لِأَيِّ يَوْمٍ أُجِّلَتْ
Untuk hari apakah ditangguhkan?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لِأَيِّ يَوْمٍ أُجِّلَتْli-ayyi yawmin ujjilatuntuk hari apakah ditangguhkan
Terjemahan per kata (3 kata)
- لِأَيِّli-ayyikarena dosa apa
- يَوْمٍyawminhari
- أُجِّلَتْujjilatditangguhkan
Inti bacaan
Pertanyaan tentang penangguhan: 'sampai hari apakah ditangguhkan?', teknik retoris yang membangun ketegangan sebelum jawaban diberikan, mengundang perenungan tentang batas waktu yang telah ditetapkan.
Penjelasan pilihan kata
Tidak ada verba qaala/qiila maupun pergeseran orang pada ayat (لِأَيِّ, li-ayyi) ini: pertanyaan retoris ini diterjemahkan tanpa tanda kutip, melanjutkan suara narator yang sama dari ayat sebelumnya, berbeda dari draf yang membubuhkan kutip.
Kata (لِأَيِّ, li-ayyi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (أُجِّلَتْ, ujjilat) juga muncul 1 kali.
Akar (أُجِّلَتْ, ujjilat) dipakai di 48 ayat, antara lain 6:2, 7:34, 11:104, dan 71:4. Artinya menetapkan tenggat.
Perhatikan bahwa ayat ini berupa pertanyaan. Sesudah empat ayat yang menyatakan, datang satu ayat yang bertanya.
Pergeseran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa rangkaian pernyataan diputus oleh pertanyaan.
Perhatikan bahwa pertanyaannya tidak menanyakan apa yang terjadi. Yang ditanyakan adalah untuk hari apa semuanya itu ditangguhkan.
Jadi pertanyaannya menuntut nama, bukan keterangan. Empat ayat sebelumnya sudah melukiskan peristiwanya, dan yang kurang tinggal namanya.
Al-Qur'an menjawab pertanyaan itu di ayat berikutnya. Jarak antara pertanyaan dan jawabannya cuma satu ayat.
Perhatikan bahwa jawaban secepat itu tidak lazim di surah ini. Pertanyaan di 77:14 justru tidak dijawab langsung.
Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pertanyaan berdekatan diperlakukan dengan cara yang berbeda.
Kata (أُجِّلَتْ, ujjilat) berbentuk penderita, sama seperti empat kata kerja sebelumnya. Lima kata kerja berturut-turut tidak menyebut siapa pelakunya.
Perhatikan bahwa yang ditangguhkan bukan peristiwanya, melainkan waktunya. Peristiwanya sudah pasti, dan yang belum diketahui cuma harinya.
Susunan itu sejalan dengan 77:7. Di sana ditegaskan bahwa yang dijanjikan pasti jatuh, tanpa menyebut kapan.
Perhatikan pula bahwa pertanyaan ini tidak ditujukan kepada siapa pun. Tidak ada yang disapa, dan tidak ada yang diminta menjawab.
Pertanyaan tanpa alamat seperti itu menggantung di udara. Ia terdengar seperti suara yang keluar dari peristiwanya sendiri.
Perhatikan pula bahwa (لِأَيِّ, li-ayyi) cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Kelangkaan itu membuat pertanyaannya tidak terdengar seperti pertanyaan biasa.
Al-Qur'an tidak menandai kelangkaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bahkan alat bertanyanya pun tidak dipakai di tempat lain mana pun.
Perhatikan pula bahwa yang ditanyakan adalah tujuan penangguhan, bukan sebabnya. Yang dicari bukan mengapa ditunda, melainkan untuk hari apa ditunda.
Perbedaan itu berakibat. Menanyakan sebab menuntut penjelasan, sedangkan menanyakan tujuan menuntut nama.
Al-Qur'an memberi nama itu di 77:13. Jadi pertanyaannya dijawab dengan tepat apa yang dituntutnya.
Kecocokan itu tidak dinyatakan. Yang bisa dibaca cuma bahwa susunan pertanyaannya dan susunan jawabannya sepadan.
Tafsiran
Ayat ini mengajukan pertanyaan retoris tentang penangguhan waktu kesaksian para rasul. Ayat ini memutus rangkaian pernyataan dengan sebuah pertanyaan. Kedua katanya sama-sama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akar kata terakhirnya dipakai di 48 ayat, antara lain 6:2, 7:34, 11:104, dan 71:4.
Arti akarnya menetapkan tenggat. Yang ditanyakan bukan apa yang terjadi, melainkan untuk hari apa semuanya itu ditangguhkan, sehingga pertanyaannya menuntut nama dan bukan keterangan.
Empat ayat sebelumnya sudah melukiskan peristiwanya, dan yang kurang tinggal namanya. Al-Qur'an menjawab pertanyaan itu di ayat berikutnya, sehingga jaraknya cuma satu ayat.
Jawaban secepat itu tidak lazim di surah ini, karena pertanyaan di 77:14 justru tidak dijawab langsung. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan perlakuan itu.
Kata terakhirnya berbentuk penderita, sama seperti empat kata kerja sebelumnya, sehingga lima kata kerja berturut-turut tidak menyebut siapa pelakunya. Yang ditangguhkan juga bukan peristiwanya melainkan waktunya, sejalan dengan 77:7 yang menegaskan kejadiannya tanpa menyebut kapan. Pertanyaan ini tidak ditujukan kepada siapa pun, karena tidak ada yang disapa dan tidak ada yang diminta menjawab, sehingga ia terdengar seperti suara yang keluar dari peristiwanya sendiri. Alat bertanyanya pun cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an, sehingga pertanyaannya tidak terdengar seperti pertanyaan biasa. Yang ditanyakan adalah tujuan penangguhan dan bukan sebabnya, sehingga yang dituntut adalah nama, dan nama itu diberikan tepat di 77:13.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah empat ayat yang menyatakan, Allah menaruh satu ayat yang bertanya. Pergeseran itu tidak ditandai satu kalimat pun. Sebuah pertanyaan di tengah deretan pernyataan membangunkan pembaca yang sudah terbawa irama. Sebuah pertanyaan di tengah deretan pernyataan membangunkan pembaca yang sudah terbawa iramanya sejak empat ayat sebelumnya. Yang tadinya cuma menerima keterangan mendadak dituntut ikut berpikir sendiri, dan ia tidak diberi waktu sedikit pun untuk bersiap menghadapinya.
- Yang ditanyakan Allah bukan apa yang terjadi, melainkan untuk hari apa semuanya ditangguhkan. Empat ayat sebelumnya sudah melukiskan peristiwanya, dan yang kurang tinggal namanya. Pertanyaan yang menuntut nama mengandaikan keterangannya sudah lengkap. Pertanyaan yang menuntut nama mengandaikan bahwa keterangannya sudah lengkap sebelumnya. Yang kurang tinggal satu hal saja, dan satu hal itu diberikan Allah tepat di ayat berikutnya tanpa jeda sedikit pun.
- Al-Qur'an menjawab pertanyaan ini di ayat berikutnya, sehingga jaraknya cuma satu ayat. Jawaban secepat itu tidak lazim di surah ini, karena pertanyaan di 77:14 justru tidak dijawab langsung. Dua pertanyaan yang berdekatan diperlakukan Allah dengan cara yang berbeda. Dua pertanyaan yang berdekatan diperlakukan Allah dengan cara yang berbeda. Yang satu dijawab dalam jarak satu ayat saja, sedangkan yang lain dibiarkan menggantung sampai ayat terakhir surahnya tiba.
- Kata terakhirnya berbentuk penderita, sama seperti empat kata kerja sebelumnya, sehingga lima kata kerja berturut-turut tidak menyebut siapa pelakunya. Allah menahan namanya di sepanjang lima ayat. Rangkaian sepanjang itu membuat pembacanya berhenti mencari pelaku dan mulai memandang peristiwanya. Rangkaian sepanjang itu membuat pembacanya berhenti mencari pelaku dan mulai memandang peristiwanya. Yang penting bukan lagi siapa yang mengerjakannya, melainkan bahwa semuanya sudah dipastikan akan benar-benar terjadi pada waktu yang ditetapkan.
- Yang ditangguhkan bukan peristiwanya melainkan waktunya, karena peristiwanya sudah dinyatakan pasti di 77:7. Allah menegaskan kejadiannya tanpa menyebut kapan. Sesuatu yang pasti tetapi tidak bertanggal menuntut kesiapan yang terus-menerus, bukan persiapan menjelang hari. Sesuatu yang pasti tetapi tidak bertanggal menuntut kesiapan yang terus-menerus. Tidak ada tanggal yang bisa dipakai orang untuk menunda persiapannya sampai suatu waktu tertentu di kemudian hari.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 48 ayat, antara lain 6:2, 7:34, 11:104, dan 71:4, dan artinya menetapkan tenggat. Kalau sebuah tenggat sudah ditetapkan tetapi tidak diberitahukan, bagaimana seharusnya seseorang mengatur waktunya sendiri? Alat bertanya di ayat ini cuma sekali dipakai Allah di seluruh Al-Qur'an. Bahkan cara bertanyanya pun tidak dipakai di tempat lain mana pun. Pertanyaan ini karena itu berdiri sendirian di seluruh korpusnya, tanpa satu pembanding pun.