وَإِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْ
Dan apabila gunung-gunung dihancurkan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْwa-idzaa l-jibaalu nusifatdan apabila gunung-gunung dihancurkan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- الْجِبَالُl-jibaalugunung-gunung
- نُسِفَتْnusifatdihancurkan
Inti bacaan
Tanda ketiga kehancuran daratan: 'dan apabila gunung-gunung dihancurkan', pelengkap rangkaian tanda yang mencakup baik langit maupun bumi, kehancuran menyeluruh tanpa pengecualian.
Penjelasan pilihan kata
Kata (نُسِفَتْ, nusifat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 20:97, 20:105, dan 77:10.
Di 20:105 akar (نُسِفَتْ, nusifat) juga dipakai untuk gunung. Jadi dua dari tiga pemakaiannya menyangkut benda yang sama.
Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa bunyi dasar yang hampir tidak pernah dipakai muncul dua kali untuk gunung.
Di 20:97 akar (نُسِفَتْ, nusifat) dipakai untuk sesuatu yang dihamburkan ke laut. Jadi arti dasarnya menghamburkan sampai tak bersisa.
Perhatikan bahwa 20:105 menyebut siapa yang mengerjakannya, sedangkan ayat ini tidak. Di sana disebut Tuhanku, dan di sini pelakunya dibiarkan tidak dinamai.
Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu peristiwa dilukiskan dengan pelaku di satu tempat dan tanpa pelaku di tempat lain.
Kata (الْجِبَالُ, al-jibaal) disebut sebelum kata kerjanya, sama seperti di 77:9. Susunan itu dijaga di seluruh rangkaian ini.
Bandingkan dengan 78:20, yang menyebut gunung dijalankan lalu menjadi bayangan air. Di sana gunung berpindah, dan di sini gunung dihamburkan.
Dua gambaran itu tidak sama. Yang satu masih menyisakan wujud yang bergerak, dan yang lain tidak menyisakan apa pun.
Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah bertetangga memakai dua gambaran yang berbeda beratnya.
Perhatikan bahwa gunung disebut sesudah langit, sama seperti urutan di 78:19 dan 78:20. Dua surah memakai urutan benda yang sama persis.
Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa langit selalu disebut sebelum gunung di kedua tempat itu.
Perhatikan pula bahwa gunung disebut sesudah langit, dan urutan itu turun. Rangkaian ini bergerak dari yang paling tinggi ke yang paling dekat.
Gerakan turun itu berhenti di 77:11. Di sana yang disebut bukan lagi benda, melainkan manusia yang diutus.
Perhatikan pula bahwa gunung adalah benda yang dipakai orang untuk menamai apa yang tetap. Menghancurkannya berarti menghapus ukuran ketetapan itu sendiri.
Al-Qur'an tidak menyatakan akibat itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa benda pembanding ketetapan justru dilukiskan hilang tanpa sisa.
Perhatikan pula bahwa ketiga benda di rangkaian ini sama-sama benda yang tidak bisa disentuh manusia. Bintang, langit, dan gunung tidak satu pun bisa diubah oleh tangan siapa pun.
Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang dipilih seluruhnya di luar jangkauan.
Perhatikan pula bahwa pilihan itu menutup satu bantahan. Tidak ada yang bisa berkata bahwa peristiwanya bisa dicegah dengan usaha.
Ketiga benda itu memang tidak pernah berada dalam kuasa manusia. Yang bisa menghapusnya karena itu bukan manusia juga.
Tafsiran
Ayat ini menyebut peristiwa ketiga, dan kata kerjanya berasal dari akar yang hampir tidak pernah dipakai. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 20:97, 20:105, dan 77:10.
Di 20:105 akar itu juga dipakai untuk gunung, sehingga dua dari tiga pemakaiannya menyangkut benda yang sama. Di 20:97 ia dipakai untuk sesuatu yang dihamburkan ke laut, sehingga arti dasarnya menghamburkan sampai tak bersisa.
Perhatikan bahwa 20:105 menyebut siapa yang mengerjakannya sedangkan ayat ini tidak, karena di sana disebut Tuhanku dan di sini pelakunya dibiarkan tidak dinamai. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.
Bandingkan dengan 78:20, yang menyebut gunung dijalankan lalu menjadi bayangan air. Di sana gunung berpindah dan masih menyisakan bentuk yang bergerak, sedangkan di sini gunung dihamburkan tanpa menyisakan apa pun.
Gunung juga disebut sesudah langit, sama seperti urutan di 78:19 dan 78:20, sehingga dua surah memakai urutan benda yang sama persis. Gunung disebut sesudah langit, dan urutan itu turun dari yang paling tinggi ke yang paling dekat sebelum berhenti di 77:11 yang menyebut manusia. Gunung juga benda yang dipakai orang untuk menamai apa yang tetap, sehingga menghancurkannya berarti menghapus ukuran ketetapan itu sendiri. Ketiga benda di rangkaian ini sama-sama tidak bisa disentuh manusia, dan pilihan itu menutup bantahan bahwa peristiwanya bisa dicegah dengan usaha.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai Allah di 3 ayat: 20:97, 20:105, dan 77:10. Dua dari tiga pemakaiannya menyangkut gunung, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Sebuah akar yang hampir tidak pernah dipakai muncul dua kali untuk benda yang sama, dan itu sulit disebut kebetulan. Sebuah akar yang hampir tidak pernah dipakai muncul dua kali untuk benda yang sama. Kejarangan yang berpasangan seperti itu sulit disebut kebetulan oleh siapa pun yang menghitungnya sendiri.
- Di 20:97 Allah memakai akar ini untuk sesuatu yang dihamburkan ke laut, sehingga arti dasarnya menghamburkan sampai tak bersisa. Yang dihamburkan tidak bisa dikumpulkan kembali. Gambaran itu lebih keras daripada gambaran runtuh, karena runtuh masih meninggalkan puing. Yang dihamburkan tidak bisa dikumpulkan kembali. Gambaran itu lebih keras daripada gambaran runtuh, karena runtuh masih meninggalkan puing yang bisa disentuh dan dihitung.
- Di 20:105 Allah menyebut siapa yang mengerjakannya, sedangkan di sini pelakunya dibiarkan tidak dinamai. Satu peristiwa dilukiskan dengan pelaku di satu tempat dan tanpa pelaku di tempat lain. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya memang tidak sama susunannya. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya memang tidak sama susunannya. Yang satu menamai tangannya, dan yang lain membiarkannya tak dikenali sama sekali sepanjang ayatnya.
- Di 78:20 Allah menyebut gunung dijalankan lalu menjadi bayangan air, sedangkan di sini gunung dihamburkan. Yang satu masih menyisakan bentuk yang bergerak, dan yang lain tidak menyisakan apa pun. Dua surah bertetangga memakai dua gambaran yang berbeda beratnya untuk benda yang sama. Dua surah bertetangga memakai dua gambaran yang berbeda beratnya untuk benda yang sama. Membaca keduanya berdampingan memberi dua tahap dari satu peristiwa yang sama, mulai dari yang masih berpindah sampai yang tidak bersisa sedikit pun.
- Allah menyebut gunung sesudah langit di sini, sama seperti urutan di 78:19 dan 78:20. Dua surah memakai urutan benda yang sama persis, dan kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun. Urutan yang tetap di dua tempat menandai susunan yang dipilih, bukan kebetulan. Urutan yang tetap di dua tempat menandai susunan yang dipilih, bukan kebetulan. Langit selalu disebut lebih dulu, dan gunung selalu menyusul, baik di surah ini maupun di surah yang bertetangga dengannya.
- Gunung adalah benda yang dipakai orang untuk menamai apa yang tidak bergerak, dan Allah melukiskannya dihamburkan. Kalau yang paling berat pun bisa hilang tanpa sisa, ukuran apa lagi yang bisa dipakai untuk menakar yang kekal? Gunung dipakai orang untuk menamai apa yang tidak bergerak, dan Allah melukiskannya dihamburkan. Ukuran yang selama ini dipakai orang untuk menakar ketetapan justru yang dihapus lebih dulu, sehingga tidak tersisa pembanding untuk menakarnya.