan 78:20 memakai bunyi dasar yang berbeda dari 77:9 dan 77:10. Bendanya sama, dan perbuatannya tidak.
Jadi dua surah melukiskan dua benda yang sama dengan empat perbuatan yang berbeda. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu.
Ayat ini disambung wau, berbeda dari 77:8 yang disambung fa. Pergantian itu terjadi tepat sesudah ayat pertama rangkaiannya.
Perhatikan bahwa langit disebut sesudah bintang. Urutan itu bergerak dari yang kecil ke yang besar.
Di 77:10 urutannya turun ke bumi. Jadi tiga ayat pertama rangkaian ini bergerak dari langit tinggi ke tanah, lalu ayat keempat berpindah ke manusia yang diutus.
Perhatikan pula bahwa langit disebut sebagai satu benda tunggal di ayat ini. Ia tidak disebut berlapis, dan tidak disebut jumlahnya.
Cara itu berbeda dari 78:12, yang menyebut tujuh langit yang kokoh. Dua surah bertetangga menyebut benda yang sama dengan cara yang tidak sama.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang di satu tempat dihitung, di tempat lain tidak.
Perhatikan pula bahwa terbelah bukan gambaran yang lembut. Ia menyebut sesuatu yang utuh lalu terpisah, dan pemisahan itu tidak bisa dikembalikan.
Gambaran itu sejalan dengan nama harinya. Hari itu dinamai hari pemisahan, dan langitnya pun dilukiskan terpisah.
Al-Qur'an tidak menyatakan kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pemisahan disebut di dua tingkat sekaligus, yaitu pada benda dan pada manusia.
Perhatikan pula bahwa ayat ini adalah yang kedua dari empat. Ia berdiri di antara bintang yang terhapus dan gunung yang dihamburkan.
Kedudukan itu membuatnya jadi penghubung. Yang di atasnya di langit tinggi, dan yang di bawahnya di permukaan bumi.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rangkaian tanda kehancuran kosmis. Ayat ini menyebut peristiwa kedua di dalam rangkaian empat ayat. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 9 ayat: 21:91, 23:5, 24:30, 24:31, 33:35, 50:6, 66:12, dan 70:29, selain ayat ini.
Di 50:6 akar itu dipakai untuk langit yang tidak punya celah sedikit pun, sehingga satu akar menyebut ketiadaan celah di sana dan terbelahnya di sini. Al-Qur'an tidak menyandingkan dua ayat itu dengan satu kalimat pun.
Kata keduanya disebut sebelum kata kerjanya, dan susunan itu berlaku di keempat ayat rangkaian ini. Bandingkan dengan 78:19, yang menyebut kata kerjanya lebih dulu lalu langitnya, sehingga dua surah memakai urutan yang berlawanan untuk peristiwa yang sama.
Perhatikan pula bahwa 78:19 dan 78:20 memakai akar yang berbeda dari 77:9 dan 77:10, sehingga bendanya sama sedangkan kata kerjanya tidak. Dua surah melukiskan dua benda yang sama dengan empat kata kerja yang berbeda.
Ayat ini disambung wau, berbeda dari 77:8 yang disambung fa, dan pergantian itu terjadi tepat sesudah ayat pertama rangkaiannya. Langit disebut sebagai satu benda tunggal di ayat ini, tidak berlapis dan tidak disebut jumlahnya, berbeda dari 78:12 yang menyebut tujuh langit yang kokoh. Terbelah juga bukan gambaran yang lembut, karena ia menyebut sesuatu yang utuh lalu terpisah dan pemisahan itu tidak bisa dikembalikan. Gambaran itu sejalan dengan nama harinya, karena hari itu dinamai hari pemisahan dan langitnya pun dilukiskan terpisah, sehingga pemisahan disebut di dua tingkat sekaligus.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 9 ayat, dan di 50:6 ia menyebut langit yang tidak punya celah sedikit pun. Satu akar dipakai untuk langit yang rapat dan langit yang terbuka, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan dua ayat itu. Yang di 50:6 disebut tanpa retak, dan yang di sini sudah terbelah. Yang di 50:6 disebut tanpa retak, dan yang di sini sudah terbelah. Satu akar yang sama menampung kerapatan yang sempurna dan keterbukaan yang tidak bisa ditutup lagi, dan Al-Qur'an sendiri tidak pernah menyandingkan kedua ayat itu.
- Allah menyebut bendanya sebelum kata kerjanya di sini, sedangkan di 78:19 kata kerjanya disebut lebih dulu. Dua surah memakai urutan yang berlawanan untuk peristiwa yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Susunan yang dibalik mengubah apa yang pertama sampai ke telinga pembacanya. Susunan yang dibalik mengubah apa yang pertama sampai ke telinga pembacanya. Yang satu memulai dari bendanya, dan yang lain memulai dari peristiwanya, sehingga bayangan yang terbentuk di kepala pembacanya tidak sama di kedua tempat itu.
- Di 78:19 dan 78:20 Allah memakai akar yang berbeda dari yang dipakai di 77:9 dan 77:10, padahal bendanya sama. Dua surah melukiskan langit dan gunung dengan empat kata kerja yang berbeda. Satu peristiwa yang dilukiskan dengan kata yang berlainan tidak menjadi dua peristiwa. Satu peristiwa yang dilukiskan dengan kata yang berlainan tidak menjadi dua peristiwa. Yang berbeda cuma sudut memandangnya, dan bendanya tetap satu, sehingga dua surah itu saling melengkapi dan tidak saling membantah.
- Allah menyebut langit sesudah bintang, sehingga urutannya bergerak dari yang kecil ke yang besar. Di 77:10 urutannya turun ke bumi, dan di 77:11 berpindah ke manusia yang diutus. Rangkaian ini karena itu bergerak melintasi seluruh yang bisa dibayangkan pembacanya. Rangkaian ini bergerak melintasi seluruh yang bisa dibayangkan pembacanya. Dari bintang di kejauhan sampai manusia yang diutus, tidak ada satu tingkat pun yang dilewati begitu saja tanpa disebut.
- Keempat ayat rangkaian ini menyebut bendanya lebih dulu lalu kata kerjanya, dan susunan itu dijaga Allah tanpa satu pun menyimpang. Keseragaman seperti itu membuat keempatnya terdengar sebagai satu pukulan berulang. Yang berubah cuma bendanya, dan iramanya tidak bergeser sedikit pun. Yang berubah cuma bendanya, dan iramanya tidak bergeser sedikit pun. Keseragaman seperti itu membuat keempat ayatnya terdengar sebagai satu pukulan yang berulang empat kali tanpa jeda.
- Langit disebut Allah di 50:6 sebagai yang tidak punya celah sedikit pun. Kalau yang selama ini paling sempurna kerapatannya justru dilukiskan terbelah, apa lagi yang bisa dianggap tidak mungkin berubah? Langit disebut Allah di 50:6 sebagai yang tidak punya celah sedikit pun. Yang paling sempurna kerapatannya justru dilukiskan terbelah. Ukuran keutuhan yang selama ini dipegang orang karena itu ikut terhapus bersamanya.