ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ الْآخِرِينَ

Kemudian Kami susulkan mereka dengan orang-orang yang kemudian.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ الْآخِرِينَtsumma nutbi'uhumu l-aakhiriinakemudian Kami susulkan mereka dengan orang-orang yang kemudian

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. نُتْبِعُهُمُnutbi'uhumuKami susulkan mereka
  3. الْآخِرِينَl-aakhiriinaorang-orang yang kemudian

Inti bacaan

Kontinuitas pola lintas generasi: 'kemudian Kami susulkan mereka dengan orang-orang yang kemudian', penegasan bahwa hukum sebab-akibat berlaku konsisten, tidak terbatas pada satu generasi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (نُتْبِعُهُمُ, nutbi'uhum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 156 ayat, antara lain 2:38, 3:31, 7:157, dan 36:11.

Kata (الْآخِرِينَ, al-aakhiriin) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an: 26:84, 37:78, 37:108, 37:119, 37:129, 56:14, 56:40, 56:49, dan 77:17. Artinya orang-orang yang datang kemudian.

Perhatikan bahwa 56:49 memuat sebutan itu bersama sebutan di 77:16. Dua sebutan yang dipisah dua ayat di sini berdiri berdampingan di sana.

Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa pasangan yang sama muncul di dua surah dengan susunan yang berbeda.

Perhatikan bahwa surah 56 memasangkan keduanya tiga kali. Di 56:13 dengan 56:14, di 56:39 dengan 56:40, dan di 56:49 dalam satu ayat.

Jadi pasangan itu bukan barang baru. Yang baru di sini adalah bahwa keduanya dipakai untuk kebinasaan, bukan untuk pembagian golongan.

Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu pasangan sebutan dipakai untuk dua maksud yang berbeda.

Kata (ثُمَّ, tsumma) di awal ayat menyatakan jarak waktu. Yang kemudian tidak menyusul segera, melainkan sesudah selang waktu.

Perhatikan bahwa jarak itu tidak diberi ukuran. Tidak ada bilangan tahun, dan tidak ada penanda zaman.

Ketiadaan ukuran itu berlaku di seluruh surahnya. Lima puluh ayatnya tidak memuat satu bilangan tahun pun.

Perhatikan bahwa (نُتْبِعُهُمُ, nutbi'uhum) berbentuk sekarang, sama seperti kata kerja di 77:16. Dua ayat berturut-turut menyebut peristiwa yang seolah masih berjalan.

Jadi kebinasaan yang terdahulu dan yang kemudian sama-sama dilukiskan sedang berlangsung. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menyatakan pola, bukan peristiwa tunggal. Yang terdahulu dan yang kemudian disebut mengalami hal yang sama.

Pernyataan pola seperti itu menutup satu bantahan. Tidak ada yang bisa berkata bahwa zamannya berbeda dari zaman sebelumnya.

Perhatikan pula bahwa yang kemudian belum tentu sudah lewat. Dua ayat ini memakai bentuk yang menyebut sesuatu yang masih berjalan.

Jadi angkatan yang sedang membaca bisa termasuk yang dimaksud. Al-Qur'an tidak menutup kemungkinan itu, dan tidak pula menyatakannya.

Perhatikan pula bahwa dua ayat ini cuma memuat empat patah seluruhnya. Rentang waktu yang dicakupnya jauh lebih panjang daripada panjang kalimatnya.

Perbandingan itu mencolok. Seluruh sejarah manusia diringkas dalam dua ayat pendek.

Al-Qur'an tidak menandai keringkasan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tidak satu rincian pun diberikan tentang siapa dan kapan.

Ketiadaan rincian membuat pernyataannya sulit dibantah. Tidak ada tanggal yang bisa diperiksa, dan tidak ada nama yang bisa disangkal.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan pertanyaan di 77:16 dengan menyebut angkatan yang datang kemudian. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 156 ayat, antara lain 2:38, 3:31, 7:157, dan 36:11.

Kata terakhirnya muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 26:84, 37:78, 37:108, 37:119, 37:129, 56:14, 56:40, 56:49, dan 77:17. Perhatikan bahwa 56:49 memuat sebutan itu bersama sebutan di 77:16, sehingga dua sebutan yang dipisah dua ayat di sini berdiri berdampingan di sana.

Surah 56 memasangkan keduanya tiga kali, yaitu di 56:13 dengan 56:14, di 56:39 dengan 56:40, dan di 56:49 dalam satu ayat. Jadi pasangan itu bukan barang baru, dan yang baru di sini adalah bahwa keduanya dipakai untuk kebinasaan.

Kata pertamanya menyatakan jarak waktu, sehingga yang kemudian tidak menyusul segera melainkan sesudah selang waktu. Jarak itu tidak diberi ukuran, dan ketiadaan ukuran berlaku di seluruh surahnya yang tidak memuat satu bilangan tahun pun.

Ayat ini memakai bentuk sekarang, sama seperti 77:16, sehingga dua ayat berturut-turut menyebut peristiwa yang seolah masih berjalan. Ayat ini menyatakan pola dan bukan peristiwa tunggal, karena yang terdahulu dan yang kemudian disebut mengalami hal yang sama. Pernyataan pola seperti itu menutup bantahan bahwa satu zaman berbeda dari zaman sebelumnya. Dua ayat ini cuma memuat empat patah seluruhnya, padahal rentang waktu yang dicakupnya jauh lebih panjang daripada panjang kalimatnya, sehingga seluruh sejarah manusia diringkas dalam dua ayat pendek tanpa satu rincian pun tentang siapa dan kapan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai sebutan terakhir ayat ini di 9 ayat, dan 56:49 memuatnya bersama sebutan di 77:16. Dua sebutan yang dipisah dua ayat di sini berdiri berdampingan di sana. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan pasangan yang sama muncul di dua surah dengan susunan yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan pasangan yang sama muncul di dua surah dengan susunan yang berbeda. Yang di sana dirapatkan dalam satu ayat, di sini direntang ke dua ayat yang berurutan dan berbeda pokoknya.
  • Surah 56 memasangkan kedua sebutan itu tiga kali, yaitu di 56:13 dengan 56:14, di 56:39 dengan 56:40, dan di 56:49. Di sana Allah memakainya untuk membagi golongan, sedangkan di sini untuk kebinasaan. Satu pasangan sebutan dipakai untuk dua maksud yang berbeda tanpa satu kalimat penjelas. Satu pasangan sebutan dipakai untuk dua maksud yang berbeda tanpa satu kalimat penjelas. Di surah 56 pasangan itu membagi golongan manusia, sedangkan di sini ia menyebut giliran kebinasaan.
  • Kata pertama ayat ini menyatakan jarak waktu, sehingga yang kemudian tidak menyusul segera. Allah tidak memberi ukuran bagi jarak itu, dan seluruh lima puluh ayat surahnya tidak memuat satu bilangan tahun pun. Yang tidak berukuran tidak bisa dipakai untuk memperkirakan giliran berikutnya. Yang tidak berukuran tidak bisa dipakai untuk memperkirakan giliran berikutnya. Tidak ada jarak tahun yang bisa dihitung siapa pun, sehingga tidak ada rasa aman yang bisa disandarkan pada perhitungan.
  • Ayat ini memakai bentuk sekarang, sama seperti 77:16, sehingga dua ayat berturut-turut menyebut peristiwa yang seolah masih berlangsung. Kebinasaan yang terdahulu dan yang kemudian sama-sama dilukiskan sedang terjadi. Allah tidak menerangkan pilihan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya tidak dijadikan cerita masa lalu. Allah tidak menerangkan pilihan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya tidak dijadikan cerita masa lalu. Peristiwa yang dilukiskan masih berjalan menuntut sikap dari pembacanya, bukan sekadar pengetahuan yang disimpan.
  • Kata kedua ayat ini dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 156 ayat, antara lain 2:38, 3:31, 7:157, dan 36:11. Pola yang sama sudah muncul di 77:16, karena akar yang sering terdengar dipakai dalam rupa yang cuma sekali ada. Dua ayat berurutan sama-sama memuat kata sekali pakai. Dua ayat berurutan sama-sama memuat kata sekali pakai. Kepadatan seperti itu membuat keduanya berdiri sendirian di dalam korpusnya, tanpa satu ayat pun yang memakai rupa yang sama.
  • Sebutan yang dipakai Allah di sini menamai angkatan yang datang sesudah yang terdahulu. Kalau yang datang kemudian juga disebut menyusul jalan yang sama, di sisi mana pembaca hari ini berdiri ketika membaca ayat ini? Sebutan yang dipakai di sini menamai angkatan yang datang sesudah yang terdahulu. Tidak ada satu tanda pun di dalam ayatnya yang menyatakan bahwa daftar itu sudah ditutup dan tidak bertambah lagi.