أَلَمْ نُهْلِكِ الْأَوَّلِينَ

Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang terdahulu?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَلَمْ نُهْلِكِ الْأَوَّلِينَa-lam nuhliki l-awwaliinabukankah Kami telah membinasakan orang-orang terdahulu

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. نُهْلِكِnuhlikiKami membinasakan
  3. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

contoh serupa historis sebagai bukti pola: 'bukankah Kami telah membinasakan orang-orang terdahulu?', penggunaan sejarah sebagai argumen yang tidak bisa dibantah, pola konsekuensi yang sudah terverifikasi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (نُهْلِكِ, nuhliki) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 63 ayat, antara lain 6:6, 7:4, 17:16, dan 28:59.

Kata (الْأَوَّلِينَ, al-awwaliin) muncul 32 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 15:10, 23:24, 26:26, dan 56:13. Artinya orang-orang terdahulu.

Perhatikan bahwa ayat ini berupa pertanyaan, sama seperti 77:12. Dua pertanyaan itu berbeda jenisnya.

Yang di 77:12 mencari keterangan, dan yang di sini tidak. Ayat ini menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah diketahui yang ditanya.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini memakai dua macam pertanyaan.

Perhatikan bahwa ayat ini membuka bagian baru. Refrein di 77:15 menutup bagian sebelumnya, dan ayat ini memulai yang berikutnya.

Bagian ini berjalan sampai 77:18. Tiga ayat, lalu refreinnya kembali di 77:19.

Perhatikan bahwa pelakunya di sini disebut kami. Sepuluh ayat sebelumnya sama sekali tidak menamai pelaku.

Pergeseran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa suara yang tadinya diam mulai berbicara sejak ayat ini.

Kata (نُهْلِكِ, nuhliki) berbentuk sekarang, bukan lampau. Yang disebut peristiwa lampau, dan bentuk katanya menyebut yang sedang berlangsung.

Perhatikan bahwa pilihan itu membuat kejadiannya terasa masih berjalan. Yang dibicarakan bukan sesuatu yang selesai, melainkan yang terus berulang.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ayat berikutnya melanjutkan dengan bentuk yang sama.

Perhatikan pula bahwa bagian ini memakai bukti sejarah, bukan bukti alam. Bagian sebelumnya menyebut bintang, langit, dan gunung.

Pergantian jenis bukti itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini memakai dua sumber bukti yang berbeda.

Perhatikan pula bahwa bukti sejarah menuntut ingatan, sedangkan bukti alam menuntut penglihatan. Yang satu bisa dilihat sekarang, dan yang lain harus diketahui dari kabar.

Perbedaan itu berakibat pada siapa yang bisa memeriksanya. Alam terbuka bagi siapa saja, dan sejarah cuma sampai lewat cerita.

Perhatikan pula bahwa yang dibinasakan tidak disebut namanya. Tidak ada nama kaum, tidak ada nama tempat, dan tidak ada nama zaman.

Ketiadaan nama itu berlaku di seluruh surahnya. Lima puluh ayatnya tidak memuat satu nama diri pun.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini menyebut segala sesuatu lewat sifat dan perbuatan.

Cara seperti itu membuat isinya tidak terikat pada satu zaman. Yang disebut bukan satu kaum tertentu, melainkan siapa pun yang berbuat serupa.

Tafsiran

Ayat ini mengingatkan pembinasaan umat-umat terdahulu sebagai bukti kepastian azab. Ayat ini membuka bagian baru sesudah refrein menutup bagian sebelumnya. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 63 ayat, antara lain 6:6, 7:4, 17:16, dan 28:59.

Kata terakhirnya muncul 32 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 15:10, 23:24, 26:26, dan 56:13, dan artinya orang-orang terdahulu.

Ayat ini berupa pertanyaan, sama seperti 77:12, tetapi dua pertanyaan itu berbeda jenisnya. Yang di 77:12 mencari keterangan, sedangkan yang di sini menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah diketahui yang ditanya.

Pelakunya di sini disebut kami, padahal sepuluh ayat sebelumnya sama sekali tidak menamai pelaku. Pergeseran itu tidak ditandai Al-Qur'an, dan yang bisa dibaca cuma bahwa suara yang tadinya diam mulai berbicara sejak ayat ini.

Kata keduanya berbentuk sekarang dan bukan lampau, padahal yang disebut peristiwa lampau, sehingga kejadiannya terasa masih berjalan dan bukan sesuatu yang sudah selesai. Bagian ini memakai bukti sejarah dan bukan bukti alam, berbeda dari bagian sebelumnya yang menyebut bintang, langit, dan gunung. Bukti sejarah menuntut ingatan, sedangkan bukti alam menuntut penglihatan, sehingga yang satu terbuka bagi siapa saja dan yang lain cuma sampai lewat kabar. Yang dibinasakan juga tidak disebut namanya, karena tidak ada nama kaum, tempat, maupun zaman di sini. Ketiadaan nama itu berlaku di seluruh surahnya, sehingga isinya tidak terikat pada satu zaman dan berlaku bagi siapa pun yang berbuat serupa.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini berupa pertanyaan, sama seperti 77:12, tetapi dua pertanyaan itu berbeda jenisnya. Yang di 77:12 mencari keterangan, sedangkan Allah di sini menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah diketahui yang ditanya. Pertanyaan yang tidak menuntut jawaban bekerja sebagai pengingat, bukan sebagai permintaan. Pertanyaan yang tidak menuntut jawaban bekerja sebagai pengingat, bukan sebagai permintaan. Yang ditanya sudah menyimpan jawabannya, dan yang diminta cuma mengeluarkannya kembali dari ingatannya sendiri tanpa perlu diberi tahu.
  • Pelakunya di sini disebut kami, padahal sepuluh ayat sebelumnya sama sekali tidak menamai pelaku. Allah tidak menandai pergeseran itu dengan satu kalimat pun. Suara yang tadinya diam mulai berbicara sejak ayat ini, dan perubahan itu terasa justru karena kesunyian sebelumnya panjang. Perubahan itu terasa justru karena kesunyian sebelumnya panjang. Sepuluh ayat berjalan tanpa satu pelaku yang dinamai, lalu suara itu muncul tanpa satu kalimat pun yang menyiapkan pembacanya.
  • Kata kedua ayat ini berbentuk sekarang dan bukan lampau, padahal yang disebut peristiwa yang sudah lewat. Allah membuat kejadiannya terasa masih berjalan. Yang dibicarakan bukan sesuatu yang selesai, melainkan sesuatu yang terus berulang dari zaman ke zaman. Yang dibicarakan bukan sesuatu yang selesai, melainkan sesuatu yang terus berulang dari zaman ke zaman. Bentuk yang dipilih membuat peristiwanya tidak bisa disimpan sebagai catatan lama yang sudah selesai dibukukan.
  • Kata kedua ayat ini dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 63 ayat, antara lain 6:6, 7:4, 17:16, dan 28:59. Akar yang sering terdengar muncul di sini dalam rupa yang tidak dipakai lagi. Kekhususan bentuk membuat ayat ini tidak tertukar dengan ayat mana pun. Kekhususan bentuk membuat ayat ini tidak tertukar dengan ayat mana pun. Yang mendengarnya sekali akan mengenalinya lagi di kemudian hari, karena tidak ada ayat lain yang memakai rupa yang sama.
  • Refrein di 77:15 menutup bagian sebelumnya, dan Allah memulai bagian baru di sini tanpa satu kalimat pengantar. Bagian ini berjalan sampai 77:18, lalu refreinnya kembali di 77:19. Batas antarbagian di surah ini ditandai kalimat yang sama, bukan kata penghubung. Batas antarbagian di surah ini ditandai kalimat yang sama, bukan kata penghubung. Pembacanya mengenali pergantian bagian lewat telinganya sendiri, bukan lewat penanda yang tertulis di dalam teksnya.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 32 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 15:10, 23:24, 26:26, dan 56:13, dan artinya orang-orang terdahulu. Kalau yang sudah terjadi dipakai sebagai bukti untuk yang belum terjadi, apa yang sebenarnya diminta dari orang yang membacanya sekarang? Bukti yang dipakai di sini menuntut ingatan, bukan penglihatan langsung. Yang tidak pernah mendengar kabar tentang angkatan terdahulu tidak akan merasakan beratnya pertanyaan yang diajukan di sini.